
Setelah sampai di depan mereka semua Bayu menghentikan langkahnya, dan otomatis Jen juga berhenti. Para orang tua berdiri dan terkejut dengan Jen yang memegang erat lengan Bayu dan menunduk.
"pagi om, tante" sapa Bayu dengan sedikit menunduk kan kepalanya
"pagi Bayu, terimakasih kamu sudah bawa Jen pulang" kata ayah Adi
"sama sama om, Jen,,," panggil Bayu lembut dan mencoba melepaskan tangan Jen dari lengannya.
Jen menggeleng lemah dan memandang Bayu. Sedangkan Bayu tersenyum dan mengangguk memandang Jen.
"Jen sayang,,, sini nak Ada om Al dan keluarganya" kata Bunda lembut dan mendekati Jen.
Axel yang melihat tingkah Jen hanya diam. Sebenarnya dia juga tidak tega melihat Jen yang seperti ini, tapi mau bagaimana lagi semua udah menjadi keputusan orang tuanya.
"Jen,, ayah tidak marah sama kamu. Kamu kan sudah janji sama ayah.." bujuk ayah
Dan akhirnya Jen mulai mengangkat kepalanya untuk melihat semua orang yang ada di hadapannya.
Dwarrrπππ
Betapa terkejutnya Jen saat melihat Axel.
"kamu salim dulu sama om Al dan tante Rere ya," ajak bunda lembut dengan merangkul bahu Jen.
Setelah Bersalaman dengan Al dan Rere Jen pun di minta bersalaman dengan Axel.
"kok elo sih ketos" kata Jen yang memang tidak tahu kalau Axel anak om Al
"nama gue Axel" kata Axel sambil mengulurkan tangannya.
Jen melirik ke arah Bayu. Bayu pun tersenyum dan mengangguk. Dengan ragu ragu Jen menjabat tangan Axel. Mereka masih berjabat tangan dan Jen berganti melirik ke arah sang Ayah dengan menaik kan kedua alisnya. Ayah dan om Al pun mengangguk bersama karena tahu maksud Jen.
Jen menarik tangan Axel menuju tempat yang sedikit luas di ruangan itu. Karena di tarik, Axel pun menurut. Dan secara tiba-tiba Jen melepaskan genggaman tangan mereka, dan mulai menyerang Axel. Axel yang kaget pun hanya sempat menghindar.
"JEN, AXEL" teriak bunda memanggil Jen, dan teriak Rere memanggil Axel dengan bersamaan.
Reflek kedua ibu itu berusaha ingin memisahkan mereka yang beradu jotos π€. Namun baru akan melangkah sudah di halangi ayah dan juga Alex.
"Biarkan tidak papa, " kata ayah
"tapi ayah, itu gimana kalau mereka kenapa-kenapa" bunda yang sangat khawatir
"kalian tenang dulu" saut Alex kepada dua wanita yang berstatus ibu itu.
__ADS_1
Beberapa saat mereka bertarung, belum ada yang tumbang karena memang sama-sama jago ilmu bela diri mereka. Dan tanpa mereka sadari mereka berguru dengan orang yang sama yaitu Johan. Jadi semua jurusnya sama dan sudah bisa di tebak.
"Jen, apa yang lo lakukan?" tanya Axel di sela sela menangkis serangan Jen.
"gue cuma mau tahu apakah calon suami pilihan ayah bisa benar benar menjaga gue" Jawab Jen yang masih berusaha mengalahkan Axel.
Bahkan para art keluarga Aditama dan keluarga Alexander yang ikut tadi pun berlari menuju ruang tengah. Mereka kaget dengan apa yang terjadi.Dan sampai akhirnya Axel bisa mengunci Jen dari belakang dan membuat nya tidak bisa menyerang Axel.
"cukup Jen, Axel" kata ayah
"Jen kamu kalah dari Axel, sesuai janjimu kalau kamu kalah, kamu mau menerima Axel menjadi calon suamimu dan melanjutkan pernikahan minggu depan" jelas Ayah. Tadi sebelum pulang Jen mengirim pesan kepada ayahnya dan meminta ijin untuk mengetes Axel.
"apa minggu depan?" tanya Axel tidak percaya dan perlahan melepaskan tangannya yang memelintir tangan Jen kebelakang. Dan Jen bisa bernafas lega karena tangannya tidak kesleo π.
"lepasin tangan lo atau gue gigit" kata Jen yang melirik tangan Axel yang satunya masih melingkar di leher Jen. Menyadari itu dengan segera Axel melepaskan tangannya.
"maaf lupa" jawab Axel dan mengundang tawa dari para orang tua
"papah apa benar pernikahan nya akan di laksanakan minggu depan?" tanya Axel pada sang papa
"iya boy, kamu siap kan?"
"tapi pah, kenapa papah tidak bilang dari kemarin," protes Axel
"kita duduk dulu sini" kata ayah Adi.
Mendengar itu pun Jen langsung melirik ke arah Bayu.
"Bayu" panggil Jen lemah
Bayu pun tersenyum dan mendekati Jen dan Axel.
"Jen, ingat pesanku tadi. Kamu harus bahagia, harus buka hatimu untuk Axel. Aku yakin Axel jauh lebih baik dan lebih bisa menbahagiakan kamu." kata Bayu
"tapi Bay"
"everything will be oke Jen" Kata Bayu meraih tangan Jen dan Axel untuk di satukan.
"Axel aku cuma minta tolong jaga Jen, aku ingin kalian bersatu dan berbahagia. Aku yakin kamu orang yang tepat untuk Jen" kata Bayu yang masih menggenggam tangan mereka.
Dan itu berhasil membuat semua yang ada di sana merasa trenyuh. Sedih itu pasti tapi balik lagi semua demi kebaikan. Bayu pun melepaskan tangannya menyisakan tangan Jen dan Axel yang masih saling menggenggam. Bayu menepuk pundak Axel dua kali dan mulai melangkah membelakangi meninggalkan semua. Tanpa ada yang tahu air mata Bayu pun mulai menetes.
"Bayu,,,,,, hiks hiks" panggil Jen pilu bahkan Bayu tidak menghentikan langkahnya. Ia mendengar panggilan Jen dan itu membuat air matanya semakin deras.
__ADS_1
"biarkan dia pergi, gue yang akan menjadi tumpuan mu saat ini dan mungkin selamanya. Ini berat buat kita semua, dan lebih baik sakit di awal daripada nanti mungkin akan lebih menyakitkan." bisik Axel yang merangkul Jen, karena Jen akan mengejar Bayu. Mendengar itu Jen pun hanya bisa pasrah.
Bayu maafin aku, aku harap kamu juga baik baik saja dan menemukan kebahagiaan tanpa aku. Hubungan kita benar benar sudah berakhir Bayu. batin Jen
Segitu besarnya sayangmu pada Bayu Jen, maaf gue juga sulit untuk menolak. Dan mulai saat kita resmi bertunangan nanti gue janji akan menjaga dan menyayangi kamu. Akan gue pertahankan hubungan kita nanti. Batin Axel
Axel pun menuntun Jen untuk duduk di sofa panjang. Dan tanpa Jen sadari sedari tadi ia bersandar di dada bidang Axel. Axel pun hanya mampu mengusap kepala Jen perlahan, membiarkan Jen menangis di dadanya. Mungkin dengan tangisan Jen akan merasa lebih lega. Dirasa sudah cukup tenang Axel pun memberikan minum untuk Jen. Jen meminum habis air putih dalam gelasnya dan mengembalikan ke Axel. Axel menyambar beberapa helai tisu untuk menghapus air mata di wajah Jen.
Semua itu tidak luput dari pandangan para orangtua mereka. Dengan Axel yang sabar menenangkan Jen, mereka yakin Axel juga akan sabar menghadapi Jen.
"sudah lebih tenang sayang?" tanya bunda yang berada di belakang Jen
"iya bun" jawab Jen memegang tangan bundanya.
"bisa kita mulai membicarakan rencana kita?" tanya ayah
"iya Di sebentar. Jen, om eh papah manggilnya ya, kami menerima kamu apa adanya. Kamu tidak usah menghawatirkan apapun. Soal masa depan kamu masih bisa sekolah ataupun kuliah. Kita akan menjaga kamu seperti orang tua kandungmu." jelas papa Al
"benar Jen, kamu jangan sungkan sama kita. em mamah juga tau tentang perasaan mu saat ini. Kita tidak akan memaksa kamu langsung mencintai Axel. Pelan pelan saja kamu melupakan masa lalu dan membuka hati untuk masa depan. Kita semua siap membantu kamu." jelas mama Rere
"makasih om, tante" kata Jen memaksakan senyuman nya.
"mamah dan papah" kata Rere membenarkan
"iya mamah papah"
.
.
.
Sedangkan Bayu, setelah meninggalkan mereka semua, ia menuju ke garasi untuk mengambil motornya.
"Bayu" panggil bi Ar, ibu Bayu
"ibuk," kata Bayu sambil mengusap air matanya.
"kamu anak yang baik dan hebat kebanggaan ibuk nak" kata bi Ar sambil memeluk erat anaknya.
"makasih buk, Bayu sayang sama ibuk"
"kamu tenangkan pikiran dan hatimu. Semua akan berjalan dengan normal lagi, hanya butuh kesabaran dan keikhlasan." nasehat sang ibu dan di angguki Bayu.
__ADS_1
#gimana pada nangis bombai gak?
aku berasa ngiris bawah π’