
Jen yang penasaran dengan siapa yang datang, meminta nampan yang berisi dua gelas minuman dari mbok Jum. Jen berjalan ke depan, dilihatnya seorang laki laki yang lebih tua darinya dan juga Axel.
"silahkan" kata Jen
"sini dulu Yang" pinta Axel
"kenalin ini Dodi, asisten pribadiku, dia yang membantu pekerjaanku di kantor" jelas Axel
"di rumah juga kali" saut Dodi sambil mengulurkan tangannya
"iya, aku Jen" Jen menerima uluran tangan Dodi
" udah jangan lama-lama" Axel menarik tangan Jen
"pelit amat lu" Dodi
"biarin," Axel
"ya udah aku ke dalam dulu" pamit Jen dan di angguki Axel.
Setelah ngobrol beberapa menit akhirnya Dodi pulang. Axel menarik koper kecilnya ke kamar Jen. Tadi memang Dodi di minta mengantarkan koper Axel, karena mulai sekarang kemungkinan akan sering menginap disini.
.
.
.
Saat ini ayah, bunda, Jen dan Axel sedang berada di ruang tengah setelah makan malam.
"Jen kamu kok masih manja sama ayah, malu dong itu ada suami mu." kata ayah
"ayah sama bunda besok kan mau keluar negeri, lama lagi. Biarin Jen puas puasin menglendoti ayah" kata Jen
"kamu ini Jen, kamu harus belajar jadi istri yang baik, taat apa kata suami. Jangan ngeyel" kata bunda
"iya bunda, Jen akan berusaha"
"Axel," panggil ayah
"iya yah" Axel menengok ke arah ayah
"ayah titip Jen, ayah yakin kamu bisa membimbing dan menjaga Jen dengan baik. Jangan sakiti dia ya, jangan kasar sama dia. Ayah yakin kamu bukan orang seperti itu. Dan ingat Xel, Jen banyak kekurangan, dia tidak bisa melakukan pekerjaan rumah sendiri, dan dia tidak mandiri. Ajarkan dan tuntun dengan baik, ayah yakin perlahan Jen akan berusaha mandiri. Lihat lah dari sisi baiknya, itu akan menutup kekurangannya." kata ayah
"Axel akan berusaha menjaga Jen yah, Axel juga akan menerima yang ada pada Jen."
"terimakasih Xel."
"Jen, sekarang hidup kamu sepenuhnya tanggung jawab Axel. Hormati suamimu, jangan sakiti dan jangan melawannya. Ayah akan lebih tenang di sana kalau kamu sudah ada yang jaga. Hormati juga mertuamu, mereka juga orang tuamu. Sayangi mereka seperti sayangmu ke ayah dan bunda." kata ayah pada Jen
"pasti yah, doa kan Jen yah," Jen memeluk sang ayah.
"Axel, Jen, kalian masih muda, masih banyak godaan dan halangan di depan kalian, ego kalian masih tinggi. Jaga ucapan terhadap pasangan. Jangan mudah terpengaruh oleh omongan orang. Jujur dan terbuka itu kuncinya" bunda memberi wejangan
"iya bun" Jen
"iya bunda" Axel
"oh iya Jen, bunda masih sedikit risih kamu panggil Axel dengan nama saja. Mulai sekarang biasakan panggil yang sopan."
__ADS_1
"hah,,, panggil apa dong?" kata Jen
"ya kan Axel manggil kamu sayang, kamu juga bisa biasakan seperti itu. Gak sopan Jen kalau mertua kamu dengar" Bunda
"gak papa bun, mungkin Jen belum nyaman. Biarkan senyaman nya aja, kita juga paham kok" kata Axel
"gak papa Xel, biar kan Jen belajar menghargai kamu" saut ayah
"em garwo aja kalau gitu" kata Jen
"gak ada yang sweet gitu Jen? bunda aja dulu honey" kata bunda sambil terkekeh
"biar beda dari yang lain bun" kata Jen
"ganteng ganteng di panggil garwo Jen" saut ayah
"garwo kan suami artinya yah," Je
"kamu mau Xel?" tanya ayah
"apa aja yah" kata Axel pasrah
Mereka melanjutkan mengobrol, sampai hampir larut malam. Ayah dan bunda pamit duluan karena memang besok akan melakukan perjalanan jauh. Dan setelah itu Axel dan Jen juga masuk ke kamarnya.
"Yang, em besok kita tinggal di rumah mamah sama papah gimana?" tanya Axel setelah mereka berdua berbaring di kasur
"di mana pun aku mau," jawab Jen
"sebenarnya aku ingin mandiri tinggal di apartemen. Tapi mamah dan papah tidak mengijinkan, mereka masih menghawatirkan kita"
"aku nurut aja, mau tinggal sendiri gak papa, disini aja juga mau, sama papa mamah aku juga tidak masalah." jelas Jen
"udah harus di pensiun itu guling dan juga boneka." kata Axel
"maksudnya?"
"udah ada aku yang akan selalu memelukmu" kata Axel dengan menaik turun kan alisnya.
"dasar garwo mesum" kata Jen lalu membelakangi Axel.
.
.
.
.
Siang ini Jen sudah membereskan beberapa barang yang akan di bawa ke rumah Axel. Jen melihat lagi semua yang ada di kamar ini, semua kenangan, senang maupun sedih di kamar ini.
"bakal kangen banget sama kamar ini" gumam Jen dengan wajah sendu
"kita bisa sering sering nginap di sini" Kata Axel yang melingkarkan tangannya di leher Jen.
"janji ya?" tanya Jen sambil mendongakkan kepalanya.
"iya sayang, anytime" kata Axel lembut dan Jen mengangguk.
Axel semakin menunduk, mendekatkan wajahnya ke wajah Jen. Jen seperti terhipnotis dengan tatapan mata Axel. Semakin mendekat Axel memiringkan kepalanya.
__ADS_1
"Jen, Ax,,," panggil bunda yang terhenti karena melihat mereka berdua. Sedangkan Axel langsung menjauh dari Jen dan menghadap ke ke bunda.
"maaf,, bunda tutupin pintunya ya, biar aman. Nanti kalau sudah segera turun makan siang ya" kata bunda sambil berlalu
Jen dan Axel saling pandang dan tersenyum kikuk.
"kita turun sekarang aja" ajak Jen
"ya udah ayo" jawab Axel.
Sedangkan bunda yang kembali ke dapur dengan senyum yang mengembang.
"kenapa bun?" tanya ayah
"gak papa yah, Jen dan Axel semakin dekat. Bunda ikut seneng,"
"semoga ya bun, biar makin lengket 😀"
Setelah Jen dan Axel turun mereka pun makan siang bersama.
"bunda udah di packing semua perlengkapan nya?" tanya Jen
"sudah sayang, kamu sendiri gimana?" tanya bunda balik
"ya udah sebagai aja sih bun, biar sering sering ke sini juga" jawab Jen sendu
"maafin ayah ya Jen, kita harus meningkatkan kamu dan Axel." kata ayah
"gak papa yah Jen paham"
"Axel, Jen kalian sudah sah jadi suami istri. Bunda tidak akan mengatur kalian soal momongan. Kalian rencanakan sendiri, saran bunda jangan menunda" kata bunda
"ayah juga setuju" sahut ayah
"ayah, bunda. Jen kan masih sekolah" Jen
"biar Axel sama Jen jalani seperti ini dulu yah, bun. Biar lebih dekat dulu" kata Axel
"ya sudah apapun keputusan kalian kami dukung" pungkas ayah
Setelah makan siang ayah dan Axel ke ruang kerja ayah. Mereka membahas tentang urusan kantor. Ayah juga meminta Axel untuk sering datang ke kantor ayah.
Sedangkan di kamar Jen. Bunda sedang memberi tahu kewajiban seorang istri yang harus di lakukan dengan ikhlas. Bunda juga memberi tahu cara mendinginkan pasangan yang sedang marah. Bagaimana kita mengontrol emosi agar tidak memperkeruh suasana. Jen mengingat apa yang di katakan bunda. Dan yang paling di ingat adalah sesuatu yang memang Jen belum mampu melakukan.
Setelah sore hari Jen dan Axel mengantarkan ayah dan bunda ke bandara. Setelah panggilan untuk para penumpang sudah terdengar. Jen memeluk Ayah dan bundanya bergantian, begitu juga dengan Axel. Kemudian mereka meninggalkan bandara setelah pesawat yang di tumpangi orang tuanya lepas landas.
"mau langsung pulang apa jalan jalan dulu?" tanya Axel yang melihat Jen sedih
"pulang aja" jawab Jen
Axel menggenggam tangan Jen. Ia tahu Jen sedih karena kepergian ayah dan bunda, di tambah lagi ia akan tinggal dan beradaptasi dengan lingkungan baru.
"kamu jangan sedih, aku akan selalu ada buat kamu" kata Axel yang tidak mendapatkan respon dari Jen. Jen hanya diam dan menangis.
Axel menambah kecepatan mobilnya, karena memang sudah dekat dengan rumahnya. Setelah Axel memarkirkan mobil ayahnya di garasi samping rumah, Axel turun dan membukakan pintu untuk Jen. Kemudian Jen turun dengan masih terisak, Axel membawa Jen dalam pelukannya.
Axel hanya diam dan mengelus punggung Jen, memberikan ketenangan. Sesekali mencium kepala Jen.
"loh Xel, Jen kenapa?" tanya mamah Rere yang menghampiri mereka berdua.
__ADS_1