
Malam ini Jen sedang berada di halaman belakang bersama Axel. Axel duduk di gazebo, sedangkan Jen tiduran dan berbantal kan paha Axel.
"Yang, kamu kenal sama Romi?" Axel
"dia yang ngajak kenalan mas"
"aku minta kamu jangan deket deket dia ya"
"emang kenapa?"
"masa iya mau aku jelaskan sih Yang, filing ku udah gak enak sama dia"
"iya mas, aku juga pasti jaga jarak kok sama dia"
"aku gak mau kamu melirik orang lain Yang,"
"dia yang melirik aku 😁" Jen bangga dengan hal itu
"kamu suka sama dia?"
"ya gak mungkin lah mas"
"apa aku kuliah offline aja kalau gitu"
"bener? kerjaan aman? yakin nih?" Axel
"ya gak tau, tapi kan Yang"
"apa sih yang kamu khawatir kan, sebentar lagi pasti juga pada tau kalau aku hamil mas. Itu tandanya aku sudah bersuami , tidak ada yang mau sama aku kecuali kamu"
"belum tentu Yang"
"udah deh mas, jangan marah marah, gak usah di buat pusing, yang penting aku dan baby baik baik saja kan? aku juga jaga hati dan pandangan."
"iya sayang,"
"mas, aku boleh naik motor gak?"
"jangan aneh aneh kamu" jawab Axel tidak suka
"aku pengen loh mas, ngidam ini,"
"enggak"
"mas, sekali aja"
"Yang!!!!" Axel memanggil dengan tidak suka
"iya iya" jawab Jen melemah.
.
.
..
.
Sedangkan di sebuah kamar bernuansa hitam putih, Romi sedang tiduran di atas kasur nya. Ia tersenyum membayangkan wajah Jen, gadis yang sempat membuat dirinya penasaran.
"Jen, nama yang cantik" gumam Romi
"apa sebenarnya hubungan Jen dengan keluarga Alexander. Papa..." Romi yang tau dengan siapa ia harus bertanya pun langsung keluar kamar.
Romi mencari papanya yang sedang mengobrol dengan dua satpam di pos depan rumahnya. Biasanya papahnya akan mengobrol santai, atau bermain catur dengan mereka di waktu senggang.
"papa" panggil Romi
"sini Rom" kata pak Adam
"pa, ada yang mau Romi tanya"
"penting?"
"penting banget pa"
"oke, saya ke dalam dulu" pamit papa pada dua satpam nya.
Romi dan papa nya duduk di ruang keluarga, karena ini hampir larut malam jadi anggota keluarganya sudah tidur.
"ada apa ?" tanya papa
"papa kenal pak Alexander?"
"kenal akrab sih enggak, cuma beberapa kali ketemu dan saling sapa. Kenapa?"
"papa tau anaknya?"
"setau papa pak Alex punya anak laki laki, ikut bantu di kantornya juga"
"anak perempuan pa?"
"memangnya punya?"
__ADS_1
"ya gak tau, kayaknya punya"
"papa kurang paham sama maksud kamu."
"Jadi pas acara dinner waktu itu di hotel, Romi ketemu anaknya pak Alexander Pa. Sebenarnya masih belum pasti anaknya atau bukan"
"anak gadis yang kamu maksud?" papa
"iya, "
"em, kok papa gak tau ya. Gak pernah dengar juga" pak Adam berfikir dan mengingat beberapa informasi yang ia tau tentang keluarga Alexander.
"coba papa ingat deh, namanya Jen"
"papa benar benar tidak tau Rom, memangnya kenapa dengan gadis itu?"
"em enggak pa" kata Romi sedikit salah tingkah
"cantik?"
"banget pa" jawab Romi cepat kemudian ia membuang muka karena malu
"kamu suka?"
"udah pa, Romi ke kamar dulu"
"kalau orang tua tanya di jawab, bukan pergi" kata papa dan Romi kembali duduk
"kamu suka Rom?" tanya papa lagi
"sepertinya pa, tapi Romi belum mengenal lebih jauh. Sedikit susah dekat dengan nya"
"papa akan dukung kamu Rom, kalau benar gadis itu anaknya pak Alexander langsung papa lamar kan"
"karena kaya?" tanya Romi
"banyak keuntungan yang akan kita dapat Rom, perusahaan lebih maju, papa punya besan terkenal, kamu dapat istri cantik yang kamu suka"
"iya juga sih pa, tapi kalau Romi bukan masalah kaya nya"
"terus?"
"papa tau kan cinta pandangan pertama?"
"hahahha sudah move on kamu sama model itu"
"bukan pacar Romi itu pa"
"siapapun itu, kalau kamu mau ya perjuangkan. Ingat umur Rom"
"udah mateng itu, pas kalau mau cari jodoh"
"tunggu lulus kuliah dulu pa"
"ya sudah terserah kamu, besok papa bantu cari tau tentang anaknya pak Alexander"
"makasih pa,"
Setelah itu Romi dan papanya menuju kamar masing masing. Mereka beristirahat untuk memulihkan tenaga, agar bisa menjalani hari esok dengan lebih baik.
.
.
.
Jen berjalan menuju kelasnya setelah turun dari mobil Axel.
"dor" Tamara mengagetkan Jen yang berjalan sendirian.
"astaga Tamtam!!!" kaget Jen
"hehe jalan sendiri neng?"
"sama demit" Jen
"hah yang bener lo?"
"iya demit nya pakai baju ijo" kata Jen
"lah, lo ngatain gue demit"
"enggak tuh, lo sendiri yang merasa"
"isht"
"lo itu ngagetin gue sampai anak gue gerak tau" kata Jen yang memang tadi ia sempat kaget dan baby nya gerak
"masa?".
"iya tadi"
"maafin aunty ya sayang" kata Tamara ikut mengelus perut Jen
__ADS_1
"dasar aunty gak ada akhlak" Jen
Kemudian mereka tertawa mendengar candaan Jen. Saat masih asik mengobrol dan berjalan ke kelas Jen, tiba tiba di depan mereka ada seorang cowok yang sedang berdiri. Tamara melirik Jen, mungkin tatapan Tamara seperti bertanya 'kenapa dia menghalangi kita'. Jen pun hanya menggedikkan bahunya tanda tidak tau.
"pagi Jen, bunga cantik untuk gadis cantik" kata Romi yang mengeluarkan bunga mawar merah di balik punggungnya.
"em pagi" kata Jen sedikit menunduk
"di terima dong," kata Romi membuat Jen melihat ke arah Tamara
Dilihatnya Tamara angkat tangan, tanda ia bingung dan tidak mau ikut ikutan kalau ada apa-apa.
"aku cuma pengen ngasih aja kok, gak ada maksud yang lain" kata Romi
Ya maksudnya tidak ada yang lain kecuali aku mau pendekatan sama kamu. batin Romi
"tapi kak" Jen
"bunga ini cantik, tadi aku beli karena ingat dengan kamu."
"maaf kak saya gak bisa" kata Jen menunduk
"ya sudah kalau gitu, aku minta nomer ponsel kamu saja"
"maaf juga kak gak bisa"
"pilih bunga atau nomer ponsel?" Romi
"saya permisi" kata Jen menarik Tamara dan mereka lewat jalan yang lain.
"Jen tunggu" kata Romi berusaha mengejar.
"huh kenapa dia masih ngejar sih" gerutu Jen
"Jen hati hati dong" kata Tamara
"ayo buruan Tam,"
"masuk toilet" kata Tamara.
Aman kan, kalau Jen dan Tamara masuk ke dalam toilet. Romi pasti tidak akan mengejar Jen sampai ke dalam kan?. Jen mengatur nafasnya yang sedikit ngos-ngosan.
"nih minum" Tamara memberikan air mineral bakalnya untuk Jen.
"apa sih mau nya dia, ganggu aja" kata Jen
"suka kali Jen sama lo"
"apa yang di suka coba, gue kan udah ada Axel" Jen
"kenapa lo gak jujur aja?"
"ye masa iya gue bilang udah punya garwo. Kepedean sekali gue kalau ngira dia suka sama gue."
"udah pasti Jen, kalau gak suka Kenapa ngejar"
"lagian gue pernah ketemu sama dia beberapa bulan lalu. Axel bilang ke dia kalau gue nyonya muda Alexander. NYONYA BUKAN NONA. Paham kan?" kata Jen
"seharusnya dia paham" Tamara
"nah itu, mau apa sih" Jen
"gue juga gak tau, yang pasti lo jangan benci sama dia"
"kenapa emang?"
"ingat anak lanang, nanti mirip dia"
"dih amit amit, mirip sama gue dan Axel aja. Jangan yang lain. amit amit banget. Huh jauh jauh pikiran buruk" kata Jen mengusap perut juga memukul pelan kepala nya.
"hahaha udah yuk balik, masa iya dia mau nunggu kita"
"kalau nunggu gimana?"
"lo turuti deh maunya dia"
"kalau Axel marah?"
"cuma lo dan gue yang tau" Tamara
"yakin lo?"
"lima puluh lima persen"
"sisanya?"
"ya gak yakin lah" kata Tamara cekikikan
"ih elo, gue ogah kalau gitu, biarin deh duduk di toilet satu jam"
"yakin tahan?"
"gue tahan tahanin" kata Jen melas
__ADS_1
"gue cek dulu deh, kasian amat sih lo" Tamara melangkah ke arah pintu dan celingukan mencari keberadaan Romi.