Cinta Jennaira

Cinta Jennaira
Hampir saja


__ADS_3

Jen dan Axel sampai di rumah bunda pukul dua belas lebih empat puluh lima menit. Jen turun terlebih dahulu dan menuju pintu utama, sedangkan Axel mengambil koper kecil yang ia bawa dari rumah.


"mbak Jen," Sapa mbok Jum


"mbok, Jen kangen sama mbok Jum" kata Jen memeluk mbok Jum


"mbok juga kangen banget sama mbak Jen" mbok Jum membalas pelukan Jen.


"mbok" sapa Axel mengangguk


"den Axel" sapa mbok Jum.


"mbok siapkan makan siang ya" kata mbok Jum


"iya makasih mbok, kita ke atas dulu" Jen


Jen dan Axel menuju ke kamar Jen. Setelah bersih bersih Jen mengajak Axel untuk turun ke meja makan.


"bunda kemana mbok?" tanya Jen


"ke toko mbak, kok mbak Jen gak ngabari kan bisa mbok masakin masak kesukaan mbak Jen" mbok Jum


"hehehe lupa mbok"


Jen dan Axel melanjutkan makan siang. Setelah itu mereka menuju ke kamar. Jen yang kurang kerjaan pun bermain ponselnya. Ia tersenyum melihat kiriman foto dari Sasa di grup chat mereka. Sedangkan Axel sibuk mencari Tablet nya.


"Yang, kamu tiduran aja deh" pinta Axel


Jen yang tidak banyak tanya pun menuruti Axel. Axel memposisikan dirinya tiduran di paha Jen. Jen sibuk dengan ponselnya dan Axel pun sibuk dengan tab nya. Setelah beberapa saat Jen merasa tidak ada pergerakan dari Axel. Dilihatnya Axel sudah tertidur dengan tab yang masih menyala.


"garwo, kalau tidur naik sini" niatnya meninta Axel untuk tidur di samping menggunakan bantal.


Tapi Axel malah memiringkan tubuhnya, sekarang Axel berbantal kan perut dan memeluk kaki Jen. Jen menggeleng dengan tingkah Axel, bahkan tab nya jatuh begitu saja. Jen berusaha meraih tab Axel, agar tidak tertindih dan rusak.


Setelah mendapatkan tab Axel yang masih menyala, ternyata masih masuk di halaman laporan keuangan bengkel. Jen melihat sebentar, setelah itu ia menutup mulutnya karena kaget. Pasalnya yang Jen lihat adalah laporan keuangan mingguan dari bengkel, karena selama ini Jen memang tidak pernah bertanya pendapatan Axel.


Pantesan dia bisa ngasih gue duit banyak. Pendapatan bersih tiap minggu aja segini. Gue gak nyangka lo sukses juga garwo, semoga rejeki nya tetap lancar dan usahanya semakin maju. Amin. Batin Jen


Jen mematikan tab Axel dan menaruhnya di atas nakas. Karena di luar hujan dan tidak bisa bergerak karena kakinya di peluk Axel, Jen memutuskan untuk tidur.


.


.


.


Pukul setengah lima sore bunda sampai di rumah.


"mbok" panggil bunda


"iya bu" mbok Jum menghampiri bunda


"itu mobil Axel kan?" tanya Bunda


"iya bu, sama mbak Jen. Ada di kamar"


"ya sudah saya ke atas dulu mbok"


Bunda pun menuju ke kamar Jen terlebih dahulu.


tok tok tok


Tidak ada jawaban dari dalam.


tok tok tok


"Jen, Axel" panggil bunda


"kok sepi sih, gak di kunci" Bunda mencoba mengintip dan membuka pintunya sedikit.


"oalah mereka tidur. Axel kenapa bisa meluk kaki Jen" gumam bunda

__ADS_1


"sstt" ayah menepuk pundak bunda


"astaga" bunda kaget


"bunda ngapain" bisik ayah


"ih ayah, liat itu mereka pada tidur malah ngagetin" kata bunda kembali menutup pintu


"bunda ngapain" kata ayah


"tadinya mau manggil mereka eh ternyata pada tidur"


"ya udah biarin, bunda malah ngintip" kata ayah sambil menggeser bunda ke samping. Ayah membuka pintu kamar Jen dan melihat ke dalam.


"ayah sama aja" kata bunda melipat tangannya di dada


"hehe ayo ke kamar" ajak ayah setelah menutup pintu.


Jen terbangun lebih dulu. Ia merasa perutnya berat, ternyata Axel masih tidur dengan posisi yang sama. Perlahan Jen memindah Axel, dengan susah payah dan tenaga ekstra akhirnya Jen bisa terbebas dari pelukan Axel. Jen segera mandi dan turun kebawah.


"AYAH" teriak Jen dari atas tangga dan berlari turun


"jangan lari" kata ayah


"aaaaa" Jen tersandung di tangga dan akan jatuh ke bawah


"Jen" ayah beranjak menghampiri Jen


hap


Jen yang akan jatuh di tarik Axel dari belakang, untung saja Axel tepat waktu. Jadi Jen tidak terjatuh dan berada di pelukan Axel


"huh hampir saja" ayah menghela nafas lega


"kamu kenapa lari sih, aku udah mau jantungan liat kamu kaya tadi" kata Axel yang memang khawatir sama Jen


"maaf" kata Jen, tidak bisa di pungkiri kalau Jen juga sudah deg deg kan kalau jatuh dari tangga


"jangan di ulangi ya, aku gak mau kamu kenapa kenapa" kata Axel mengelus Jen dan di angguki Jen.


"enggak yah" jawab Axel menyalami ayah mertua nya.


"kamu udah di bilangin jangan lari, kaya anak kecil aja" kata ayah pada Jen


"ya maaf, Jen kangen sama ayah" Jen melepaskan pelukan Axel dan memeluk ayahnya.


"yah, Axel pamit mandi dulu" Axel


"iya Xel," Jen dan ayah turun ke bawah.


"gimana kabar ayah?" tanya Jen


"ayah baik, kamu dan Axel?"


"kita juga baik kok yah, kita ke kolam ikan yuk yah" ajak Jen


Jen ingin sekali mengulang waktu kecil bersama sang ayah. Dulu Jen selalu di ajak ayah memberi makan ikan dan berbincang berbagai hal disana.


"kamu gak minta ayah nangkap ikan kan Jen?" tanya ayah


"ayah, enggak ya," jawab Jen malu


"dulu kamu sering merengek minta di tangkap kan ikan" ledek ayah


"itu kan masih kecil yah" jawab Jen


"sekarang udah besar?"


"iya yah, udah punya suami juga" kata Jen


"jadi istri yang baik dan nurut" ayah mengelus kepala Jen yang duduk di sampingnya.

__ADS_1


"pas ayah keluar negeri ikannya banyak yang mati loh yah" cerita Jen


"udah pada tua kali Jen, kamu sih gak mau goreng" ayah


"hahaha" Jen tertawa lepas sambil memberi makan ikan.


"seru banget Yang" kata Axel yang baru datang


"seru dong garwo, aku mengenang masa-masa indah dengan cinta pertamaku" jawab Jen. Axel yang mendengar itu pun hanya diam. Pikirannya cuma ke Bayu yang dulu menjadi pacar Jen.


"sini duduk Xel jangan ngalamun" kata ayah


"ngalamun apa sih,?" tanya Jen


"enggak" Axel


"kamu kepikiran cinta pertamaku ya?"


Axel tersenyum kikuk, tidak mungkin ia akan menunjukkan rasa tidak sukanya pada Jen.


"cinta pertamaku itu ayah, kamu lupa garwo?" kata Jen


"hah?" Axel baru sadar


"astaga yah, nih garwo cemburu sama ayah" Jen


"kamu itu yang suka goda suamimu," kata ayah mencubit pipi Jen.


"Axel jangan di ambil hatinya, tadi ayah sama Jen cuma mengenang masa-masa Jen merengek minta di goreng kan ikan itu" ayah menunjuk kolam.


"ih ayah" kata Jen


"hahaha"


Mereka melanjutkan mengobrol santainya, sesekali ada ledekan ayah yang membuat Jen malu. Bunda yang selesai masak untuk makan malam pun menghampiri mereka dan mengajak makan malam.


Selesai makan malam, Jen di minta bunda memanggil kan bi Ar. Karena tadi bi Ar belum sempat makan malam. Jen menuju kamar bi Ar yang berada di belakang dapur.


"Bayu" sapa Jen yang melihat Bayu di kamar depan kamar bi Ar


"Jen" Bayu tersenyum


"aku mau manggil bi Ar buat makan malam" kata Jen


"ibu ada di dalam, masuk aja" Bayu


"bi Ar sakit?" tanya Jen yang melihat bi Ar tiduran di ranjangnya


"cuma pusing non, nanti juga sembuh. Ini udah di belikan obat Bayu" bi Ar


"kok bibi gak ke dokter aja, kan bisa minta tolong pak min"


"gak papa non, ngrepotin"


"enggak lah bi, apa mau Jen antar?"


"makasih non, tapi bibi cuma perlu istirahat sebentar"


"gak papa Jen, ibu cuma anemia. Tadi udah aku cek" kata Bayu yang ikut masuk


"beneran Bay?" Jen


"iya kamu gak usah khawatir" Bayu


"YANG" teriak Axel


"Yang" panggil Axel lagi


"kamu di cari Axel Jen" Bayu


"iya di kamar no dua" kata Jen sedikit teriak

__ADS_1


"maaf ya Bay, oh iya bi aku kesini di minta bunda manggil bibi buat makan malam. Biar Jen bawakan kesini ya bi" tawar Jen


"nanti bibi ambil sendiri aja non" Bibi


__ADS_2