
Axel kembali ke dalam kamar, bersih bersih dan bersiap untuk tidur. Setelahnya ia menyusul Jen dan memeluk Jen seperti biasanya. Tidak butuh waktu lama Axel pun tertidur.
Pagi ini Jen bangun ia merasakan tangan kekar melingkar di perut nya. Perlahan Jen berbalik melihat siapa yang tengah memeluknya. Walaupun bisa di pastikan itu adalah Axel, tapi Jen belum yakin kalau tidak melihat nya.
kapan kamu pulang sih mas? aku kangen banget sama kamu, tapi aku juga pengen marah sama kamu. Batin Jen
Perlahan Jen menuju kamar mandi, setelah itu pergi ke dapur.
"mah, mas garwo pulang jam berapa kemarin?"
"jam sebelas Jen"
"aku ketiduran ya mah, maaf ya mah" Jen
"gak papa sayang"
Mereka mengobrol sambil membuat sarapan. Tiba tiba Jen merasakan ada yang memeluknya.
"sayang, aku kangen" gumam Axel sambil menciumi pundak Jen
"kangen?? kalau kangen itu pergi ya bilang jangan main tinggal aja" Jen
"kan urgent Yang, jangan marah ya" Axel mengeratkan pelukannya.
"pindah kamar sana" mamah berbisik pada Axel dan menepuknya. Mamah tidak ingin bibi mendengar atau melihat yang memang tidak perlu di publikasikan.
"Yang" rayu Axel sambil menuntun Jen yang masih di pelukannya menuju ke kamar.
"aku mau bantu mamah" Kata Jen
"mamah udah biasa dan pasti bisa" Axel
"aku masih marah sama kamu ya mas"
"ini mau di rayu Yang,"
"gak mempan" Jen
"belum di coba," kata Axel sambil mengunci pintu kamar.
"kok di kunci?" tanya Jen bingung.
"biar kamu gak kabur 😁," Kata Axel yang mengunci Jen dalam pelukannya.
"aku gak mau sama kamu mas"
"tapi aku mau sayang" Axel mendekatkan wajahnya pada Jen
"em" Jen melipat bibir nya dan mengunci rapat agar Axel tidak bisa mencium bibir nya.
"Yang, aku kangen banget jangan gitu dong" Axel
"em em" Jen menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan kiri di depan wajah Axel
"maafin aku Yang, besok lain kali aku janji akan pamit sama kamu.
"bohong"
"enggak sayang,
"Ya udah lepasin, aku mau keluar"
"gak boleh, maafin aku dulu" kata Axel
"iya udah di maafin, tapi aku gak mau deket kamu untuk sementara"
"jangan dong Yang, nanti aku kurang belaian"
"ya biarin salah kamu, minggir aku mau keluar mas"
"dibilang enggak" kata Axel yang menaruh kuncinya di atas pintu, dan pastinya Jen kesulitan mengambil
"gak enak sama papah, mamah" rengek Jen
"makanya janji dulu jangan marah"
"ish" Jen berjalan menuju ke kasur setelah melepaskan tangan Axel
Jen duduk sambil mengamati Axel yang masih berdiri dan tersenyum lebar.
Bertahan untuk marah Jen, biar Axel tidak mengulangi lagi. Jen selalu mengucapkan kalimat itu agar tidak luluh dengan bujukan Axel.
drt drt
Suara dering ponsel Axel membuat Axel berjalan ke meja, saat akan meraih ponselnya tapi ponselnya lebih dulu di raih Jen.
"sini Yang" pinta Axel
"gak" Jen
__ADS_1
"ish ayang, takut penting itu"
"biarin"
"liat dulu deh yang telfon siapa"
"Mr.Jack" kata Jen setelah membaca namanya
"tuh Yang, sini itu ada proyek baru" Axel merengek
"buka dulu pintunya"
"nanti habil angkat itu," axel terlihat frustasi
Jen menghembuskan nafas beratnya dan memberikan ponsel itu pada Axel. Karena tadi Jen belum sempat mandi, akhirnya ia memilih untuk mandi saja. Selesai mandi Axel juga seperti nya baru selesai dengan telepon nya.
"Yang tidur yuk, aku masih ngantuk" Axel menghampiri Jen yang sedang di depan lemari.
"ya udah tidur sana, aku mau keluar sama Tam, Sa"
"kemana sih Yang"
"kemana aja"
"ya udah gak boleh" Axel melipat tangannya di depan dada
"mas kok kamu nyebelin sih"
"udah lama" jawab Axel enteng dan menambah Jen tambah kesal.
"astaga, sabar" gumam Jen dan membuat Axel menahan senyumnya
"sini peluk yang lama dulu, maafin aku, nanti aku turuti apa mau kamu" kata Axel dan Jen masih mematung
"kamu gak kangen apa sama darat (dada rata) ini?" Axel mengusapnya
ya kangen tapi males aja
"udah dong mas,"
"makanya kamu nyerah kan lebih enak, dapat pelukan, ciuman dan bonusnya bisa mandi keramas lagi. Apa tidak mau?" Axel menarik turun alisnya
"itu mau kamu"
"kan enaknya bareng Yang,"
"gak ah"
"gak"
"hanya buat kamu, dan kamu orang satu satunya"
"gak"
"ah berarti kamu ngijinin aku punya istri lebih nih?" goda Axel dengan senyuman nya
"astaga ya enggak gitu"
"tadi kamu bilang 'gak' gitu kan, padahal aku bilang cuma buat kamu loh"
"ah ya udah aku mau"
"nah gitu kan kamu enak" Axel mendekati Jen dan memeluknya
"kamu yang enak" Jen memukul pelan punggung Axel
"kita Yang" kata Axel dan segera mencium bibir Jen.
Axel kembali memperdebatkan hal kecil yang memang membuat Jen kalah dan tersudut. Dengan begitu Axel bisa mendapatkan apa yang dia mau. Apalagi di permudah dengan Jen yang masih menggunakan handuk. Lama lama Jen pasrah dan menuruti apa mau suaminya itu, karena dirinya juga sudah kangen dengan Axel.
.
.
.
.
Sedangkan di meja makan terlihat papah yang sudah rapi, bersama mamahnya.
"Axel sama Jen mana mah,?" tanya papah
"belum keluar lagi" mamah
"lagi? emang tadi udah sarapan?"
"belum sih pah, tadi Jen bantuin mamah. Eh malah Axel datang dan merayu Jen yang ngambek"
"terus?"
__ADS_1
"aku suruh ke kamar aja, gak enak dilit bibi bibi"
"hahaha anak itu" papah
"kaya kamu gak tau tempat"
"ya daripada kamu marah berkepanjangan ya usaha kan gak papa"
"usaha ya tapi kan ada waktunya"
"waktunya ya pasti saat itu mah, kalau nanti nanti tambah marah kan gak enak"
"terserah deh pah" mamah mengalah
"gitu dong" kata papah
Selesai sarapan Jen dan Axel juga belum keluar. Mamah menghampiri kamar mereka dan mengetuk pintunya.
"Jen Axel, mamah berangkat ya" pamit mamah
"iyahhh mahhhh" jawab Axel dengan mengatur nafasnya.
"sudah bisa di pastikan" gumam mamah
"kenapa mah" tanya papah yang menghampiri istrinya itu
"ada cicak terbang" jawab mamah dan keluar rumah
"emang cicak bisa terbang?" bingung papah dan menyusul mamah, karena mereka akan berangkat bersama
Pukul sembilan Jen sudah kembali mandi keramas, ia duduk dan mengeringkan rambutnya. Sedangkan Axel mencari setelan baju untuk ke kantor. Jen tidak berhenti mengomel sedang Axel dengan santainya menyisir rambut di belakang Jen.
"sini aku bantuin" Axel merebut hairdryer dari Jen
"emang sudah seharusnya" Jen
"udah dong Yang, aku aja udah happy banget ini. Ibu hamil kan harus happy"
Selesai urusan dandan mereka berdua menuju ke meja makan untuk sarapan.
"Yang, biar kamu di jemput Tamara dan Sasa aja."
"iya nanti sebentar lagi mereka kesini"
"jangan lama lama mainnya"
"iya iya mas, aku mau beli baju ya buat persiapan kuliah sama udah pada gak muat"
"uang masih cukup?"
"masih kok, orang jarang di pakai juga"
"kalau kurang nanti bilang aku transfer"
"enggeh den bagus" kata Jen (iya tuan ganteng)
Mereka melanjutkan makannya, Axel bercerita tentang kemarin di Bali bersama ayah. Dia hanya ingin istri nya tau apa saja yang ia lakukan. Selesai sarapan Axel langsung ke kantor, sedangkan Jen duduk di teras sambil nunggu Tamara dan Sasa.
Di depan gerbang terlihat mobil Tamara, tapi kenapa mereka tidak masuk. Jen yang penasaran pun menghampiri.
"hey kalian kenapa gak masuk?" tanya Jen
"nih ada Ari" Tamara menunjuk Ari yang sedang berada di atas sepeda
"hay nyonya muda Alexander" sapa Ari
"ish apa sih, lo dari mana?" tanya Jen
"sepedaan tadi, eh liat mereka kesini" Ari
"masuk yuk" ajak Jen
"ada Axel gak?" Ari
"enggak, gue sendiri sama orang rumah"
"kapan kapan deh, kalian mau kemana?" Ari
"jalan jalan lah" Sasa
"gue ikut ya" Ari
"dih kita mau me time ya" Sasa
"halah, kan lebih seru .Gue ajak Jamil deh" Ari
"kita suruh nunggu lo gitu?" tanya Tamara
"nyusul aja, kalian kemana emang?"
__ADS_1
"ntar kita kabari" Tamara
"gue tunggu," kata Ari berlalu.