Cinta Jennaira

Cinta Jennaira
Pengajian


__ADS_3

Sore ini Jen dan Axel sudah berada di rumah ayah dan bunda. Jen yang tadi sempat istirahat, sekarang melihat ke halaman depan yang sudah di dekor sederhana. Ia tersenyum tipis dan mengelus perutnya. Jen tidak menyangka kalau dirinya yang baru saja lulus sekolah sudah hamil empat bulan.


Rasanya baru kemarin Jen lari lari keliling rumah dengan canda dan tawa nya. Rasanya baru kemarin Jen merengek kepada ayah dan bundanya minta di belikan es krim. Tapi sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang ibu yang mungkin di tangisi anaknya karena meminta sesuatu. Semua berubah begitu cepat, dan Jen belum sepenuhnya percaya dengan keadaan ini.


Tapi mau bagaimana pun kedepannya Jen akan menjalani dengan ikhlas, dan yang sudah terjadi ia tidak menyesalinya. Jen masih berdiri sambil mengelus perutnya.


"Jen" suara lembut bunda dan juga tepukan di bahunya membuat Jen menoleh


"bunda" Jen tersenyum


"kamu kenapa?" tanya bunda


"enggak bun, Jen masih belum percaya aja bun dengan semua ini," jujur Jen


"kamu sedih?"


"semua yang sudah terjadi mungkin memang sudah jalanya bun. Jen tidak menyesal ataupun sedih, Jen bahagia. Hanya saja Jen masih merasa.... " Jen tidak melanjutkan ucapannya tapi ia mengelus perutnya.


"Sayang semua akan baik baik saja. Kamu ragu?"


"iya bun, apa bisa Jen mengurus anak Jen nanti"


"bisa, semua akan berjalan sesuai naluri seorang ibu akan tumbuh di diri kamu."


"bantu Jen bun"


"pasti sayang" bunda memeluk Jen


"maaf Jen belum bisa membanggakan ayah dan bunda"


"jangan berfikir seperti itu, bunda sama ayah sayang banget sama kamu. Kami juga merasa bersalah sudah merebut masa muda kamu. Tapi percayalah semua demi kebaikan kamu."


"iya bunda, Jen sudah tidak mempermasalahkan itu. Jen bahagia hidup dengan Axel. Kalau gak bahagia gak mungkin hamil 🀭" kata Jen sambil bergurau


"iya bunda percaya" kata bunda mengelus perut Jen


"laper bun"


"mau makan apa cucu bunda" tanya bunda pada perut Jen


"cucu ya pasti oma, uti, eyang, atau embah, masa bunda sih," Jen


"biar awet muda Jen"


"iya percaya, ayo ke dapur bun" Jen


.


.


.


.


Malam ini jam tujuh di rumah ayah sudah banyak orang. Mereka akan membaca ayat suci Alquran, membaca sholawat dan mendoakan bayi dalam kandungan dan juga calon ibu agar selalu di beri kesehatan dan kemudahan. Semua yang di undang sudah hadir dan acara pun segera di mulai.


Setelah acara selesai pengajian, sebelum para jamaah di persilahkan menikmati hidangan ada seorang yang datang. Jen tersenyum bahagia, begitu juga Axel.


"siapa boy?" tanya papah


"surprise dong" kata Axel


"ya ya ya" papah

__ADS_1


"sini mas," kata Axel mengarahkan seseorang yang membawa sebuah balon berwarna hitam. Setelah mas pengantar itu pamit, Axel meminta Jen untuk berdiri.


"selamat malam semua, maaf mengganggu waktu nya sebentar. Terimakasih atas kesediaan para jamaah yang datang mendoakan anak dan istri saya. Disini saya sengaja ingin mengetahui jenis kelamin anak kami. Terlepas dari cewek ataupun cowok kita akan merawatnya dengan penuh kasih sayang. Buat para calon eyang, di dalam sini kita akan tau jenis kelamin anakku" kata Axel


"kamu boleh pecahin Yang" kata Axel memberikan sebuah jarum pada Jen


Dorrr🌟🎊🎊


Suara balon meletus, tapi semua di buat bingung karena di dalam balon itu ada sebuah kertas. Biasanya di dalam balon akan di isi dengan kertas warna pink atau biru, untuk menandakan cewek atau cowok bayi dalam kandungan. Jen menarik kertas itu untuk melihat apa tulisannya.


Jawabannya ada pada orang tua laki laki kalian. Begitulah isi tulisan yang di baca Jen.


Semua reflek menoleh ke arah papah dan juga ayah. Perlahan mereka berdua membuka kancing baju koko, dan terlihatlah sebuah kaos putih yang bertuliskan anak pada ayah dan lanang (laki laki) pada papah.


"anak lanang? kata Axel yang belum percaya


"iya anak kalian laki laki," kata papah


"Alhamdulillah" terdengar beberapa orang yang yang mengucapkan syukur.


"papah, ayah, kok bisa sih jawaban ada di kalian?" tanya Jen setelah semuanya sedang menikmati makanan


"tanya papah mu" kata ayah


"bisa dong Jen, katanya surprise? tapi papah udah tau duluan" kata papah mengejek


"ini di luar dugaan pah" Axel


"tapi gak papa, kita semua bahagia mau punya cucu cowok. Terimakasih buat kalian berdua, besok buat lagi yang cewek ya." papah


"satu aja belum keluar pah" kata mamah


"biar mereka semangat mah" papah


"selalu semangat pah, buatnya" kata Axel yang memelankan kata 'buatnya' mungkin hanya terlihat bergumam.


"hehehe kan bener Yang"


"papah, mamah, ayah, bunda kita ke sana ya mau ngobrol sama temen temen" kata Jen


"iya sayang" bunda


Jen dan Axel menghampiri teman mereka yang sedang asik mengobrol juga makan.


"Jen selamat ya, anak kamu cowok" kata Sasa


"iya thanks, kalian makan yang banyak ya" Jen


"tenang Jen, gue udah pesen plastik sama art lo" Jamil


"buat apa?" Jen


"ya bungkus bawa pulang lah" jawab Ari


"hahaha suka suka kalian deh" Jen


"Xel, ada trik khusus gak membuat anak lanang gimana?" Jamil


"wah wah bahaya lo, mau praktek ya?" Dio


"iya lah besok kalau udah ada partner nya" Jamil.


"nikah dulu" Ari menoyor Jamil

__ADS_1


"iya gue tau, tapi kan nyicip juga gak papa kalau mau" Jamil


"astagfirullahalazim itu ZINA nak, dosa besar kamu" Kata Satria menirukan suara pak ustadz


"cocok pak ustadz" kata Dio dan mengundang tawa mereka semua


Mereka melanjutkan ngobrol bersama sampai acara selesai dan semua pamit pulang. Jen sedang duduk di sofa panjang sambil meluruskan kakinya di atas sofa. Sedangkan Axel dan para orang tua juga beberapa art ikut membantu membersihkan sisa pengajian tadi.


Sebenarnya ayah dan bunda menolak besannya untuk membantu tapi papah dan mamah tidak keberatan dan memang ingin membantu. Papah dan mamah juga mengajak bibi di rumahnya untuk membantu di sini. Karena banyak bala bantuan jadi cepat selesai acara beres beresnya.


"Yu, kita pamit ya" kata mamah


"loh udah malem, kalian gak nginep sini aja" Bunda


"kapan kapan Yu, mas Al ada meeting pagi" mamah


"ya sudah terimakasih, maaf loh merepotkan kalian" bunda


"tidak masalah ini juga buat anak anak kita, tidak merepotkan sama sekali" papah


"sekali lagi terimakasih besan" ayah


"ya sudah kami pamit sama Jen dulu" mamah


"sayang, mamah pulang ya? " kata mamah yang sudah menghampiri Jen di ruang keluarga.


"loh kok pulang mah, gak nginep aja?"


"lain kali sayang, kamu nginep disini dulu gak papa" mamah


"ya udah, Jen kedepan temui papah dulu" kata Jen dan menurunkan kakinya


"kalau kamu capek disini aja Jen, papah pasti maklum kok" mamah


"gak papa mah," Jen yang sudah berdiri di bantu mamah berjalan ke depan di mana orang tuanya dan Axel berada.


"papah sama mamah hati hati di jalan ya" kata Jen setelah menyalami mertuanya


"iya Jen."


Dan setelah sesi pamit pamitan Jen dan bunda ke dapur. Jen yang ingin mengambil minum sedangkan bundanya memastikan dapur juga sudah beres.


"mbak Jen mau apa lagi?" tanya mbok Jum sambil membereskan meja makan.


"enggak mbok, udah kenyang banget" Jen


"capek bun?" tanya Jen yang melihat bunda duduk di sampingnya


"capek ya gak dirasa Jen, bunda bahagia dan bersyukur melihat kamu sehat. Semua berjalan lancar, pokoknya bunda hanya seneng dan lega" Bunda


"maaf Jen merepotkan bunda"


"enggak, jaga anak lanang bunda dengan baik" bunda mengelus perut Jen


"permisi" kata Bayu sopan


"Bayu" bunda


"maaf bu Bayu mau pamit sama ibu" kata Bayu sambil menunjuk bi Ar dengan jempol nya. Memang sopan sekali Bayu itu.


"oh iya silahkan, makasih ya Bay sudah di bantuin" kata bunda


"sama sama bu" kata Bayu

__ADS_1


"Jen" Bayu menyapa Jen saat melewati nya dan Jen tersenyum ramah.


Tiba tiba sebuah tangan kekar melingkar di leher Jen. Jen menengok ke kiri untuk melihat siapa orang itu.


__ADS_2