Cinta Jennaira

Cinta Jennaira
Modus


__ADS_3

Dan ternyata Dio sama Satria duduk bergabung di meja Sasa.


"bilang aja mau modus lo, pakai acara ngajak gue" sindir Satria


"kan biar ada temannya gue, siapa tau lo juga mau ekhem " Dio berdehem


"ekhem apaan?" Satria, belum sempat menjawab Tamara datang.


"kalian ngapain di sini? Tanya Tamara yang heran melihat Dio dan Satria


"jangan gitu dong Tam, Dio kan cuma mau gabung" Bela Sasa


"iya gak papa kan?" tanya Dio


"em, jadi ini yang buat lo ngaca mulu dari tadi" sindir Jen


"ih Jen, " Sasa malu.


"kalian,,??" tanya Tamara pada Sasa dan Dio


"mereka modus" jawab Satria


"apa jangan-jangan kalian udah jadian?" tanya Tamara


"belum," jawab Dio sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal


Sasa hanya malu malu singa


"sini gue buka in, dari tadi gak bisa bisa" kata satria merebut botol saus yang di pegang Tamara.


"ekhem modus" sindir Jen


"gak papa, siapa tahu Tamara mau" kata Satria sambil menyerahkan sausnya, Tamara yang menerima saus jadi grogi.


Beneran gak dapet lo sama Tamara juga gak papa Jen. batin Satria


"ngapain?" tanya seseorang yang baru datang dan menepuk pundak Satria


"eh Xel, duduk sini gue butuh lo" jelas Satria


"ada apa?" Axel


"gue di suruh nemenin Dio PDKT, kan gak enak jadi nyamuk, mending gue suruh lo kesini" Satria.


Axel pun memesan es teh karena memang dia juga haus. Setelah itu ia baru sadar kalau yang di depannya adalah Jen sang tunangan. Jen sedang makan Dengan lahapnya tanpa peduli sekitar.


"lo laper apa doyan Jen? sampai gak ada suaranya" tanya Sasa


"dua duanya" jawab Jen cuek


"oh iya Xel, kemarin itu punya cewek lo?" tanya Dio


"apa?" Axel yang tidak paham


"Ferrari merah" jelas Dio


"oh" Axel manggut-manggut


"jadi bener punya cewek lo?" tanya Satria


"iya," jawab Axel melirik Jen


"uhuk" Jen tersedak mendengar jawaban Axel


"pelan pelan" Kata Axel sambil menyodorkan minumannya yang baru datang


Jen pun reflek menerima gelas Axel. Dan setelah dirasa mendingan dia melihat gelas yang ada di tangannya.


"ini bukan minuman gue" kata Jen


"itu punya gue" jawab Axel santai.


"sini in kalau udah" pinta Axel


"kan udah gue minum, minta yang baru aja, kalau gak lo minum air putih gue" saran Jen

__ADS_1


"udah gak papa sini" Axel merebut gelasnya kembali dan meminumnya.


"modusnya gak tanggung tanggung" ucap Sasa yang sedikit terkejut dengan kelakuan Axel.


"bagai ciuman tak langsung" saut Satria


"sikat Jen, lo udah putus kan" dukung Tamara


"kalian apaan sih, " Jen meninggalkan kantin


"eh kemana lo, makanan lo belum abis," teriak Sasa


"wah ngambek ini ibu negara" Tamara


Sedangkan ketiga cowok itu bingung harus ngapain. Dan saling pandang


"udah gak papa Jen butuh waktu kok, " ucap Tamara yang tau kebingungan para cowok


"tapi nanti kalian nyusul Jen kan?" tanya Axel khawatir


"pasti, lo tenang aja, emang dari tadi pagi Jen kurang semangat" jelas Tamara


Gue tahu pasti masih sulit buat lo nerima ini semua. Batin Axel.


"gue cabut duluan ya," pamit Axel


"kok malah ikutan pergi sih" gerutu Dio


"masih harus ke lapangan gue" jawab Axel sambil berlalu.


"eh Tam, tadi lo bilang Jen udah putus?" tanya Satria


"Jen bilangnya gitu, tapi kita juga belum tahu yang pasti" Tamara


"kenapa lo, mau coba deketin Jen?" tanya Dio


"dulu sih suka, tapi ngeliat Jen yang cuek banget gitu gue minder" jelas Satria


"kan belum lo coba" Dio


"ya udah, sama yang pasti aja ya Tam,?" pertanyaan menjebak Sasa


"iya" kata Tamara sambil melahap baksonya.


"tuh kode Sat" Dio


"sini in nomer ponsel lo, ntar kita chattingan aja" Kata Satria langsung to the poin pada Tamara


"lah mau chat apa an?" tanya Tamara yang masih menikmati makan nya.


Karena ponsel Tamara di meja, akhirnya Satria mengambil dan mengetikkan nomernya untuk di hubungi. Setelah ponselnya berdering ia mematikan dan mengembalikan ponsel Tamara.


"ntar harus di bales kalau gue chat ya?" paksa Satria


"maksa amat, ya ntar kalau gak sibuk dan gak ada kerjaan gue liat chatnya" jawab Tamara


"di liat sama di bales dong, biar kita ada temen chatting" Satria


"gue ada ya temen chatting, walaupun jomblo tapi gak ngenes kaya lo" ejek Tamara


"udah, pokoknya elo harus bales chat gue nanti"


"iyain ajalah biar cepet" .


.


.


.


Di sisi lain Jen yang kesal pun berjalan menuju taman sekolah yang berada di area depan. Terlihat beberapa adik kelas cewek yang sedang mengobrol di meja taman, mereka duduk melingkar i meja.


"kak Jen" panggil Anisa salah satu siswi yang duduk di sana. Jen pun menoleh dan menghampiri mereka.


"kakak mau kemana? sini aja bareng kita" pinta Anisa

__ADS_1


"iya boleh deh, gue juga bingung mau ngapain" jelas Jen dan duduk di meja karena tempat duduknya sudah penuh.


"kalian pada ngapain?" tanya Jen


"biasa kak, gibah" jawab Dita teman Anisa


"gibahin apaan?"


" kapan gue jadi pacar nya kak Axel" jawab Dita


"itu namanya ngarep" jawab Jen dan di susul tawa teman temannya.


"shut ikut gak?" tanya Ari yang kebetulan lewat dan akan keluar area sekolah.


"kemana?" tanya Jen


"biasa"


"ntar lo traktir gue yak?" pinta Jen


"rugi amat gue, udah ngajak di suruh nraktir"


"pokoknya harus, kalau gak mau gak gue ajak dugem lo" Jen pura pura merajuk,


"iya ayo" Ari


"oke, bye adik adik pengajian" kata Jen berlalu menyusul Ari keluar gerbang


"tumben lo sendirian, anak buah lo kemana?" tanya Ari


"di kantin pada pacaran"


"kok lo gak pacaran juga? biasanya kan lo yang bagai cicak nempel didinding"


"entah lah" jawab Jen sedikit murung


"eh jangan nangis, gak jadi gue traktir nih"


"ya elo pakai acara ngingetin, gue kan jadi sedih" kata Jen dan duduk di salah satu kursi yang ada di sebuah warung dekat sekolah. Warung itu sering buat tongkrongan para murid yang bolos dan merokok.


"kenapa, nih biar gak sedih" Ari menyodorkan satu bungkus rok*k dan korek api di atas meja.


Jen pun meraih bungkus rok*k itu. Ia mengambil beberapa batang dan mulai menyalakan korek api.


"eh jangan gila, satu aja emang muat tuh mulut" cegah Ari yang melihat Jen.


Tapi Jen tidak peduli dan mulai membakar rok*k itu. Setelah terbakar ia membiarkan api itu menyala dan menaruhnya dalam asbak. Jen tidak menghisap rok*k itu, ia hanya membakar aja.


"gue beneran bangkrut Jen, " kata Ari memelas sambil mengambil sisa rok*k yang ada di bungkusnya.


"buk, saya pesen mie intan kasih telor, sosis, cabe, bawang goreng, sayuran. Yang komplit yang spesial pokoknya" pinta Jen dan di turuti ibu penjaga warung. Kemudian Jen berjalan ke lemari pendingin dan mengambil satu botol Sprite.


"aahhhh nyatanya nyegerin" kata Jen setelah minum mirip di iklan iklan. Ari pun hanya menggeleng kan kepalanya.


"kalian gak ngajak" kata Jamil dan Roni


"tadi kalian masih tanding futsal kan, ya gue udah gatel nih mulut jadi kesini sendiri." jelas Ari


"lah ini Jen?" tanya Jamil


"tadi nemu di jalan, jadi gue bawa"


"anak kucing kali Ar nemu di jalan" Jamil


Jen tidak terlalu menghiraukan mereka, ia hanya menunggu pesanannya datang.


"mau ngapain lo" kata Jen yang melihat Ari dan Jamil memegang sendok dan garpu yang ada di mangkuk mienya.


"nyicip dikit" kata Jamil


"kaga, taroh tu garpu sama sendok" Jen


"pelit amat" Ari


"biarin gue laper dan gak mau di ganggu" jelas Jen yang mulai menyendok mie nya.

__ADS_1


Glek.. glek... Jamil dan Ari menelan ludahnya karena aroma mie instan dan penampilan yang terlihat sangat menggiurkan.


__ADS_2