
Jen hanya melihat Axel yang mondar mandir di depannya. Dia terlihat buru buru, karena memang jam sudah menunjukan pukul tujuh kurang lima belas menit. Biasanya Axel akan berangkat jam enam lebih atau setengah tujuh. Jabatan Axel sebagai ketua osis memang belum lengser, mungkin beberapa hari akan di lantik ketua osis yang baru.
Setelah selesai dandan ala cowok dan menggunakan jaket, Axel pun segera menyambar tas sekolah nya. Ia keluar begitu saja.
"udah dapet aja pamit enggak, apa kek, tadi aja honey, cintaku, istriku" gerutu Jen saat melihat Axel yang sudah keluar pintu.
cup
Axel kembali dan langsung mencium bibir Jen. M*l*m*t nya sebentar, dan di akhiri dengan mencium kening Jen. Sedangkan Jen hanya diam saja, karena Axel menyerangnya tiba tiba.
"aku berangkat dulu Yang, istirahat ya. I love you" kata Axel dan sekali lagi mencium pipi Jen.
"bye honey"
"em" kata Jen
Axel keluar kamar dengan suasana hati yang sangat baik, bahkan sesekali ia bersiul. Axel menuju meja makan, disana sudah ada mamah dan papahnya. Axel meminum segelas susu yang memang sudah di siapkan. Mamah sama papah heran melihat tingkah Axel, yang biasanya akan menyapa mereka tapi sekarang hanya senyum senyum tidak jelas.
"Xel?" panggil mamah
Axel hanya melirik mamahnya, karena memang ia sedang minum.
"apa mah?" tanya Axel
"Jen mana? tumben banget kamu baru turun?" mamah
"Jen di kamar mah istirahat. Axel berangkat dulu mah, pah" pamit Axel
"kamu gak sarapan?" mamah
"udah telat banget ini mah, tadi juga udah sarapan" jawab Axel
"sarapan apa?" tanya mamah lagi yang penasaran
"sarapan Jen, hehehe" kata Axel sambil cekikikan dan meninggalkan ruang makan
"good job boy," kata papah yang dari tadi diam
"maksudnya apaan pah,?"
"tadi malam mamah apain Jen?" tanya papah balik
"astaga Jen,..." mamah langsung beranjak berniat ke kamar Jen
"stop, abisin dulu nanti baru lihat Jen" kata papah yang memegang tangan mamah
Setelah papah berangkat ke kantor, mamah segera ke kamar Jen.
tok tok tok
"sayang" panggil mamah
"masuk mah" jawab Jen
Mamah membuka pintu dan masuk ke dalam. Jen sedang menyisir rambutnya.
"kamu gak sekolah Jen?"
"kata garwo suruh istirahat dulu mah,"
"kamu sakit?"
"em,,,, gimana ya mah" kata Jen nyengir
"oh mamah tahu, maafin mamah ya" kata mamah
"enggak mah, emang sudah saatnya. Jen gak papa kok, cuma masih nyeri aja kalau jalan" jelas Jen
"gak papa itu wajar, nanti juga sembuh. Kalau bisa minta Axel buat libur dulu perjalanan ke hutannya. Tunggu beberapa hari biar sembuh" saran mamah sambil mengelus tangan Jen.
"iya mah" kata Jen
"mau sarapan di sini apa kamu mau turun?"
"em disini aja ya mah,"
"iya, biar mamah minta bibi ke sini" mamah mengambil ponselnya dan menghubungi asisten rumah tangga nya.
.
__ADS_1
.
.
.
Di SMA Alfam
Axel mematikan mesin motornya, karena memang hari ini Axel menggunakan motor agar cepat sampai.
"tumben lo bawa motor?" tanya Dio
"kesiangan, gue ke belakang aja sekalian parkirin motor" kata Axel sambil mendorong motor nya dengan kaki, karena Axel tidak turun dari motor.
"oke" Dio
"wah babang tamvan pakai motor, duh pasti keren banget" siswi 1
"duh mana senyum senyum gitu, gue meleleh" siswi 2
"iya auranya keluar banget," siswi 3
"cuek aja auranya udah bisa membuat kita terpana, apa lagi senyum gini" siswi 1
Begitulah beberapa komentar para siswi yang mengagumi Axel, bahkan ada yang diam diam mengabadikan momen langka ini. Sampai di parkiran Axel memarkirkan motornya dan berjalan keluar parkiran.
"Axel" panggil seorang cewek. Axel berhenti dan menoleh ke samping kanan dimana cewek itu berada. Terlihat cewek itu menghampiri Axel.
"Jen mana?" tanya cewek itu
"Jen hari ini ijin, kurang enak badan." jelas Axel
"hah..? emang kenapa?" tanya Sasa, cewek tadi adalah Sasa
"hanya butuh istirahat, dia gak papa kok" Axel
"ya udah deh, gue bolos aja. Gue ke tempat Jen ya" kata Sasa yang akan kembali ke motornya.
"halo Dio ini cewek lo mau bolos" kata Axel pura pura telfon Dio
"eh eh" kata Sasa
"huh ketos nyebelin, gue aduin ke Jen" teriak Sasa
"kenapa loh?" tanya Ari
"lo juga nyebelin, ngagetin gue" Sasa berjalan ke kelasnya
"lah gue kena juga" gerutu Ari
Sasa masuk kedalam kelas sendiri tanpa Jen dan juga Tamara. Sampai di kelas Sasa juga tidak melihat Tamara.
"Sa, mana anggota geng lo?" tanya Ari yang di belakang Sasa
"gak tahu gue" kata Sasa cemberut
"wah bubar ya trio preman?" goda Ari
"enak aja" jawab Sasa
Bel tanda upacara sudah berbunyi, semua siswa siswi menuju lapangan upacara. Sasa terlihat berjalan dengan gontai. Sampai upacara selesai, Sasa masih berharap kalau dirinya bertemu dengan Tamara. Namun nihil sampai masuk jam pertama Tamara juga belum masuk kelas.
"selamat pagi semua" sapa pak Budi
"PAGI PAK" jawab semua murid
"kemana penghuni pojok?" tanya pak Budi menunjuk meja Tamara dan Jen.
"suut Sa, kemana mereka?" tanya Ari
"gak tahu" Sasa
"lah gimana sih," kata Ari.
tok tok tok
"MASUK" kata semua murid kecuali Sasa yang masih bingung
"permisi pak" kata Axel
__ADS_1
"iya monggo silahkan" jawab pak Budi
"saya mau antar surat ijinnya Jen pak" Axel menyerahkan surat nya.
"iya terimalah" pak Budi membuka surat itu
"oppa,,sini aja jadi penghuni pojok" kata salah satu siswi Ips 1
"iya, sama sama ips kan" bujuk siswi lainnya
"mau menjadi penghuni pojok?" tawar pak Budi
"tidak pak, saya permisi pak" pamit Axel
"oke baik lah" jawab pak Budi
Sepanjang pelajaran Sasa terlihat tidak bersemangat. Kenapa kedua sahabatnya tidak hadir tanpa mengabari dirinya. Saat jam istirahat Sasa menghubungkan Dio. Ia tidak mau keluar kelas sendiri. Sebenarnya banyak yang mau main dengan Sasa bahkan mengajak Sasa, tapi karena sedang tidak mood Sasa hanya ingin sama Dio. Sasa, Tamara dan Jen adalah siswi yang mudah bergaul dan juga asik, banyak yang suka pada mereka.
Sasa di ajak Dio ke ruang osis, disana sudah ada Satria dan juga Axel. Mereka makan nasi kotak yang biasa untuk para guru.
"tumben lo gak sama Tamara dan Jen?" tanya Satria
"pada gak masuk, kan nyebelin" jawab Sasa
"Tamara kenapa?" Satria
"Nah itu dia, gue gak tahu. Dia gak kasih tau apa apa" jawab Sasa sambil menghubungi Jen.
"kok aneh?" kata Satria
"lagi pada gak sejalan" kata Dio
"ah para cewek" Satria
"lah gue ingat tadi pagi Jen juga bilang salah paham, kenapa sih?" Axel
"panjang pokoknya. Jen telfonan sama sih mana sedang berada di panggil an lain mulu" gerutu Sasa
"noh suaminya" kata Dio menunjuk Axel dengan dagunya.
"tidur nih" Axel memperlihatkan Jen yang tertidur,
"kok bisa sih, vidio call tapi tidur" kata Sasa
"tadi dia setegah sadar ngangkatnya" kata Axel sambil tersenyum mengingat Jen
"woy bangun, Jen bangun" kata Sasa berbicara lewat ponsel Axel
"ih kebo banget gak bangun, padahal dari tadi kita ngobrol. Nih" Sasa mengembalikan ponsel Axel
"Yang, bangun Yang" kata Axel lembut
Ceklek
Tiba tiba pintu terbuka dan muncullah Mira. Mira melihat sinis pada Sasa
"ngapain lo disini? ini kan ruang osis" kata Mira pada Sasa.
"bukan urusan lo" jawab Sasa
"lo sendiri ngapain kesini?" tanya Dio pada Mira
"ya gue kan anggota osis" Mira
Sedangkan Axel dan Satria sibuk dengan ponselnya, Axel yang senyum senyum membuat Mira penasaran.
"Axel?" panggil Mira
"hem" jawab Axel tanpa melirik Mira
"besok Rabu jadi pelantikan osis baru?" Mira
"ya jadi lah, orang sudah di siapkan semua" saut Dio
"gue tanya Axel ya" Mira
"itu udah di jawab Dio" Axel
"udah selesai kan, balik kelas yuk" ajak Satria
__ADS_1
"oke" Axel beranjak di ikuti Sasa dan Dio