
Mereka semua tertawa melihat Ari yang bermuka masam. Setelah menelan kerupuk yang tadi di suapi Jen, Ari minum air mineral nya.
"jadi gimana Dis, mau tidak? pasti kan kamu belum pernah jalan jalan di Jakarta" Ari
"tapi kan aku tinggal di asrama, tidak boleh pergi lama setelah jam tujuh malam."
"iya juga ya, kalau gitu nanti aku antar sebelum jam tujuh"
"em gimana ya" kata Gendis malu malu
"udah gak papa Dis, dia baik kok. Tapi nanti kalau dia gigit lo bilang aja sama gue" Jen
"nah betul itu" Tamara
"i....iya aku mau" jawab Gendis sambil menunduk
"hah yes" kata Ari mengepalkan tangan ke atas kemudian di tarik ke bawah
"berkat bantuan gue itu" sindir Jen
"alah elo udah ngatain gue apa tadi, buris" Ari
"hahaha emang mirip kok" Jen
Saat mereka asik bercanda, tiba tiba suasana kantin heboh. Banyak mahasiswi yang mengeluarkan kaca, juga membenarkan penampilan nya. Sesekali terdengar pujian untuk seorang cowok yang tampan. Karena penasaran, Tamara dan Gendis melihat ke arah pintu masuk kantin.
"pandangan di jaga bee" sindir Satria pada Tamara
"hehe penasaran doang" Tamara bergelayut manja di lengan Satria
Cowok tadi berjalan dengan senyuman dan juga membawa buket coklat di tangan nya. Banyak gadis yang mengira kalau Romi akan memberikan buket itu padanya.
"hay Jen" kata Romi yang duduk di samping Jen dan menarik kursi singel
"ukhuk" Jen tersedak saat menyeruput kuah bakso
"minum Jen" kata Tamara yang menyodorkan air mineral nya.
Jen di buat bingung karena Romi yang tiba-tiba duduk di samping nya, dan menyapa dirinya. Sekarang Romi juga menyodorkan botol air mineral nya.
"ini aja" kata Jamil yang menyodorkan botol baru.
"punya Tamara aja" kata Jen
"maaf ya, nama kamu Jen kan?" tanya Romi setelah Jen minum dan di jawab anggukan
"ini buat kamu" Romi menyodorkan buket coklat yang tadi ia bawa
"tap..." Jen baru akan berbicara sudah di potong Romi lagi
"aku tidak menerima penolakan, kan ini sebagai tanda perkenalan kita. Lagi pula dua kali kamu menolak aku" Romi
"em...." Jen celingukan melihat teman temannya yang bermuka datar
"sory kak, Jen tidak makan coklat" Jamil
"terus kamu sukanya apa Jen?" tanya Romi
"gak suka apa apa" jawab Jamil lagi
"kenapa dia yang jawab bukan kamu?" Romi
"em maaf kak" Jen menunduk merasa tidak enak"
"gak papa, ini buat kamu ya. Lain kali kita ngobrol lagi" kata Romi yang meletakkan buket coklat itu.
"aku permisi dulu" kata Romi yang beranjak setelah melihat ponselnya ada sebuah panggilan masuk.
__ADS_1
"terimakasih kak" kata Jen.
Romi mengangguk dengan senyuman, dan setelah itu pergi menjauh.
drt drt drt
Dering ponsel Jen, dengan segera Jen mengangkat panggilan itu.
πGarwo
Jangan di makan coklat itu, kalau kamu mau nanti aku belikan satu karung!!!!!
"dari..man" kata Jen yang belum selesai
π
aku tau Yang, kamu bisa kan nurut sama suami. aku tutup dulu telepon nya masih meeting.
"ish menyebalkan sekali," gerutu Jen
"lo pasti tersangka nya?" kata Jen melihat Jamil
"apa enggak tau gue" Jamil
"gue udah curiga sama lo" Jen
"udah terusin yang makan, kasian itu bakso keburu jadi mie ayam" Ari
"emang bisa, ngaco lo" kata Jen yang memakan baksonya.
Setelah semua selesai makan mereka kembali ke kelas masing masing, tapi sebelum itu tadi Jen membagikan coklatnya kepada teman temannya.
"Jen, kamu tidak mau ini,?" tanya Gendis saat ini mereka sudah duduk di bangku kelas
"enggak" jawab Jen
"kenal aja enggak Dis,"
"tadi kan dia ngajak kamu kenalan, kenapa gak mau?"
"hehe udah jangan di bahas," Jen
"em maaf ya" kats Gendis tidak enak
"santai aja, oh iya gue minta nomor hp lo boleh? masa udah temenan gak punya nomer nya," Jen menyodorkan ponselnya
"boleh, sebenarnya aku pengen minta nomor kamu, tapi aku masih takut masa kamu mau jadi teman aku" Gendis
"emang kenapa kalau gue jadi temen lo?"
"aku dari kampung Jen, kamu pasti anak orang kaya, kamu juga cantik banget. Aku minder dengan kalian" Gendis
"astaga, gue dan semua teman gue gak milih milih kalau berteman Dis. Yang penting jadi diri sendiri dan tidak saling menyakiti. Kenapa harus mewah kalau memang belum mampu, kenapa harus bermuka dua kalau cuma pengen punya teman yang lebih dari kita. Pasti itu tidak akan nyaman, tapi kalau kita jadi diri sendiri itu akan lebih baik. Yang suka juga pasti akan mendekat, dan yang tidak suka pasti juga tidak peduli kok" Jen
"kamu benar Jen, aku nyaman berteman dengan kalian, seperti nya kalian tidak terganggu dengan aku"
"jangan berfikir yang macam-macam ya, kita semua tulus dalam pertemanan"
"terimakasih Jen"
.
.
.
.
__ADS_1
Di kantor, Axel yang selesai meeting langsung menuju ruangan nya.
"siapa sih Romi itu, kalau cuma mau kenalan kenapa juga harus kasih coklat segala." kesal Axel pada diri sendiri
ting
Sebuah pesan masuk di ponselnya, dengan segera Axel membuka nya.
π© Jamil
Romi Syahputra, cowok tampan, mapan yang di gilai para mahasiswi di kampus. Anak dari Adam Syahputra, pemilik pabrik wafer terbesar di kota ini.
Begitulah isi pesan Jamil berupa sebuah informasi yang memang Axel inginkan.
"kerja bagus Mil" gumam Axel dan duduk di meja kerjanya.
Dengan segera Axel membuka laptop dan mencari informasi tentang siapa Romi sebenarnya. Setelah mendapat beberapa informasi, Axel menyandarkan tubuhnya di kursi.
"benar juga yang di katakan Jamil, tapi sepertinya gak asing sih cowok itu. Siapa?" Axel mengingat sosok Romi ini
"Dia, seperti nya dia cowok yang di tempat dinner waktu itu. Tapi kan gue sudah bilang kalau Jen adalah nyonya muda Alexander. Apa dia tidak faham ya kalau Jen sudah punya suami. Tidak bisa dibiarkan ini" gumam Axel.
Pulang kuliah entah kenapa Jen ingin sekali menginap di tempat bunda. Setelah meminta ijin mamah juga Axel, Jen langsung meminta pak Bejo mengantarkan ke sana. Dan nanti Axel akan menyusul Jen ke rumah bunda, mana bisa ia jauh jauh dengan Jen.
Setelah membersihkan diri, Jen langsung menuju ke dapur. Bundanya belum pulang, mungkin sebentar lagi.
"mbak Jen mau makan apa?" tanya bi Ar
"ada apa bi?"
"ada ayam goreng kremes, gudek Jogja, sambal tomat, telur kecap" jelas bi Ar sambil mengambil semua lauk yang tadi di simpan di lemari.
"hmmmtt mau semuanya bi π"
"biar bibi bantu ambil"
"gak usah bi, Jen sendiri saja. Makasih ya bi" walaupun Jen adalah anak majikan, tapi Jen begitu sopan dengan semua yang bekerja di rumah ini maupun di rumah mertuanya. Itu yang membuat semua sayang dengan Jen.
"kalau gitu bibi mau lanjut bantu mbok Jum di belakang ya mbak"
"iya bi"
Jen makan dengan lahapnya, sampai tidak sadar ia makan banyak. Tiba tiba sebuah tendangan kecil terasa di perutnya.
"sayang, kamu gerak?" kata Jen mengelus perut yang tadi di tendang, ia terlihat bahagia.
"gerak lagi dong sayang, mommy pengen ngerasain lagi" Jen mengelus lagi perutnya.
Dan karena sentuhan Jen, bayi yang ada di kandungan nya itu bergerak lagi.
"terimakasih boy, mommy sayang banget sama kamu, gak sabar deh pengen cepet-cepet liat kamu" Jen
"Jen, kenapa kok senyum senyum" tanya bunda yang baru datang
"ini bun, babynya gerak" kata Jen
"masih gerak?"
"udah enggak sih bun, tadi gerak tapi cuma singkat,"
"besok besok pasti akan aktif Jen, kamu sudah makan?"
"udah banyak banget bun"
"pantes gerak, orang mommy nya makan banyak pasti di dalam sana sempit." ejek bunda
"emang gitu bun?"
__ADS_1
" hehehe gak tau juga bunda, katanya eyang kamu dulu suka bilang gitu. Makan secukupnya dulu, Nanti kalau lapar makan lagi."