
Waktu sudah menunjukkan makan siang. Jen baru terbangun dari tidurnya, ia melihat ke belakang dan tidak menemukan Axel.
"mas" panggil Jen
"kemana sih, tadi kan tidur disini. Apa kekantor? gak ada pesan masuk juga" kata Jen yang tidak mengetahui keberadaan Axel.
"laper, masa gue harus mandi siang bolong gini. Gara gara kamu mas" gumam Jen dan beranjak ke kamar mandi.
Selesai mandi Jen menuju ke dapur, mungkin suaminya sedang makan siang pikirnya. Sesampainya di meja makan, Jen hanya melihat mamah.
"Hay Jen, kamu sudah bangun?" mamah
"iya mah, mas garwo kemana ya mah?" Jen
"oh ke kampus, sini makan dulu" kata mamah
"kok gak ngajak aku," gerutu Jen dan menarik kursi.
"em nanti kamu tanya Axel aja ya sayang"
"iya mah, maaf ya mah tadi Jen malah tidur"
"gak papa mamah paham kok. Kamu mau makan apa Jen?"
"ini aja mah, biar Jen ambil sendiri" Jen
"ya udah, yang banyak ya" mamah
"mamah libur?" tanya Jen di sela makannya
"iya Jen, mamah sengaja mau nemenin kamu"
"makasih mah" kata Jen dengan senyuman nya
"sama sama." mamah
Setelah makan dan ikut mencuci piring, Jen menghampiri mamah nya yang sedang bersantai.
"mah," panggil Jen
"duduk Jen" mamah
"mah, boleh tidak Jen ngomong sesuatu"
"ya boleh dong, mau ngomong apa?"
"sebelumnya Jen minta maaf dulu sama mamah. Jen boleh tidak setelah melahirkan nanti ikut KB?" tanya Jen yang sebenarnya ragu
"kenapa sayang?"
"em....." Jen terlihat takut untuk berbicara
"kamu takut? cerita sama mamah Jen. Gak papa, mamah gak marah sama kamu"
"sebenarnya Jen bingung mah, apa bisa ngurus anak dan kuliah. Salain itu Jen juga ingin membuat ayah bunda, mamah dan papah bangga sama Jen."
"maksudnya kamu mau fokus kuliah dulu?"
"sama fokus ngurus anak satu dulu mah, boleh kan mah Jen mengejar cita-cita? Jen akan berusaha untuk menjadi istri dan ibu yang baik"
__ADS_1
"Jen, mamah dan papah akan selalu mendukung kamu. Untuk masalah anak, memang dulu kami juga menginginkan kamu dan Axel punya anak. Rumah tangga kalau belum punya anak itu rasanya masih ada yang kurang Jen. Dan kami (para orang tua) tidak mengharuskan kamu punya anak yang banyak. Satu dulu aja kami sudah bersyukur"
"iya mah, Jen juga ingin punya anak lebih dari satu. Tapi Jen mau fokus kuliah dulu, setelah Jen lulus kuliah kalau di kasih lagi Jen mau mah."
"jangan jadikan ini beban buat kamu Jen, kami semua mendukung kamu. Untuk cucu eyang yang satu ini, pasti kita akan bantu mengurusnya" kata mamah mengelus perut Jen
"makasih mah, maaf kalau Jen membuat mamah kecewa"
"tidak, kamu mantu terbaik mamah. Kamu udah cerita sama bunda kamu?" tanya mamah
"sebenarnya udah mah, tapi bunda menyarankan Jen, agar membicarakan dengan mamah"
"mamah dan papah tidak masalah Jen, sama Axel?"
"belum mah, mungkin perlahan kalau sama garwo. Kemarin waktu pemeriksaan juga di tanya dokter untuk rencana kedepannya, tapi garwo masih belum kepikiran."
"pasti Axel juga akan paham, ngomong ngomong kamu sudah ada rencana mau pakai Kb yang apa?"
"hehehe belum mah, tapi kemarin sudah di jelaskan dokter sih. Masih bingung mah"
"kamu itu lucu" kata mamah menoel hidung Jen
"ya habisnya banyak banget mah, setahu Jen cuma pakai sarung doang" jujur Jen
"pakai sarung?" tanya mamah yang tiba-tiba tidak paham
"itu loh mah, balon" kata Jen
"oh hahaha, kan ada banyak cara sayang. Ada yang mandiri itu lebih aman buat kesehatan. Selain itu kan ada suntik, implan, IUD, dan sepertinya masih ada yang lain tapi mamah lupa."
"iya mah, kalau yang mandiri itu kan tingkat kebobolan nya masih banyak persen. Sebenarnya malah gak bikin gendut juga ðŸ¤" kata Jen
"ya coba aja kamu bicara sama Axel, kalau mandiri kan harus kerja sama berdua"
"kan ada satu cara lagi Jen" kata mamah
"apa mah?" tanya Jen
"minta Axel, keluarin di luar" kata mamah
"No mamah, itu saran yang tidak mengenakkan" kata Axel yang baru datang dan mendengarkan obrolan mereka.
"saran apa?" tanya mamah
"itu tadi suruh keluar di luar, sama aku dengar suruh pakai sarung segala. Enggak ya Yang" kata Axel duduk di tengah mereka. Axel merentangkan tangannya ke kanan dan kiri, kaki kanannya pun ia angkat dan di tempatkan di atas lutut kiri. Sudah seperti bos beristri dua saja.
"kamu itu datang datang main enggak enggak aja" mamah
"mas, nanti aku marah sama kamu. Sekarang kita baru bahas KB ini" Jen
"buat apa sih Yang, punya anak banyak juga gak papa" Axel
"Axel, kamu juga harus punya planning. Di bahas bersama cari solusinya" saran mamah
"mas boleh ya, aku mau jadi ibu yang bisa mengajarkan anak-anakku dengan pengalaman. Nanti setelah aku lulus kuliah atau sudah kerja, aku mau punya anak lagi" Jen
"siapa yang mengijinkan kamu bekerja sayang?" tanya Axel yang mengandung unsur tidak suka
"mas...." Jen benar benar tidak habis pikir
__ADS_1
"Yang, aku mau waktu kamu sepenuhnya buat aku dan anak anak"
"Axel, kalian masih muda. Biarkan Jen juga mengejar cita cita nya. Untuk waktu bersama kan pasti bisa di atur, kasihan Jen. Dia sudah mengorbankan masa mudanya untuk menikah dan hamil. Sudah siap menjadi ibu dan mengurus kalian. Nanti dia akan kuliah dan tetap mengurus keluarga. Mamah dulu cuma kuliah aja rasanya berat sekali, apalagi di tambah ngurus anak banyak." mamah
"tapi mah, Axel tidak mau Jen kecapekan"
"makanya kamu kerja sama dengan Jen, ijinkan Jen ber KB. Atau tidak perlu KB tapi kamu jangan sentuh Jen."
"ya mana bisa mah, yang ada nanti Jen merengek-rengek" kata Axel
"ih kamu mas," kata Jen yang tidak setuju dengan kata kata Axel, padahal kan Axel sendiri yang sering merengek
"hehehe, kita berdua Yang" Axel
"gak kamu aja" Jen
"ya udah aku, emangnya kamu beneran gak mau punya anak banyak dari aku Yang?" Axel
"bukan gak mau mas, aku cuma minta waktu. Aku juga pengen buat keluarga besar kita bangga." Jen
"hhmmmm" Axel menghela nafasnya berat, sejujurnya ia ingin Jen menjadi ibu rumah tangga yang siap sedia. Bukan wanita karier atau pebisnis.
"Xel, mamah aja kerja walaupun papah sebenarnya sudah mampu dan cukup memenuhi kebutuhan mamah. Tapi mamah masih ingin bekerja, masih ingin mengurus usaha. Ya buat anak cucu nantinya." mamah
"ya udah terserah kamu Yang, tapi aku gak mau kalau kamu pakai yang alami. Itu sangat menyiksaku sayang" Axel
"kamu itu mau enaknya aja," mamah
"ish mamah gak ngerasain sih," Axel
"ya mengalah demi kebaikan kan tidak masalah Xel" mamah
"terus maunya aku pakai yang mana mas?"
"kapan kapan kita bicarakan sama dokter yang paling aman aja Yang" Axel
"iya mas, makasih atas pengertiannya" kata Jen memeluk Axel.
"yang penting kamu bahagia dan baik baik saja. Kalau pun kamu merasa lelah saat mengejar cita cita, berhenti dan nikmati menjadi seorang istri." Axel
"pasti mas, doa kan aku" Jen
"iya sayang" kata Axel mengelus kepala Jen
"oh mas kok kamu ninggalin aku ke kampas sih" Jen memukul dada Axel pelan dan melepaskan pelukannya.
"aw kok di pukul sih" Axel
Sedangkan mamah menahan tawa saat melihat itu semua.
"habisnya kamu bohong, kata nya mau di urus bersama" Jen
"Yang, kamu tadi tidur. Kan memang waktunya cuma mepet. Jadi aku ke kampus sendiri"
"iya gara gara kamu aku jadi tidur"
"gara gara aku gimana sih Yang, aku kan gak nyuruh kamu tidur. Lagi pula tadi aku udah bangunin kamu, tapi gak mau"
"iya gak nyuruh tapi kan kamu buat aku ngantuk mas"
__ADS_1
"udah semua udah beres, kamu kan lebih enak di rumah. Tinggal menikmati aja jangan marah"
"ish" Jen