Cinta Jennaira

Cinta Jennaira
Jen yang ngeyel


__ADS_3

Setelah Tamara melihat kedepan ternyata Romi masih menunggu.


"duh gimana nih" kata Tamara pada diri sendiri


Tamara kembali menghampiri Jen, ia melihat Jen yang gelisah.


"Jen, masih ada" kata Tamara


"lo gak bohong kan?"


"ya enggak lah, gimana nih?" Tamara


"em gue punya ide', kata Tamara lagi yang melihat beberapa mahasiswi sedang berdiri di depan kaca. Ada salah seorang yang berbadan sedikit gemuk.


Tamara dan Jen berbicara kepada orang itu, niatnya untuk meminta tolong. Akhirnya mereka mau menolong Jen. Jen meminjam jaket gadis gendut itu dan mengurai rambutnya yang tadi di ekor. Ia akan berjalan keluar dengan mahasiswi yang lain, sedangkan Tamara nanti akan berjalan dengan gadis gendut itu.


Berhasil


Jen lolos begitu saja tanpa Romi tau, entah apa yang tadi di lakukan Romi saat Jen lewat di depannya. Ia benar-benar tidak mengenal Jen. Namun sayang saat Tamara yang lewat, Romi mengenalinya.


"sory, Jen mana?" tanya nya menghentikan Tamara


"udah duluan kak"Jen


"tadi kan sama lo, pasti bohong ya?" Romi


"gak percaya ya udah" Tamara berlalu begitu saja


"ah sial masa gue harus masuk sih" Romi


Saat ada yang masuk ke dalam toilet, Romi meminta bantuan untuk melihat apa ada Jen di dalam. Dan hasilnya nihil, Romi berlalu begitu saja.


Kenapa kamu harus menghindar sih Jen, gue kan cuma mau deket. Biasanya juga cewek yang ngejar gue, kenapa elo beda sih Jen. Gue semakin penasaran. Romi


Sedangkan Jen yang baru saja sampai kelas langsung duduk, dan mengatur nafasnya.


"di kejar setan lo?" tanya Jamil


"genderuwo ganteng" kata Jen


"emang ada Jen?" tanya Gendis


"ada tadi,"


"siapa sih?" Jamil


"Romi" Jen


"hah dia ngejar lo? lo di apain sama dia? luka gak? anak lanang aman kan? mampus gue" kata Jamil


"lo waras kan?" tanya Jen pada Jamil


"ye jawab pertanyaan gue Markonah" kata Jamil


"gue gak papa" Jen


"syukurlah, Romi ngapain?" Jamil


"kepo" Jen


"ish Jen cerita dong, nanti kalau ada apa-apa gue yang di cincang" Jamil yang terlihat frustasi, pasalnya tadi ia telat dan tidak bisa menjaga Jen, walaupun dari jauh.


"bukan urusan gue" Jen


Mudah-mudahan itu Rompi baju celana gak bikin ulah deh, kalau Jen di sini berarti dia aman. Sory Xel, untuk kali ini gue gak laporan ya. Batin Jamil


"Selamat pagi semua" sapa dosen yang mengajar hari ini


"PAGI PAK" jawab semua yang ada di dalam kelas.


Mata kuliah hari ini cukup padat, bahkan waktu istirahat selama dua setengah jam membuat para mahasiswa mengeluh. Bagaimana tidak jika pagi sudah dua mata kuliah, dan siang jam dua baru mulai lagi satu mata pelajaran. Siang waktunya tidur, dan bermalas-malasan harus tetap fokus mikir di dalam kelas. Selama dua setengah jam mereka menunggu pergantian mata pelajaran, harus ngapain? sangat membosankan bukan?. Tapi ya harus tetap di lakukan karena sudah menjadi tugas mahasiswa.


Setelah melewati dua mata kuliah, Jen segera keluar kelas bersama Gendis dan juga Jamil.


"Gendis gue nunggu di kamar asrama lo boleh gak? gue capek pengen rebahan" Jen


"boleh kalau kamu mau, tapi ya itu kamar nya mungkin tidak sebagus punya kamu" Gendis


"gak papa yang penting gue bisa istirahat sebentar" Jen

__ADS_1


"terus gue?" tanya Jamil


"bukannya ini hari Jum'at, ya seharusnya elo dimana? apa sudah pindah?"


"enak aja lo, gue masih dengan satu keyakinan yang sama. Maksudnya setelah dari masjid nanti" Jamil


"maaf Jamil, kalau di asrama putri mau ketemu atau main sama cowok cuma boleh di halaman depan" Gendis


"iya gue paham kok. Yang penting lo jangan macem-macem" kata Jamil menunjuk Jen


"bawel lo" Jen


"oh iya Dis, gue mau cari makan dulu sama Tamara. Nanti lo jangan makan ya, gue bawakan sekalian" Jen


"gak usah Jen, tadi aku udah masak nasi kok sama temen" Gendis


"udah gak boleh nolak, itu Tamara" Jen


Jen menghampiri Tamara sendiri, karena Gendis menunggu di asrama.


"tawon lo mana?" tanya Jen pada Tamara


"tawon?"


"bee Satria" kata Jen cekikikan


"sialan lo, baby ya bukan bee tawon" Tamara


"hahaha sama,"


"Gendis mau kemana?"


"Gendis nunggu asrama,"


"sama Ari?" Tamara


"ya enggak lah"


"lah itu" Tamara menunjuk Gendis dan Ari.


"ngobrol kali, sini kuncinya"


"biar gue yang bawa" kata Jen


"enggak ya, gue aja"


"please Tam,"


"enggak pokoknya, naik buruan"


"gue nangis nih"


"nangis aja, kalau lo gak malu"


"Sini dong Tam gue pengen banget naik motor, cuma beli makan di depan kan" Jen


"nanti gue....Jen sini dong" kata Tamara Karena Jen berhasil merebut kunci motor Tamara.


"lo turun dulu"


"enggak" Tamara


Saat dua gadis itu sedang berebut kunci, Ari dan Gendis yang masih ngobrol pun menengok ke arah mereka.


"gelut kenapa itu anak" Ari


"gak tau, kita pisahkan gak?" Gendis


"gak usah, liat dulu aja"


Akhirnya Jen yang menang berdebat dengan Tamara, mau tidak mau Tamara duduk di bonceng oleh Jen. Jen tersenyum penuh kemenangan saat dirinya sudah naik di atas motor Tamara. Kangen sekali rasanya dia naik motor.


"pakai nih helm" kata Tamara


"oke siap, lo siap siap ya?" kata Jen yang sudah bersiap dan menyalakan motor sport Tamara.


"lo janji pelan pelan Jen, awas kalau gue sampai di marah Axel" kata Tamara.


"wah bahaya ini" kata Ari yang menarik Gendis mendekati Jen.

__ADS_1


"Jen" panggil Ari


"turun Jen" kata Jamil yang baru melihat kejadian itu, dirinya tadi mengobrol dengan temannya.


"Jen tunggu" kata Romi,


Di saat bersamaan ketiga cowok itu menghampiri Jen, Tamara juga membujuk Jen untuk kembali turun. Namun sayang Jen lebih dulu memacu motor Tamara dengan kencang. Tamara hanya bisa berdoa dan berpegangan pada Jen.


"mampus gue" Jamil


"bahaya, lo gimana sih" Ari menyalahkan Jamil


"Jen bisa bawa motor kan?" tanya Gendis ikut khawatir


"bisa dia kan pembalap" Ari


"pembalap?" Romi


"gue susul mereka," Jamil lari ke motornya


"jawab gue, Jen pembalap?" tanya Romi lagi pada Ari


"iya, tapi bukan urusan lo" kata Ari


Gue di buat penasaran banget sama lo Jen. Romi


.


.


.


"yuhu....." Jen berteriak karena merasa bahagia


"berhenti Jen" Tamara


"udah lo diem diem bae" Jen


Setelah sampai di sebuah rumah makan yang ia mau, Jen menghentikan motornya. Mereka memesan makanan juga minuman sesuai selera. Saat keluar dari rumah makan, Tamara meminta kunci motor nya. Karena merasa puas tadi sudah naik motor, Jen memberikan kuncinya kepada Tamara.


"gue bisa jantungan kalau lo bonceng lagi" kata Tamara


"masa pembalap di bonceng takut" ejek Jen


"gue ngeri ngeri sedap sama perut lo, kalau lo gak hamil gue juga happy happy aja."


"belum besar, masih aman kan?"


"gak lagi lagi ya Jen, awas lo ngeyel" Tamara


"hehehe iya ibu Tamara" Jen


Mereka pun menuju asrama tempat Gendis tinggal, dan Gendis sudah menunggu di halaman depan. Saat masuk ke kamar Gendis di sana terlihat ada tiga orang, mungkin mereka teman satu kamarnya Gendis.


"ini tempat tidur aku Jen" kata Gendis menunjuk ranjang paling pojok


"gak ada AC?" tanya Tamara


"adanya kipas Tam" jawab Gendis


"duh enaknya ketemu kasur," kata Jen yang sudah rebahan.


"ini kita makan dulu" kata Tamara


"kalian makan gue sebentar lagi" kata Jen yang menutup mata.


Tidak terasa Jen terlelap, Tamara menghembuskan nafas panjang saat melihat Jen tidur. Dering ponsel Jen dari tadi masih terdengar, tapi Jen tidak terganggu sama sekali.


Tadi Jamil sempat menghubungi Tamara dan menanyakan keadaan mereka. Gendis dan Tamara mengobrol sambil menunggu Jen. Tiba tiba ponsel Tamara berbunyi, dengan segera Tamara mengangkat nya.


๐Ÿ“žAxel


Tam lo sama Jen kan?


"iya, kenapa?"


๐Ÿ“ž


Jen mana? kenapa telfon gue gak di angkat

__ADS_1


"gue vidio call ya, biar lo liat Jen"


__ADS_2