
Beberapa hari sudah berlalu. Axel melakukan tugasnya dengan baik, dan beberapa hari ini Jen terkadang ikut Axel kerja. Alasannya tentu saja bosan. Pagi ini Axel memutuskan tidak berangkat kerja, semua kerjaannya akan di handle Dodi.
Terlihat Jen yang sedang berdiri di bibir pantai, ia tadi mengajak Axel untuk menikmati sunrise.
"Jen" panggil Axel yang berada di belakang Jen. Kemudian Jen hanya menoleh ke samping kanan.
klik
Axel memotret Jen dari belakang, terlihat di depan Jen adalah air laut yang berwarna oranye. Karena terkena pantulan sinar matahari yang mulai muncul 🌅.
"kamu ambil fotoku ya? " tanya Jen dan Axel tersenyum.
"foto bareng yuk Yang, mumpung viewnya bagus"
" yang fotoin siapa?"
"apa sih pagi pagi nyuruh gue kesini, ngantuk ini." kata Dodi yang baru datang
"ini tukang fotonya udah datang Yang" kata Axel
"maksut lo?" tanya Dodi
"lo fotoin kita, anggap aja gue lagi prewedding" Axel
"astaga, kenapa harus gue? manggil tukang foto beneran kan bisa?"
"gak usah banyak protes, nih" Axel melempar hpnya. Untung Dodi sigap menangkap.
Axel dan Jen mulai berfoto, dari yang biasa sampai yang mesra. Awalnya Jen malu karena Axel yang maksa jadi ia pasrah saja.
"jangan gitu, ini nasib jomblo gimana?" gerutu Dodi yang melihat Axel berpose akan mencium Jen
"udah sekali aja, buat wallpaper hp" jelas Axel. Mau tidak mau Dodi pun menuruti nya.
"nih udah kan,? gue mau balik resort. Siap siap ke kantor" kata Dodi, semenjak Axel datang Dodi tinggal di resort yang sama dengan Axel.
"kerja yang bener" kata Axel
"gue kasih waktu buat lo bikin ponakan. Jangan main mulu" kata Dodi sambil berlalu.
"bagus" kata Jen yang melihat lihat hasil fotonya.
"bagus kalau modelnya kita berdua" Axel
"percaya diri sekali anda" Jen.
"balik resort atau disini dulu?"
"balik aja mau mandi"
"model kok belum mandi"
"yang penting cantik"
"iya percaya Yang"
Axel dan Jen kembali ke resort. Setelah membersihkan diri mereka pun sarapan.
"lo beneran gak ke kantor?" tanya Dodi
"enggak, gue mau menemani nona muda Alexander" canda Axel
__ADS_1
"apaan sih" gerutu Jen yang malu
"kasian kamu nya Yang, masa di ajak kesini tapi cuma di ajak kerja"
"ya udah terserah kalian, gue cabut dulu" kata Dodi.
Selesai sarapan, Jen dan Axel memutuskan untuk menonton film di resort saja. Tadinya Axel mengajak Jen untuk nonton di bioskop, tapi Jen menolak dengan alasan masih pagi.
Akhirnya Axel menuruti Jen yang meminta di rumah dulu, mungkin nanti sore rencana jalan jalannya. Di ruang tengah resort ada sebuah tv besar dan sofa bed. Jen merebahkan diri di sofa dan menggunakan paha Axel sebagai bantal.
Mereka sama-sama fokus dengan film bergenre romantis. Sesekali Axel mengusap kepala Jen yang berada di pahanya. Tiba tiba sebuah tangan menutup mata Axel dari belakang.
"Lepas, siapa sih" kata Axel.
Mendengar itu pun Jen menoleh ke atas untuk melihat apa yang terjadi.
"ih Axel, aku kangen banget sama kamu," kata Neta yang melingkar kan tangannya di leher Axel. Reflek Axel melihat ke samping kanan, dimana Neta juga sedang memandangnya.
Jen kaget melihat itu semua hanya diam. Sampai beberapa saat Jen tersadar, tapi Axel yang masih kaget pun hanya diam memandang Neta. Neta merasa bahagia karena menurutnya kejutan kedatangannya yang tiba-tiba berhasil membuat Axel kaget. Bahkan Neta belum mengetahui keberadaan Jen.
"ekhem" deheman Jen menyadarkan Axel dan Neta.
"Yang" kata Axel sambil melepaskan tangan Neta dari lehernya
Neta kaget dengan adanya Jen. Apalagi dengan posisi mereka saat ini membuat Neta menutup mulutnya.
"dia siapa?" tanya Jen setelah bangun dan duduk dengan benar.
"aku bisa jelasin," Axel
"Xel?" panggil Neta bingung.
"aku kan mau kasih surprise buat kamu, kemarin kamu kan udah janji mau ketemu. Kok kamu gak ke kantor?" kata Neta
"Axel?"panggil Jen sedikit kesal
"Yang, ini Neta temen aku,"
"apa? Yang?" tanya Neta
"kamu duduk dulu deh Ta, biar aku jelasin"
"ya kamu jelasin sekarang, siapa dia? kok kamu manggil dia Yang?" tanya Neta yang bingung?
"Gue Jen," kata Jen sinis
"kok lo berduaan sama Axel, mana pakai baju kaya gitu." kata Neta yang melihat Jen hanya pakai kaos kebesaran dan hotpants yang hampir tertutup kaos.
"Neta cukup, kamu mau ngapain?" tanya Axel
"aku kangen sama kamu Axel, udah hampir tiga tahun kita gak ketemu" jelas Neta.
Axel menghela nafasnya berat.
"kamu menghindari aku Xel, buktinya kamu janji ketemu tapi malah kamu gak ke kantor."
Jen beranjak pergi, ia menuju halaman belakang.
"Jen" panggil Axel, tapi Jen tidak menghiraukan Axel.
Axel yang berdiri dan akan mengejar Jen pun di tahan Neta.
__ADS_1
"apa sih Ta?" kesal Axel
"dia siap sih Xel" tanya Neta
"dia cewek satu satunya yang sekarang ada di hati gue," jelas Axel
"tapi hubungan kita belum berakhir Axel" kata Neta yang tidak terima dengan pengakuan Axel
"Neta cukup, hubungan kita sudah berakhir saat kamu pergi tanpa kabar. Dan aku sudah melupakan semua kenangan kita. Aku sudah membuka hatiku untuk Jen." jelas Axel
"enggak Axel, dengerin penjelasan ku dulu, aku tidak berniat meninggalkan kamu,"
"cukup Neta, aku mohon kamu pulang. Hubungan kita sudah berakhir. Aku sudah bahagia dengan Jen, bahkan aku sudah mencintai Jen. Aku harap kamu juga bisa melupakan masa lalu kita"
Air mata Neta sudah tidak bisa di bendung lagi, cowok yang beberapa tahu lalu mengisi hatinya kini sudah mencintai orang lain. Axel yang dulu sangat menyayangi Neta dan selalu melindungi Neta. Bahkan Neta adalah cinta pertama Axel.
Bagi Axel dulu, Neta adalah gadis cantik dan anggun. Gadis penyayang dan baik. Tiga tahun yang lalu Neta di bawa pergi oleh maminya ke luar negeri. Entah apa alasannya sampai sekarang Axel belum tahu.
Axel hanya tahu dari penjaga rumah Neta yang ada di Jakarta, kalau Neta dan maminya pindah ke luar negeri. Mulai saat itu Axel menjadi sosok yang pendiam karena merasa kehilangan Neta. Mamah dan papah yang tahu akan hal itu memutuskan untuk mengajak Axel terjun ke dunia bisnis. Supaya Axel tidak terlalu terpuruk dalam kesedihan.
Dan saat semua sudah bejalan dengan normal dan jauh lebih baik, Neta hadir kembali.
"Axel, ini bohong kan? kamu masih sayang sama aku kan,?" tanya Neta yang berurai air mata
"ini semua nyata Ta, aku harap kamu bisa menerima ini semua" kata Axel yang akan melangkah pergi.
bruk
Neta tiba tiba pingsan di lantai. Dengan segera Axel mengangkat tubuh Neta ke atas sofa.
"mbok,,,, mbok,," teriak Axel
"iya den" mbok Yana yang sedikit berlari ke arah Axel
"tolong minyak angin" pinta Axel
"baik den",
Terlihat wajah kekhawatiran Axel, biar bagaimanapun Axel bukan tipe orang yang pendendam. Saat mbok Yana menyerahkan minyak angin, Axel lalu mengoleskan minyak itu ke hidung Neta.
"Tata bangun Ta" kata Axel
"biar saya ambilkan minum den" kata mbok Yana
Tanpa Axel sadari Jen sedari tadi melihat di balik tembok halaman belakang. Tanpa permisi air mata Jen juga turun. Entah kenapa hatinya terasa sakit. Jen memutuskan ke kamarnya, mengganti pakaiannya dan membawa tas kecil. Jen mengendap endap menuju ke pintu samping. Ia berpamitan kepada pak Andi yang berada di halaman samping.
Jen menuju sebrang jalan, ia memberhentikan taxi yang kebetulan lewat.
"kemana mbak?" tanya bapak sopir dengan logat khas orang Bali.
"jalan lurus dulu pak, nanti saya kasih tau" jawab Jen
Bapak sopir itu pun menurut dan melajukan mobilnya.
Sedangkan Axel masih mencoba membangunkan Neta. Sayup sayup Neta membuka matanya.
"Axel" panggil Neta lirih
"kamu udah sadar?" Axel
"jangan tinggalkan aku Xel, bilang kalau kamu masih cinta sama aku" kata Neta
__ADS_1