
Bertambah satu bulan sudah usia pernikahan Jen dan Axel. Pagi ini saat Jen membuka mata sudah tidak ada Axel di sampingnya. Jen celingukan mencari suami nya di penjuru kamar.
"sepi amat, garwo kemana?" tanya Jen pada diri sendiri
"huek,.... huek...." suara dari kamar mandi disusul suara air kran
"garwo" panggil Jen
"iya,,,,huek" Axel
Jen langsung beranjak dan kamar mandi untuk melihat Axel.
"kamu kenapa?" panik Jen sambil mencepol rambutnya.
"gak tau Yang, pengen mutah pusing banget"
Axel kembali mual dan muntah, setelah beberapa saat Axel terlihat lemas.
"ayo ke kasur lagi" ajak Jen menuntun Axel.
Setelah membantu Axel berbaring, Jen memijat pelan pelipis Axel.
"aku buatin teh anget ya,?" kata Jen
"iya Yang, jangan lama lama" Axel
Sebelum turun ke dapur, Jen cuci muka terlebih dahulu. Selesai membuat teh dan juga membawakan roti untuk Axel, Jen kembali ke kamar.
"tumben sayang kamu sarapan di kamar?" tanya mamah yang baru keluar kamar dan melihat Jen
"garwo mah, kurang enak badan" Jen
"mamah ikut ya? mau lihat Axel"
"iya mah ayo" Jen
Mereka menuju ke kamar, dilihatnya Axel meringkuk di bawah selimut.
"kamu kenapa Xel?" tanya mamah
"gak tau mah, badan Axel rasanya gak enak. Pusing juga" jelas Axel
"makanya kalau tidur pakai baju, orang cuaca dingin masih aja ngeyel. Mamah tau ya, tadi malam kamu makan es krim kan? udah tengah malam banget itu loh" omel mamah
"biasanya juga gak papa" Axel
"ya biasanya ini kan beda, cuaca nya baru gak bagus" mamah
"minum dulu garwo" Jen membantu Axel duduk dan minum.
"nanti minum obat pasti juga sembuh mah" kata Axel
"kamu itu harus jaga kesehatan Xel, udah mau ujian loh" mamah
"iya mah," kata Axel sambil memakan roti yang Jen bawakan.
"gak panas kok, kamu istirahat di rumah dulu aja" kata mamah
"hhhmmm" jawab Axel
"mamah ke bawah dulu ya, biar mamah masakin sup atau bakso"
"bakso mah," Axel
"iya" jawab mamah sambil berlalu.
"Yang kamu gak sekolah?" tanya Axel setelah minum obat
"enggak, aku mau ngerawat kamu aja" kata Jen
"tapi Yang" Axel
"gak papa, biar kamu cepat sembuh" Jen
"ya udah kelonin" kata Axel manja, sebenarnya Axel juga gak ingin di tinggal Jen.
"manja amat" Jen
"lagi sakit loh Yang"
"jangan di buat alasan, ya udah sini" Jen memposisikan dirinya lebih tinggi dari Axel. Sedangkan Axel menelusup kan kepalanya di dada Jen.
Tidak butuh waktu yang lama Axel sudah tertidur lagi. Perlahan Jen beranjak menuju meja belajarnya dan membuat surat ijin untuk mereka berdua. Setelah selesai Jen mandi dan turun untuk sarapan.
"loh Jen kamu gak sekolah?" tanya papah yang sudah selesai sarapan.
__ADS_1
"enggak pah, Jen ijin hari ini. Garwo kurang enak badan" jelas Jen
"terus sekarang mana?" Papah
"tidur lagi pah, tadi habis minum obat" Jen
"nanti kamu bujuk ajakin ke dokter ya Jen" kata mamah
"iya mah. Jen minta tanda tangan mamah ya buat surat ijin, ini punya garwo papah aja" kata Jen
"iya, mau kamu antar?" papah
"enggak pah, minta tolong pak Bejo aja boleh pah?"
"boleh, kalau gitu papah berangkat dulu," pamit Papah.
"kamu sarapan dulu Jen" kata mamah
"sebentar mah, aku cari pak Bejo dulu takut kesiangan"
"ya udah, biasanya di taman samping Jen," mamah
"iya mah"
.
.
.
.
Di sekolah Jam pertama sudah di mulai dari dua puluh menit yang lalu.
"Jen mana?" tanya Sasa pada Tamara
"gak tau gue," Tamara
"tumben amat gak ngabarin" Sasa
Tidak berapa lama ada seorang satpam yang mengantarkan surat ijin nya Jen. Saat jam istirahat Sasa melihat surat ijin dari Jen, karena chat nya belum di buka oleh Jen.
"keperluan keluarga Tam" kata Sasa yang membaca alasan Jen
"ya udah kantin yuk" ajak Tamara
"iya beb" Sasa
"hay dong Sa bukan iya" Tamara
"biarin" Sasa
"Jen mana?" tanya Dio
"gak masuk, gak tau ada acara apa" Sasa
"Axel juga gak masuk, sakit katanya" Satria
"apa mungkin Jen merawat Axel?" Sasa
"bisa jadi" Tamara
" kita ke sana aja nanti" Satria
"boleh juga" Tamara
Sedangkan Axel mulai menggeliat, ia meraba samping nya dimana Jen tadi tidur. Kosong, di kamar pun tidak ada tanda tanda Jen. Axel duduk dan berdiam mengumpul kan nyawanya ðŸ¤. Axel beranjak ke kamar mandi, dirasa badannya sudah lebih mendingan Axel mandi dan turun ke bawah.
"Yang" panggil Axel saat menuruni tangga
"iya" jawab Jen yang keluar dari dapur
"kamu ninggalin aku sih" Axel cemberut
"bantu mamah, udah sini kamu sarapan dulu" kata Jen dan Axel mendekati Jen.
cup
Axel mencium bibir Jen. Jen mencoba melepaskan diri, namun tidak bisa karena Axel menarik pinggang Jen. Axel M*l*mat bibir Jen lembut, ia juga menekan tengkuk Jen untuk memperdalam c*umannya. Jen memukul pelan dada Axel agar melepaskan nya.
"astaga" kaget bibi yang akan keluar dari dapur
"kenapa bi?" tanya mamah yang melihat bibi kembali ke dapur.
"em itu nyah, bibi mau minum dulu" jawab bibi asal
__ADS_1
"oh, ya sudah saya ke ruang tengah dulu," kata mamah sambil berlalu.
Saat mamah keluar dari dapur, mamah melihat dua sejoli yang masih sibuk dengan kegiatannya. Mamah menggeleng melihat itu.
Pantesan bibi gak jadi keluar, pasti liat mereka. batin Axel
Mamah mendekat perlahan dan....
"aw aw sakit" kata Axel dan melepaskan ciumannya
"mamah" kata Jen yang masih mengatur nafas.
"katanya sakit, nyosor aja bisa lama" sindir mamah
"emang sakit tadi mah, lagian itu juga obat mah" Axel
"kamu itu gak tau tempat, bibi liat kalian berdua" mamah
"maaf mah" jawab Jen menunduk
"kamu gak salah Jen, mamah tau pasti anak ini yang maksa" mamah
"mamah juga pernah muda, bibi juga pasti pernah" Axel
"kamu itu dibilangin, udah sana sarapan dulu. Mamah udah bikin bakso yang kamu mau"
"makasih mah muach" Axel mencium pipi mamahnya kemudian menarik Jen ke dapur.
"Axel" kaget mamah yang memegang pipinya.
Anak kamu banget pah, semua tingkah nya sama. batin mamah
Sedangkan di dapur Jen menyiapkan makan untuk suaminya. Axel yang duduk di meja makan pun setia menanti.
"ini masih panas"kata Jen menyodorkan semangkuk bakso.
"nasi Yang" pinta Axel
Jen mengambilkan nasi sesuai permintaan Axel, Jen di buat heran karena Axel lahap sekali.
"enak banget ya?" tanya Jen
"cobain deh Yang" Axel menyodorkan sesendok bakso dan kuahnya
"enak, ya udah abisin. Nanti ke dokter ya?" Jen
"ngapain?" tanya Axel
"ya periksa kamu" Jen
"gak usah Yang, ini udah mendingan kok tinggal pusing dikit" Axel
"kamu yakin?"
"iya sayang, nih udah makan banyak" Axel
"ya udah yang penting nanti minum obat lagi biar sembuh beneran" Jen
"siap istri ku"
Siang ini Jen sedang melihat drakor di ruang samping, bersama Axel yang sedang tiduran pangkuannya dan mamah. Sesekali dua wanita beda usia itu saling bertanya. Kalau Axel? jangan di tanya, dia sudah tertidur lagi karena usapan lembut di kepalanya. Entah kenapa rasanya Axel merasa mudah mengantuk hari ini, mungkin efek tidak enak badan. Menjelang sore bibi mengetuk pintu ruang samping.
"maaf nyah, ada den Dio, den Satria dan dua gadis bibi lupa namanya" bibi
"teman kalian Jen?" mamah
"mungkin iya mah, boleh gak mereka ke sini mah?"
"boleh Jen, bi tolong suruh kesini aja"
"siap nyah" jawab bibi
Setelah beberapa saat terdengar lah suara gaduh dari ke empat teman Jen dan Axel.
"siang tante" sapa Sasa
"sore micin" Tamara
"masih siang, baru jam dua lebih" Sasa
"udah gak papa siang atau sore, sini duduk" mamah
"makasih tante" Sasa dan Tamara duduk sebelah mamah. Sedangkan Dio dan Satria masih berdiri.
"garwo bangun dulu," kata Jen
__ADS_1
"hhhmt" gumam Axel
"ada Dio sama Satria" Jen