
Jen sedikit kaget saat Axel mengerem mendadak. Bahkan ia sampai maju kedepan. Untung Axel menepikan mobilnya dan jalanan sepi.
"Garwo, lo mau bunuh gue?" reflek Jen yang marah
"maaf sayang, kan kamu katanya minta dicium"
"kata siapa?" jawab Jen
"lah itu kamu tadi jawab iya"
"nanti kalau jawab enggak kamu kasih dobel"
"kan enak dobel Yang,"
"udah ayo jalan, udah malem ini" kata Jen yang tidak menanggapi omongan Axel
"ya cium dulu"
"gak"
"Yang"
"nanti kita ketinggalan pesawat" Jen
"gak akan, kita naik jet pribadi"
"udah jalan dulu, nanti kalau sudah di Bali" pungkas Jen
"bener ya?" Jen menjawab dengan anggukan
"oke awas kamu gak nepatin janji" kata Axel dan melajukan mobilnya kembali.
.
.
.
Sesampainya di bandara, Axel sudah di jemput anak buah papahnya. Axel menggandeng Jen menuju jet pribadi keluarganya. Setelah menempuh perjalanan hampir dua jam melalui perjalanan udara. Akhirnya mereka lending di bandara Ngurah Rai Bali.
Pak Andi yang bertugas menjemput pun sudah menunggu di pintu Exit.
"selamat malam tuan muda Axel dan nona muda Jen" sapa pak Andi
"malam pak" jawab Jen, sedangkan Axel mengangguk
"mari sebelah sini tuan muda mobilnya" kata pak Andi
"maaf pak, panggil saya mas aja atau Axel. saya kurang nyaman dengan tuan muda" kata Axel sopan.
"den Axel memang selalu begitu, saya pikir setelah menikah, aden mau di panggil tuan muda" kata pak Andi
"jangan dulu pak," kata Axel sambil tersenyum.
"gimana kabar pak Andi dan mbok Yana?" tanya Axel
"kami baik den, tuan sama nyonya sehat den?"
"Alhamdulillah pak" jawab Axel
"garwo, aku pengen makan 😁" kata Jen
"mau makan apa?" Axel
"em yang panas, pedes, berkuah," Jen
"apa pak?" tanya Axel pada pak Andi
"apa ya den, coba non Jen pengen apa? nanti biar bapak yang cari kira kira ada dimana makanan yang non mau"
"kalau di sini ada mie Jawa gak pak?"
"mie Jawa,? kaya apa non?"
"em isinya, ada mie, sayuran, telur, ayam/ampela, kalau rebus ya di kasih kuah gitu pak" kata Jen sambil menelan salivanya
"oh iya tahu bapak non, tapi itu biasanya yang jualan di tenda pinggir jalan non. Adanya di alun alun, gimana non?"
__ADS_1
"iya memang jualannya suka di pinggir jalan. Kita ke sana aja ya pak" pinta Jen
"siap non, mudah mudahan masih ya" kata pak Andi
"kamu tadi gak makan Yang?" tanya Axel
"dikit doang" jujur Jen
"ya udah gak papa, nanti makan yang banyak"
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih empat puluh lima menit, akhirnya mereka sampai di alun alun. Mereka mulai mencari dimana yang jualan mie Jawa. Dan untung saja masih ada yang buka, di jam yang bisa di bilang tengah malam.
"aku baru pertama nyoba ini Jen" kata Axel
"enak kan?" tanya Jen dan Axel mengangguk
Mereka menghabiskan mie yang berada di piringnya. Setelah selesai mereka kembali menuju ke resort. Di perjalanan karena Jen sudah kenyang, akhirnya rasa ngantuk pun mulai melanda. Apa lagi ini udah masuk dini hari. Jen menutup matanya dan tanpa sadar ia tertidur.
Sesampainya di resort Jen masih belum bangun, Axel menggendong Jen kedalam karena merasa kasihan.
"pak tolong koper saya" kata Axel
"siap den,"
Axel membawa Jen ke kamar atas, setelah Axel membaringkan Jen, ia melepaskan sepatu Jen. Axel mengambil ponsel dan menghubungi papahnya.
📞Papah
hallo Xel
"iya pah, Axel cuma mau ngabarin kalau udah sampai resort"
ya udah Alhamdulillah, kalian istirahat aja
"iya pah"
tut.
Axel yang tadi hanya merebahkan tubuhnya di ranjang untuk istirahat sebentar, ternyata malah ketiduran. Pagi ini jam lima Jen terbangun karena merasa ada pergerakan di guling yang ia peluk. Perlahan Jen membuka matanya dan melihat ke arah dadanya. Ternyata Axel menyusupkan kepalanya di dada Jen dan semakin mengeratkan pelukan. Jen yang terkejut pun melepaskan tangannya, yang ternyata memeluk bahu Axel yang tidur miring ke arahnya.
"Garwo bangun" kata Jen
"bangun dulu ih" kata Jen yang berusaha menjauhkan badannya
Perlahan Axel bangun, yang ia lihat pertama kali adalah dada Jen. Axel terdiam beberapa saat untuk mengumpulkan nyawanya.
"ya ampun Yang, aku ketiduran semalem" kata Axel yang kembali menyembunyikan wajahnya di tengah gunung.
"Garwo jangan modus deh, sana lepasin dulu" kata Jen mencoba melepaskan tangan Axel yang memeluk pinggangnya.
"modus apaan coba, namanya juga ketiduran, nih liat sepatu ku aja masih terpakai rapi" Axel mengangkat kakinya.
"iya gak usah di sini juga, dasar mesum" kata Jen
"sstt pagi pagi marah marah, aku juga gak sadar. Palingan juga kamu yang meluk aku duluan" kata Axel
"ya udah siapapun, sekarang kamu minggir dulu, aku mau mandi lengket." Jen
"empuk Yang, jadi nyaman ini" goda Axel
"Garwo" kata Jen dengan nada suara naik 2 oktaf dari biasanya.
"hehehe cup" Axel nyengir kuda setelah mencium salah satu gunung yang masih terbungkus rapi.
"ih astaga" gerutu Jen sambil beranjak
"dikit doang Yang, nanti bangunin jam enam ya" kata Axel yang kembali tidur setelah melirik jam.
Jen bergegas ke kamar mandi. Setelah selesai dengan ritual mandinya, Jen membereskan barang-barang yang ada di koper. Kemudian ia turun ke bawah karena lapar.
"selamat pagi nona muda" sapa mbok Yana
"pagi mbok,"
"saya mbok Yana non, yang mengurus resort ini. Saya juga asisten rumah tangga di sini" mbok Yana memperkenalkan dirinya
"iya mbok, saya Jennaira, biasa di panggil Jen."
__ADS_1
"nama yang cantik sama seperti orang nya cantik" puji mbok Yana
"ah mbok terlalu memuji saya. Mbok saya mau minta air putih hangat, dimana?" kata Jen
"oh, non duduk aja biar mbok siapkan. Mau apalagi non?" tanya mbok Yana
"kalau ada roti dulu aja mbok" jawab Jen
"silahkan non" mbok Yana memberikan segelas air putih hangat dan roti
"mbok udah lama kerja sama mamah?"
"udah mau lima tahun non"
"udah lama juga ya mbok, itu mbok mau bikin sarapan apa?" Jen
"mau buat, nasi goreng, sama telur mata sapi, ada nugget juga non"
"em iya mbok"
"atau non mau di masakin apa biar nanti mbok bikinin"
"itu dulu aja mbok, ya udah Jen ke atas dulu mbok. Mau bangunin Axel"
"monggo non" (silahkan)
.
.
.
.
Jen mulai membangunkan Axel. Saat Axel masuk ke kamar mandi, Jen mulai membersihkan wajah dan sedikit memolesnya.
ceklek
Axel sudah selesai mandi dan hanya menggunakan handuk di pinggangnya. Axel menuju koper untuk mencari sesuatu.
"cari apa? kan bajunya udah aku siapin itu" Jen menunjuk baju formal yang ada di atas kasur.
"kok kopernya kosong?" tanya Axel yang tidak menjawab Jen
"udah aku beresin, itu di lemari" jelas Jen
Axel menuju lemari dan mulai mencari sesuatu yang tadi belum ketemu.
"Yang, dalaman ku kamu taruh di mana?" tanya Axel yang dari tadi ternyata mencari harta yang paling penting
Jen menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah suaminya.
"dalaman apa?" tanya Jen bingung
"jangan becanda deh Yang, masak dalaman gak tahu" kata Axel
"oh, itu" Jen menunjuk bagian tengah Axel yang tertutup handuk
"iya, mana? keburu terbang ini nanti" kata Axel
"haaah?" Jen bingung
"Yang," panggil Axel karena Jen malah bengong
"em kayaknya aku lupa gak bawa deh, garwo"
"astaga Jen, beneran?" tanya Axel
"iya, aku beneran gak masukin ke koper"
"terus gimana nasib perkutut ku?"
"em,, ma,, maaf garwo" kata Jen menahan tawanya
"ih kamu tega amat malah ketawa" kesal Axel
"enggak" kat Jen yang masih ketawa
__ADS_1
Axel mencari ke lemari yang lainnya, siapa tahu masih ada yang muat. Dilihatnya ada satu kotak dalaman yang memang belum di buka. Axel mengambil satu dan menentengnya.