
Sasa yang penasaran pun bertanya pada bunda.
"emangnya kethek apa sih bun? kok pada ketawa"
"eh Sa, dan asal kalian tahu ya kethek itu monyet. Lah kalian berdua bangga banget di bilang mirip moyet" jawab Jen
"jangan becanda lo" kata Satria tidak terima
"tanya aja sama ayah bunda, mamah dan papah juga tahu" kata Jen masih cekikikan.
"wah gak beres lo Xel" kata Dio dan Axel tertawa
"untung lo lagi acara, kalau enggak udah gue kek" kata Satria sambil memeragakan orang mengulek sambel.
"udah sini mau foto gak,?" tanya Axel
"gak" jawab Dio dan Satria kompak.
"ya udah sono lo jauh jauh" usir Axel
"lo itu ya, mau nikah gak bilang-bilang. Udah di bantuin malah ngusir lagi" gerutu Satria
"maaf bro, makasih buat bantuan kalian. gue hanya bercanda," kata Axel. Akhirnya Dio, Satria dan Axel berpelukan.
"ekhem ekhem" deheman Sasa dan Tamara.
"eh maaf para bidadari" kata Dio melepaskan pelukannya dan mengandeng Sasa. Begitu pula Satria yang mengelus bahu Tamara. Axel yang melihat itu pun langsung memeluk Jen dari samping. Jen yang kaget hanya memandang Axel yang juga memandangnya. Bahkan pandangan mereka seperti saling mengunci. Perlahan Axel mendekatkan wajahnya ke wajah Jen.
"nguuueeeengg" Dio
"ssshhhhhhsss" saut Sasa
"doooor" sambung Tamara
"klutik" pungkas Satria
"aduh senangnya pengantin baru" nyanyian Dio
"sya la la la la la la" sambung Satria, Sasa dan Tamara.
Membuat Jen dan Axel tersadar dan malu. Bahkan pipi Jen juga sudah merah.
"hey kalian berdua yang sudah sah, hargai kita" kata Satria. Para orang tua pun hanya menggeleng melihat tingkah mereka.
"kalian mau ngelawak apa mau foto foto?" tanya Sinta yang baru datang bersama Johan. Sinta baru tadi di beritahu Tamara dan Johan memang sudah tahu dari Axel.
"Sinta lo udah dateng?" tanya Sasa
"belum, ini hanya manekin nya" jawab Sinta
"Jen lo kok jahat gak ngabarin gue," kata Sinta merajuk
"maaf Sin, gue gak bermaksud apa-apa. Sini peluk" Jen merentangkan tangannya.
Tidak hanya Sinta yang di peluk Jen, Sasa dan Tamara juga ikut berpelukan.
"selamat ya, langgeng sampai maut memisahkan" ucap Sinta dan di amini Jen.
" ya udah ayo foto dulu" ajak Jen
"maaf boleh gabung ya?" kata Bayu yang baru saja datang
"boleh silahkan" Axel mempersilahkan.
__ADS_1
Akhirnya mereka foto bersama dengan beberapa kali jepretan. Setelah foto Bayu menghadap Jen dan Axel.
"Jen, Axel selamat ya. Kalian pasangan yang cocok. Aku doa kan kalian selalu bahagia, saling melengkapi, dan menjaga. Aku senang melihat kalian bersama" kata Bayu
"ma makasih Bay" jawab Jen terbata, ia bisa melihat jika Bayu menahan sedihnya. Genggaman tangan Axel yang menyadarkan Jen untuk tidak larut dalam suasana masa lalu.
"Bayu terimakasih, gue doakan yang terbaik buat lo" kata Axel dan di angguki Bayu
Setelah itu bayu menuju ayah dan bunda
"Bayu kamu anak yang baik, kamu akan mendapatkan kebahagiaan yang lain" kata ayah sambil menepuk pundak Bayu
"terimakasih om," Lalu Bayu beralih ke orang tua Axel yang di ikuti teman temannya kemudian turun dari pelaminan.
"gue yang nyesek ya" celetuk Sasa
"iya" Tamara
"kenapa?" tanya Sinta
"itu tadi mantannya Jen," jelas Tamara
"yang Jen bucin akut itu?"
"iya, bagai Romeo dan Juliet" Sasa.
"sakit tak berdarah"
Acara hari ini berjalan dengan lancar tanpa hambatan. Sampai di mana Jen dan Axel turun dari pelaminan. Dan saat ini Jen, Tamara dan Sasa sedang berada di kamar no 20 untuk menganti pakaian dan menghapus make up. Karena memang acaranya sudah selesai, tinggal nanti malam acara makan malam keluarga inti.
"Jen, ngomong ngomong lo udah ada rasa sama Axel?" Tanya Sasa, saat ini mereka sedang rebahan di kasur hotel.
"entahlah gue juga belum tahu, gue baru belajar untuk menerima ini semua."
"yee, udah jangan halu, inget udah ada Dio" kata Tamara
"kalian udah jadian?" Jen
"tadi di tembak tapi katanya gak romantis jadi di pending dulu" jelas Tamara.
"biarin wle, eh Jen ngomong ngomong besok lo bucin akut gak ya sama Axel" Sasa
"gue yang bikin dia bucin sama gue" katanya dengan mantap
"masa???" tanya Tamara dan Sasa kompak
" liat aja" kata Jen
tok tok tok
"masuk " kata mbak perias yang sedang beres beres.
"yang,,," panggil Axel pada istrinya
Jen pun menoleh ke arah Axel yang masih di ambang pintu .
"turun dulu yuk, ini di tunggu papah sama ayah di bawah, ada rekan bisnis yang baru datang." ajak Axel
Sedangkan Sasa dan Tamara melongo mendengar panggilan Axel untuk Jen.
"Sa, gak usah nunggu nanti, ini udah terbukti" kata Tamara
"iya oy"
__ADS_1
"Gue ke bawah dulu ya," kata Jen
"eh kita pamit sekalian, itu para Anoman udah pada di depan" kata Tamara
"haha ya udah kalian hati hati ya, thanks udah jadi pendamping gue"
"iya udah lo santai aja, gih sono itu yayang udah nunggu" usir Tamara
Jen hanya nyengir dan beranjak menghampiri Axel. Setelah Jen berada di depan Axel, dengan cepat Axel mengandeng tangan Jen.
"di tunggu om Al di bawah Xel, jangan di bawa ke kamar" goda Dio
"ke kamar juga gak papa," jawab Axel, dan mendapat pukulan dari Jen
"sakit yang" rintih Axel
"bohong banget" Jen memanyunkan bibirnya.
"hehe, gue duluan ya, kalian hati hati. Inget di antar pulang jangan ke kamar" balas Axel pada dua sahabatnya.
Saat Tamara dan Sasa sudah di ambang pintu. Satria menarik Tamara menuju kamar no 18.
"eh eh mau ngapain?" tanya Tamara
"ke kamar" Satria
"jangan gila lo, gue gibeng lo" kata Tamara.
"panik gak?? panik gak?? Satria
"udah sana pada pulang jangan macem-macem" kata Axel berlalu dengan Jen.
"kasih kita ponakan yang lucu ya" teriak Satria dan di acungi jempol Axel.
.
.
Setelah kembali dari menemui orang tuanya. Jen dan Axel ijin istirahat di kamar, kamar yang kemarin di tempati Jen dan juga kedua sahabatnya. Jen menuju ke kamar mandi karena memang sudah sore, ia memutuskan untuk berendam menghilangkan capek. Sedangkan Axel merebahkan tubuhnya di atas kasur. Hampir 20 menit kemudian Jen baru keluar dari kamar mandi, dilihatnya Axel yang sedang tertidur pulas.
Jen mengambil baju gantinya di koper kecil yang ia bawa dari rumah. Sudah cantik dan wangi Jen memutuskan untuk menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Ia meluruskan kakinya, dan bermain ponsel yang beberapa hari ini di sita sang bunda.
Axel yang merasa ada pergerakan di atas kasurnya pun sayup-sayup membuka mata, bau wangi Jen pun juga masuk ke indra penciumannya. Axel merebut ponsel Jen dan menaruhnya di atas nakas.
"kok di ambil"
"istirahat yang, kamu gak capek apa" kata Axel sambil menarik Jen agar merebahkan tubuhnya.
"lo mau ngapain?" panik Jen
"jangan lo gue, aku cuma mau kamu istirahat" Axel menarik Jen dalam pelukannya. Bahkan ia tidak membuka matanya.
Usaha Jen untuk memberontak pun sia sia. Akhirnya Jen pasrah dan cemberut. Dirasa tidak ada penolakan lagi Axel mengintip dan melihat wajah kesal Jen yang terlihat lucu.
cup
Axel mengecup singkat bibir Jen. Jen yang diperlakukan seperti itu pun kaget dan memelotot kan matanya.
"udah itu dulu, yang lebih nanti aja" kata Axel tanpa dosa.
"Axel lo,hmmmm" Jen tidak jadi protes karena mulutnya sudah di bekap dengan lengan kiri Axel. Saat Jen sudah diam Axel memindahkan tangannya kirinya jadi bantal untuk Jen. Sedangkan tangan kanannya memeluk erat, tidak lupa kaki Axel pun juga mengunci Jen.
"diam dan tidur, aku capek plus ngantuk" kata Axel.
__ADS_1