Cinta Jennaira

Cinta Jennaira
Ketempat Indah


__ADS_3

Ketiga gadis cantik yaitu Tamara, Sasa dan juga Jennaira sudah sampai di pusat perbelanjaan bisa di sebut mall. Mereka keliling untuk mencari sesuatu yang memang sudah di rencanakan dari sebelum berangkat tadi.


"mau beli perlengkapan bayi Jen?" Sasa


"enggak Sa, belum boleh lah" Jen


"kenapa gitu?" Tamara


"pamali kata bunda sama mamah, besok nunggu udah tujuh bulan."


"Oh" Tamara dan Sasa


Setelah beberapa saat memilih barang yang ingin mereka istirahat di sebuah kursi panjang.


"gue laper" keluh Jen


"sama" Sasa


"ya udah ayo kita cari makan" Tamara


Mereka menuju ke sebuah kafe yang ada di dalam mall, memilih tempat duduk yang paling nyaman. Setelah memesan makanan mereka mengobrol.


"banyak amat belanja lo Jen" Tamara


"lo gak liat body gue udah melebar kemana-mana"


"hahaha tapi lo tambah cantik kok" Tamara


"iya kalau dilihat dari sedotan" jawab Jen


"lo kenapa Sa? tanya Jen ada Sasa yang melihat dirinya dengan tatapan sedih


"gue seminggu lagi berangkat, gue gak bisa nemenin lo lahiran" kata Sasa yang berubah menjadi sedih


"yakin seminggu lagi? kan masuk kuliah masih dua mingguan lagi" Tamara


"gue perlu adaptasi juga ada beberapa hal yang harus gue urus" Sasa


"gue jadi ikutan sedih" Jen


"kalian tetap sahabat gue kan?"


"ya pasti dong Sa, kita akan jadi sahabat sampai kapan pun" Tamara


"walaupun jarak terbentang di antara kita" sambung Jen


"kita makan, simpan sedihnya buat besok aja. Buat kenangan indah sebelum gue pergi" Sasa


Selesai makan mereka masih duduk di kafe tersebut, sekalian berfikir mau ngapain lagi 😁.


"lo jadi hubungi Ari Tam?" tanya Jen


"enggak hahaha" Tamara


"wah gila loh, kasian kali kalau nungguin" Jen


"udah biarin aja, kita kemana lagi nih?" Sasa


drt drt


Suara dering ponsel Tamara


"tunggu nih Ari vidio call gue" Tamara


πŸŽ₯Ari


hey kalian dimana?


"rahasia dong" Tamara


πŸŽ₯


gak seru kan??? seruan juga di sini. Liat nih


(Ari mengarah kamera ke pada teman-temannya yang sedang sibuk)


"lah kalian dimana? kok kita gak di ajak" Saut Jen


πŸŽ₯


Rahasia (Jamil)


"ish jahat banget sih kalian" Sasa

__ADS_1


πŸŽ₯


kalian kesini aja di rumahku, kita mau buat nasi liwet (Indah)


"beneran boleh ndah?" Tamara


πŸŽ₯


iya lah, kalau kalian kesini biar aku minta ibu buat nambah nasinya


" kita meluncur sekarang" Jen


πŸŽ₯


kalian kalau kesini bawa makanan yang banyak, (Jamil)


"beres" Jen.


Setelah mematikan sambungan telepon nya, mereka langsung menuju ke rumah indah. Saat hampir sampai di rumah indah Jen meminta berhenti di minimarket. Ia masuk dengan Sasa, dan keluar dengan dua plastik besar di tangan Sasa. Sedangkan Jen ia asik memakan es krim, dan membukakan pintu belakang.


"banyak amat belanja lo" Tamara


"iya buat ibu Indah, yang satu buat kita kita nanti" Jen


"berat tau Jen" Gerutu Sasa


"kan gue lagi hamil Sa, udah jangan ngomel aja" Jen cekikikan


"untung gue sekuat baja" Sasa


"tapi tunggu deh Jen, kok lo belanjakan ibunya Indah"


"nanti lo juga tau sendiri," Jen


Setelah beberapa saat mereka akhirnya sampai di rumah Indah, rumah yang terlihat sederhana. Bahkan luas bangunan rumahnya tidak lebih besar dari rumah samping keluarga Alexander, yang di gunakan untuk para pekerja di rumahnya. Ibu indah adalah seorang buruh cuci gosok di rumah tetangga nya, sedang bapaknya bekerja di pasar.


Walaupun sesederhana itu, tapi Indah tidak pernah malu ataupun minder. Saat teman temannya datang, ibunya akan menjamu sebaik mungkin. Dan semua yang dilakukan itu membuat para temannya nyaman bermain di rumah Indah. Jen tau semua itu karena ia sebenarnya diam diam ia juga sering kesini membawakan kebutuhan rumah tangga.


Awal mulanya, Jen dan mbok Jum pergi ke pasar. Saat itu dompet mbok Jum jatuh dan temukan bapak Indah. Padahal isi dompet mbok Jum lumayan banyak. Dan saat di kembalikan pun isinya masih utuh. Saat ingin memberikan sesuatu untuk berterima kasih ternyata bapak Indah sudah pulang, akhirnya Jen dan mbok Jum menghampiri di rumahnya yang sedang pulang untuk makan siang.Dari situ lah Jen tau kehidupan Indah.


"wisss big bos sudah datang" celetuk Ari


"Ar tolong bantu sasa keluarin kantong plastik nya" Jen.


"jangan lebay, tadi gue yang bawa ke mobil sendiri aja gak ngeluh" Sasa


"iya gak ngeluh tapi ngomel" Tamara


"betul itu" saut Jen


"mbak Jen" sapa ibu Indah


"siang bu" sapa Jen mencium tangan ibu indah di ikuti Tamara dan Sasa


"ini buat ibu" Jen menunjuk plastik yang dibawa Ari


"mbak Jen selalu repot repot, apa kabar mbak? lama gak kesini loh" ibu


"baik bu, iya kemarin sibuk ujian" Jen


"ibu tinggal kebelakang ya, kalian ngobrol saja nanti kalau sudah siap biar ibu bawa ke depan." ibu


"SIAP BU" Kata mereka semuanya, disana ada Jen, Tam, Sa, Ari, Jamil, Indah, Rara, Dita, Leni, Rafi, Roni. Seru sekali ya kalau ngumpul seperti ini, ya walaupun tidak semua.


"Jen, gue boleh ngomong gak tentang lo?" Rara


"apa Ra?" Jen


"em sory, gue liat lo gendutan ya?" Rara


"santai kali Ra, iya nih gue gendutan 😁," Jen


"pantesan gue liat perut lo juga berisi 😁" Rara


"iya isi anak" Jen sambil bercanda


"bisa aja lo Jen" Indah


"hahaha dibilangin gak percaya" Jen


"emang iya Tam?" tanya Indah


"tanya aja sama yang bersangkutan" Tamara

__ADS_1


"iya beneran gue hamil" Jen


"nih minum biar otak lo waras dikit" kata Leni


"ku hamil duluan sudah tiga bulan, gara gara pacaran tidurnya berduaan" Ari bernyanyi


"bukan tiga bulan lagi, tapi empat bulan. Lebih malahan" saut Tamara


"hahaha terserah kalian deh. Tapi beneran gue hamil kok" kata Jen


"Jen lo??" Sasa terlihat khawatir takut teman temannya tau


"gak papa Sa, kita juga udah lulus. Sekalian minta doanya biar gue dan anak gue sehat" Jen


"hah? lo beneran hamil?" Rara


"iya, tanya aja mereka mereka" menujuk Tamara, Sasa, dan Jamil.


"gue juga udah tau kali Jen" Ari


"masa??" Jen


"iya dari dia" Ari menunjuk Jamil


"cuma Ari doang" Jamil yang tau arti tatapan Jen


"lo hamil sama siapa Jen? kok bisa?" Indah


"ya bisa lah, gara gara pacaran tidurnya berduaan" Jen


"gila, emang gila. Jangan bilang itu anaknya Axel" saut Dita yang dari tadi diam


"iya anak Axel," Jen


"sumpah?" Rara


"iya sumpah beneran" Jen.


"gue masih gak percaya Jen," Indah


"hahaha gue udah nikah sama Axel, nih buktinya" Jen memperlihatkan foto nya dengan Axel


"oh pantesan Axel terlihat dekat banget sama lo." Rara yang dulu sempat menilai buruk Jen dan Axel


"elo gak ngedit kan Jen?" Dita


"enggak lah, kurang kerjaan banget." Jen


"tapi kok bisa?" Dita


"the power of Sultan" Ari


"udah gak usah di ambil pusing, gue dan Axel udah mau setahun nikah" Jen


Obrolan mereka yang masih belum percaya dengan Jen dan Axel, harus terhenti karena ibu sudah keluar dengan membawa nasi liwet.


"sini bu" kata Ari yang sudah memasang daun pisang memanjang


Ibu di bantu beberapa orang lainnya mengeluarkan lauk yang tadi di masak dan menatanya di atas nasi. Setelah selesai mereka mulai berfoto dulu sebelum makan 😁, baru berdoa dan makan. Saat sedang menikmati makanan datang sebuah mobil yang sangat mereka kenal. Pemuda dengan setelan formal itu turun dan menghampiri Jen. Para cewek yang disana sempat memperhatikan Axel, dan terpesona.


"cepat amat," tanya Jen yang membuyarkan lamunan mereka tentang Axel


"kangen Yang," kata Axel yang mencium kening Jen


"ukhuk" Dita tersedak


"pelan pelan," Indah menepuk pundak Dita


"gue udah percaya Axel suami lo Jen" kata Dita dan di jawab Jen dengan senyuman.


"udah makan belum?" tanya Jen


"udah tadi sama Dodi" jawab Axel yang sibuk dengan ponselnya. Ia duduk di samping Jen


"cobain" Jen menyuapi Axel dengan tangan nya, Axel menurut saja


"enak" pujinya


"mau aku ambilin pakai piring?" Jen


"enggak, suapi kamu aja" Axel


"banyak jomblo ini Xel, " celetuk Jamil

__ADS_1


__ADS_2