Cinta Jennaira

Cinta Jennaira
Bandel


__ADS_3

Axel yang selesai mengobati temannya yang terluka pun segera kembali ke uks.


"pak itu yang di dalam sakit?" tanya Axel


"enggak, di hukum katanya. Itu sama teman-teman nya." kata pak Agus


Axel melirik ketiga siswa yang ada si sana.


Itu kan IPS 1, temennya Jen dong. Berarti yang di dalamnya beneran Jen. Batin Axel


"pak, itu Jen kan?" Axel


"iya,"


"saya ijin ke sana sebentar" tanpa menunggu jawaban pak Agus, Axel langsung menghampiri ranjang yang di tempati Jen.


"eh bandel bangun" kata Axel menoel hidung Jen.


"em" kata Jen tanpa membuka mata.


"bangun Yang, " bisik Axel tepat di telinga Jen, bahkan hembusan nafas Axel terasa di telinga Jen.


"garwo," kaget Jen yang langsung duduk


"kamu ngapain?" tanya Axel


"aduh pusing" keluh Jen yang memang pusing karena bangun tiba tiba.


"makanya tiduran dulu," kata Axel


"kamu ngagetin" Jen


"maaf, sini aku pijitin" Axel mulai mendekat.


"gak usah," kata Jen yang memijat kepalanya sendiri


"kamu ngapain disini?" tanya Axel


"kamu yang ngapain disini?" tanya balik Jen


"Yang" Axel


"ngantuk, aku disini tidur daripada aku keluyuran di luar kan" kata Jen


"dihukum?" Axel


"i...ya" Jen


"tunggu hukuman dari aku" kata Axel meninggal kan Jen.


"Gar..."


"hayo loh kalian ngapain?" tanya Ari


"Kepo" kata Jen sambil beranjak dan pergi


"hey Tukinah tunggu" kata Ari yang menyusul Jen.


"hey somplak tunggu kita" kata Jamil


"permisi pak" kata Reno.


Mereka berempat meninggalkan uks dan menuju ke kelas, karena jam pelajaran matematika sudah selesai. Dilihatnya teman sekelasnya pada cemberut dan menggerutu.


"kenapa tuh?" tanya Ari pada Jen


"gak tahu 😁" Jen


"oe suram amat ni kelas" Kata Jamil


"kalian mah enak bisa bebas di luar sana, kita berada di puncak keteganggan" Kata Bima teman sekelas Jen


"kenapa emang?" tanya Ari


"suruh ngerjain soal mana susah banget. Kalau gak bisa nih, per orang dapat tugas 5 soal dan soalnya beda sama yang lain" Bima


Jen mengangkat tangannya, seperti pemandu paduan suara.


"UH KASIHAN, UH KASIHAN, SUNGGUH KASIHAN" paduan suara dari Ari, Jamil dan Reno. Kemudian mereka berempat tertawa.


Sedangkan yang lainnya hanya diam sambil melihat ke depan di mana mereka berempat berdiri.


"Jen, Ari ambil buku paket di perpustakaan. Jamil, Reno bersihin papan tulis" perintah pak Wal.


"UH KASIHAN, UH KASIHAN SUNGGUH KASIHAN" paduan dari semua murid kelas ini, yang di pimpin pak Wal.


Dengan sedikit kesal Jen berjalan keluar dengan Ari.


"yang ikhlas Jen, Ar" goda Tamara


"iya yang bersih, Ren, Mil" tambah Bima


🕛🕐🕜🕣🕘🕙🕥🕚

__ADS_1


Kegiatan belajar hari ini sudah selesai, sekarang waktunya semua murid pulang.


"motor lo baru Jen?" tanya Sasa


"motor garwo" jawab Jen


"oh" Sasa


"langsung pulang Jen?" Tamara


"iya, gue gak enak sama mamah" Jen


"nongkrong bentar lah Jen" ajak Sasa


"gimana kalau kalian main ke tempat mamah aja" ajak Jen


"emang boleh?" Tamara


"boleh lah," Jen


"gas deh" Sasa


"oke" Tamara


Kemudian mereka menuju ke rumah Axel. Butuh waktu lima belas menit untuk sampai rumah Axel dengan menggunakan motor. Jen langsung mengajak Tamara dan Sasa masuk karena pintu rumah sudah terbuka.


"Assalamualaikum" kata Tamara


"wa'alaikumsalam" jawab Sasa dan Jen


"Sayang kamu udah pulang" sapa mamah


"udah mah" kata Jen sambil menyalami mamahnya


"hey gadis gadis" sapa mamah pada Tamara dan Sasa.


"halo tante, maaf ya kita main kesini" kata Tamara


"gak papa, tante malah seneng banget kalian main kesini. Axel mana Jen?"


"belum pulang kaya nya" kata Jen


"kata siapa, nih udah pulang" kata Axel yang baru saja sampai


Axel menyalami mamahnya, dan langsung merangkul Jen.


"mah, Axel mau hukum Jen dulu" kata Axel yang memiting Jen untuk ke kamar


"ikut dulu, urusan kita belum selesai" kata Axel


"mamah siapin makan siang ya sayang, jangan lama-lama," kata mamah pada Jen dan Axel


"em Tamara dan Sasa, mau nunggu di sini apa ikut tante ke meja makan?"


"kita ikut tante aja" jawab Tamara


.


.


.


.


Di dalam kamar Axel melepaskan rangkulannya yang membuat Jen nempel di keteknya.


"hah" kata Jen menghela nafas sambil melepaskan tasnya.


Axel yang sudah menaruh tas dan melepas sepatunya menghampiri Jen yang sedang duduk di ranjang. Di baringkan nya Jen di kasur dan Axel berada di atas Jen.


"kamu tahu kesalahan kamu?" bisik Axel


"apa?" tanya balik Jen yang memang tidak paham.


Axel menggigit b*b*r Jen


"aw sakit" kata Jen


"masih gak tahu salahnya?"


"enggak"


Axel mengecup leher Jen dan meninggalkan bekas merah di sana.


"kesalahan kamu, yang pertama berangkat telat dan genit. Ke dua kamu tadi aku tunggu di roof top gak datang. Ke tiga kamu bikin ulah di kelas kan, makanya di hukum.?" kata Axel yang setia memandang Jen.


Sedangkan Jen hanya diam dan memandang bibir Axel yang terlihat menggoda.


Kenapa gue liatin bibir nya sih, apa gue kangen di cium Axel. masa iya gue pengen. Batin Jen sambil menggigit bibirnya sendiri.


Axel heran kenapa Jen hanya diam dan melihat bibirnya.


"pengen?" tanya Axel

__ADS_1


"banget" jawab Jen tanpa sadar dan berbinar. Padahal pandangan nya masih sama di bibir Axel.


Axel tersenyum miring mendengar itu. Dengan senang hati Axel mencium bibir Jen. Bahkan lumayan lama Axel melakukan itu dan Jen membalas nya.


"udah ya" kata Axel, Jen mengangguk


"pengen apa lagi?" goda Axel


"pengen?" tanya Jen bingung


"iya, kamu kan tadi pengen ciuman dariku" kata Axel bangga


"enggak" kata Jen malu


"hukuman kamu nanti aja," Axel


"hukuman apa sih?" Jen


"udah sana kamu udah di tunggu temen kamu" Axel berguling ke samping


"kamu gak makan?" Jen


"nanti aku turun, kamu ganti baju dulu" Axel.


Setelah selesai ganti baju Jen turun menuju meja makan.


"lah teman apa lo, anaknya mamah aja belum makan. Kalian udah nambah aja" kata Jen yang melihat teman temannya sudah makan.


"lama, gue keburu laper" kata Tamara


"iya, lagian masakan tante enak" kata Sasa


"maaf sayang, kasian katanya udah pada laper" mamah


"gak papa mah" kata Jen sambil mengambil nasi untuk dirinya sendiri.


Saat akan makan Jen kesusahan karena sebagian rambutnya maju ke depan. Axel yang baru datang pun risih melihat rambut Jen. Ia menggulung rambut Jen, kemudian Axel mengambil satu sumpit dan ia tusukan ke rambut Jen.


"uhuk" Tamara tersedak


"pelan pelan sayang" kata mamah memberikan minum pada Tamara


"makasih tante" kata Tamara


"kenapa lo, udah ngabisin makanan pakai acara tersedak" Sasa


"iya, mamah ikhlas kok ngasihnya." saut Jen.


Sasa melirik Jen yang mengambil nasi untuk Axel.


"lah, gue juga bisa tersedak kalau gini" kata Sasa


"kenapa sih?" Jen


"itu leher lo" jujur Sasa kemudian ia menutup mulutnya sendiri


"leher gue kenapa?" tanya Jen sambil meraba lehernya


Sasa dan Tamara tersenyum kikuk, sedangkan mamah menggeleng pelan. Kalau Axel? jangan di tanya, dia masih santai makan tanpa dosa.


"kamu tanya sama tersangkanya tuh" kata mamah menunjuk Axel dengan dagunya.


"apa?" tanya Jen pada Axel


"k*sm**k" jawab Axel enteng


"hah apa? ih berarti tadi kamu.... astaga Garwo" kata Jen yang tidak habis pikir dengan tingkah Axel.


Sedangkan yang lainnya hanya tersenyum.


"aaa. gak usah marah" kata Axel


"kamu nyebelin sih" Jen


"udah nih aku suapi jangan marah marah" Axel


Mau gak mau Jen menerima suapan dari Axel. Setelah makan siang, Jen dan teman temannya berada halaman belakang.


"Yang, aku jalan dulu ya" pamit Axel


"iya" kata Jen


"masih marah aku tambahin nih" Axel


"apaan sih," Jen


"itu hukuman buat kamu yang bandel" Axel


"bandel kenapa coba," gerutu Jen


"nanti aja aku jelasin, cup. Bye Yang, aku pulang malam" kata Axel setelah mengecup kening Jen


"hhmmt" Jen mencium tangan Axel.

__ADS_1


__ADS_2