
Saat Tamara sudah mengarahkan kamera ponsel nya kepada Jen, Axel merasa lega.
🎥 Axel
"tidur? kalian dimana asing banget"
"iya, kita di asrama putri. Ada teman baru kita yang tinggal disini" jelas Tamara
🎥
Thanks Tam, gue titip Jen. Gue tutup ya telfon nya
"siap" Tamara
"pacarnya Jen Tam?" tanya Gendis
"bukan, ngomong ngomong lo semakin dekat dengan Ari?"
"deket? biasa aja Tam, kan kita teman.".
"maksudnya PDKT gitu" Tamara
"aku sadar diri Tam, mana pantas kalau sampai aku pacaran sama Ari"
"Ari itu baik Dis, lagian dia kayaknya suka sama lo"
"udah ah jangan di bahas" kata Gendis malu
"cie Gendis" goda Tamara
"Tamara ih" Gendis menyembunyikan wajah merahnya.
Setelah jam satu Tamara berusaha membangun kan Jen. Sedikit susah sih, mungkin karena Jen capek.
"Jen di cari kak Romi" kata Tamara
"hah gak mau" kata Jen menutup wajahnya dengan bantal.
"hahaha takut amat lo" kata Tamara
Jen membuka bantalnya dan melemparkannya ke Tamara, setelah melihat ke sekeliling.
"gila lo" kata Jen, sedangkan Tamara masih tertawa.
"udah jam satu Jen" kata Gendis
"gue tidur lama banget ya" Jen
"dua jam hehe" Gendis
"giliran di cari Romi aja bangun" ledek Tamara
"gak gitu konsepnya" Jen
"terus?" Tamara
"gue laper" Jen.
Setelah cuci muka, Jen langsung makan karena memang sudah lapar.
"dicari Axel lo tadi" Tamara
"ngapain?" Jen
"pengen tau keadaan lo, di hubungi gak bisa kan?" Tamara
"iya gak pegang handphone, lo gak pulang?" tanya Jen, karena memang Tamara sudah tidak ada kelas.
"nunggu lo bangun, " Tamara
"Dis, ngomong-ngomong lo gak sakit tidur di tempat ini 😁?" tanya Jen nyengir
"enggak, emang kenapa?" Gendis
"hehe gak papa, agak keras aja kasurnya" Jen
"elo juga tidur nyenyak kan? pakai protes" celetuk Tamara
"biarin, gue cuma jujur" Jen
"kalau aku biasa Jen, kalau di kampung tidur pakai kasur kapuk" Gendis
"oh, gak papa Dis" kata Jen
Mereka asik mengobrol dan juga berkenalan dengan teman satu kamar Gendis. Banyak cerita yang mereka dengar juga bagikan, karena mereka datang dari beberapa daerah. Saat waktu nya kembali ke kampus, Tamara pamit pulang pada Jen dan Gendis.
Kampus sudah cukup sepi, Jen berjalan gontai karena malas sekali. Apalagi pelajaran langsung dimulai saat dosen sudah masuk kelas. Satu jam berlalu dengan sangat lambat. Pukul tiga mereka pulang. Jen dan Jamil berjalan bersama menuju parkiran, sedangkan Gendis sudah kembali ke asrama di samping kampus.
__ADS_1
"kenapa sih elo ngikutin gue mulu?" tanya Jen pada Jamil
"enggak, gue kan mau ambil motor" Jamil
"jangan bohong lo? mumpung kita lagi berdua jawab"
"di bilangin enggak,"
"kenapa lo selalu panik kalau gue melakukan apa-apa?"
"gue temen lo, lo juga lagi hamil"
"lo selalu gak suka kalau gue di deketin Romi"
"gue kan plen sama Axel"
"kenapa apa yang gue lakukan di kampus , Axel bisa tau?"
"dia kan cenayang" Jamil.
"JAMIL.. !!!!" kesal Jen
"hehehe pis" Jamil menunjukkan dua jarinya.
"jujur atau gue ?" Jen mengepalkan tangannya di depan wajah Jamil
"jangan dong, iya gue jujur. Duduk sana" tunjuk Jamil
Mereka menuju ke sebuah bangku di bawah pohon. Karena memang Pak Bejo belum datang.
flashback on
Malam itu sebelum Axel akan pergi ke Bali, ia main ke rumah Ari. Setelah memastikan Jen tertidur nyenyak, Axel keluar kamar. Axel langsung menuju ke rumah Ari. Untung saja Ari sedang berada di rumah saat Axel datang, karena memang tadi Axel tidak menghubungi Ari terlebih dahulu.
"malam semua" sapa Axel
"malam, sini Xel.... tumben main?" Ari
"iya cari angin" Axel
"minum gak Xel?" tawar Jamil memperlihatkan sebuah botol yang Axel kenal
"kalian aja," jawab Axel dengan senyuman
"oh iya Ar, lo kuliah di Alfam kan?" tanya Axel
"iya Ar" kata Axel
"duduk sana kalau gitu" Ari mengajak Axel duduk di kursi teras, agar tidak terlalu berisik dengan candaan temannya.
"jadi gimana?" tanya Ari
"gue boleh minta tolong sama lo gak? ini menyangkut Jen, gue kan gak bisa awasin apapun yang Jen lakukan di kampus" Axel
"jadi maksudnya mata mata?" Ari
"ya sebenarnya enggak, cuma kan Jen gue kasih bodyguard gak mau. Gue hanya khawatir dia lagi hamil."
"gue beda jurusan sama Jen, Xel. Sedikit sulit nanti. Atau sama Jamil aja, dia sama kok kaya Jen"
"apa dia mau?"Axel
"Jamil, sini dulu" panggil Ari
"coba aja kalian bicarakan, bukanya gue gak mau Xel, tapi kan gue yakin lo pasti mau yang terbaik buat Jen. Jamil lebih tepat" Ari
"apa sih?" tanya Jamil
Ari dan Axel mencoba menjelaskan apa maksud dan niat Axel. Dan akhirnya Jamil setuju dengan permintaan Axel. Jadilah sekarang Jamil sebagai bodyguard Jen, yang melindungi Jen.
Flashback off
"oh jadi ini permintaan Axel?" tanya Jen
"jangan marah, ntar gue di pecat"
"enggak"
"janji lo?"
"enggak"
"lah Jen, kok lo gitu sih"
"lo tenang aja, kerjaan lo tetap aman" Jen
"jamin gak?"
__ADS_1
"iya, gue mau pulang" kata Jen yang berlalu Karena pak Bejo sudah datang.
Sesampainya di rumah Jen disambut oleh mamanya.
"Jen, kamu baru pulang?" tanya mamah
"iya mah, tadi ada mata kuliah sore" Jen
"kamu pasti capek?"
"enggak juga mah, tadi Jen sempat tidur di asrama" jawab Jen sambil berjalan di samping mertuanya
"asrama?" tanya mamah memastikan.
"iya mah, asrama kampus. Ada teman baru Jen yang tinggal di sana.
"oh, ya udah kamu istirahat dulu atau mau makan?"
"Jen ke kamar dulu ya mah, pengen mandi"
"iya sayang"
Jen menuju ke kamarnya, ia segera mandi untuk menyegarkan badannya. Saat keluar dari kamar mandi, sudah ada suaminya yang tersenyum manis.
"sayang" kata Axel yang menghampiri Jen untuk memeluknya
"eits jangan dekat dekat, mandi sana!! bau" kata Jen
"enggak, wangi kok Yang" Axel mengendus badannya
"pokoknya aku gak mau mas"
"iya aku mandi" Axel berlalu dengan menggerutu, biasanya juga mau di peluk.
Axel selesai mandi, tapi Jen tidak ada di kamar. Axel menghembuskan nafasnya panjang.
"YANG......." teriak Axel
"AYANG" Axel keluar kamar karena Jen masih belum menjawab panggilan nya.
"mah Ayangku mana?" tanya Axel yang melihat mamahnya di dapur
"kayaknya di halaman belakang" jawab mamah
Axel menuju ke halaman belakang, ia celingukan mencari Jen. Masih tidak ketemu juga, dimana sih istrinya itu.
"kesal sekali, suaminya pulang kerja harusnya di cium dulu kek, peluk dulu. Ini malah di tinggal ilang entah kemana." gerutu Axel sambil berjalan masuk.
"kenapa kamu ngomel-ngomel?" tanya papah yang baru masuk rumah
"nyari Jen, gak tau ilang kemana" jawab Axel
"itu di depan gerbang makan bakso" kata papah yang tadi melihat Jen
"papah gak bohong kan?".
"dibilangin gak percaya"
"iya pah" Axel menuju ke depan untuk mencari Jen
Dan benar saja Jen sedang duduk di samping pagar dengan mangkuk bakso di tangan nya.
"Ayang ih"
"apa sih?" tanya Jen santai
"aku cari keliling rumah, ternyata di sini" Axel
"dari tadi aku disini mas, tanya pak satpam" Jen menunjuk pak satpam yang juga sedang makan bakso.
"aku tuh kangen sama kamu,"
"aku lagi mau marah sama kamu mas,"
"marah?"
"iya marah, kamu mau bakso gak? "
"katanya marah, tapi masih perhatian" sindir papah yang juga keluar dengan mamah.
"kan nanti di lanjut pah marahnya, ini baru ngomong dulu biar masnya tau kalau aku marah" kata Jen kemudian menyuapkan bakso kedalam mulutnya.
"kamu ada ada aja Jen" mamah menggeleng dengan kelakuan Jen.
"kan jujur mah 😁, mamah sama papah mau bakso juga?"
"iya dong, kan enak sore sore makan bakso sambil liatin orang lewat" jawab mamah
__ADS_1
"iya mah, ini mangkuk ke dua Jen" kata Jen memperlihatkan mangkuk baksonya.