
Axel yang sudah mengetahui semuanya terlihat begitu marah. Ia bangkit dari duduknya.
"mau kemana kamu?" tanya papah
"menemui orang itu pah"
"Romi maksud kamu?"
"iya dong pah, kalau mau ketemu bu Yola kan gak mungkin" Axel
"ck, Jen lebih penting. Urusan Romi dan Yola bisa kamu selesai setelah nya" papah jengah sendiri
Axel terdiam dan meredakan emosi nya. Benar juga yang di katakan papah, setelah masalahnya dengan Jen selesai dirinya kan bisa pergi dengan tenang. Axel kembali duduk dan meminta bukti itu. Setelahnya Axel langsung menuju rumah Jamil, karena Jen masih di sana.
"Yang, tunggu aku." gumam Axel
Sedangkan Jen dan teman temannya sedang asik bercanda. Jen sedikit terkejut saat mobil yang sangat ia kenal terparkir di halaman rumah Jamil. Ia melihat ke arah Jamil dengan tatapan horornya.
"sory Jen, masih tugas gue itu 😁" kata Jamil
"ish" desis Jen.
Axel yang sudah turun dari mobil pun mendekati Jen yang sedang duduk.
"sayang, aku kangen banget sama kamu" Axel memeluk Jen
"kamu gak kerja mas?" tanya Jen yang tidak membalas pelukan Axel
"mana bisa aku kerja kalau istriku marah," Axel mengurai pelukannya
"siapa yang marah" Jen
"ya kamu lah, kita pulang yuk. Ada yang mau aku tunjukkan ke kamu" kata Axel
"aku bawa mobil ayah" Jen
"biar di bawa Tamara"
"Tamara gak bisa bawa mobil manual" Jen
"ya udah gak papa kamu bawa mobil ayah, sekarang Yang"
"Tam, Dis. Kita pulang sekarang gimana?"
"gue sih gak masalah." Tamara
"Gendis, aku antar aja" Ari
"gimana Dis?" Jen
"siapa aja yang penting tidak merepotkan" Gendis
"sama aku aja Dis" Ari
"sono pepet terus sampai dapat" kata Jamil pada Ari
Setelah berpamitan dengan Jamil dan ibunya, mereka semua pun pulang menuju tujuan masing-masing. Sesampainya di rumah Jen, Tamara langsung pamit pulang.
"kamu mau makan atau minum dulu gak mas" tanya Jen datar.
"nanti aja, mas mau ngomong sama kamu" Axel
Jen sedikit melotot saat Axel menyebut dirinya mas. Tapi Jen nurut saja mengajak Axel ke kamar.
"ngomong apa sih mas?" tanya Jen duduk di ranjang.
"kamu liat ini dulu, aku ke toilet sebentar" kata Axel dan memberikan rekaman yang ia minta dari papah tadi.
"rekaman apa sih" gumam Jen yang tidak di dengar Axel.
__ADS_1
Pertama melihat Jen tidak paham maksut dari isi rekaman itu. Namun lama-kelamaan ia paham dengan semua nya. Jen menggeleng tidak habis pikir dengan apa yang Romi lakukan.
"gimana Yang kamu sudah liat?" tanya Axel yang keluar dari kamar mandi hanya menggunakan celana boxer.
Axel terlihat lebih segar karena ia habis mandi, dan wanginya pun menyebar kemana-mana.
"jadi..kak Romi?" tanya Jen yang memang benar-benar tidak menyangka
"ya seperti yang kamu lihat Yang, Romi dalang dari semua ini. Dia ingin rumah tangga kita hancur. Mengenai apa hubungan Romi dan bu Yola aku masih belum tahu." Axel duduk di samping Jen
"kamu tau dari mana ini?" tanya Jen
"sebenarnya dari anak buah papah, tadinya aku mau jalan sendiri ke Bali lagi. Tapi papah sudah lebih dulu berhasil mendapatkan informasi itu" Axel
Jen terdiam, ia merasa bersalah karena telah menuduh Axel, bahkan marah padanya.
"Yang, kamu percaya kan sama aku? aku tidak melakukan hal-hal yang terlarang. Aku cuma berniat membantu. Dan ternyata itu semua sudah di rencanakan Romi. Aku sama sekali tidak tahu. Maafin aku Yang." kata Axel yang meraih tangan Jen
"aku yang seharusnya minta maaf mas, aku lebih percaya orang lain. Tapi kemarin semua bukti mengarahkan ke kamu mas. Tolong beri aku kabar, bagaimana pun caranya mas. Aku disini itu menunggu kamu loh" Jen
"iya sayang maaf banget, karena memang pekerjaan ku yang disana itu padat. Sekarang masalah kita udah selesai kan?"
"iya mas," kata Jen malu malu.
"aku boleh peluk kan?" Axel
"pakai baju dulu" kata Jen pada Axel
"nanti aja, emangnya kamu gak kangen sama darat ini?" tanya Axel yang membawa tangan Jen ke dadanya
"ya..... kangen" jawab Jen pelan
"hah apa?" goda Axel
"ih..." Jen benar benar salah tingkah
"ya ampun Yang, aku gemes banget sama kamu" kata Axel.
"masa kamu udah pergi main belum mandi?"
"iya tadi aku malas sekali,"
"mommy kamu jorok boy," kata Axel sambil mengelus perut Jen
"aku mandi dulu mas, gerah juga" Jen
"sebenarnya kamu gak mandi pun aku mau Yang"
"tapi aku gak mau mas, pokoknya mau mandi"
"oke lah, ayo" Axel
"kok ayo sih"
"sekalian, aku mandi lagi tidak masalah" kata Axel sambil menaik turun kan alisnya.
.
.
.
Bunda yang sudah pulang dan selesai bersih bersih pun ingin menuju ke dapur. Saat melewati kamar Jen, bunda mengetuk beberapa kali tapi tidak ada jawaban.
"tadi kata mbok Jum ada di kamar, apa tidur ya" gumam bunda dan perlahan membuka pintu kamar Jen.
Dan saat yang bersamaan Axel juga baru keluar dari kamar mandi. Axel hanya menggunakan handuk di pinggang, dan rambutnya yang masih sedikit basah.
"Axel" kaget bunda, Axel pun sama ia juga kaget dan menoleh ke sumber suara.
__ADS_1
"bunda," kata Axel dan meraih baju asal di lemari sampingnya. Malu juga kalau dilihat mertuanya sedang telanjang dada, kalau dengan mamahnya mungkin sudah biasa.
"maaf bunda gak tau, Jen mana?" tanya bunda membelakangi Axel
"mandi bun" jawab Axel kikuk
"bunda ke dapur dulu" bunda menutup pintu.
"Axel habis mandi, Jen juga mandi, mandi bareng?." gumam bunda sendiri
"kita juga bisa mandi bareng" bisik ayah yang baru datang.
"ayah, bikin kaget aja" bunda
"bunda ngapain? ngintip Jen dan Axel?"
"tadinya mau manggil Jen, gak tau kalau ada Axel" bunda
"itu mobil Axel di garasi belakang" ayah
"pantes bunda gak liat"
ceklek
Pintu kamar Jen terbuka, muncullah Axel yang sudah rapi.
"ayah, bunda" Axel menyalami mertuanya.
"kamu datang jam berapa Xel, tadi kan Jen pamit keluar sama teman-teman nya"
"iya tadi Axel nyamperin Jen dulu di tempat Jamil bun"
"sudah selesai kan?" tanya Ayah yang maksudnya permasalahan Axel dan Jen
"iya yah" jawab Axel dengan senyuman
"lain kali kamu harus lebih berhati-hati Xel" kata ayah
"siap yah, Axel minta maaf sudah membuat ayah dan bunda kecewa"
"ayah sudah memaafkan kamu. Jaga Jen dan jagan sakiti dia lagi"
"Axel akan berusaha yah"
"oh iya, jangan lupa kunci pintu kamar. Nanti ada yang ngintip" kata ayah menahan senyumnya
"ayah.....bunda kan tadi gak tau" bunda terlihat malu dan Axel hanya mengangguk. Sejujurnya malu berkali kali lipat kalau sudah seperti ini.
"ayah naik dulu ya" kata ayah berlalu di susul bunda.
Jen yang sudah selesai mandi pun mencari Axel. Tadi Axel berjanji akan mengambil kan minum untuk dirinya, tapi kenapa belum balik. Jen yang berniat akan menyusul Axel pun kaget saat melihat Axel masih di depan pintu.
"mas" panggil Jen
"eh iya Yang" Axel
"mana minum nya?"
"aku ambil dulu ya"
"dari tadi belum?" tanya Jen heran
"tadi ngobrol sama ayah bunda di sini"
"oh, ya udah" Jen menutup pintu lagi. Sedangkan Axel menuju ke dapur.
Di perjalanan menuju ke dapar, Axel terlihat seperti memikirkan sesuatu. Axel menimbang apakah dia harus mengatakan pada Jen, atau tidak. Kalau Jen mau nurut sama dirinya kan pasti lebih baik dan aman. Kalau Jen masih ingin dengan pendirian nya, Axel bisa apa. Tapi Axel berjanji akan membicarakan masalah ini dengan Jen.
"mas kamu kenapa?" tanya Jen yang melihat Axel hanya diam saja setelah kembali.
__ADS_1
"ada yang ingin aku minta dari kamu Yang,"
"minta apa?"