
Mamah yang mendengar ke khawatiran Jen pun menarik Jen dalam pelukannya.
"sayang, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Kalau kamu punya anak, kan ada mamah, ada bunda, bahkan kalau perlu kita bisa sewa baby sister. Kita semua akan bantu kamu merawat anak kamu. Kalau masalah sekolah kamu bisa sekolah sampai kuliah. Jen perlahan naluri seorang istri akan muncul di diri kamu. Nanti kalau kamu hamil naluri seorang ibu juga pasti akan ada. Maaf bukan maksud kami para orang tua kamu merenggut masa muda kamu. Kami hanya ingin yang terbaik buat kalian. Mamah yakin kamu bisa menjalani ini semua. Berat itu pasti sayang, tapi asal kita ikhlas dan enjoy pasti semua akan baik baik saja." kata mamah
"iya mah, Jen akan selalu berusaha untuk menjadi istri yang baik"
"maaf Jen, apa kamu mau menunda kehamilan dulu?" tanya mamah
"belum tahu mah, 😁" kata Jen jujur
"kalau boleh mamah kasih saran, seandainya kamu mau nunda pakai cara alami saja sayang."
"maksudnya mah?"
"ih mamah gemes deh sama kamu, masa kamu gak tahu?"
"belum tahu mah" kata Jen jujur
"maaf Jen kalau mamah ikut campur privasi kamu dan Axel. Apa kamu dan Axel belum melakukan hubungan suami istri?" tanya bunda hati hati. Jen menggeleng
"hehehe" mamah ketawa dengan jawaban Jen
"mamah" kata Jen malu
"maaf sayang, kenapa memangnya?"
"ya itu tadi mah, belum siap hamil, Jen juga mau pendekatan dulu sama Axel. Biar kita saling ada rasa dulu." jawab Jen jujur
"mamah paham kok Jen. Ya udah mulai sekarang kalau memang kalian mau melakukan itu kan sah sah saja. Kalau belum siap punya anak, minta Axel pakai pengaman atau di keluarkan di luar" saran mamah
"maksud mamah di keluarkan di luar?" tanya Jen yang tidak paham
"aduh kamu itu polos banget 😁, mamah bingung mau jelasin nya. Nanti kamu tanya Axel aja" kata mamah menahan tawanya.
"iya deh mah. Mah terimakasih ya udah mau ngasih tahu Jen, udah sabar dengan tingkah Jen. Maaf kalau Jen belum bisa jadi menantu yang baik. Jen sayang sama mamah." kata Jen sambil memeluk kembali mertuanya itu.
"sama sama sayang, mamah hanya memberi pengertian dan pengalaman sama kamu. Supaya kamu tidak khawatir dan bingung dengan keadaan kamu yang sekarang. Intinya mamah cuma mau kamu bahagia, kamu menerima status kamu sekarang. Dan yang paling penting jangan menjadikan ini semua beban. Lakukan semua sesukamu asal jangan lupa kamu adalah seorang istri." kata mamah sambil mengelus rambut Jen.
Mamah merasakan tubuh Jen bergetar dan mengeratkan pelukannya. Mamah tahu kalau Jen sedang menangis di pelukannya.
"kok nangis?" tanya mamah, Jen menggeleng. Mamah membiarkan Jen menangis, mungkin setelah itu Jen bisa lebih lega.
"Jen seneng bisa dapat mertua sebaik mamah dan papah. Jen merasa mamah dan papah seperti orang tua kandung Jen. Jen juga bisa merasakan sayang nya mamah dan papah pada Jen. Makasih mah, Jen jadi terharu" kata Jen yang mengurai pelukannya.
"uh sayang, kamu juga anak mamah dan papah dari dulu sampai kapanpun. Jangan sungkan sama kami" kata mamah menghapus air mata Jen.
.
.
.
Axel yang baru pulang pun langsung menuju ke kamar. Tidak ada Jen di kamar, setelah membersihkan diri Axel mencari Jen.
Axel sudah keliling halaman rumah tapi tidak menemukan Jen. Bahkan ponsel Jen pun ada di kamar.
"kemana sih, kebiasaan banget deh gak bilang" gerutu Axel yang menuju ke dapur
__ADS_1
"kenapa kamu boy?" tanya papah yang sedang minum.
"Jen ilang pah" jawab Axel yang ikut menuangkan air minum ke gelasnya
"ilang dimana? mamah juga ilang" kata papah
"ilang kemana pah?" tanya Axel
"namanya juga ilang boy, papah juga gak tahu" jelas papah
"papah gak nyari gitu?" Axel
"ini baru mau nyari" papah
"dimana pah?" Axel
"sini ikut papah, biasanya kalau mamah ilang itu pasti ada di sana"
Axel menurut saja mengikuti papah. Perlahan papah membuka pintu ruangan yang tertutup. Diliat nya mamah dan Jen saling berpelukan dan Jen yang masih sesenggukan.
"loh Yang, kamu kenapa?" Axel yang khawatir pun langsung mendekat dan menarik Jen yang sedang di peluk mamah.
"aku gak papa" jawab Jen
"gak papa kok nangis?" Axel
"aku cuma terharu aja, seneng punya keluarga baru yang bisa menerima aku" jelas Jen. Axel melirik mamahnya seperti mencari kebenaran.
"Jen gak papa, tadi kita sharing kok" jelas mamah
"itu pah di keluarkan di luar" kata mamah menahan senyumnya. Papah berfikir sejenak kemudian tertawa. Sedangkan Axel bingung.
"apa Jen?" tanya Axel
"gak tahu, kata mamah suruh tanya sama kamu" Jen
"aku gak tahu, emang apa pah?" tanya Axel pada papahnya
"kamu gak tahu Xel? beneran?" tanya balik papah dan Axel menggeleng
"nanti belajar sama papah" jawab papah
"awas macem macem" kata mamah
"enggak sayang" kata papah mengedipkan sebelah matanya.
"ih papah, jadi malu mamah" kata mamah malu malu
"masih ada anak di bawah umur ini" sindir Axel.
"di bawah umur kok udah menikah" kata papah sambil tertawa.
"udah, mamah mau mandi dulu." kata mamah
"ikut" kata papah seperti anak kecil.
Setelah papah dan mamah keluar, tinggal Axel dan Jen. Sedari tadi Jen yang ada di pelukan Axel hanya diam. Axel juga heran, dan akhirnya Axel melihat ke arah Jen. Ternyata Jen tertidur di pelukan Axel. Mungkin rasa capek dan mendapat tempat ternyaman membuatnya langsung tertidur.
__ADS_1
"Yang," panggil Axel lembut, tidak ada jawaban hanya hembusan nafas yang teratur yang dapat Axel rasakan.
Axel menggendong Jen ke kamar, di baringkan nya tubuh Jen di atas kasur. Jen langsung mencari sesuatu dan memeluk nya. Axel yang melihat itu pun tersenyum.
.
.
.
.
Hari telah berganti, dan sore ini setelah Axel membersihkan diri. Axel menyusul Jen yang sedang di taman belakang bersama mamahnya. Jen berdiri di depan bunga mawar koleksi mamahnya. Axel yang datang langsung memeluk Jen dari belakang.
"wangi banget Yang, rasanya gak mau lepas" kata Axel
"garwo, itu ada mamah malu tahu," kata Jen
Axel tidak menanggapi omongan Jen, ia membalikkan badan Jen. Axel memandang Jen dalam begitu juga Jen. Perlahan Axel mendekatkan wajahnya, tangannya memegang dagu Jen. Cup,,, Axel mengecup lembut bibir Jen, perlahan bibir Axel mulai ******* bibir Jen. Tanpa sadar Jen melakukan hal sama dengan Axel. Merasa mendapat balasan, tangan Axel turun memegang tengkuk Jen.
"Jen, tolong am,,,,," kata mamah tidak jadi minta tolong karena melihat anaknya sedang menikmati senja, di tengah hamparan bunga, dan suasana yang sedikit dingin.
Tiba tiba ada yang menutup mata mamah.
"jangan dilihat nanti pengen" bisik papah yang baru pulang kerja.
"papah, udah pulang?" bisik mamah
"iya, Xel hati hati kalau ada ulat" kata papah sengaja menggoda dua anaknya yang sedang berciuman.
Mendengar itu pun Jen langsung tersadar dan menjauh dari Axel. Malu karena melihat kedua orangtuanya berdiri di sana. Padahal tadi Jen mengingat kan Axel kalau ada mamah nya, tapi malah dia sendiri lupa.
"papah iseng banget sih," kata mamah
"papah ganggu aja" kata Axel
Sedangkan papah hanya tertawa.
"Ya udah di lanjut kalau gitu. Ayo mah aku kasih juga tapi di kamar aja biar lebih nendang" kata papah menarik mamah
"maaf ya Jen, papah suka becanda" kata mamah
"gak papa mah" jawab Jen malu
"kamu ini, aku kan malu" kata Jen setelah papah mamahnya tidak terlihat
"khilaf Yang," kata Axel sambil nyengir
"khilaf khilaf" gerutu Jen
"kamu juga menikmati kan. Tadi kamu jadi nyalon Yang?"
"jadi kok tadi sama mamah"
"pantes wanginya beda, bikin aku jadi pengen" kata Axel
"pengen apa?" tanya Jen
__ADS_1