
Mereka semua bingung dengan pernyataan papah.
"gelar apa?" tanya Axel
"opa Alexander" jawab papah
"gak cocok Al" saut ayah
"terus?" papah
"Embah kakung Alexander atau aki Al" ayah
"engkong aja sekalian" papah
"itu juga cocok" ayah
Papah yang bermuka masam pun di tertawa kan mereka semua.
"papah udah tua, jangan berharap kaya oppa oppa korea ya" mamah
"kan biar keren mah" papah
"udah, apa aja boleh yang penting kita doa kan Jen juga calon anak ku sehat"
"eh tunggu Xel, kok kalian bisa tau kalau Jen hamil?" mamah
"tadi kan kita kerumah sakit ketemu dokter Riza. Terus........" Axel menceritakan tadi saat di rumah sakit.
"oh jadi kamu kena sindrom couvade? sama kaya ayah dulu" kata bunda sambil tersenyum
"emang bunda enggak?" kata ayah
"maksudnya?" Jen
"kemarin itu beberapa hari bunda ngeluh kaya orang hamil, gak lucu kan masa mau punya cucu punya anak juga" ayah
"hahaha, ya gak papa kalau takdir nya gitu Di" papah
" Sampai ke dokter juga buat cek kemarin" ayah
"kok bisa bund?" heran Jen
"bisa dong sayang, itu Axel aja bisa kena" Bunda
"aneh tapi nyata Jen" mamah
"iya mah" Jen
"kamu ngidam apa Jen?" tanya ayah
"belum sih yah, malah garwo yang aneh aneh. Kaya tadi juga" Jen
"kalau gak dituruti nanti gak bisa tidur Yang, kaya es krim malam malam itu" Axel.
"tapi papah bangga sama kamu boy, jos 👍" kata papah memberikan jempolnya pada Axel
"tapi belum bisa yang kembar pah"
"tidak masalah, yang penting di beri kemudahan" kata papah.
"oh iya pah, yah, Axel juga mau membahas tentang kuliah Axel. Karena Jen gak mau di tinggal juga" Axel
"ya sudah yang terbaik buat kalian aja kalau ayah." kata Ayah
"papah juga sependapat boy, kamu juga bisa belajar mengurus kantor kalau begitu" papah
"kalau mamah hanya minta kalian jangan pindah dari rumah. Mamah khawatir sama Jen, biar mamah bisa jaga Jen" mamah
"gimana Yang?" tanya Axel
"benar sayang, kamu lebih baik tinggal bersama mertua kamu, atau di rumah bunda juga boleh. Bunda juga lebih tenang kalau kamu bersama kami." kata bunda
"ya sudah di rumah mamah saja ya,? maaf bun, yah, bukannya Jen tidak mau tapi..." Jen
"gak papa sayang, Bunda paham. Kamu tenang saja, sering nginep di tempat bunda ya" bunda
"iya makasih bun" Jen memeluk bundanya.
"Jen, Axel, kalau ada yang kalian butuhkan atau inginkan jangan sungkan bilang ke ayah. Kalian anak anak ayah, tidak ada yang lain. Apapun pasti ayah bantu" kata ayah
"terimakasih Yah" kata Axel
"papah juga sama Xel, Jen. Kita selalu ada buat kalian"
"terimakasih pah," kata Axel
Singkat cerita, sebenarnya Axel juga berniat untuk tinggal di apartemen berdua dengan Jen sebelum Axel masuk kuliah. Mereka juga ingin merasakan hidup mandiri dan tidak bergantung pada orang tua. Namum rencana hanyalah wacana bagi manusia, sang pencipta lah yang menentukan semua. Selesai makan malam mereka memutuskan untuk pulang.
.
.
.
__ADS_1
Pagi ini Axel sudah kembali sekolah, mual dan pusingnya sedikit berkurang setelah minum obat.
"Yang, satu mobil aja" kata Axel
"iya, biar aku saja yang nyetir. Takut nya kamu masih pusing" Jen
"tapi Yang"
"udah gak papa, ayo masuk" kata Jen
Akhirnya Axel menurut, mereka menggunakan mobil Jen. Sampai di sekolah Axel dan Jen berjalan beriringan.
"duhai senang nya pengantin baru" Ari bernyanyi di belakang Jen dan Axel
"teloleng loleng loleng" saut Jamil
"jalan bersama bersendau gurau" Ari
"teloleng loleng loleng" Jamil
"gue jitak ya kalian" kata Jen menengok ke belakang
"hahaha ampun bos" Ari
"teloleng loleng loleng" Jamil
"hey lo dari tadi loleng loleng mulu" Ari
"kan lo nyanyi, gue nabuh lah" Jamil
"udah selesai nyanyi nya" Ari
"gak bilang sih lo" Jamil
Sesampainya di kelas XII ips 1 Jen masuk kedalam, sedangkan Axel ke kelas nya sendiri.
"Axel" panggil Mira yang berada di depan kelas Axel.
"apa?" tanya Axel malas
"kamu udah sembuh? sakit apa?" tanya Mira sok khawatir
"gue gak papa, udah ya gue masuk dulu" kata Axel
"Axel tunggu, aww" Mira yang akan jatuh pun di tangkap Axel karena reflek.
"garwo!!" panggil Jen yang melihat adegan itu
"Jenengan ih, pados kesempatan. Jenengan mboten kelingan nek ajang gadah putro?" Jen (kamu ih, cari kesempatan. Kamu gak ingat kalau mau punya anak?)
"niki mboten kados sing jenengan pikir, kulo naming nulungi wong niku" Axel (ini tidak seperti yang kamu pikir, aku cuma menolong orang itu)
"alesan, kulo mboten remen jenengan cedak kalih wong niku." (alasan aku tidak suka kamu dekat dengan orang itu)
"Yang?"
"emboh lah," Jen (gak tau lah)
"Yang, nopo jenengan mboten percoyo kalih kulo,? kulo kudu pripun supoyo jenengan percoyo?" (Yang, apa kamu tidak percaya sama aku? aku harus gimana supaya kamu percaya?)
"gih boten sah cedak cedak kalih kesemek meniko" Jen (ya gak usah dekat dekat dengan kesemek itu)
Kata kata Jen tadi membuat Axel tersenyum, sedangkan yang berada di sana bingung. Disana ada Mira, Debora, Beti, Axel, Jen dan Sasa.
"lo ngomong apa sih Jen?" tanya Sasa
"gak tau" kata Jen dan berlalu
"eh lo jadi ke toilet gak?" tanya Sasa
"gak"
"Jen" panggil Axel namun Jen tidak menengok
"Xel? kamu ngomong apa sama Jen?" tanya Mira
"bukan urusan lo" Axel masuk kelas meninggalkan Mira
"thanks ya Xel," teriak Mira dan dia kembali ke kelasnya ipa 3
"Mir, tadi Jen dan Axel ngomong apa ya?" Debora
"mana gue tau" Mira
.
.
.
"kenapa lo?" tanya Tamara.
"cemburu" Sasa
__ADS_1
"sama Axel?" Tamara
"iya lah, masa sama Bayu kan gak lucu" kata Sasa
"kok gue kangen Bayu ya" kata Jen tiba tiba
"jangan gila lo" Tamara
"ih gue beneran 😁, nanti gue harus ketemu" Jen
"kalau garwo lo tau?" Sasa
"bodo amat" Jen
"bales dendam lo?" Sasa
"enggak" Jen
Pelajaran sudah di mulai, entah kenapa baru masuk jam ke tiga Jen merasa sangat mengantuk. Jen tiduran di atas mejanya, begitu pula dengan Ari. Pelajaran sejarah ini membuat mereka berdua seperti sedang di dongeng kan.
"ARI!!!! JENNAIRA!!!!" panggil pak Wal. Buru buru Jen dan Ari mengangkat kepalanya.
"iya pak" jawab Jen dan Ari hanya tersenyum
"keluar kalian,!!"
"tapi pak" Ari
"tinggal satu bulan lagi kalian mau ujian. Kalau kalian gak mau ikut pelajaran saya, enak enakan tidur gak papa. Silahkan keluar" kata pak Wal
"maaf pak" kata Jen sambil beranjak, begitu juga Ari.
Mereka menuju ke kantin, dan duduk di sebuah kursi panjang.
"buk, Jen pesen bakso satu ya" kata Jen
"saya kopi hitam aja buk" Ari
"pakai kupu-kupu" saut Jen
"maksud lo?" Ari
"kopi hitam kupu kupu, kopi hitam kesukaan ku" Jen bernyanyi.
"gue kira apa, garing tau" Ari
"em, lagian lo ngapain sih ikutan tidur" Ari
"gue ngantuk banget, udah kaya di dongengkan" Ari
"sama" Jen
"silahkan mbak Jen dan mas Ari" kata bu kantin
"makasih buk" Jen
Jen menambah sedikit sambal di baksonya, dan segera menikmati.
"Jen" panggil Ari
"em" jawab Jen karena sedang makan
"gue kok gak pernah liat lo sama Axel di sekitar kompleks sih?" Ari
"gue di kandang" kata Jen asal
"ayam kali di kandang." Ari
"lo tau gak? kalau ada cewek cantik satu kompleks sama kita, dia suka Axel" Ari
"enggak"
"yee, makanya kalau suami joging lo jangan molor mulu" kata Ari
"katanya gak pernah liat, lah itu tau kalau Axel sering joging. Bahkan di sukai cewek" Jen
"ya kan gue liat Axel doang cuma sesekali aja," Ari
"emang beneran cantik?" Jen
"iya, di suka ngejar Axel kalau joging."
"siapa namanya?"
"Beka," kata Ari menahan senyumnya
"lo bohong?" Jen
"enggak tanya aja Axel kalau gak percaya" Ari
"coba ntar gue tanya deh" Jen
Mereka berdua asik ngobrol, sampai jam istirahat mereka baru kembali ke kelas. Karena di jam istirahat ini pasti akan banyak murid yang ke kantin.
__ADS_1