
Setelah beberapa saat dan Jen mulai tenang. Mereka berbincang tentang satu minggu tanpa bersama.
Di sisi lain, Axel mengamati semua yang dilakukan Jen.
"sebenarnya Jen marah kenapa?" tanya Satria
"Neta balik lagi, dan dia lagi di Bali juga"
"hah, yakin lo?" Dio
"iya, gue beberapa kali ketemu dia. Dan tadi pagi Neta datang ke resort, menanyakan hubungan kita dulu"
"terus lo?" Dio
"gue bilang semua sudah berakhir bersama dengan perginya dia" jelas Axel
"lo jelasin ke Jen, seperti nya sudah aman" saran Satria.
Axel pun berjalan perlahan mendekati Jen dari belakang. Saat itu Tamara yang tahu pun mengajak Sasa pergi.
"Sa, antar gue ke toilet" Tamara langsung menarik Sasa
"eh kok gue di tinggal" kata Jen
"tunggu bentar" Tamara
huf Jen menghela nafasnya berat.
"Yang" panggil Axel.
Axel memeluk punggung Jen yang sedang duduk di depannya. Jen yang di peluk pun hanya diam, rasa kecewa itu tiba tiba muncul kembali. Jen menunduk dan meneteskan air mata, bahkan air matanya mengenai tangan Axel yang melingkar di atas dada nya.
Axel segera melepaskan pelukannya dan duduk di samping Jen. Menarik Jen kedalam pelukannya.
"maaf ya" kata Axel
" kenapa kamu gak jujur" kata Jen di sela isakannya
"karena aku menganggap itu semua tidak penting"
"tidak penting menurutmu, apa kamu tahu kedepannya akan bagaimana" Jen
"maaf sayang, aku kira Neta tidak kembali lagi"
"kalau kamu dan dia memang belum selesai, kenapa kamu bilang cinta sama aku"
"aku sudah tidak ada perasaan apapun sama dia?"
"apa segampang itu?" tanya Jen
"enggak, semua gak mudah buat aku dulu. Di tinggal orang yang sudah mengisi hatiku. Orang yang menjadi mood booster buat aku, pergi begitu saja tanpa kabar. Semua gak mudah Jen, aku juga butuh proses. Dan aku sekarang ini sudah bisa melupakan semuanya. Semenjak pertama kali aku bertatapan sama kamu, aku sudah menaruh hati sama kamu. Tapi aku sadar kamu sudah ada Bayu." jelas Axel
Jen hanya menangis di pelukan Axel, ia juga mengingat betapa sulitnya melupakan Bayu.
"Jen,, aku tahu melupakan itu tidak mudah. Aku tidak pernah memaksa kamu buat langsung melupakan Bayu, pelan pelan saja. Karena aku sudah pernah melewati itu Jen. Aku sudah tahu bagaimana rasanya. Maafin aku kalau kamu kecewa. Aku tidak berniat menyembunyikan ini, aku juga tidak berniat untuk tidak jujur sama kamu. Aku hanya tidak ingin mengingat saat dimana aku terpuruk. Percaya lah Jen, aku sudah tidak ada rasa sama Neta."
"aku melihat betapa khawatir nya kamu saat melihat Neta pingsan"
"aku hanya reflek, manusiawi aku menolong Neta yang sedang pingsan. Karena mau bagaimana pun aku pernah mengenal baik Neta"
Jen tidak menjawab apapun dan tidak berkomentar lagi.
"kamu cemburu?" tanya Axel yang baru menyadari kalau kemungkinan Jen hanya cemburu
"apa?"
"iya, kamu cemburu Yang? liat aku di peluk Neta, aku nolongin Neta" tanya Axel dengan sedikit menggoda Jen
"gak" kata Jen melepaskan pelukannya, dan memalingkan wajahnya yang sudah merah.
Axel tersenyum melihat itu. Ia yakin kalau Jen hanya cemburu. Axel menarik perlahan dagu Jen dengan tiga jarinya. Jempol, jari telunjuk dan jari tengah nya. Di hadapkan nya wajah Jen ke wajahnya. Perlahan Axel mendekatkan wajahnya. Jen pun hanya menutup mata.
cup
__ADS_1
Axel mencium lembut bibir Jen. M*l*m** pelan bibir mungil yang sudah menjadi candu untuknya.
.
.
"Oh gila,,,, gue ternodai" kata Sasa
"iya loh, enak nya Jen udah ngerasain" Tamara
"wah nyosor tuh Axel" Dio
"belajar dimana dia?" Satria
Mereka melihat adegan live yang seharusnya tidak mereka lihat. Karena bisa di pastikan mereka akan pengen 🤭 .
Cukup lama Jen dan Axel menautkan bibirnya.
"aku menyerah" Tamara mengangkat tangan nya dan berbalik untuk tidak melihat Jen
"aku laper" kata Satria
"yeeee makan mulu" kata Dio
"kita tunggu di sana sekalian makan malam" ajak Sasa.
"ayolah, biar yang di sana kenyang makan bibir" Tamara.
Sedangkan beberapa saat setelah mereka berdua tenang, Axel menyudahi ciuman nya.
"udah ya, jangan cemburu lagi. Karena hatiku sudah penuh namamu, saat ini sampai nanti," kata Axel yang menyatukan dahinya dan dahi Jen.
"aku gak cemburu" kata Jen yang memanyunkan bibirnya.
"mau lagi?" tanya Axel
"enggak" jawab Jen menjauhkan dahinya
Akhirnya setelah menyusul teman temannya yang sedang makan malam, mereka pulang ke resort. Sampai di resort Axel memberi tahu kalau kamar Dio dan Satria berada di bawah, mereka satu kamar. Sedangkan Tamara dan Sasa satu kamar di lantai dua. Agar tidak terjadi hal hal yang tidak di inginkan karena mereka saling menaruh rasa.
Setelah bersih bersih mereka ngobrol di ruang tengah. Jen menanyakan kenapa mereka semua bisa di sini. Dan semuanya di ceritakan Axel, tentang rencana dan kegiatan yang akan datang.
"enak gak Jen?" tanya Sasa
"apa?" tanya Jen tidak paham
"yang tadi" Sasa memeragakan dengan kedua tangan nya yang di patuk patukkan.
"iya, kita di suruh liat doang" gerutu Satria
"udah jangan macem-macem kalian. Tunggu sampai Sah" kata Axel
"iya iya yang sudah SAH" kata Dio
" Gue ngantuk Tam" Sasa
"ya udah ayo tidur" Tamara
"gue ikut" kata Jen
"maksudnya Yang?" Axel
"aku tidur sama mereka ya" pinta Jen
"jangan dong Yang, kamu kan guling ku. Mana bisa tidur aku" Axel
"ekhem oy oy, jomblo ini" Satria
"belum SAH" Dio
"malam ini aja" kata Jen
"janji ya" Axel
__ADS_1
"iya," jawab Jen sambil berlalu
"gimana Xel? lo pasti udah buka segel kan? Dio
"belum" jujur Axel
"masa, gue lihat dari cara lo ciuman tadi kaya udah lihai"Satria
"kalian liatin gue?,"
"ya elo yang main nyosor aja, bukan hanya kita yang lihat. Banyak" Satria
"udah sono tidur" Axel beranjak ke atas menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar Axel merebahkan diri di kasur. Pikirannya teringat dengan Neta. Semoga Neta bisa menerima ini semua. Dan tidak akan terjadi apapun yang menghalangi kebahagiaan rumah tangganya.
Axel mencoba memejamkan matanya, bergerak mencari posisi yang nyaman namun tetap tidak bisa tidur.
"duh gue beneran gak bisa tidur. apa aku minta Jen kesini aja ya." gumam Axel mengambil ponselnya. Ia mencoba menghubungi Jen.
Panggilan ke dua baru ada jawaban dari Jen.
📞Sayang
apa
jawab Jen dengan suara orang mengantuk
"Yang,, pindah sini Yang" Axel berbicara dengan nada memelas
udah pw, kamu tidur aja sendiri
"gak bisa tidur Yang" rengek Axel
tinggal merem aja udah
"buka pintunya, aku di depan"
udah balik sana, aku ngantuk banget
"gak mau Yang, ayo" Axel mengetuk pelan pintu kamar Jen
astaga iya
tut.
Pintu terbuka dan Jen bisa melihat Axel yang tersenyum manis dengan puppy eyes nya. Axel menggandeng Jen menuju kamarnya.
Setelah sampai kamar Jen langsung tidur lagi. Sedangkan Axel mengamati Jen yang tertidur, sesekali ia mencium kening Jen.
"kebo banget kalau udah tidur" kata Axel.
Pandangan Axel turun ke bawah. Lebih tepatnya di dada Jen yang terbuka sedikit. Tidak di pungkiri jiwa ke lelakian Axel mulai meronta. Bagaimana tidak jika setiap hari di suguhkan pemandangan seperti ini. Apa lagi ini sudah halal. Sebisa mungkin Axel menghargai Jen.
Jangan Xel, lo gak mau kan Jen kecewa lagi sama lo. Batin Axel dan beranjak menenangkan diri di balkon kamarnya.
Merasa Axel tidak ada di sampingnya, Jen membuka matanya. Benar ternyata Axel tidak ada di dalam kamar. Jen melihat pintu balkon terbuka. Ia beranjak dan menuju balkon, menyender kan tubuh di pintu.
"kok masih disini? katanya suruh nemenin tidur," kata Jen
"kamu bangun Yang?" tanya Axel dan mendekati Jen
"kamu masih mikirin mantan?"
"enggak sayang"
"terus?" Jen
"em, aku, aku lagi menenangkan diri"
"kenapa?"
"ini, aku gak bisa tidur gara gara ini" kata Axel sambil menunjuk sesuatu.
__ADS_1