Cinta Jennaira

Cinta Jennaira
Mengikuti


__ADS_3

Jen yang panik pun mendekat ke Axel dan memegang tangan Axel.


cup


Dengan gerakan cepat Axel mencium bibir Jen. Jen berusaha menolak karena memang masih sedikit sebal dengan Axel. Tapi lama lama Jen pasrah.


"udah gak usah marah, dosa tau" kata Axel setelah melepaskan ciumannya


"iya" kata Jen berlalu ke kamar mandi


"bilang aja mau di cium" kata Axel


"garwo,,, aku dengar ya" teriak Jen dari dalam kamar mandi. Axel pun melongo mendengar itu.


"enggak sayang, kamu cantik" kata Axel


.


.


.


Di meja makan keluarga Alexander terlihat riuh. Terlihat Jen dan Sasa saling berebut rujak buah.


"Yang, kamu itu kaya orang ngidam aja" kata Axel


"biarin, tadi aku mau beli udah abis" Jen


"jangan jangan lo ngidam beneran Jen?" Sasa


"iya, makanya sini buat gue aja" Jen


"hah yang benar Yang,? masa udah jadi aja" kata Axel antusias


"wah ada yang udah gol ini" Satria


"iya Sat, enak banget" Dio


Sasa dan Jen menghentikan aktivitas nya. Jen melirik tajam ke arah Axel. Sedangkan Axel hanya nyengir.


"wah Jen berarti beneran yang kemarin malam itu gue dengar lo #m#!#;!" Sasa tidak bisa melanjutkan ucapannya karena sudah di suapi Jen dengan nanas.


"udah jangan bahas yang aneh aneh. Kita pikirkan Tamara" Jen


"emang kita mau cari dimana?" Axel


"ya cari tahu tentang Rendy lah. Gue yakin Tamara sama Rendy" Jen.


Akhirnya mereka mencari informasi tentang Rendy, dari Sinta ataupun sosial media nya. Sampai sore mereka tidak bisa mendapatkan pertanda apapun.


"Jen nanti kalau tante Rani tanya lagi gimana?" Sasa


"gimana gue juga bingung" Jen.


"tante Rani siapa sih?" Dio


"mamahnya Tamara" jawab Sasa dan Dio manggut manggut.


Karena hari sudah mulai gelap Sasa, Dio dan Satria pamit pulang. Mereka akan menunggu besok siapa tahu Tamara sudah masuk sekolah.


tok tok tok


"Jen, Axel" panggil mamah


"iya mah" jawab Jen


"sayang, kita dinner di luar yuk. Kamu sama Axel siap siap ya" kata mamah


"iya mah, itu garwo baru mandi"


"mamah tunggu di bawah ya" kata mamah


"iya mah"


Jen membereskan buku-bukunya, dan memasukkan ke dalam tas. Kemudian ia memilih baju yang menurutnya cocok untuk dinner.


"mau kemana Yang?" tanya Axel yang baru selesai mandi


"dinner, kamu siap siap juga" jawab Jen


"dimana?"

__ADS_1


"gak tahu, mamah sama papah yang ajak"


"em" jawab Axel kemudian duduk di ranjang


"kok gak ganti baju?"


"ambilin bajunya Yang"


Jen memilihkan baju untuk Axel. Karena Jen memilih dres berwarna navy, jadi ia memilih kan Axel sweater warna navy juga. Jen memberikan celana panjang dan sweater untuk Axel.


"itu aja ya" kata Jen


"iya, berarti gak usah pakai dalaman ini" kata Axel menerima baju pilihan Jen


"iya, biar terbang" Jen berlalu ke kamar mandi untuk ganti baju


"terbang, terbang, bahaya ini kalau terbang" gerutu Axel yang memang sudah hafal dengan Jen yang jarang menyiapkan ****** ***** nya.


Selesai mengganti pakaiannya, Jen dan Axel turun ke bawah. Mamah dan papah sudah menunggu di bawah.


"maaf lama mah, pah" kata Jen


"gak papa Jen, kita juga baru selesai. Ayo" mamah


"kamu mau satu mobil apa bawa mobil sendiri Boy?" tanya papah


"Bawa sendiri aja pah"


"ya udah papah minta antar sopir aja"


"kenapa gak bareng aja sih garwo?" Jen


"nanti kita gak bisa mesra mesraan" jawab Axel


"is" Jen


Papah dan mamah hanya tersenyum mendengar nya. Mereka menuju restoran yang sudah di booking papah. Sampai di sana ternyata sudah ada ayah dan bunda.


"ayah, bunda" sapa Axel dan Jen. Mereka menyalami kedua orang tua itu


"udah lama Di?" tanya papah


"baru duduk kok" jawab ayah


"ngomong ngomong keluarga besar kita ini masih kurang Di" kata papah


"kurang apa Al?" ayah


"kurang cucu" jawab papah


"nah betul itu" bunda


"kalau aku sih terserah pabrik nya saja" ayah


"Jen, Axel" panggil mamah, karena memang pasangan itu dari tadi sibuk dengan ponsel Axel. Entah kenapa tumben sekali Jen ikut melihat ponsel Axel


"iya mah" jawab Jen


"kalian sibuk ngapain? dari tadi kita bicara kalian main ponsel" mamah


"maaf mah, tapi Jen dengerin kok"


"apa?" bunda


"pabrik kan? pabrik apa bun memang nya?" Jen


"maaf semua, Axel pamit angkat telepon dulu ya." kata Axel beranjak


"kamu itu pabrik nya" jawab bunda


"pabrik apa?" Jen


"pabrik anak" papah


"hah?" Jen


"di proses jangan hah" mamah


Sedangkan yang lain hanya tersenyum. Jen hanya mengangguk, pikiran nya terbang ke mana mana.


"Yang, kita balik harus pergi sekarang. Semuanya Axel sama Jen pamit dulu ya" kata Axel yang baru datang

__ADS_1


"tunggu Xel, ada apa? ayah lihat kamu gelisah" tanya Ayah


"iya yah maaf, ini soal temen Axel yang butuh bantuan" jelas Axel


"bantuan apa?" papah


"teman Jen dalam bahaya pah." Axel


"kenapa harus kalian yang nolong?" mamah


"ini sangat urgen mah, maaf ya semuanya. Ayo Yang" ajak Axel dan menyalami semua orang tua di ikuti Jen


"kalian hati hati, kabari papah Xel." papah di angguki Axel


"jaga Jen Xel" ayah


"pasti yah"


Jen dan Axel menuju tempat yang di kirim oleh Satria. Pasalnya Satria tadi tidak sengaja melihat Rendy di sebuah minimarket. Saat di kasir, Satria melihat barang belanjaan Rendy yang tidak wajar. Diam diam Satria mengikuti Rendy sampai kedepan. Dan ternyata Satria melihat Tamara yang juga masuk ke mobil Rendy.


Saat mobil Rendy mulai meninggalkan minimarket itu, Satria mengikuti. Dan disinilah sekarang Satria berada, di sebuah club malam. Satria masih mengikuti Rendy dan Tamara, ia juga meminta Axel untuk membantu nya.


"kita kok kesini?" tanya Jen


"iya Satria di dalam"


"kita kan mau ketemu Tamara bukan Satria"


"iya, kamu lupa kalau Satria ngikutin Tamara. Kalau Satria di sini berarti Tamara juga di sini Yang"


"ya udah ayo masuk" Jen


"kamu di sini aja ya" Axel


"kenapa? biar aku yang ngomong sama Tamara" Jen


"aku gak akan mengijinkan kamu masuk ke sana ya Yang."


"terus Tamara gimana?"


"kamu tunggu sini, jangan keluar mobil bahaya"


"bahaya kenapa sih, aku juga pernah ke dalam"


"astaga Jen, kamu itu cewek baik baik jangan di ulangi lagi. Aku gak mau kamu terjerumus. Lagian kamu pakai baju kaya gitu, bisa nurut kan?" Axel


"hufh iya aku nurut, jangan lama-lama"


"jangan lupa kunci pintu, jangan keluar kalau tidak ada aku"


"iya"


Axel pun turun dan masuk ke dalam. Ia mencari dimana Satria berada. Axel tidak melihat Satria tapi ia bisa melihat Tamara dan Rendy.


"mas, di tunggu temannya" panggil salah seorang pelayan dan menunjuk meja pojok


"makasih mas" kata Axel menghampiri Satria yang ternyata berada di pojok dan ternyata ada Dio juga


"gimana?" Axel setelah sampai


"gue mau ke sana tapi di larang Dio" Satria yang sudah mulai emosi


"sabar, kita jangan gegabah. Takutnya kita nanti yang kena masalah" Dio


"gimana gue bisa sabar kalau Tamara di kasih minum terus kaya gitu. Lo tadi juga lihat kan Tamara udah nolak tapi tetap di paksa" jelas Satria.


"udah mabuk berat itu. Kasian Tamara" Axel


"lah, kurang ajar banget dia" Kata Dio yang melihat Rendy mulai memegang **** Tamara. Tamara yang mencoba melepaskan tangan Rendy pun tidak bisa, karena dirinya sudah terpengaruh oleh alkohol.


"gak bisa di biarin" kata Satria dan mulai melangkah menghampiri Tamara dan Rendy.


"sabar Sat" Axel mengejar Satria di ikuti Dio


"Kurang ajar," Satria menarik Tamara ke belakang nya.


bug bug


Satria memukul Rendy yang sedang duduk di sofa. Rendy yang tersadar pun segera membalas pukulan Satria, namum sayang tidak bisa mengenai Satria.


"siapa kalian? jangan ganggu cewek gue" Rendy

__ADS_1


#Maaf ya pembaca semua, mungkin satu atau dua hari ini bunda gak up dulu. Pekerjaan pokoknya menumpuk. Harap maklum ya. Terimakasih 🙏🙏🙏🙏


__ADS_2