
Pagi ini Jen bersiap untuk berangkat ke sekolah, tadi malam Jen dan Axel sudah pulang ke rumah. Axel yang dari tadi menginginkan Jen untuk berangkat pagi bersama dengan nya. Setelah sarapan Axel dan Jen menuju ke garasi samping rumah.
"loh motor gue kok gak ada" kata Jen
"gue gue, itu di depanmu apa?" Axel
"ini bukan motorku garwo. Pak Bejo sini" Jen
Pak Bejo yang tukang kebun di rumah ini pun, menghampiri Jen.
"iya non?" pak Bejo
"pak tahu motor saya gak?" Jen
"em itu anu non" pak Bejo melirik Axel
"dimana pak? Jen mau sekolah ini"
"Yang, itu motor kamu yang baru. Udah ayo berangkat" Axel
"gak mau, aku mau motor kesayangan ku" Jen
"udah itu juga sama" Axel
"sama apanya?" Jen
"motor kamu warna apa?"
"hitam"
"ini juga, gede kan?"
"iya"
"ini juga lebih gede dari motor yang biasanya" kata Axel,
"tapi motorku sport"
"ini metik, gak kalah keren juga"
"tapi garwo"
"kamu kan cewek, ya udah seharusnya pakai metik dong Yang. Lebih elegan"
"gak mau, dimana motorku?"
"ada apa pak?" tanya papah yang mau berangkat kerja
"itu tuan, non Jen nyari motornya" jelas pak Bejo
"emang kemana motornya Jen"
"em saya kurang tahu tuan, tapi tadi malam mas Dodi kesini bawa motor itu. Dan motor non Jen di bawa mas Dodi" Bejo
"ya udah pak Bejo balik kerja saja"
"baik tuan".
Papah mendekat ke Jen dan Axel yang masih mendebatkan masalah motor.
"Axel, Jen cukup" kata papah dan seketika mereka diam
"Axel, kamu kemana kan motor Jen?"
"jual pah"
"ih garwo, kamu jahat banget. Papah hiks hiks" Jen menangis dan menempel di lengan papah
"Yang keliru, itu suami orang loh" kata Axel
"biarin, kamu jahat jual motorku." kata Jen lagi
"ada apa ini?" tanya mamah yang datang karena mendengar keributan.
"mamah," Jen berlari ke mamahnya dan memeluk sambil menangis
"kenapa sayang" mamah
"garwo" Jen
"jelasin ke mamah" kata mamah menatap Axel dan papah
"papah gak ikutan boy, papah berangkat dulu. Jen kalau Axel jahat jangan di kasih jatah" kata papah dan mulai melangkah.
"itu berlaku untuk papah juga" kata mamah
Mendengar itu papah berbalik dan menuju ke mamah.
"I love you bojoku. Muach" papah mengecup pipi mamah
"astaga," kata Jen menyembunyikan wajahnya di dada mamah
"hahaha udah jangan pada marah marah" kata papah dan berangkat ke kantor
"jadi kenapa Xel?" mamah
"Axel beliin motor itu buat Jen" Axel menunjuk motor metik hitam yang besar
__ADS_1
"terus kamu kenapa Jen?" mamah
"maunya motor Jen mah"
"Jen, katanya mau nurut sama suami. Aku lakuin ini agar kamu berubah. Anggap saja hukuman buat kamu. Aku gak mau ya kamu ikut balapan lagi" jelas Axel
"aku kan udah janji gak balap lagi"
"tapi kamu itu cewek. Sekarang mau pakai motor, apa mobilku yang mana terserah. Atau berangkat bareng aku. Aku udah kesiangan dan gak mau debat sama kamu" Axel
"kamu nurut dulu ya sayang, nanti di bicarakan lagi" saran mamah
"iya mah Jen berangkat" Jen menyalami mamah dan menuju motor yang di belikan Axel.
"Axel berangkat mah" pamit Axel dan naik motornya
Jen berangkat terlebih dulu, di belakangnya ada Axel yang mengikuti Jen. Di sepanjang jalan Jen masih saja menggerutu. Sedangkan Axel bersikap biasa saja. Sesampainya di depan gerbang samping, disana sudah ada Satria yang menunggu. Jen langsung masuk begitu saja tanpa mematikan mesin motornya.
"wah berhenti lo" kata Satria
"udah Sat, biar gue yang urus" kata Axel yang berhenti di depan Satria.
"oke" Satria
Jen memarkirkan motornya di samping Sasa. Jen melepaskan helmnya dengan kasar.
"lah, motor lo baru Jen?" tanya Sasa
"tau" kata Jen masih dalam mode marah
Apalagi sekarang Axel memarkirkan mobilnya di samping Jen.
"Yang" panggil Axel
"Jen, ingat di sekolah" Jen
"iya Jennaira, kamu itu gak taat aturan banget. Main terobos aja, aku bisa hukum kamu loh" Axel
"hukum aja, hukum terus. Ayo Sa" kata Jen pergi dari parkiran di susul Sasa
Axel hanya menggelengkan kepalanya, ia tahu kalau Jen masih kesel padanya.
"Jen tunggu" kata Sasa
"kamu kenapa sih?" tanya Sasa
"kesel gue Sa sama garwo" Jen menceritakan masalahnya tadi dengan Axel.
"ya menurut gue Axel ada benarnya juga Jen, udah kamu jangan marah marah mulu" Kata Sasa
"iya lupa maap"
Sampai di kelas, dilihatnya Tamara belum datang.
"Sa, Tamara belum datang?"
"gak tahu Jen, kemarin juga gak ada kabar. Mana dia gak bisa di hubungi." Sasa
"iya gue jadi khawatir, tadi malam juga di apartemen Sinta gak ada orang." Jen
"eh Jen, kemarin lo sakit apa?" Sasa
"kecapekan" jawab Jen singkat
"habis ngapain? seingat gue pas kita telfonan kemarin lo...???"
"apa?" Jen
"elo mendesah" bisik Sasa
"astaga Sasa"
"jujur Jen, iya kan?"
"dia goda gue"
"masa di goda sampai gitu" Sasa
"udah jangan di bahas, sekarang kita fokus sama Tamara." Jen mengalihkan topik pembicaraan.
Pelajaran sudah di mulai, sampai saat istirahat kedua Jen dan Sasa menuju kantin. Suasana kantin tidak terlalu ramai, karena suasana panas yang membuat para murid ingin bersantai saja. Jen sedang makan bakso yang panas dan pedas, sedangkan Sasa hanya minum jus sambil memainkan ponselnya.
"Jen, Sa" sapa Satria yang baru duduk di hadapan mereka
"Satria" jawab Sasa
"gue boleh tanya sesuatu?" Satria
"apa?" jawab Jen di sela makannya.
"kok kalian gak sama Tamara?" Satria
"dia gak berangkat" Sasa
"gue gak bisa hubungi Tamara, dia baik baik saja kan?" Satria
"kita juga gak bisa hubungi Tamara" Jen
__ADS_1
"gak coba ke rumahnya?" Satria
"mungkin nanti" Jen
”Noah dong" saut Dio yang baru datang bersama Axel.
"bebeb" sapa Sasa
Jen memasang wajah cemberut saat melihat Axel. Semua heran dengan yang seperti itu.
"Masih di lanjut ngambek nya?" Axel
"emboh" Jen
"tunggu tunggu, tante Rani telfon gue ini" kata Sasa
"angkat Sa" Jen
"halo tante selamat siang" sapa Sasa
📞 Tante Rani
Siang Sa, tante mau tanya. Apa Tamara ada di dekat kamu?"
"Tamara?" Sasa mulai melouspeaker
📞
iya Sa, ini tante kebetulan baru di mall. Kayaknya Tante lihat Tamara. Kalian lagi dimana cantik?"
"Sasa masih di sekolah Tan,"
📞
tadi Tamara juga berangkat sekolah, Tante lihatnya juga masih pakai seragam sekolah.
"Tamara berangkat sekolah tante?" tanya Jen
📞
iya Jen, dari kemarin juga sekolah kan. Jadi Tamara ada dimana sayang?
"gimana nih" bisik Sasa
"gak tahu" Jen
"Em tante maaf, ini udah bel masuk. Sasa masuk kelas dulu ya Tan, nanti Sasa kabari"
📞
iya Sa,
tut
Jen dan Sasa saling pandang, mereka bingung kenapa Tamara bolos sekolah.
"kalian dengar kan kalau Tamara sebenarnya sekolah. Tapi malah ke mall, sama siapa ya?" Sasa
"Sinta" Jen mencoba menghubungi Sinta. Namun nihil Sinta tidak tahu apa-apa. Sama dengan Jen dan Sasa ia juga tidak bisa menghubungi Tamara
"gimana cari Tamara yuk" ajak Sasa
"oke masih belum masuk ini. Kita cabut lewat belakang" Jen
"ekhem" deheman Axel menyadarkan Jen yang akan kabur.
"mau ngapain?" Axel
" nyari Tamara" Jen
"nanti pulang sekolah kita cari bareng" Axel
"tapi kan..."
"iya beb, nanti aja" Dio
"kenapa bisa begini sih?" Satria
"entahlah Sat, gue juga bingung" Jen
Setelah pulang sekolah, Sasa, Dio, dan Satria ikut pulang ke rumah Axel. Mereka semua akan berencana mencari Tamara. Jen menuju ke kamar nya untuk ganti baju, begitu juga dengan Axel.
"Yang, dari tadi kamu cuekin aku loh" Axel
"itu hukuman" jawab Jen
"kenapa aku di hukum?"
"kamu tahu kan kesalahan kamu"
"tapi semua demi kebaikan kamu Yang,"
"tapi aku masih belum bisa terima" Jen membelakangi Axel
"auwww" kata Axel memegang kepalanya
"garwo kamu kenapa?"
__ADS_1