
Sasa dan Tamara pun mengikuti arah yang ditunjuk bunda Ayu. Yang mereka lihat saat ini adalah seorang pengantin dengan riasan adat Jawa Solo Putri
"yang mana bun?" tanya Tamara lagi karena memang tidak tahu.
"yang sedang dirias itu" kata bunda
"itu pengantinnya kan bun, cantik banget" kata Sasa dan di angguki bunda
"Jen nya mana bun?" tanya Sasa lagi
"ya ampun, kalian masih gak tau Jen? tanya bunda dengan menggeleng
"enggak" jawab mereka kompak
"dasar temen durhaka, masak gak tau ini gue" kata Jen yang masih memejamkan mata karena sedang di rapikan riasan bagian matanya.
"Jen?" teriak Sasa dan Tamara
"gak usah teriak teriak emang udah pada sarapan?" kata Jen
"gu,,, gue masih mimpi Tam?" tanya Sasa
"iya, gue juga ada di mimpi lo" jawab Tamara
"hey kalian gak mimpi, udah ayo duduk sini" kata bunda menuntun Sasa dan Tamara duduk. Mereka yang masih bingung pun menurut saja.
"mbak ini pendampingnya" kata bunda pada anggota perias.
Dan akhirnya Sasa dan Tamara mulai di rias, beberapa menit masih hening dan hanya ada suara para perias . Bunda meninggalkan ruang itu untuk memastikan semua sudah siap.
"Tam Tam gue bingung," kata Sasa
"gue lagi mikir" jawab Tamara
"mikir apaan?"
"masa iya Jen yang jadi pengantinnya, berarti Jen mau nikah dong" jelas Tamara
"eh iya juga, Jen....?" panggil Sasa
"hhmm" jawab Jen
"itu beneran elo? mau nikah apa jadi model?" tanya Sasa
"gue mau nikah" jawab Jen
"APA..???" teriak Sasa dan Tamara bersamaan dan berhasil membuat para perias kaget.
Semua yang ada di sana menengok ke arah Sasa dan Tamara. Sedangkan Jen tertawa terbahak bahak.
"eh dodol kok lo ketawa sih" tanya Tamara
"itu alis lo," jawab Jen dengan sisa tawanya.
Sasa pun melihat ke arah Tamara. Sontak saja mereka berdua tertawa.
"lah kok lo malah ketawa" heran Sasa
"itu hidung lo" kata Tamara dan akhirnya mereka ngaca. Setelah itu mereka menoleh kearah perias yang sedang merias mereka.
"maaf mb, kita kaget tadi" kata para perias itu . Tamara yang sedang dirias bagian alisnya menjadi tercoret ke atas, sedangkan Sasa yang akan di pakaikan blus on malah terkena di bagian hidungnya, mirip hidung badut. Itu semua karena teriakan mereka sendiri.
"foto dong biar lucu" pinta Jen
"kaga ya, awas lu" kata Sasa
"yah udah terlanjur ๐" kata Jen yang tadi minta tolong sama salah satu perias untuk mengambil foto.
"mbak mau sarapan dulu apa ganti baju?" tanya periasnya
"ganti baju deh mbak, tadi udah makan,"
"iya mbak, mari sebelah sini"
Setelah semua siap dan berganti pakaian Jen, Tamara dan Sasa duduk di atas ranjang hotel.
"tolong jelasin sekarang Jen" pinta Tamara
"gue beneran mau nikah hari ini. Dan kalian yang jadi pendamping gue" jelas Jen
__ADS_1
"really?" Sasa
"iya," jawab Jen
"sama siapa lo nikah?, kok bisa lo nikah hari ini?" Pertanyaan Tamara
"nanti kalian tahu, dan jangan bikin heboh kalau udah tahu. Gue di jodohkan ayah dan bunda"
"dijodohkan? kenapa gak nolak?" Sasa
"yang pasti gue udah nolak dan mohon mohon, tapi ya begini hasilnya"
"lo masih sekolah Jen?"
"iya masih lah,"
"terus gimana kalau nikah"
"ya gue tetep sekolah seperti biasanya. gue minta sama kalian buat rahasiakan ini, gue percaya sama kalian bisa menjaga rahasia ini" pinta Jen
"jadi lo putus sama Bayu gara gara ini?" Tebak Tamara, Jen mengangguk
"Bayu tahu lo mau nikah?" Sasa
"iya, Bayu tahu semuanya," Jen
"kalau pihak sekolah tahu gimana Jen?" Tamara
"gue nikah sama anak pemilik sekolah, atau Om Al teman ayah" jelas Jen
"oh my god" Sasa menutup mulutnya.
"Jen, lo cantik banget. Tapi juga beda banget, gue aja sampai gak ngenalin lo" kata Tamara dan di angguki Sasa
"manglingi sayang nama ya" kata bunda yang baru datang
"sayang, keluarga mempelai pria sudah datang, nanti setelah sah bunda baru mengajak kamu bertemu suamimu. Kamu banyak banyak berdoa ya," lanjut bunda
"iya bunda" jawab Jen.
.
.
.
drt drt drt
Ponsel Axel berbunyi tanda panggilan masuk
๐Dio
Kita udah di lobby hotel, lo di mana?
"kalian langsung ke kamar 18"
๐Dio
Oke,,
tut
Dio dan Satria pun langsung menuju kamar 18. Sesampainya di kamar itu Dio dan Satria di buat terkejut dengan penampilan Axel
"gila, kaya apa ya?" Tanya Dio pada Satria
"Kaya Janoko," saut papah Al
"maksudnya om?"
"tokoh wayang itu loh, yang berparas rupawan, berpola hidup sederhana, Satria tampan berilmu tinggi" jelas papah Al
"oh cocok om, lo terlihat lebih gagah dan ganteng" puji Dio
"siapa dulu,, Axel" kata Axel bangga
"kok lo pakai baju gitu?" tanya Satria
"gue mau nikah, " jawab Axel singkat dan jelas
__ADS_1
"gak lucu becanda lo" Satria
"gak percaya ya udah" Axel membenarkan blangkon nya
"Boy ayo, sudah siap?" tanya papah Al
"sudah pah" jawab Axel mantap
"mau ke toilet dulu gak?"
"enggak pah,"
"ya udah nunggu mamah, dulu"
"eh Xel ini mau ngapain sih?" tanya Satria
"udah ntar lo juga tahu," jawab Axel
"Ayo pah" ajak mamah Rere yang baru datang
"hey kalian para jagoan, mau ganti baju beskap dulu apa pakai jaz yang itu aja, masih ada waktu lima belas menit" tanya mamah
"kalau ada beskap Dio mau tante" kata Dio
"ada kok, kemarin sengaja tante pesen buat kalian kalau mau pakai"
"ya udah biar kita ganti dulu aja tante" saut Satria
Dio dan Satria mengganti pakaiannya di bantu beberapa perias. Beberapa menit kemudian mereka sudah siap dan menghampiri Axel dan keluarganya.
"wah kalian ganteng ganteng sekali" puji mamah
"pasti lah tante" kata Dio
"iya kalian berdua kaya Anoman" kata Axel dan papah tertawa mendengar itu.
"Axel gak boleh gitu" kata mamah
"anoman apa tante?" Satria
"pokoknya tokoh wayang yang ganteng" jawab Axel cepat dan mamah menggeleng dengan kelakuan anaknya.
"nah cocok nih gue jadi anoman" saut Dio
"iya kalian pantas jadi anoman. Ayo pah" Ajak Axel yang melihat sang papa tertawa.
"mahar mana Xel?" tanya bunda
"itu mah," Axel menunjuk kasur
Akhirnya mereka bersiap menuju ke ruang ballroom di lantai dasar. Disana lah tempat yang akan di gunakan untuk acara pernikahan Axel dan Jen. Axel di gandeng papah dan mamah nya, sedangkan kedua anoman ๐คญ maksudnya Dio dan Satria. Dio dan Satria bertugas membawa mahar yang berbetuk buket uang.
Disana sudah terlihat Ayah Adi dan bunda Ayu yang menyambut kedatangan keluarga calon besan. Ayah, bunda, papah dan mamah saling menyapa dan berpelukan. Setelah itu Axel menyalami ayah dan bunda.
"ayah, doakan Axel" pinta Axel saat berpelukan dengan ayah
"pasti Xel, kamu jangan grogi" kata ayah yang mengurai pelukannya dan merasakan tangan Axel dingin
"iya yah" jawab Axel dan bergantian menyalami dan memeluk bunda
"doa kan Axel bunda" kata Axel
"iya, selalu bunda doakan. Kamu yang tenang ya, semua akan berjalan lancar" jawab bunda.
"makasih bun" kata Axel dan mengurai pelukannya.
"ayo mari sebelah sini" ajak ayah menuju meja yang sudah di siapkan untuk akad nikah.
Axel duduk berhadapan dengan Ayah Adi. di sana sudah ada para saksi dan tinggal menunggu penghulu datang.
"tante Axel beneran mau nikah?" tanya Dio kepada mamah Rere
"iya, kalian doakan semoga lancar ya" kata mamah Rere
"hah... sama siapa tante?" giliran Satria yang bertanya
"nanti kamu juga tahu" jawab mamah dengan senyuman.
Saat ini Dio, Satria, mamah Rere dan bunda Ayu duduk tepat di belakang Axel.
__ADS_1
"selamat pagi semua, maaf saya sedikit terlambat" sapa bapak penghulu yang baru datang.
.