Cinta Jennaira

Cinta Jennaira
Berkunjung


__ADS_3

Siang ini Jen yang di paksa bundanya untuk makan pun akhirnya keluar kamar.


"makan yang banyak Jen, jangan banyak pikiran" kata bunda


"Jen gak selera makan bun"


"ya harus di paksakan demi anak kamu"


"tapi...... huek" Jen merasa mual dan lari ke kamar mandi di dekat dapur


"kamu gak papa sayang?" tanya bunda yang ikut menyusul Jen


"gak tau bun, Jen beneran gak nafsu makan"


"ya udah, makan buah aja ya? kamu dari tadi belum sarapan loh"


"bun, Jen makan buah di halaman belakang aja ya, pengen menghirup udara segar"


"ya sudah, biar bunda siapin buahnya. Kamu bisa ke sana sendiri?"


"bisa bun," Jen berjalan menuju ke halaman belakang.


Beberapa saat kemudian bunda datang dengan sepiring potongan buah segar. Ada beberapa macam buah di piring itu.


"ini sayang, di habiskan ya."


"terimakasih bun"


"sama sama sayang, sebentar ada telepon masuk. Bunda angkat dulu ya"


"iya bunda"


Jen juga membuka ponselnya, ada pesan dari Axel yang memberi kabar juga nomor barunya. Dirinya hanya membalas seperlunya saja.


"Jen, bunda ada urusan penting di luar. Kamu gimana?" tanya bunda yang sudah menutup sambungan telepon nya.


"Jen di rumah aja bun"


"kamu yakin?"


"iya bunda, aku gak papa"


"ya udah maaf ya sayang, bunda tinggal dulu. Jangan lupa makan, dan jangan melamun"


"oke bunda"


Setelah kepergian bundanya, Jen hanya memandang mbok Jum yang sedang mengangkat jemuran.


Rasanya sepi sekali, tapi membuat hati dan pikiranku lebih tenang. Batin Jen


Sedangkan di halaman rumah, terlihat gaduh karena kedatangan Tamara, Gendis, Jamil dan juga Ari.


"assalamualaikum bunda" sapa Tamara


"wa'alaikumsalam Tamara, dan semua nya" jawab bunda


"Jen ada bun?" Tamara


"pas banget kalian datang, Jen ada di halaman belakang sendiri. Tolong di hibur ya, bunda ada urusan mau keluar" bunda


"siap Tante" jawab mereka


"oh iya, tolong bujuk Jen makan juga ya. Dari tadi belum makan"


"iya bun, nanti kita coba" Tamara


Setelah itu mereka semua masuk dan menuju ke halaman belakang. Mereka memanggil Jen terlebih dahulu, agar Jen tidak kaget dengan kedatangan mereka.


"Kalian kok tua gue disini?" tanya Jen


"TAU BUKAN TUA, elo yang udah tua di usia muda" Jamil


"opo iyo? (apa iya?)" Jen


"sudah terlihat jelas Jen" sambung Ari.


"Jen kamu kenapa gak masuk kuliah?" tanya Gendis

__ADS_1


"iya gue lagi males aja 😁" jawab Jen enteng


"dih males, udah makan belum lo?" tanya Tamara, mereka kesini ingin melihat keadaan Jen juga menghiburnya.


"ini makan" Jen menyuapkan strawberry ke dalam mulutnya.


"nasi maksudnya, kita laper nih. Makan di luar yuk" ajak Tamara


"gak mau gue, mau makan di rumah aja ," Jen


"ya udah ayo, mbok Jum udah masak kan?" ajak Tamara


"gue maunya di rumah Jamil, bukan rumah sini" Jen


"Ha... di rumah gue?" tanya Jamil


"iya, kalau gak boleh gue gak mau makan" kata Jen merajuk seperti anak kecil.


"ya gue gak tau emak gue masak apa, emang lo mau makan apa?" Jamil


"apa aja yang di masak emak lo, ayo gue laper" Jen


"pakai hamil sih lo, gue telfon emak dulu deh" Jamil


"ya gue di hamilin mau gimana lagi" gerutu Jen


"ya di tolak lah" Tamara


"enak kok di tolak hahahha" jawab Jen


"gila loh, kita belum pernah" Ari


"jangan macam-macam lo, Dis kalau di ajak aneh aneh sama dia jangan mau" Jen


"kita nikah dulu yuk Dis" Ari


"aku mau kuliah dulu Ari" Gendis


"hahahaha" suara tawa Jen dan Tamara


"sono nikah sama kambing di bedakkin kalau udah pengen" Tamara


"Jen emak gue cuma masak teri makan bola, sama sayur lodeh. Kesukaan bapak gue" kata Jamil


"teri makan bola apa?" Tamara


"mana gue tau, emang teri bisa makan bola?" Ari


"udah gue doyan itu. Ayo berangkat" Jen


Setelah menunggu Jen ganti baju, mereka menuju rumah Jamil yang tidak terlalu jauh dari rumah Jen. Tamara, Jen dan Gendis berada di dalam mobil ayah Jen yang ada di rumah.


"Jen, lo kok bisa bawa mobil manual?" tanya Tamara


"apa sih yang gue gak bisa?" kata Jen sambil menaik turun kan alisnya


"gaya amat lo" Tamara


"hahaha, kan bener. Dis lo bisa bawa mobil gak?" tanya Jen


"hehehe punya aja enggak Jen, cuma bisa bawa motor bebek biasa" Gendis


"besok gue ajarin" Tamara


"Makasih Tam, tapi gak usah saja" Gendis


"Dis, tidak ada salahnya loh belajar. Kalau sekarang kita belum punya, yang penting punya ilmunya. Gak akan rugi bisa bawa mobil" Jen


"nah betul itu, siapa tau bisa jadi pembalap" Tamara


"kapan kapan deh, makasih ya. Kalian baik sama aku" Gendis


"kita kan teman" kata Jen dan kemudian mereka tersenyum.


Sesampai si rumah Jamil, mereka di sambut oleh emak Jamil di depan pintu.


"Assalamualaikum tante" kata mereka kecuali Jamil.

__ADS_1


"wa'alaikumsalam, ayo masuk" ajak emak Jamil


"Mak nih temen Jamil yang bunting suka makan" kata Jamil menunjuk Jen


"ayu (cantik) , siapa namanya?" emak Jamil


"Jen tante" jawab Jen sopan dan menjabat tangan emak Jamil.


"Jen, tante cuma masak seperti ini. Tante yakin kamu anak orang kaya gak kenal masakan seperti ini" emak Jamil


"tante salah 🤭, saya orang jawa Tan, dan saya sering makan masakan seperti ini" Jen


"ah yang benar?"


"iya mak, dia keturunan Jawa, Gendis juga" Jamil


"Tante, yang namanya teri makan bola mana?" tanya Ari tiba tiba


" ini, cobain pakai nasi anget." emak menunjuk piring yang berisi teri goreng di campur kacang tanah, di tumis dengan cabai dan bawang merah putih.


"mana bola nya?" tanya Ari


"ya kacang itu" Gendis


"gimana ceritanya teri bisa makan bola? ini mah namanya teri di kacangin" Ari mengangkat satu ikan teri dan satu kacang tanah di hadapannya.


"pakai di pikir, tinggal di giniin" Tamara menyendok teri dan kacang kemudian memasukkan ke mulutnya.


"hahaha nah benar itu kata Tamara," Jen


"itu cuma namanya Ari, ayo makan dulu. Tapi maaf ya seadanya" Emak Jamil


"terimakasih banyak Tante, maaf ya merepotkan" Jen


"tidak apa, Tante malah seneng"


Jen terlihat menikmati makanannya, tadi di perjalanan Tamara juga memesan beberapa makanan. Jadi yang tidak suka bisa makan yang lain, selain itu bisa menjadi ganti makanan yang mereka makan tadi. Sebenarnya Emak Jamil ataupun Jamil tidak masalah, tapi ya sebagai tamu paling tidak kita tau diri.


.


.


.


.


Axel yang berada di ruang kerja pun terlihat gelisah. Ia merindukan Jen yang hangat padanya , walaupun ia selalu mendapat kabar dari Jamil, tapi semua itu belum cukup untuk dirinya. Axel keluar ruangan dan menuju ke ruangan sang papah. Setelah mendapat ijin memasuki ruangan, Axel langsung duduk di hadapan papah.


"ada apa?" tanya papah yang tidak mengalihkan pandangannya dari laptop


"pah, Axel tidak tenang. Aku harus ke Bali buat mencari beberapa bukti"


"ya udah sana" papah


"tapi Jen gimana pah?"


"ya Jen kan aman sama ayah bundanya."


"aku tidak bisa tinggal kan Jen dalam keadaan seperti ini pah."


"terus?"


"bantu Axel pah, aku benar-benar tidak bersalah"


"apa yang ada di pikiran kamu tentang masalah ini?"


"sepertinya aku di jebak pah, dari bu Yola yang jatuh, ponselku yang hilang dan Jen mendapatkan foto foto itu"


"em, memang sepertinya iya" papah


"papah tau sesuatu?"


"tau lah, papah sudah jauh melangkah di depan kamu. Kamu lihat ini," papah menyodorkan laptopnya. Disana terlihat sebuah rekaman cctv di sebuah restoran. Ada dua orang yang saling berbicara serius. Setelah pembicaraan itu terlihat senyum mengembang di antara mereka.


"kamu kenal dengan mereka?" tanya papah


"Romi dan bu Yola" jawab Axel sambil mengepalkan tangannya.

__ADS_1


"mereka dalang dari semua nya, Yola yang menginginkan kamu dan Romi yang menginginkan Jen.


__ADS_2