Cinta Jennaira

Cinta Jennaira
Terang terangan


__ADS_3

Semua yang ada di meja makan mencondongkan kepalanya ke arah Jen. Ia menunggu jawaban Jen. Jen yang terlihat serius melihat mereka satu persatu.


"rasanya itu,,,,, beh, ssstt, ......" ekspresi Jen di buat seperti orang sedang berfikir dan menikmati. Membuat mereka semakin penasaran.


"ya gue gak tau, gue kan sama Axel masih sekolah, jangan aneh aneh kalian." kata Jen lagi dengan santainya mematahkan harapan mereka


"ya elah gue kira udah ho.oh" Satria


"lo aja sana sama ayam" Jen yang membuat mereka tertawa.


"ngomong ngomong pagi pagi kesini mau ngapain sih?" tanya Jen


"mau ngasih kado pernikahan lo, tuh di mobil" jawab Tamara


"tumben lo bawa mobil" Jen


"gue di jemput mereka" Tamara dan Jen mengangguk.


"Yang,,,,,,,Yang,,,,," teriak Axel dari atas, dan untung saja Jen sudah selesai sarapan.


"itu Axel? beneran Axel?" heran Satria.


"iya lah temen kalian" Jen


"kalau belum ho.oh kok udah bucin banget" kata Dio, Jen hanya mengedikkan bahunya.


Jen beranjak menghampiri Axel di kamar.


"apa sih teriak teriak?" Jen berjalan masuk mendekati Axel


" ini lebih penting Yang," kata Axel yang menarik pinggang Jen untuk di peluk. Jen bingung dengan apa yang dilakukan Axel.


cup


Axel mengecup dan m*l*m*t bibir Jen lembut. Jen yang memang belum ahli pun hanya diam dan menikmati. Bibir mereka bertautan cukup lama, karena Jen tidak memberontak karena kehabisan nafas. Axel yang heran pun melepaskan ciumannya.


"kamu gak nafas Yang?"


"ya nafas dong, kalau enggak ya sampean dadi dudo anyaran (kamu jadi duda baru)."


"katanya kalau ciuman lama bisa kehabisan nafas?"


"lah kata siapa? aku enggak" Jen


"kok bisa ya, coba sini lagi" Axel mendekatkan wajahnya dan mulai mencium Jen lagi. Setelah melepaskan ciumannya Axel memandang heran Jen.


"kamu kenapa sih,?" tanya Jen


"em kamu udah sering ya, jadi bisa atur nafas?"


"astaga Garwo, elo aja yang pertama, gue sering sama siapa coba" Jen memanyunkan bibirnya.


"ya jangan marah Yang, aku kan cuma nanya. maaf kalau kamu tersinggung" Axel


"kamu liat nih hidungku, pesek kan?" tanya Jen


"tapi kamu tetap cantik" Axel


"udah tahu, ya mungkin karena hidung miniku ini aku tidak terlalu kehabisan nafas. Jadi kamu jangan nuduh"


"iya sayang maaf, sekali lagi ya,?" pinta Axel


"gak ya, itu temen kita masih di bawah. Lagian kamu manggil aku kesini itu kenapa?"


"morning kiss Yang, tadi kan belum" jawab Axel enteng.


"🤦🏼‍♀️" Jen menepuk keningnya, kemudian melangkah pergi dan di ikuti Axel.


Jen dan Axel menuju ke ruang makan.


"kamu mau sarapan sekarang?" tanya Jen


"boleh deh" jawab Axel


"kita di taman belakang aja ya biar lebih enak ngobrol nya, " ajak Axel

__ADS_1


"tolong ya Yang" kata Axel manja


"iya" Jen mengambilkan sarapan utuk Axel dan di hawa ke taman belakang.


Sesampainya di sana, Dio mengambil gitar Axel dan memetik senarnya, Tamara dan Sasa menyanyi kan lagu yang bernuansa cinta. Sedangkan Axel dan satria mengobrol soal acara dinner osis. Jen datang dengan nampan berisi sepiring nasi goreng dan air putih hangat. Ia duduk di samping Axel. Sudah terlihat ada lima buah kotak kado.


"lah ini kado dari kalian?" tanya Jen


"Iya" jawab Tamara


"kok lima?" bingung Jen


"itu yang satu, yang paling gede, dari kita berempat di gabung jadi satu" Dio


"emang isinya apa?" tanya Jen polos


"ya lo buka sendiri, tapi ntar aja di kamar" saran Tamara


"mencurigakan" kata Jen yang membuat ke empat temannya tertawa.


"ayo" kata Jen menyodorkan sesendok nasi goreng di depan mulut Axel. Karena Axel sedang fokus dengan laptopnya.


Dengan senyum mengembang Axel menerima suapan Jen.


"lah itu pengantin baru enak bener," kata Dio mengakhiri petikan gitar nya.


"sirik aja lo, tadi aja lo juga di ambilin Sasa" jawab Axel


"cuma di ambilin gak di suapi" Dio


"kode tuh Sa" saut Tamara


"tadi kamu gak bilang beb" Sasa


"eh tunggu, dari tadi beb mulu. kalian?" tanya Jen menggantung


"iya udah jadian mereka kemarin" jelas Tamara


"wah wah lo gak cerita sih," Jen


"ya udah habis ini kita jalan yuk, lama gak jalan bareng, gue telfon Sinta deh" ajak Tamara


"boleh tuh, liburan mau ngapain bosen" Jen


"elo mah liburan bosen, sekolah juga bosen, bolos mulu" Sindir Sasa, sedangkan Jen nyengir kuda.


"gue ikut beb" kata Dio


"GAK" jawab Sasa, Tamara dan Jen


"Yang" panggil Axel


"aku ijin jalan sama mereka ya garwo" Jen


"aku ikut" Axel


"ih ya jangan, ini itu mau acara cewek cewek" Jen


"gak boleh pergi kalau gitu" Axel


"Garwo" Jen memandang Axel dengan puppy eyes nya


"Yang" kata Axel dan mengambil gelas minumannya karena sudah selesai makan.


Jen hanya diam dan memalingkan wajahnya.


"ya udah, jangan macem-macem" kata Axel


"oke cabut" kata Tamara


"kita naik apa,?" tanya Sasa


"mobil aja, aku bawa mobil ayah ya?" kata Jen, Axel mengangguk


Jen memutuskan untuk bersiap-siap, setelah itu ia kembali ke taman buat manggil temannya dan pamit Axel.

__ADS_1


"hati hati Yang, nanti kabarin aku" kata Axel


"iya Garwo" Jen


"yuk" ajak Tamara, Sasa beranjak dan berpamitan dengan Dio.


Mereka bertiga mulai melangkah baru beberapa langkah, tangan Jen di tarik Axel.


"biasakan salim sama suami sebelum pergi" kata Axel


"hehe" kemudian Jen menyalami Axel dan menempelkan punggung tangan Axel di pipinya.


"Sa, Tam, itu ada badut" tunjuk Axel di belakang Sasa dan Tamara. Dan bodohnya mereka menurut melihat belakang


cup


Axel mengecup sekilas bibir Jen. Setelah itu terdengar suara tawa dari Dio dan Satria.


"Garwo ih" kata Jen, Axel hanya nyengir


"mana badut nya Tam?" tanya Sasa


"iya, gue juga gak tau" Tamara


"udah ayo cabut" kata Jen


"mana badutnya Jen?" tanya Sasa


"lo di bohongi garwo," kata Jen


Tamara dan Sasa menengok ke arah Axel yang diam saja, sedangkan Dio dan Satria masih tertawa.


"kenapa sih?" Tamara bingung


"udah ayo" Jen melangkah mendahului.


Setelah kepergian mereka bertiga Axel kembali duduk di sofanya.


"eh Xel, udah mulai terang terangan lo" kata Satria


"iya, gue gak yakin kalau lo belum melakukan itu" saut Dio


Axel hanya tersenyum mengejek.


"ayo cabut, kita boking kafe buat dinner besok" ajak Axel


"boleh deh." kata Dio


Sebagai ketua osis, Axel bertanggung jawab atas kelangsungan acara besok, mulai dari tempat dan menu Axel lah yang mengurus. Saat di perjalanan menuju kafe, Axel mendapatkan telepon dari papah yang memberi tahu bahwa besok Axel diminta untuk ke Bali. Axel menjadi bingung karena dia besok harus menghadiri dinner.


"gak mungkin kan kalau lo gak hadir besok" kata Satria


"gue juga bingung, ini juga papah mendadak kasih kabarnya" jawab Axel


"lihat besok aja, moga moga bisa di undur lo berangkatnya." saran Dio


Sedangkan di mobil lain Jen, Tamara dan Sasa sedang menuju apartemen Sinta.


"em Jen, lo beneran masih perawan?" tanya Sasa yang ada di belakang


"iya lah" jawab Jen yang fokus mengemudi


"tapi ya Jen, tuh Axel udah beneran bucin ke elo" Tamara


"ya mau gimana lagi, katanya pengen membangun rumah tangga yang sesungguhnya." jelas Jen


"terus lo sendiri gimana?" Tamara


"ya gue juga berusaha menjadi istri yang baik lah" Jen


"ya gue dukung lo Jen" kata Sasa yang memberi semangat Jen.


"kalau lo Tam, beneran gak ada rasa gitu sama Satria?" tanya Sasa dan Jen menengok ke arah Tamara yang duduk di sampingnya


"em.........." Tamara bingung akan menjelaskan.

__ADS_1


__ADS_2