
Tamara yang mendengar suara Gendis pun melihat ke arah Gendis.
"lo kenapa Dis?" tanya Tamara bingung
"itu" Gendis menunjuk pintu dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya masih menutup matanya.
"wah gelo mereka" kata Tamara yang melihat Jen dan Axel yang masih berc*um*n.
"hey...tok tok tok" Tamara mengetuk meja rias yang terbuat dari kayu dengan vas bunga
Jen yang sadar pun mendorong Axel menjauh.
"dasar pasutri gelo, ada anak perawan di sini. Kalian udah menodainya" Tamara
"sory sory, ish kamu itu mas" Jen mencubit pinggang Axel
"aw sakit Yang" Axel mencoba melepaskan tangan Jen
"kamu gak tau tempat, udah sana balik kasian Gendis itu" kata Jen.
"iya iya Yang" Axel berjalan menuruni tangga dengan mulut komat kamit.
Setelah Axel pergi, Jen masuk dan menutup pintu kamarnya.
"Dis, lo ngapain masih berdiri di situ?" tanya Jen
"kamu udah selesai Jen?" Gendis
"belum" jawab Tamara menggoda
"hah lama banget, emang rasanya gimana?" tanya Gendis yang masih menutup matanya
"pedas, manis, asin, gurih, pokoknya enak banget" Tamara
"memang kamu sudah pernah Tam?"
"belum sih, tapi penasaran"
"kok kamu tau rasanya?" Gendis
"Gendis lo itu di kerjain Tamara, buka tangan lo gue udah di sini"
Perlahan Gendis mengintip di sela jari nya, dan ternyata benar Jen sudah duduk si atas ranjangnya.
"hufh kamu itu Jen" kata Gendis
"emang lo gak pernah liat orang ciuman?" Jen
"ya gak pernah" Gendis
"di film film?" Tamara
"enggak pernah" Gendis
"astaga hahaha" Tamara
"sstt udah malem tidur" Jen
.
.
.
.
Pagi ini di meja makan keluarga Alexander terlihat ramai.
"oh iya Jen mungkin minggu depan kita mengadakan acara tujuh bulan kehamilan kamu" kata mamah
"acara adat mah,?" Jen
"iya sayang, kemarin mamah udah bicara sama bunda kamu"
__ADS_1
"Jen nurut aja mah" Jen
"biar Axel yang handle semua keperluan mah, mamah sama bunda yang menyiapkan" Axel
"nanti kita bahas sama keluarga Aditama, sama dinner" kata papah
Setelah selesai sarapan Jen berangkat ke kampus bersama pak Bejo dan juga Gendis. Sedangkan Tamara pulang terlebih dulu, karena jam kuliah nya siang.
"Jen kamu nikahnya kapan?" tanya Gendis
"libur tengah semester kelas XII. 😁"
"udah mau setahun ya. Kok bisa SMA nikah?"
"iya, gue di jodohkan sama Axel"
"maaf Jen, aku kira kamu 😁" Gendis memperagakan orang yang hamil.
"enggak lah ini hasil ikut balapan" kata Jen sambil cekikikan
"balapan? aku juga pernah dengar kalau kamu pembalap kata Tamara"
"hehehe biasa lah kenakalan remaja. Gue dijodohkan mungkin karena nakal" Jen
"nakal suka ikut balap?"
"iya, gue ikut club motor juga. Dan ayah bundaku sering kerja ke luar negeri atau luar kota, jadi tidak ada yang menjaga gue. Mungkin ayah tidak mau gue semakin terjerumus, padahal juga club motor itu anggota nya baik."
"orang tua kamu mau yang terbaik buat kamu Jen"
"lo benar, dan gue bersyukur dengan gue sekarang."
"dulu kamu pacaran sama suami kamu?"
"enggak, satu sekolah tapi gak pernah ngobrol. Gue juga jarang ngeliat dia, cuma tau kalau dia ketua osis" kata Jen
"masih ada acara di jodohkan ya Jen"
"hehe iya Dis, tapi aku gak menyesal sih. Yang penting ikhlas di jalan dengan bahagia" kata Jen
Sesampai nya di kampus Jen melihat Romi yang sedang duduk di depan kelasnya. Ia bisa menebak, kemungkinan Romi menunggu dirinya.
"Jen" panggil Romi.
"iya kak," kata Jen yang langsung memegang tangan Gendis.
"sarapan buat kamu, dari mama" kata Romi
"maaf kak tapi saya sudah sarapan tadi sama Gendis"
"tapi mamaku berharap banget kamu mau terima. Jadi jangan buat mamaku kecewa ya?" kata Romi lagi
"tolong sampaikan rasa terimakasih saya sama mamanya kakak. Tidak perlu repot-repot membuatkan saya bekal. Tapi maaf saya benar benar tidak bisa menerima, kita permisi masuk kak" Jen menarik Gendis untuk masuk kelas.
"Jen tunggu" Romi mengejar Jen ke dalam kelas
"ada apa kak.." tanya Jen malas
"kenapa sih kamu selalu menghindar dan menolak kebaikan aku? apa sih kurangnya aku?" Romi mengutarakan semua isi hatinya dengan nada bicara yang sudah naik
"maksud kak Romi?"
"kamu pasti tau lah Jen kalau aku suka sama kamu. Kamu cewek satu satunya yang selalu menolak aku" kata Romi yang entah sadar atau tidak
"kak Romi" Jen menutup mulutnya kaget
"tolong Jen hargai perasaan ku, hargai perjuanganku. Banyak cewek yang mau sama aku, tapi aku hanya mau sama kamu" kata Romi berubah lembut.
"kak Romi pasti tau kan aku sudah punya pasangan" Jen
"aku tau, tapi aku benar-benar sudah jatuh cinta sama kamu. Jen aku akan berjuang"
"maaf kak, aku tidak akan berpaling dari pasanganku saat ini. Dan aku mohon kaka stop memberikan perhatian padaku. Kita saling kenal dan saling sapa itu sudah cukup"
__ADS_1
"kenapa sih Jen dia lebih kaya? dan aku tidak percaya dengan apa yang dia katakan kemarin. Menikah? istri? memang tidak ada lelucon lain yang bisa dia gunakan. Aku tidak mudah tertipu"
"Kak apa yang di katakan Axel itu benar adanya, aku sudah menikah dengannya dan itu artinya aku adalah istrinya. Tolong kak jangan seperti ini, kita harus tau batasan."
"akan aku buktikan kalau aku lebih baik daripada Axel" kata Romi kemudian melangkah pergi.
"hufh" Jen memijat keningnya
"duduk dulu Jen, kamu gak papa?" Gendis menuntun Jen ke bangkunya.
"gue gak papa Dis," Jen
"nih minum dulu" Jamil yang baru datang memberikan sebotol air mineral
"Thanks Mil" kata Jamil setelah meneguk air putih itu.
"gue tadi liat semuanya, sengaja gue gak mendekat. Gue tetap diam selama dia tidak menyakiti lo" kata Jamil
"gue gak papa" kata Jen yang masih menetralkan hatinya.
Pernyataan Romi tadi benar-benar membuat Jen sadar seutuhnya, tadinya ia berfikir kalau Romi hanya suka sesaat saja. Dan semoga setelah tau kebenaran ini dia akan berhenti mengejar Jen. Tidak ada yang tau selain Romi.
Sedangkan di kantor Axel bersandar di kursinya, bahkan rambutnya sudah tidak serapi tadi saat berangkat. Bukan karena terpaan angin, melainkan ia acak sendiri.
"arrggghhh" Axel berdiri dan mendorong kursinya.
"Axel" panggil papah yang tiba-tiba masuk keruangan nya.
Axel melihat ke sumber suara, papah datang dengan membawa berkas di tangannya.
"apa apaan kamu marah marah, kenapa kamu tidak menyelesaikan pekerjaan kamu?"
"Axel hanya minta waktu sendiri pah"
"buat apa? marah marah tidak jelas?" tanya papah heran
"pah, Jen di sukai pria lain" kata Axel
"kenapa kamu marah?"
"gimana aku gak marah, kalau dia menyatakan cinta sama Jen. Padahal aku sudah memberitahu dia kalau Jen adalah istriku."
"tau dari mana kamu?"
"Jamil teman yang aku minta menjaga Jen,"
"Jen kan tidak suka sama dia"
"tapi dia mau mengejar Jen pah"
"sudahlah kalau Jen aja sudah tidak suka, kenapa kamu yang harus pusing. Kamu tidak percaya diri?"
"maksud papah?"
"kalau kamu seperti ini, tandanya kamu tidak percaya diri. Kenapa tidak menyelidiki siapa pria itu? seharusnya kamu buat Jen semakin cinta dan tidak memberikan celah untuk orang lain merebut Jen."
"tapi pah?"
"kamu mau marah itu tidak ada gunanya, berarti kamu masih tidak mengenal Jen"
"maksud nya?"
"kamu pasti tau cinta pertama Jen, dan bagaimana dia setia dengan pacarnya itu"
Axel baru tersadar dan merubah raut wajahnya.
"pikirkan masa depan, singkirkan kerikil yang akan menghalangi perjalanan rumah tangga kalian"
"iya pah"
"sekarang kamu duduk dan kerjakan ini" papah menaruh berkas di atas meja kerja Axel
"pah, biar Dodi ada yang kerjain, Axel mau nyusul Jen"
__ADS_1
"tidak bisa Xel, kamu harus tanggung jawab. Dan papah tidak mau tau, ini harus selesai dua jam lagi" kata papah dan keluar kamar.
"ck, gue pikir kalau Jen hamil tidak ada yang berani mendekat. Tapi ternyata gue salah. Nasib punya bojo ayu, sabar sabar" Axel menenangkan dirinya.