
Sore ini Jen sudah sampai di rumah keluarga Alexander. Jen turun dari mobil mamahnya, dan berjalan di samping mamah.
"mah... Jen ke kamar dulu ya" kata Jen
"iya istirahat ya sayang" mamah
"iya mah" jawab Jen memaksakan senyumnya. Mamah sebenarnya tahu kalau Jen sedang merajuk, tapi ia memaklumi semua itu. Karena memang dulu mamah juga seperti Jen.
Bahkan saat makan malam tiba pun Jen masih terlihat muram. Tadi siang Axel memberikan kabar kalau dirinya dan juga ayah ada acara dinner dengan koleganya tadi pagi. Mau tidak mau Axel pulang besok pagi atau tengah malam.
"Jen...." panggil mamah
"iya mah,"
"masih sedih?" mamah
"aku cuma kangen aja mah,"
"hahaha kamu itu persis sama mamah kamu ini Jen. Manja banget, kamu tau dulu ayah sampai balik lagi demi mencium kening mamah. Padahal baru aja sampai kantor" cerita papah
"papah ih" kata mamah malu
"kok bisa pah?" Jen mulai antusias
"ya kaya kamu itu, pas papah berangkat kerja mamah belum bangun. Dulu mamah belum tau kalau hamil, papah juga gak tau tanda tanda orang hamil muda kan. Karena papah kasian sama mamah habis lembur sampai pagi, jadi papah gak bangunin. Iya kan mah?" kata papah sambil mengedipkan sebelah matanya
"iya pah" mamah
"hehehe emang mamah lembur apa mah?" tanya Jen
"ukhuk" mamah tersedak mendengar pertanyaan Jen
"hahaha minum mah" papah memberikan gelasnya
"mamah gak papa?" panik Jen
"enggak sayang," jawab mamah tersenyum.
"mamah dulu kerja dimana? perasaan bunda gak pernah lembur mah" Jen
"maksudnya lembur sama papah Jen" kata papah
"ish papah" gerutu mamah
"oh hehe aku kira" kata Jen melanjutkan makannya.
.
.
.
Sampai pukul sembilan pun Axel belum mengabari Jen. Jen yang kesal pun akhirnya berbaring di tempat tidur dan menutup tubuhnya dengan selimut.
Awas aja nanti kalau pulang, aku gak mau di peluk. Gak mau di sentuh sama kamu mas. Batin Jen yang sangat kesal.
"eh kenapa ini" kata Jen saat merasakan sesuatu pada perut. Seperti pergerakan bayi tapi bukan.
"aduh kenapa ya" gumam Jen yang sudah duduk sambil mengelus perut nya.
"sayang kamu kenapa?" tanya Jen pada bayinya
"kok masih sih, aduh bahaya gak ya" Jen buru buru beranjak keluar kamar.
"mah.....mamah...." teriak Jen
"iya Jen," saut mamah dari ruang tengah
__ADS_1
"mah, ini perut Jen mah" Jen menghampiri mamah dan duduk di sampingnya, dengan wajah panik
"kenapa sayang? sakit?" panik mamah. Bahkan papah menegakkan duduknya saat Jen datang, ia juga khawatir pada Jen dan bayinya.
"coba mamah pegang, ini kenapa ya mah" kata Jen menuntun tangan mamahnya
"gerak? eh bukan ini cegukan Jen" kata mamah yang merasai pergerakan bayi di perut Jen
"hah cegukan?" papah
"iya pah, gak papa Jen kamu tenang aja. Minum dulu" mamah memberikan gelasnya
"beneran bun? perlu ke dokter gak?" tanya Jen setelah minum
"kita tunggu sebentar lagi aja, kalau cegukan itu wajar kok pada bayi di dalam perut. Dia mulai belajar bernafas sayang, itu tandanya dia berkembang dengan baik dan sehat" Jelas mamah
"iya mah, tapi eh udah enggak kok mah" Jen meraba raba perut nya.
"Alhamdulillah, papah tadi ikut takut deh mah" papah
"dulu mamah juga pernah mengalami pah, masa lupa" mamah
"udah tua mah" papah
"maaf ya mah, pah, udah bikin panik" kata Jen tidak enak hati
"gak papa sayang, wajar kamu pertama ini. Mungkin sebentar lagi dia akan mulai aktif bergerak" mamah mengelus perut Jen.
"iya mah, nanti Jen baca artikel seputar kehamilan deh. Biar tau 😁"
"iya tidak masalah Jen, kamu bisa belajar dari sana" mamah
"Axel sudah ada kabar Jen?" tanya papah
"belum pah" Jen kembali murung
"iya mah, Jen tidur disini ya" kata Jen menepuk paha mamah
"boleh sayang,"
Setelah mendapat persetujuan dari mertuanya, Jen merebahkan tubuhnya di sofa dan berbantal kan kaki mamah. Mamah sedang bersantai melihat acara tv, sambil sesekali mengelus perut Jen. Sedangkan papah ia masih sibuk dengan laptopnya. Beberapa saat kemudian Jen tertidur karena merasa lelah seharian menahan kesal 😁, dan juga usapan di perutnya membuat Jen nyaman.
"pah tidur" bisik mamah
"mamah pegel gak?" tanya papah yang ikut melihat Jen.
"belum sih pah, tapi takut nya kalau Jen gak nyaman" mamah
"ya udah tahan sebentar lagi mah, biar Jen benar-benar terlelap" papah
"iya deh pah"
Pukul sebelas malam terlihat Axel yang turun dari taksi online. Tadi sebenarnya Axel akan di antar ayah, karena sudah malam jadi Axel menolak. Ia tidak bisa menghubungi siapapun karena ponselnya mati sejak tadi sore. Axel memasuki rumah dengan sedikit berlari, ia sangat rindu pada istrinya. Dan Axel juga tau kalau istrinya itu pasti merajuk dengannya.
"assalamualaikum" Axel berjalan ke ruang tamu setelah menutup pintu
"wa'alaikumsalam" jawab papah
"Axel liat Jen dulu pah, mah" Axel langsung menuju ke kamar tanpa menunggu jawaban orang tuanya.
Sesampainya di kamar Axel tidak melihat Jen di mana mana, ia kembali keluar untuk bertanya pada orangtuanya.
"kamu main kabur aja, ini Jen ketiduran disini nunggu kamu" kata mamah berbisik
"maaf mah, gak tau aku" Axel bersimpuh di depan pangkuan mamah, ia melihat wajah Jen yang tertidur pulas.
"sayang, maaf ya" Axel mengelus wajah Jen
__ADS_1
"bawa ke kamar aja Xel, kasian udah lumayan lama tidur di situ." ujar papah
"iya pah, makasih pah , mah udah jagain Jen" kata Axel yang berdiri dan menggendong Jen
"iya sama sama, kamu mau makan?" mamah
"enggak mah, tadi udah makan. Pah Axel mau ngobrol sebentar ya" kata Axel dan di Jawab anggukan dari papah.
Setelah membaringkan Jen di kasur dan menyelimutinya, Axel mencium kening Jen.
"maaf ya sayang, kamu pasti nunggu aku.
Hay anak lanang daddy, kamu tadi gak rewel kan? makasih ya udah jagain mommy. Kalian istirahat dulu ya, daddy masih ada yang mau di bahas sama oppa. Nanti Daddy peluk ya" kata Axel pelan dan mengusap perut Jen.
Axel keluar kamar setelah sekali lagi mengecup kening Jen.
"mau disini apa di ruang kerja?" tanya papah yang melihat Axel duduk di sofa singel
"disini aja pah" jawab Axel
"soal pertemuan tadi?" tanya papah
"iya pah, jadi tadi Mr.Jack mau bekerja sama dengan perusahaan kita. Beliau juga ingin membangun sebuah penginapan yang konsepnya lumayan rumit bagi Axel, tapi kemungkinan akan berkembang dengan baik dan banyak peminatnya" jelas Axel
"gimana konsep nya?"
"penginapan di tengah kota pah, dan di buat seperti di tengah desa yang ada danau juga banyak pohon rindang." jelas Axel memijit keningnya
"Bagus juga, apa masalah nya?"
"Axel yang harus mendesain pah, karena Mr. Jack tertarik dengan konsep hotel kita."
"ya bagus dong Xel, kamu bisa mengembangkan bakat kamu juga."
"tapi pah, waktunya bertubrukan dengan kerjaan Axel yang lain"
"Adi? maksudnya ayah kamu?"
"ayah menyerahkan semua ke Axel, tapi beliau juga mau membantu sih pah"
"ya sudah, untuk konsep papah kurang paham boy. Kamu minta bantuan Adi saja, untuk kerjaan kantor biar di bantu Dodi."
"bengkel?" tanya Axel
"ya biar Johan yang bantu kamu, sama seperti saat ini kan?" papah
"apa yang masih kamu ragukan?" tanya papah lagi saat melihat Axel hanya diam dan seperti berfikir
"takut gagal pah," Axel
"di coba, berusaha yang giat, berdoa. Untuk hasil serahkan pada yang di atas." papah menepuk paha Axel
"makasih pah" kata Axel
"kamu istirahat sana, papah mau lanjut lembur"
"sebentar lagi pah, nemenin papah lembur"
"tidak bisa dong, papah mau lembur sama mamah aja" kata papah sambil membereskan laptop juga beberapa berkasnya
"ingat encok pah" kata Axel yang bersandar di sofa dan memejamkan mata"
"encok papah aman lah Xel, yang gak aman itu kalau kamu masih disini"
"kenapa emang?"
"kalau denger dan pengen?, kan Jen udah tidur. Main solo" bisik papah dan berlalu
__ADS_1