
"aku harus tenang tau suamiku tidur dengan perempuan lain?" kata Jen
"aku tidak pernah tidur dengan perempuan mana pun Yang" kata Axel
"oke, jadi kemarin itu mungkin berawal dari bu Yola yang akan terjatuh di dekat meja aku. Saat itu gaun Bu Yola nyangkut di kaki meja dan membuatnya robek. Dia minta tolong sama aku karena kakinya juga sakit. Aku gak enak Yang mau nolak, karena bu Yola terlihat takut dan malu. Aku bantu Bu Yola duduk di mejaku dan Dodi. Saat acara selesai Bu Yola minta di antar ke kamarnya, karena gaun nya robek jadi dia pinjam jas aku. Dan aku lupa mau minta, dan mungkin ponselku ada di jas itu Yang" cerita Axel.
"apa yang bisa buat aku percaya mas'
"tanya Dodi Yang, aku selalu sama dia"
"bahkan ponsel kak Dodi aja gak bisa dihubungi, udah lah mas kamu jangan banyak alasan"
"ck, ponsel Dodi mati terkena air minum bu Yola yang tumpah. Aku tidak alasan Yang"
"mas, kalau kamu tidak alasan kenapa gak ngasih aku kabar?"
"aku akan menghubungi kamu malam ini setelah beli ponsel"
"kenapa harus nunggu punya ponsel? telepon kantor kan ada, di hotel juga ada."
"aku tidak berfikir ke situ Yang"
"apa sih yang kamu pikirkan? perempuan itu?"
"Yang....."
"mas seharusnya kamu kasih kabar ke aku, kalau sudah seperti ini aku sulit percaya sama kamu. Aku sudah mendapatkan bukti fotonya. Terus mau apalagi? aku percaya foto itu"
"aku sudah menjelaskan Yang, aku minta maaf" Axel meraih tangan Jen
"mas ijinkan aku tinggal disini, sampai aku kembali percaya sama kamu"
"tapi Yang"
"mas, demi kebaikan aku dan baby" kata Jen mengelus perutnya
"aku harus gimana Yang?"
"aku pengen disini mas, tolong kamu kasih waktu sama aku. Kamu sayang kan sama anak kita?"
"aku boleh ya tinggal disini sama kamu?" Axel
"aku mau kamu usaha buat meyakinkan aku, dan aku mau sendiri mas"
"hhmm" Axel mengusap wajahnya sendiri.
"oke aku mengijinkan kamu disini, dan aku juga akan berusaha membuktikan kalau tidak salah. Jangan larang aku datang kesini" Axel
"tolong kamu bilang ke ayah, aku gak mau ayah mengantarkan aku pulang ke rumah mamah, sejujurnya aku masih ingin sendiri"
"biar nanti aku bilang ke ayah, kamu masih cinta kan sama aku. Jangan pernah berfikir tinggalkan aku Yang"
"semuanya ada di kamu mas, untuk saat ini aku kecewa sama kamu" Jen beranjak menuju ke kamar.
Axel terlihat frustasi dengan itu semua, ia marah pada dirinya sendiri. Niat hati ingin membantu seseorang tapi dirinya malah terkena masalah. Tidak pernah terfikir oleh Axel kalau semuanya akan seperti ini.
Sedangkan di ruang kerja ayah, papah dan ayah sedang berbincang masalah ini. Papah sudah menjelaskan semua kepada ayah.
__ADS_1
"terus gimana?" tanya ayah
"aku sudah mengirim beberapa anak buah ku untuk menyelidiki semua. Kalau pun Axel kesulitan dan minta bantuan, baru aku akan berbicara dengan nya. Biarkan dia berusaha dulu." papah
"kamu benar Al, sebenarnya aku juga tidak tega, tapi mau bagaimana lagi. Biar mereka belajar dari kesalahan" ayah
tok tok tok
Axel mengetuk pintu ruang kerja ayahnya.
"masuk" kata ayah
"maaf yah, Axel boleh masuk?" tanya Axel
"masuk Xel, duduk" kata ayah, Axel duduk di samping ayahnya.
"kenapa kamu?" tanya papah pada Axel
"yah, boleh tidak sementara ini Jen tinggal disini?" Axel
"maksud nya?"
"Jen masih kecewa sama Axel yah, Jen minta waktu. Yah, Axel janji akan segera menjemput Jen, Axel tidak mau kehilangan Jen"
"hmm ayah sih tidak masalah Jen disini se ijin kamu. Memang tadi ayah berniat mengantarkan Jen pulang. Kalau kamu sudah mengijinkan ya tidak apa-apa, tapi Xel pisah rumah itu tidak baik." ayah
"Axel paham pah, tapi ini juga demi kebaikan Jen dan baby, Axel janji akan kesini tiap hari"
"ya sudah ayah percaya sama kamu" ayah
"terimakasih yah"
"pah, papah bilang kalau Jen dapat foto Axel dari temannya?" kata Axel yang mengingat sesuatu.
"iya, mamah yang cerita"
"temen nya siapa pah?"
"ya papah gak tau dong, memang kenapa?"
"pah, Axel harus beli ponsel"
"nanti kita mampir"
Sesampainya di rumah, Axel langsung masuk kamar dan mengambil kunci motor.
"mau ke mana Xel?" tanya mamah yang melihat Axel buru buru
"ke rumah Ari sebentar mah" jawab Axel sambil berlalu
"udah malam kok malah pergi aja itu anak" gumam mamah"
Sekitar tiga menit Axel sudah sampai di rumah Ari, terlihat sepi membuat Axel takut untuk mengetuk pintu. Karena jam sudah menunjukan pukul setengah dua belas malam. Tapi mengingat permasalahan nya dengan Jen, membuat Axel memantapkan niatnya mengetuk pintu.
"Ekhem" deheman seseorang terdengar di belang Axel. Axel yang kaget pun langsung menoleh.
"malam om" sapa Axel sambil mengulurkan tangannya
__ADS_1
"malam, kamu Axel kan?" tanya papa Ari, beliau baru pulang dari pos kompleks. Biasalah bapak bapak sering nongkrong di pos, begitu juga dengan papah Al
"iya om, maaf menganggu malam malam. Boleh saya bertemu Ari?"
"sebentar saya panggil kan"
"terimakasih om"
"sama sama, duduk dulu" kata papa Ari
Setelah beberapa saat Ari keluar dan menemui Axel.
"ada Xel malam malam nyari gue?"
"gue minta nomor ponselnya Jamil dong" kata Axel
"emang Jen gak punya?"
"dia di rumah ayah, dan ponsel gue ilang"
"oh, nih" Ari menyerahkan ponselnya dan segera duduk di samping Axel
"ada masalah?" tanya Ari lagi
"sedikit miskomunikasi" jawab Axel
"tadi lo tau gak tadi Jen ketemu siapa aja di kampus?" tanya Axel
"gue gak ke kampus tadi, tapi Gendis cerita Jen pergi naik motor Tamara sambil nangis"
"Jen naik motor?" tanya Axel kaget
"iya, gek tau kenapa Gendis juga khawatir. Setelah itu dia menghubungi Jen tidak di respon, begitu juga dengan yang lain"
"lo tau Jen nangis kenapa?"
"kata Gendis, habis dia ketemu Romi langsung pergi dan nangis. Tapi lo tenang aja Jamil berhasil ngejar Jen. Ya walaupun tidak mendekati Jen, dia baik baik saja kan?" tanya Ari
"baik kok, hanya salah paham. Thanks Ar. Gue pamit ya, sory ganggu" Axel
"santai aja, gue juga belum tidur kok" Ari.
Setelah sampai rumah, Axel segera menghubungi Dodi. Ia ingin segera menyelesaikan masalahnya dengan Jen. Namun sayang jadwal Dodi sendiri di sana sangat padat.
"apa gue harus ke Bali lagi, tapi Jen gimana? arrggghhh Romi, dapat dari mana foto itu" tanya Axel pada langit langit kamarnya.
Axel memutar otaknya agar menemukan titik terang permasalahan nya. Setelah menyusun langkah yang akan dia ambil untuk memberikan bukti kepada Jen, Axel pun tertidur.
.
.
.
Pagi ini Jen terbangun dan melihat sisi kanannya yang kosong. Biasanya ia akan melihat sosok tampan dan bertelanjang dada. Ternyata rasanya beda, tidak ada karena kecewa dengan pergi kerja.
"mas, kenapa kamu tega sama aku" gumam Jen
__ADS_1
Rasanya sedikit berat untuk Jen bangun dan melakukan aktifitas nya. Ia hanya ingin tidur dan berdiam di kamar, bahkan untuk makan saja ia tidak berselera.