
Tamara dan Sasa pun berlari menuju kelas.
Dugh
"Akh" Teriak Sasa dan Tamara yang bertabrakan. Mereka yang lari dari arah berlawanan dan tidak sengaja bertabrakan.
"lo gapapa kan" tanya mereka kompak.
"Jen" teriak mereka kompak lagi
Akhirnya mereka kembali lari ke kelas. Saat sampai di kelas mereka melihat Jen yang bermuka sedih.
"Jen" panggil Tamara yang duduk di bangkunya
"huaaaaa" Jen pura pura menangis
"eh kenapa?" tanya Sasa yang panik
"lo tenang deh, kenapa cerita?" tanya Tamara yang memeluk Jen
"Ari....huaa Ari"
"lo apain Jen" kata Sasa memukul bahu Ari
"gue gak ngapa-ngapain tuh bocah"
"Ari kenapa?" tanya Tamara pada Jen
"Ari gak mau beliin seblak huuaaa" kata Jen
"kita yang beliin ya, Sa lo pesennin deh lewat aplikasi" pinta Tamara
Sedangkan Ari dan temannya tertawa.
"eh Jen untung kita gak bawa lo kedepan, bisa malu kita" kata Jamil
"iya gue kapok" saut Ari
"mereka jahat gak mau ngajak gue, besok kalau ulangan harian dan ujian kalian hidup sendiri jangan tanya gue" kata Jen seperti anak kecil
"wah wah gue gak ikut ikutan Jen, Ari yang gak ngajak lo." kata Jamil takut gak di kasih contekan
"ngancem nya gitu, ya udah ayo gue beliin" pasrah Ari
"gak mau, gue udah ngambek." Tamara dan yang lainnya hanya menggeleng dan juga cekikikan melihat Jen dan Ari.
"gue kedepan dulu, udah dateng pesenan nya" pamit Sasa
"mau gue temenin Sa?" Tanya Roni yang juga ada di kelas.
"gak, nanti ada yang marah" kata Sasa berlalu.
.
Setelah Sasa kembali ke kelasnya ia memberikan seblak yang di pesan kepada Jen. Sasa memesan empat, satu buat Jen, satu buat dirinya dan Tamara, dan yang dua buat Ari dan kawan-kawan.
.
.
.
"Jen, tumben amat lo di antar supir?" tanya Tamara, sebelum mereka berpisah untuk pulang
"iya, lagi males aja" jawab Jen
__ADS_1
"mau pulang bareng gue?" tawar Sasa
"enggak Sa, pak Min udah di depan kok, gue duluan ya. kalian hati hati" kata Jen
"oke" jawab Tamara dan Sasa
Jen berjalan menuju depan sekolah sendirian.
"mau bareng gue?" tanya Axel yang berjalan tepat di belakang Jen. Jen menoleh mendapati Axel yang tersenyum.
"makasih, tapi pak Min udah nunggu tuh" tunjuk Jen dengan dagunya.
"ya udah, sayang" kata Axel berjalan ke kanan seperti orang yang tidak kenal. Jen sempat menghentikan langkahnya dan melihat ke arah Axel, tapi Axel berlalu begitu saja. Sedangkan Jen meneruskan langkahnya ke depan. Mereka seperti tidak kenal, karena memang tadi saat bertanya mereka tidak saling pandang.
.
.
.
Sampai di rumah Jen sudah di sambut sang bunda. Ia di minta makan lalu istirahat. Setelah makan malam Jen di beritahu sang bunda bahwa besok ia sudah di pingit, dan dilarang berkomunikasi langsung dengan Axel. Bahkan ponsel Jen pun disita bunda sampai hari H. Jen hanya menurut saja. Hari sabtu akan di langsungkan prosesi siraman di hotel ADTC milik sang ayah. Resepsi pun akan di gelar di sana.
🌤️🌤️🌤️
Pukul 8 pagi Jen baru bangun karena memang hari ini ia sudah mulai meliburkan diri. Setelah sarapan ia bingung mau ngapain dan akhirnya mencari sang bunda yang sedang ada di ruang tengah.
"bosen bunda" rengek Jen.
"sabar sayang, nanti kita treatment bareng, tapi sorean." jelas bunda
"masih nanti sore bund, terus sekarang Jen mau ngapain".
"bunda tahu, sini ikut bunda" Jen mengikuti sang bunda
Dengan khusyuk Jen melakukan semua itu di dampingi sang bunda. Sudah lama memang dia tidak melafalkan ayat suci Al-Quran.
.
.
.
Di sekolah, Sasa dan Tamara kebingungan mencari Jen. Bahkan hp Jen tidak aktif dari semalam. Mereka sempat menanyakan pada Bayu, tapi jawabannya tidak tahu. Dan saat Tamara menanyakan kenapa hubungan mereka berakhir Bayu hanya menjawab "besok kalian juga tahu" dan itu berhasil membuat Sasa dan Tamara kebingungan. Ada apa sebenarnya.
Yang paling membuat mereka heran adalah tumben Axel mencari Jen. Axel terlihat khawatir sama Jen. Karena memang Axel tidak di beritahu orang tuanya kalau Jen di pingit.
"kenapa lo dari tadi gue liat kaya gelisah" tanya Dio
"gapapa" jawab Axel cuek.
"gue tahu ya dari tadi lo itu gak fokus, kaya ada yang di pikirin" Dio
"entahlah gue cuma butuh istirahat" kata Axel. Kemudian ia bersandar pada tembok belakang kelas.
Saat ini Axel sedang menjadi panitia lomba voly, karena semua pemain sedang beristirahat Axel pun ikut beristirahat. Ia memejamkan mata dan memikirkan Jen yang belum ada kabar.
ting
Sebuah pesan masuk di ponsel Axel. Dengan semangat ia melihat siapa yang mengirimkan pesan, dan semoga Jen.
Saat melihat sang mamah yang mengirimkan sebuah video. Axel pun mencoba mengunduh vidio yang di kirim sang mamah dengan caption "Obat kangen kamu, jangan di cari ya dia lagi kita sembunyikan 😉" . Setelah selesai di unduh Axel pun memutar video itu yang isinya adalah Jen sedang melantunkan ayat suci Al-Quran. Dengan sangat indah dan merdu, membuat yang mendengar pun merasa tenang.
Dio yang di sebelah Axel pun mengintip video yang di putar Axel. Di hati Axel merasa sangat bahagia dan juga damai. Tanpa sadar ia tersenyum sangat tampan. Obat rindunya benar benar membuat ia bahagia.
"subhanallah merdunya" puji Dio
__ADS_1
"iya adem di hati, siapa Xel?" tanya Satria yang baru duduk dan tidak melihat video itu hanya mendengar.
Axel tidak menjawab karena fokusnya hanya di ponsel.
"Axel" tepukan dari Mira membuatnya sadar.
"ada apa?" tanya Axel yang masih tersenyum dan membuat Mira ke baperan.
"em itu gue cariin dari tadi, nih buat lo" menyerahkan sebotol minuman dingin
"oh iya thanks" Axel menerima dan meminum nya.
"giliran di kasih minum di terima, kita tanya di cuekin" celetuk Dio
"sory lo tanya apa?"
"itu tadi siapa?" menunjuk hp Axel
"oh dia ,,, ada deh " jawab Axel
"cewek lo yang punya mobil merah itu?" tanya Dio yang kepo
"iya" jawab singkat Axel . Mira yang ada di sana tanpa sadar meremas botol minumnya
"kenapa lo?" tanya Satria pada Mira
"gak" jawab cuek Mira
"wah gosong Sat" kata Dio dan di angguki Satria
Axel pun sibuk dengan ponselnya dan tidak memperdulikan mereka. Ia membuka akun sosial media nya. Axel mengunggah foto Jen yang sedang berdoa.
Idaman ❤️
Begitulah caption yang melengkapi foto itu. karena memang bunda mengambil vidio dan fotonya tidak dari depan. Hanya terlihat samping dan suara Jen saja.
Rasanya Axel ingin sekali cepat cepat menghalalkan Jen. Ia sangat rindu dengan Jen.
"cari makan yuk" ajak Axel semangat
"semangat apa laper?" ledek Satria
"semangat jadi laper" Axel
"udah nih yang galau,?" Dio
"gue gak galau ya" Axel
"terus tadi?"
"kangen + khawatir" Axel
"iya yang udah di kasih yang adem adem" sindir Satria
"udah ayo," ajak Axel
"kenalin dong, gue penasaran" pinta Dio
"lo pasti kenal kok" kata Axel berlalu
Mira semakin panas dan menghentakkan kakinya. Dio dan Satria yang melihat itu pun heran.
"KEBAKARAN" teriak Dio dan Satria setelah itu lari menyusul Axel.
__ADS_1