Cinta Jennaira

Cinta Jennaira
Daster


__ADS_3

Saat Jen menengok ke arah kiri, ternyata orang itu ke arah kanan. Saat Jen ke arah kanan orang tersebut ke kiri, beberapa kali seperti itu dan membuat bunda menggeleng.


"aw" teriak Axel tertahan karena tangannya di gigit Jen.


"kok digigit sih Yang" kata Axel yang berhasil mengundang tawa bunda dan juga mbok Jum. Sedang Bayu dan bi Ar yang kaget menoleh ke arah mereka.


"kamu iseng banget" kesal Jen


"hehehe ya maaf bumil, becanda" Axel


"gak lucu" Jen


"lucu, orang bunda sama mbok pada ketawa" Axel


"em" Jen


"aduh Axel, kamu itu iseng banget," bunda sambil tersenyum


"hehe, seneng aja bun ngerjain mommy muda"


"ish, ada apa nyari aku?" Jen


"aku tunggu di kamar gak balik balik aku kira kamu kenapa kenapa sayang." Axel


"ini mau balik, kamu mau makan dulu?" Jen


"enggak tadi udah"


"kalian istirahat saja, bunda sebentar lagi juga mau istirahat" kata bunda


"mbok, bi Ar di lanjut besok lagi aja ya, udah malam" sambung bunda


"baik bu" jawab mbok Jum dan juga bi Ar bersama


Axel dan Jen meninggalkan dapur, dan di ikuti bunda. Sampai di kamar Jen langsung ke kamar mandi, rasanya lengket sekali tubuhnya. Niatnya mau mandi, tapi mendengar omelan suaminya membuat Jen mengurungkan niatnya. Hanya sekedar mengelap tubuhnya biar lebih segar. Jen keluar dengan menggunakan kimono mandi. Ia membuka lemari dan membolak-balik pakaian nya seperti mencari sesuatu.


"cari apa Yang?" tanya Axel yang masih duduk menyender di kepala ranjang


"baju yang enak gitu yang longgar" jawab Jen


"emang gak ada?"


"enggak, udah pada gak muat kayanya" Jen


"ya udah pakai itu aja Yang, kan gak papa" Axel


"gak mau gak enak, aku ke kamar bunda sebentar" kata Jen sambil berlalu.


Setelah mengetuk pintu, terlihat ayah yang membukakan.


"ada apa Jen?" tanya ayah


"bunda mana Yah?"


ceklek


"itu" ayah menunjuk bunda yang keluar kamar mandi


"bunda mau itu" kata Jen


"itu apa?" tanya bunda bingung dan mendekati Jen.


"baju bunda, Jen pinjem baju bunda" kata Jen dan duduk di ranjang bundanya.


"baju? daster ini?" tanya bunda memegang daster yang dia pakai


"iya, bunda ada lagi gak?" Jen


"ya ada, sebentar bunda cariin" bunda


"kenapa pengen pakai daster Jen?" ayah


"pengen pakai baju yang longgar yah, rasanya baju Jen yang di sini udah pada gak muat, padahal baru di tinggal beberapa bulan. Jen lupa gak bawa baju 😁" jelas Jen


"ini mau? masih baru kok" bunda memperlihatkan satu daster batik berwarna hitam.


"mau bun, yang mana aja asal nyaman" Jen

__ADS_1


"Jen balik ke kamar ya bun, yah". pamit Jen


Sesampainya di kamar Jen tidak melihat Axel. Ia langsung memakai daster bundanya itu.


"ih adem banget, enak juga di pakai. Pas banget sesuai harapan" gumam Jen


Axel yang keluar dari kamar mandi pun menelan ludahnya, ia melihat Jen yang memakai daster terlihat begitu cantik dan s*xy sekali.


"mas, kok bengong jelek ya?" tanya Jen


"mas garwo!" panggil Jen sedikit kesal karena Axel hanya diam saja


"cantik sayang" Axel


"bohong, mau ngeledek aku kan?"


"enggak sayang, beneran cantik sumpah." Axel mendekati Jen dan memeluknya dari belakang karena Jen cemberut.


"udah malem gak usah ngambek, aku tadi tuh terpesona tau. Kamu terlihat cantik banget, kalau perlu besok aku borong buat kamu." kata Axel sambil mengelus perut Jen


"iya, kayaknya aku lebih nyaman pakai ini" kata Jen manja


"iya ayo tidur" Axel menarik Jen ke kasur.


"selamat malam anak lanangku" kata Axel sambil mengelus perut Jen.


"malam bapak selamat istirahat"


"daddy Yang, jangan bapak," Axel melepaskan tangannya yang melingkar di perut Jen


"haha iya daddy" Jen menarik kembali tangan Axel untuk memeluk nya, saat hamil ini Jen lebih suka di peluk dari belakang. Lebih tenang aja, karena takut saat tidak sadar perutnya tertindih atau tertendang kaki Axel.


"tidur Yang" kata Axel yang memeluk Jen dan tidak sengaja menyenggol sesuatu.


"Yang" panggil Axel dan memastikan memegang lagi sesuatu yang tidak sengaja di senggol tadi.


"hhmmm" jawab Jen yang sudah memejamkan mata.


"ini jeruk gak di bungkus Yang?" tanya Axel


"iya,, udah aku ngantuk mas" Jen


Sabar Xel ini ujian. batin Axel sendiri dan berusaha untuk tidur.


.


.


.


.


Pagi ini Jen bangun tapi sudah tidak merasakan Axel di belakangnya. Perlahan Jen duduk dan mengedarkan penglihatan nya ke semua sudut kamar.


"mas" panggil Jen


"mas garwo" panggil Jen lagi.


"kemana ya, apa mungkin sarapan. Udah jam setengah delapan juga, tapi kok gak bangunin aku" kata Jen


Setelah mencuci muka dan membungkus jeruknya Jen keluar kamar. Tujuannya adalah dapur, di sana terlihat bunda yang selesai sarapan.


"bun mas garwo kemana ya,?" Jen


"Bali" jawab bunda singkat dan tersenyum


"bun Jen tanya serius ini. Di kamar gak ada" Jen


"bunda juga serius jawab nya. Axel ke Bali"


"kapan bun? kok gak pamit"


"tadi pagi pagi sekali sama ayah. Ada pertemuan di kantor cabang. Tadi udah nitip pesen sama bunda"


"kok gak ada yang bangunin aku sih" Jen duduk dengan cemberut


"kamu masih tidur, kelihatan capek banget. Gak tega mau bangunin kamu. Mungkin nanti malam juga pulang"

__ADS_1


"hhmm udah sampai belum ya bun, aku pengen telfon"


"seharusnya sudah Jen. Tadi berangkat habis subuh" bunda


"Jen ambil hp dulu deh. Mbok tolong Jen mau susu ya" kata Jen


Saat Jen kembali ke meja makan, mbok Jum sudah menyiapkan susu untuk Jen. Setelah menenggak susu itu, Jen berusaha menghubungi Axel.


🎥 Garwo


Pagi sayang, udah bangun?


"Kamu pergi gak pamit" Jen cemberut


🎥


mendadak sayang maaf ya, nanti aku pulang


"ish"


🎥


Jangan gitu dong Yang, besok kita jalan jalan ya


"seharusnya kamu tadi bangunin aku mas, aku kan sekarang merasa ada yang kurang,"


🎥


*aku gak tega Yang.


(Jen maaf ya , ayah tadi yang ngajak Axel. Karena memang ini urgen. Minta pengertiannya ya? kamu mau oleh oleh apa*?) tanya ayah yang berada di sebelah Axel, mereka sedang berada di dalam mobil


"enggak Yah, yang penting cepat pulang."


🎥


Baru juga landing Yang


"em, "


Beberapa saat Axel memberikan pengertian kepada Jen, dan akhirnya Jen mau mengerti. Karena sepertinya Jen merajuk dengan Axel yang tidak pamit. Jen meletakkan ponselnya dan memakan sarapannya.


"Jen, bunda mau ke toko, kamu mau ikut gak?"


"iya bun, tunggu Jen mandi ya, sekalian Jen mau pulang sama mamah nanti," Jen


"kamu gak nginep lagi?"


"besok besok ya bun, gak enak sama garwo"


"iya bunda paham kok,"


"makasih bun, Jen sayang bunda"


"bunda juga sayang kamu"


Sedangkan di sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan sedang, terlihat Axel yang sedikit gelisah.


"maafin ayah ya Xel" kata ayah


"enggak yah, justru Axel yang harus minta maaf sama ayah. Karena beberapa hari ini Axel sibuk kerja, jadi lupa kalau pagi ini ada pertemuan penting." Axel


"Dari kemarin ayah sudah di hubungi, tapi karena tidak memegang ponsel jadi telat taunya."


"tidak papa yah"


"Jen?" tanya ayah


"nanti juga paham yah, memang mungkin baru naik turun moodnya."


"maklum aja ya Xel, baru hamil"


"tapi Axel seneng yah, secara tidak langsung kehadiran Axel di samping Jen itu sudah berarti. Jen selalu mengharapkan Axel"


"iya Xel, ayah juga ikut senang melihat kalian berdua. Terimakasih kamu sudah sabar menghadapi Jen."


"sudah tugas Axel yah, minta doanya aja yah agar keluarga kecil Axel selalu di beri kemudahan dan kebahagiaan."

__ADS_1


"pasti Xel, ayah gak salah pilih kamu" ayah menepuk pundak Axel


Axel hanya tersenyum bahagia. Setelah itu mereka membahas masalah pekerjaan. Dan mudah mudahan nanti pertemuannya berjalan dengan lancar, ini bisa membuka peluang Axel untuk mengembangkan lebih maju lagi. Sebenarnya ini adalah kolega ayah dan papanya. Karena dulu kantor di Bali ini akan di serahkan kepada Axel jadi ayah dan papah masih mendampingi Axel dulu.


__ADS_2