Cinta Jennaira

Cinta Jennaira
Biarkan


__ADS_3

Setelah Tamara mencium tangan mama Satria, Tamara terlihat bingung dan diam.


"wah udah rame?" kata papa Satria yang baru keluar kamar mandi.


"iya om" Axel menyalami papa Satria di ikuti yang lain.


"cantik cantik sekali" papa Satria


"cantik lah masih gadis, yang gak gadis hanya dua di sini pa" Satria


"siapa?" papa


"yang pasti mama lah dan Jen" Satria menahan tawanya.


"enak aja, lo ngatain gue emak emak?" Jen


"bukan gitu Jen, lo tuh gadis bukan perawan" kata Satria dan Axel tertawa


"ih malah ketawa," Jen mencubit Axel


"sakit Yang," kata Axel manja


"emang bener gitu Jen?" tanya Sasa


"gak tau" Jen


"oh jadi yang ini istri nya Axel, cantik. Pantes tadi di suruh istirahat di sini gak mau. Yang di rumah lebih enak kan?" goda papa Satria


"jelas dong om" Axel dan mereka berdua tertawa


"hus kalian itu, ayo makan lagi" kata mama Satria


"malu mah" Satria


"tadi aja gak malu" Axel


"lah elo di suapin bini, gue di suapin emak. Mending mending kalau pacar" Satria


"halah kaya kamu punya pacar aja" papa


"besok besok pasti punya pa" Satria


"kalau gitu kita makan siang dulu, dari pagi belum sarapan. Nitip Satria ya semuanya" mama Satria


"iya tante" jawab para cewek dan Axel hanya. mengangguk.


"kalian mau di bawakan apa?" mama Satria


"gak usah tan, nanti kalau mau apa apa kita cari sendiri aja" Axel


"ya sudah, tante sama om tinggal dulu ya" mama


Setelah kepergian kedua orang tua Satria, Tamara mendekati Satria.


"biar gue suapin lagi mau?" Tamara


"gue udah kenyang Tam, kalau boleh gue mau apel aja" Satria


"ya udah gue kupasin" Tamara


"Sat ngomong ngomong gimana kok lo bisa di keroyok?" Axel


"gue habis nganterin Tamara kemarin, gue ketempat Yoga terus nongkrong di kafe. Pas mau pulang gue di hadang sama Rendy."


"Rendy?" tanya Tamara


"iya, gue turun. Tiba tiba dia menghajar gue, gue sempat bales kan. Ya karena di tempat sepi, gue cuma sendiri mereka mungkin ada delapan orang. Otomatis gue tumbang lah, terus gak lama ada orang nolongin gue kayaknya bapak-bapak dan anak muda. Rendy dan temannya langsung cabut. Kalau gak ada yang nolongin gue, gak tau lagi gue jadi gimana. Tapi yang gue bingung kenapa ada elo yang bawa gue kesini" Kata Satria menunjuk Sasa dengan dagunya.


"ya itu yang nolong lo abang sama bokap gue, gue sama nyokap waktu itu lagi di dalam mobil" Sasa

__ADS_1


"gue harus ketemu sama mereka Sa, gue mau berterimakasih" Satria


"pencet aja tombol di samping lo, ntar juga datang papi gue" Sasa


"jangan becanda lo" Satria


"gak percaya nih," Sasa memencet tombol di samping ranjang Satria.


"eh tapi tunggu kok bisa Rendy?" Tamara


"dia cuma bilang, jangan ganggu hubungan dia dan lo. Gue juga gak boleh deket deket sama lo. Sampai kapanpun lo hanya milik dia" Satria


"berarti ini semua gara gara gue?" Tamara lemas mendengar itu semua


"gue gak nyalahin lo kan, mungkin emang nasib gue aja yang jelek di hajar sama mereka" Satria


"maafin gue Sat, gue akan ngomong sama Rendy" Tamara


"jangan, gue gak mau lo di apa apain sama Rendy. Gue minta lo menjauh dari dia, dia itu bahaya Tam" Satria


"tapi dia harus tanggung jawab sama lo" Tamara


"gue gak papa" Satria


ceklek


Pintu ruangan Satria terbuka dan muncullah seorang dokter.


"Permisi semuanya" Dokter Dama atau papi Sasa


"bebeb" ceplos Sasa saat melihat Dio di belakang papinya


Papi yang mendengar itu pun melirik Sasa dan Dio. Sasa nyengir sedangkan Dio salah tingkah.


"ada yang sakit Satria?" tanya papi


"iya tadi Sasa pi, itu katanya Satria mau ketemu sama bapak bapak yang nolongin dia" jelas Sasa


"bapak bapak? emang papi udah mau punya cucu apa" papi


"ingat umur pi" Sasa


"Dio, emang saya udah tua?" tanya papi sedikit ketus padahal cuma becanda dan bisa membuat Dio kicep.


"masih muda kok om, ganteng lagi" kata Dio cepat


"tuh kan pacar kamu aja tahu, papi nih kalau jalan sendiri pasti dikira masih lajang" papi


Sasa mengambil ponselnya dan pura pura menelfon.


"mami,,,,,, papi masih genit, katanya gak mau di bilang tua. Katanya masih kaya lanj...." Sasa tidak jadi menerus kan kalimatnya karena papi merebut ponsel Sasa


" Adek, papi kan cuma becanda. Mau papi tidak merestui hubungan kalian" papi


"jangan papi, ya udah sini ponsel adek" Sasa


Mereka yang di sana tersenyum dan cekikikan, tapi tidak dengan Tamara. Akhirnya Satria mengutarakan niatnya untuk berterima kasih kepada papi Sasa dan juga abang. Pak Dama juga bilang kalau mau di bawa ke jalur hukum, beliau dan Zay siap membantu.


"sekali lagi terima om, tapi masalah ini terlalu sensitif. Mungkin biar saya pikirkan dulu dan musyawarah dengan keluarga. Untuk barang bukti seperti video yang om sampai kan, biar nanti kalau saya sudah sembuh saya ketemu sama abang Zay." Satria


"oke Satria, kamu gak usah sungkan dengan om dan Zay. Apapun keputusan kamu pasti itu yang baik menurut kamu dan keluarga." pak Dama


"iya om, maaf ya om kalau saya menganggu waktu om hanya untuk berterima kasih" Satria merasa tidak enak


"tidak masalah, sekarang gimana yang kamu rasakan?"


"masih linu linu sih om, tapi udah mendingan. Yang parah hanya tangan saja"


"yang penting banyak istirahat dan minum obat yang teratur. Mungkin kalau besok sudah membaik kamu boleh pulang"

__ADS_1


"iya om terimakasih" Satria


"kalau gitu om permisi dulu ya"


"IYA OM" jawab mereka serentak kecuali Sasa


Setelah Pak Dama keluar mereka masih pada diam dengan pikirannya masingmasing.


"kok pada diem kenapa?" tanya Jen


"elo sendiri dari tadi diem" Sasa


"gue ngitung kancing" Jen


"mana apel gue Tam?" tanya Satria


"eh iya lupa, malah belum selesai" Tamara meneruskan mengupas apel, karena tadi sempat ia taruh lagi saat mendengar kalau Rendy yang mengeroyok Satria.


"gimana lo mau bawa ke hukum gak Sat?" tanya Axel


"gue jaga nama Tamara, pasti akan keseret juga" Satria


"gue?" Tamara


"iya, Rendy tidak terima gue bawa lo pas di club malam"


"gak papa Sat kalau lo emang mau keadilan" Tamara


"enggak biarin dulu aja." Satria


"lo emang pejantan tangguh Sat" Dio


"ayam kali beb" Sasa


Mereka semua tertawa bahagia. Jam dua siang Jen merengek minta pulang, mengantuk alasannya. Dan akhirnya Axel menuruti Jen untuk pulang. Bahkan Dio dan Sasa juga pulang, tinggal Tamara yang menunggu Satria. Kebetulan orang tua Satria pulang untuk mandi dan ganti baju setelah tadi makan siang.


"kenapa lo seperti ini sih Sat?" Tamara


"seperti ini gimana maksudnya?"


"kenapa lo baik sama gue, gue udah jahat banget sama lo"


"lo gak jahat Tam, lo hanya belum sadar aja"


"belum sadar apa?" Tamara


Kalau kali ini lo bilang suka ke gue, gue akan terima Sat. Gue janji akan jadi yang terbaik buat lo, walaupun luka hati gue belum sembuh. Tapi melihat pengorbanan dan perhatian lo buat gue luluh Sat. batin Tamara


"Biarkan kita seperti ini dulu Tam, walaupun perasaan gue ke elo masih sama." Satria


Tamara menarik nafasnya lemah, tapi ini juga salah nya sendiri. Hanya senyuman terpaksa yang Tamara berikan untuk menjawab kata Satria.


"jangan tersenyum seperti itu, gue seperti orang jahat tahu" kata Satria dan Tamara hanya memandang Satria


"Tam, boleh gue minta sesuatu sama lo"


"apa?"


"gue pengen meluk lo" Satria


Tanpa menjawab Tamara beranjak dan memeluk Satria.


"maafin gue Sat" Tamara


"gue sayang sama lo Tam" gumam Satria pelan tapi bisa di dengar Tamara


Setelah beberapa saat Tamara mengurai pelukan itu, ia sudah berkaca-kaca. Satria memandang Tamara dengan tulus.


"jaga hati lo buat gue ya, gue hanya butuh waktu" Satria

__ADS_1


__ADS_2