
Jen yang merasa malu pun menyembunyikan wajahnya di dada Axel.
Axel merasa seneng dengan Jen yang seperti ini.
"kalau udah nyaman, buruan cerita" pinta Axel
" em iya, kalau perasaanku sama Bayu aku sendiri masih bingung. Dibilang sudah hilang ya kadang masih ingat. Dibilang masih ada tapi udah berjarak. Mungkin hanya butuh waktu untuk benar benar move on. Kita dari kecil bersama jadi ya terlalu banyak kenangan."
"jujur masih mengharapkan Bayu gak?"
"enggak, aku merasa udah benar benar berjarak sama Bayu, aku tidak menyesali atau sedih karena jarak ini. Karena memang aku yang meminta dan berdoa semoga hanya akan ada kamu di hatiku. Bahkan sudah ada rasa takut sama kamu. Sebisa mungkin aku menurut sama kamu."
"apa sudah ada aku di hati kamu?"
"aku juga belum bisa memastikan. Aku merasa saat ini itu ibarat kamu baru membuka pintu hatiku, dan Bayu sudah mulai beranjak untuk pergi. Belum sepenuhnya kamu masuk dan belum sepenuhnya Bayu pergi."
"kalau gitu aku akan berusaha untuk melangkah maju agar Bayu pergi dengan sendirinya dari hatimu" kata Axel
"kita berjuang bersama, buat aku lupa dengan masa laluku" pinta Jen
"pasti Yang, Cup.." Axel mengecup puncak kepala Jen
"ya udah ayo tidur apa mau..?"
"apa..??" tanya Jen was was
"menikmati malam pertama kita" bisik Axel yang berhasil membuat Jen meremang.
Melihat muka Jen yang tegang Axel pun tersenyum.
"ya ampun kasian banget sampai tegang gitu. Nanti aku pelan pelan ya?" goda Axel
"Ax,, Axel kamu mau ngapain?" Jen mulai panik.
"kita masih sekolah loh" Jen mengingat kan Axel yang mulai mendekatkan wajahnya.
"Axel,,,,,," panggil Jen mulai melemah, antara takut dan pasrah
Axel tidak bisa menahan tawa melihat Jen yang seperti itu.
"ih kamu nyebelin" Jen sedikit marah dan mencubit pinggang Axel dan menggelitik nya,
"aw... aw... ampun Jen, iya maaf" Axel berusaha melepaskan tangan Jen, karena ia merasa geli.
Akhirnya Jen melepaskan tangannya dan mulai menjauhi Axel. Jen beranjak dan keluar kamar menuju balkon. Hembusan angin menerpa wajah dan juga tubuhnya, malam ini cerah banyak bintang di langit. Jen memeluk tubuhnya sendiri, karena memang ini sudah lewat tengah malam udara luar semakin dingin.
Axel menghampiri Jen yang berada di luar. Memeluk Jen dari belakang, dan menumpukan kepalanya di pundak Jen.
"maaf sayang aku hanya becanda" kata Axel yang takut Jen marah
tes tes
Tangan Axel terkena tetesan air mata Jen. Axel semakin mengeratkan pelukannya dan mengecup kepala Jen.
"maaf ya, aku beneran gak bermaksud apa apa" ucap Axel lagi
"aku hanya takut dan belum siap Xel"
"iya aku paham, aku juga belum siap"
Jen menunduk dan menangis. Axel pun melepaskan pelukannya dan membalikan Jen. Mengangkat wajah Jen yang tertunduk, kemudian menghapus air matanya. Setelah itu membawa Jen kedalam pelukannya. Mengusap punggung Jen pelan untuk memberikan ketenangan.
__ADS_1
"beri aku waktu Xel, aku benar-benar belum siap, aku juga takut menjadi istri durhaka. Biarkan aku dan kamu saling mencintai dulu. Nanti aku akan melakukan itu dengan ikhlas" kata Jen di sela tangisnya
"iya sayang kamu bukan istri durhaka. Udah ya gak usah nangis. Aku akan menunggu kita sama sama siap, aku tadi cuma becanda kok. Kalau kamu mau ya syukur, masa kucing di kasih ikan gak mau" goda Axel lagi.
"Axel" Jen meninggikan suaranya dan menghentakkan kakinya. Jen juga berusaha melepaskan pelukan Axel
"hehe enggak sayang, jangan marah marah dong. Udah kamu tenang aja ya, kita masuk yuk dingin."
"nanti"
"kalau nanti nanti kamu masuk angin," Axel
"aku kangen angin malam"
"gak baik buat kamu" Axel menggendong Jen ala bridal style.
"Axel turunin" Jen menggoyangkan kakinya
"diem Yang nanti jatuh loh"
Akhirnya Jen diam dan menurut dengan Axel yang merebahkan tubuhnya di kasur. Axel menutup pintu yang menuju balkon.
"mau kemana?" tanya Axel yang melihat Jen beranjak dari kasur
"cuci muka"
Axel hanya manggut manggut dan menuju ke kasur. Setelah Jen kembali Axel mematikan lampu utama dan berganti dengan lampu tidur.
"good night sayang, Cup" Axel mengecup bibir Jen.
"good night" jawab Jen dan memejamkan mata
Mereka tidur dengan posisi terlentang dan tangan mereka saling menggenggam di bawah selimut. Jen terlihat tidak nyaman, biasanya ia memeluk guling atau boneka.
Axel sebenarnya tahu kalau Jen belum tidur. Akhirnya Axel menarik Jen dalam pelukannya. Jen hanya menurut, untuk membuka mata Jen sangat malu jadi ia pura pura saja tidur. Tapi tanpa Jen tahu Axel menahan senyumnya.
Bener kata bunda, belum ada sepuluh menit nih anak udah tidur aja kalau di peluk. Batin Axel yang melihat Jen sudah terlelap.
flashback on
tok tok tok
ceklek
"bunda, mamah" sapa Axel
"kita mau nganter ini buat dinner kalian, Jen mana?" kata mamah sambil memberikan kotak yang berisi pakaian.
"di kamar mandi mah,"
"bagus, bunda ijin masuk ya Xel?"
"iya bun silahkan"
Bunda buru buru masuk dan mengambil bantal sofa dan guling, menyisakan satu bantal cinta.
"buat apa bun?" tanya Axel heran
"asal kamu tahu ya Xel, Jen gak bisa tidur kalau gak di peluk atau meluk sesuatu." jelas bunda
"maksudnya bun?" Axel tidak paham
__ADS_1
"udah nanti kamu juga tahu." Bunda
"biar kamu ekhem sama Jen, udah tutup dulu takut ketahuan Jen" kata mamah yang menutup pintu.
Flashback off
.
.
.
Pagi ini Jen terbangun dengan rasa terkejutnya. Bagaimana tidak terkejut kalau ia tidur memeluk Axel. Di tambah Axel tidak memakai baju, karena kebiasaan Axel tidur malam lebih nyaman tidak pakai baju. Kapan Axel membuka bajunya?, tentu saja setelah Jen tidur lelap. Bahkan tangan Jen masih melingkar di atas dada Axel, kakinya di atas perut Axel. Sudah seperti memeluk guling.
Hah yang benar saja semalam gue tidur seperti ini. Ya ampun bodoh banget gue, duh malu nih kalau ketahuan Axel. Untung belum bangun dia. Batin jen dan perlahan mengangkat kaki dan tangannya.
"mau kemana Yang?" tanya Axel dengan suara serak dan tidak membuka matanya.
"em ma,,, mau bangun mandi" jawab Jen gugup
Tidak ada jawaban lagi dari Axel, Jen melirik Axel yang kembali tertidur pulas.
"huh aman" kata Jen tanpa suara dan mengelus dadanya. Aman dari ejekan Axel maksudnya 🤭. Kemudian Jen membenarkan selimut di tubuh Axel
Dilihatnya Jam susah menunjukan pukul delapan pagi. Ada sebuah motivasi di ponsel Jen.
📩Bunda
*Jen,,,, bunda sama ayah sudah pulang ke rumah, mertua kamu juga. Nanti kalau sudah bangun kamu dan Axel pulang kerumah bunda dulu ya, besok sore bunda sama ayah berangkat ke London. Tadi bunda sudah ijin sama mertua kamu.
📨Jen
iya bunda nanti Jen pulang ke rumah bunda*
Begitulah isi chat bunda dan Jen. Setelah itu Jen memutuskan untuk mandi.
tok tok tok
Jen membukakan pintu. Terlihat salah satu pelayan hotel yang mendorong troli makanan.
"non Jen ini sarapan yang non Jen pesan" kata pelayan itu.
"iya terima kasih mbak" ucap Jen sopan.
"saya permisi non" pelayan itu menunduk
"silahkan" jawab Jen dengan senyuman.
Setelah pelayan itu pergi, Jen membawa masuk sarapannya. Di lihatnya Axel masih tertidur.
"Xel, ,, Axel bangun. Udah mau siang ini,"
"em" jawab Axel
"bangun dong, ini udah aku pesenin sarapan"
"jam berapa Jen"
"udah jam 9 lebih, aku laper" mendengar Jen mengeluh laper Axel langsung membuka matanya.
"kamu makan duluan, Aku mandi dulu" kata Axel yang beranjak ke kamar mandi.
__ADS_1
Jen cengo melihat Axel yang tiba-tiba pergi ke kamar mandi. Tidak butuh waktu lama Axel sudah menyelesaikan ritual mandinya. Diliatnya Jen masih duduk di meja Rias.