Cinta Jennaira

Cinta Jennaira
Fitting Baju


__ADS_3

Jen yang mendengar pertanyaan itu pun langsung menetapkan Axel horor. Sedangkan yang di tatap hanya menaikkan alisnya.


"lo mesum" kata Jen


"ih gue cuma mau meluk ya, mesum dari mana? gue takutnya nanti lo kangen" bela Axel.


"PD temenan sampean mas" (Pd sekali kamu mas)


Dan Axel yang mendengar itu pun tertawa.


"ya udah kalau gak boleh, gue pamit pulang ya udah mau malem ini" pamit Axel


"nunggu halal. ya udah ayo gue antar ke depan." jelas Jen


"oh iya gue lupa, nih tulis no ponsel lo" Axel menyodorkan ponselnya.


"nih udah"


"kok gak di simpan sekalian, mau di kasih nama siapa?" tanya Axel


"terserah,"


"T.E.R.S.E.R.A.H" kata Axel mengeja dan mengetik di ponsel nya.


"ya bukan itu dong ketos," kesal Jen


"tadi lo bilang terserah"


"ya udah suka suka lo deh"


"atau mau gue kasih nama, Munaroh?" Jen menggeleng dan membuang muka


"Rajinem?"


"gak"


"Markonah?"


"gak"


"Tulkiyem"


"no"


"sayang?"


deg deg Jen langsung melirik Axel


"setuju kan kalau diem aja, uh... bilang aja mau di kasih nama sayang" ejek Axel


"enggak juga, tinggal kasih nama Jen kenapa sih?" tanya Jen


"nanti kalau gak sengaja di liat teman teman gimana? bukanya gue gak mau ngakuin lo, tapi gue menghargai lo kalau memang lo belum siap" jelas Axel


"iya gue paham, ya udah terserah aja gapapa"


"nah gitu dong,,,, sayang" Axel berbisik di telinga Jen saat mengatakan sayang.


"Axel" teriak Jen karena ia merasa merinding


Sedangkan Axel sudah berjalan cepat ke dalam rumah. Jen beranjak mengikuti Axel.


"bunda mana?" tanya Axel pada Jen yang berada di belakang nya.


"bundaaaaa" teriak Jen


"lo kok teriak teriak sih"


"katanya nyari bunda, ya gue pangilin"


"ada apa Jen?" Tanya bunda yang baru datang dari kamar, Jen hanya menunjuk Axel


"ada apa Xel?" bunda


"Axel mau pamit bund"


"gak makan malam di sini aja Xel?" tanya Ayah


"maaf yah, lain kali aja ya, Axel juga belum mandi"


"ya udah gapapa salam buat orang tua kamu," kata ayah dan Axel mengangguk


"oh iya Xel besok pulang sekolah kalian ke butik tante Ria ya, buat fitting baju" jelas bunda


"iya bund" jawab Jen dan Axel mengangguk


Setelah berpamitan dan bersalaman dengan calon mertuanya Axel pun menuju pintu keluar di antar Jen.


"loh lo naik apa? kan tadi lo bawa mobil gue"


"tuh sopir rumah udah nunggu" tunjuk Axel pada pak supir yang sudah menunggu di pos satpam depan rumah Jen


"em ya udah, " Jen manggut manggut


"gue balik, lo makan terus istirahat" kata Axel mengelus rambut Jen.


"iya" hanya itu yang mampu Jen ucapkan.

__ADS_1


.


.


.


"Pah sini deh," mamah Rere menarik suaminya yang baru pulang kerja.


"apa sih mah, sabar dong. Papah masih berkeringat. Nanti habis mandi ya biar enak" kata papah


"apaan sih pah"


"mamah ngapain narik papah ke kamar kalau gak min....."


"stop pah, mamah cuma mau nunjukin ini"


"ini Axel dan Jen?" papah tidak percaya melihat vidio di hp istrinya


"iya lah, tadi di rumah Ayu"


"sekarang Axel mana?"


"belum pulang, biarin ajalah pah"


"bagus deh, kalau gitu kita aman"


"aman maksudnya?"


"masak gak tau, πŸ˜‰" papah


"πŸ€¦πŸΌβ€β™€οΈ"


.


.


Axel turun dari mobil dan masuk kedalam rumahnya. Ia bersenandung pelan sambil menaiki tangga. Bahkan papa dan mama yang sedang berdiri depan kamar pun tidak dilirik Axel.


"boy, are you oke?" tanya papah


"papah?" ucap Axel menoleh ke bawah dan menghentikan langkahnya di tangga paling atas.


"iya, papah dan mamah di sini dari tadi kamu diem aja" kata papah


"maaf pah, mah, Axel gak tau😁" Axel kembali turun dan menyalami kedua orangtuanya.


"kayaknya bahagia banget" tanya mamah


"em itu mah, gapapa" jawab Axel


" ya udah kamu bersih bersih kita tunggu di meja makan" mamah


.


.


.


.


πŸ“©08++


Jen, lo mau bareng gue apa berangkat sendiri?


πŸ“¨


Siapa? bareng kemana?


πŸ“©08++


calon garwo.(suami)


πŸ“¨


gue berangkat sendiri aja, bentar lagi otw


πŸ“©08++


iya hati hati di jalan, jangan ngebut


πŸ“¨


πŸ‘


Begitulah isi chat Jen dan Axel yang akan berangkat ke butik.


Setelah beberapa saat, Jen memutuskan untuk segera berangkat karena bundanya sudah menunggu. Melihat Jen yang sudah pulang pun Axel juga memutuskan menyusul Jen.


"bunda, mamah" sapa Jen


"kamu udah dateng, Axel mana sayang?" tanya mama Rere


"belum sampai mungkin mah,"


"kalian gak bareng?" bunda


"Jen gak mau bun" jawab Axel yang baru datang.

__ADS_1


"ya udah sini duduk dulu" pinta mamah


Setelah itu mereka ngobrol tentang adat yang akan di pakai. Jen dan Axel hanya menurut saja. Akhirnya Jen di bawa ke sebuah ruangan untuk mencoba beberapa baju. Axel pun sama ia juga mencoba beberapa jaz yang senada dengan kebaya Jen.


Jen meminta Axel untuk tidak melihat ia memakai yang mana, biar surprise katanya.


Beberapa saat setelah selesai mereka berkumpul lagi.


"gue tadi cuma di suruh nyoba doang, kok lo gak muncul muncul?" tanya Axel heran


"gak lah, kan biar surprise"


"em ya udah"


"bentar deh Xel, Jen mamah perhatiin dari tadi kalian pakai lon gue. Itu gak sopan sayang, jangan gitu lagi ya kalian mau jadi suami istri." jelas mamah


"udah kebiasaan mah" jawab Jen


"mulai sekarang jangan ya cantik" mamah Rere


"bener yang di katakan Rere Jen, kamu harus menghormati suamimu. Aku kamu aja ya" saran bunda


"iya bunda, maaf" kata Jen


"terus manggilnya juga jangan nama, yang lain dong Xel" kata mamah


"apa mah?"


"sayang" saut bunda


"Haa" Jen dan Axel bersamaan


"nah cocok itu Yuk, lagian ya Xel memanggil istrinya dengan sebutan yang indah kan sunnah" jelas mamah


"kan belum jadi istri mah"


"ya dibiasakan mulai dari sekarang dong" jelas mamah


"bunda ih kasih saran yang gak masuk" gerutu Jen.


"gak boleh protes," kata bunda.


Setelahnya mereka keluar butik dan memutuskan untuk pulang. Mamah dan Axel pulang bersama sedangkan bunda di antar sopir dan Jen mengendarai motornya sendiri.


"Xel, kamu jangan capek capek, kalau bisa besok terahir kamu masuk sekolah"


"gak bisa mah, urusan Axel di sekolah masih banyak"


"terus?"


"ya hari jum'at mah Axel terahir sekolah."


"ya udah yang penting kamu harus selalu hati hati dalam hal apapun. Mamah gak mau terjadi sesuatu sama kalian"


"iya mah"


Sesampainya di rumah Axel merebahkan tubuhnya di ranjang. Ia mengingat saat di butik tadi, harus memanggil sayang. Itu membuat Axel bahagia, tapi bagaimana dengan Jen. Ia juga tidak mau memaksakan Jen. Axel akan menghubungi Jen nanti.


Saat di meja makan papa Al menanyakan perihal mahar.


"Boy kalau butuh apa apa kamu boleh minta tolong papah. Jangan jadikan semua ini beban ya, " kata papah


"iya pah makasih." Axel


"untuk kesiapan resepsi gimana mah,?"


"aman pah, mudah mudahan semua berjalan lancar"


"amin." papah dan Axel berbarengan.


"rencana nya mau langsung gas apa tunda dulu Xel?" tanya papah


"apanya pah?" Tanya Axel gak paham


"ya pastinya ganti status papah jadi opah alias eyang" jelas papah


"papah apaan sih, Axel dan Jen masih sekolah"


"ya kan gapapa Boy, ya mah?"


"gak tau mamah terserah kalian aja"


"udah ah Axel mau ke kamar dulu pah, mah".


Di sisi lain Jen juga sudah menyelesaikan makan malamnya.


"Jen, ayah minta besok kamu terahir sekolah ya, udah gak ada pelajaran kan?"


"iya sih yah, emang kenapa kalau Jen sekolah.?"


"ayah hanya khawatir sama kamu, ayah juga ingin kamu mempersiapkan diri dan banyak berdoa"


"benar kata ayah Jen, besok kamu di antar supir aja." saut bunda


"ya udah Jen nurut aja" .


.

__ADS_1


.


__ADS_2