
Hari sudah berganti hari, minggu demi minggu sudah di lewati. Pernikahan Axel dan Jen sudah berusia tiga bulan. Kedekatan mereka sudah semakin dekat, sudah banyak tahu tentang apa aja yang di suka dan tidak. Saling toleransi dan mengingat kan.
Siang ini setelah pulang sekolah Jen, Tamara dan Sasa sedang menunggu Sinta di sebuah cafe. Mereka janjian akan bertemu hari ini.
"lo beneran gak mau kasih tau Axel Jen?" Sasa
"enggak lah, masa iya gue mau tanding balap liar ijin suami dulu. Bisa di gantung gue" Jen
"gue ngeri deh Jen kalau Axel tahu" Tamara
" asal kalian bisa jaga rahasia" Jen
"sory, lama" kata Sinta yang baru datang
"gak papa, mau minum apa lo" Sasa
"jus jeruk aja" Sinta
"gimana untuk acara nanti malam?" tanya Jen
"semua udah siap sih gue, lo sendiri?" Sinta
"beres lah," Jen
"gue juga udah siap" Tamara
"gue siap jadi tim hura" Sasa
"oke nanti kita berangkat dari apartemen gue aja" Sinta
Singkat cerita kemarin Sinta dan Tamara di tantang dengan beberapa anggota geng motor perempuan.
"lagian ya, gue heran sama mereka. Kalian kan cuma lewat, masa iya di kata mengejek mereka sih." Sasa
"gak tau Sa, namanya juga kurang kerjaan" Tamara.
"gue udah pengen banget lepas dari mereka. Bosen banget gue di teror mereka."
"kita kalahkan mereka" Jen.
Setelah ngobrol dengan sahabat nya Jen pamit pulang duluan, karena sudah di cari oleh garwonya. Sesampainya di rumah Axel sudah menunggu di depan pintu.
"hey mas garwo" kata Jen sambil tersenyum
"katanya sebentar, tapi berapa jam?" Axel
"maaf dong Garwo, tadi nunggu Sinta lama".
"aku keburu berangkat ini."
"iya maaf,"
"sini dulu, biar semangat" Axel menarik Jen ke kamar Tamu.
"mau ngapain?"
"kasih aku kekuatan dulu, kan harus nginep" Axel
"em tapi nanti aku boleh ya tidur di apartemen Sinta"
"di rumah aja kenapa sih Yang,"
"sepi, kemarin kan kamu udah janji. Lagian mamah sama papah belum pulang." kata Jen cemberut
"iya sayang" kata Axel
Setelah beberapa saat memeluk dan mencium Jen, Axel pamit untuk berangkat ke Bandung.
__ADS_1
Jen membersihkan diri dan istirahat sebentar di dalam kamar nya. Entah kenapa keberuntungan selalu berpihak kepada Jen. Dulu saat dirinya akan tanding balap ayah dan bundanya sedang keluar, dan sekarang juga sama.
Jam tujuh malam Jen berangkat ke apartemen Sinta. Sampai di sana Sasa dan Tamara belum datang.
"aman lo?" tanya Sinta
"aman lah. Bang Jo tahu Sin?" Jen sambil merebahkan tubuhnya di sofa.
"enggak" Sinta
"kalau tahu?" Jen
"kayaknya aman" Sinta
"seharusnya juga aman, Axel sama bang Jo lagi di Bandung" Jen
"moga moga deh" Sinta
Sasa, Tamara, Sinta dan Jen sudah berada di lokasi yang akan di jadikan balap motor. Bahkan Femi yang menantang mereka pun sudah datang. Sasa, Tamara dan Jen sudah bersiap untuk balap, begitu pula dengan Femi dan kedua temannya.
Sasa dengan beberapa teman sekolah Sinta pun memberikan semangat kepada mereka yang akan tanding. Pertandingan sudah di mulai, suara sorak sorak para penonton dan juga supporter terdengar sangat nyaring.
Tamara dan juga Jen memimpin pertandingan, di belakangnya ada Femi yang mulai menyalip Jen. Tamara yang masih memimpin pun semakin mempercepat laju motor nya.
Pertandingan balap pun berlangsung sangat panas. Karena kemampuan balap mereka hampir sama, jadi terjadi perebutan posisi untuk menang. Dan akhirnya pertandingan ini di menangkan oleh Tamara. Jen, Sasa, Sinta dan yang lainnya sangat senang.
"gue kalah bukan berarti kalah ya" kata Femi yang menghampiri Tamara dan teman temannya.
"apa sih maksud lo? lo ngajakin balap kita iya in, kita juga gak bikin masalah sama lo kan?" Tanya Tamara.
"gue mau lo jauhin Rendy" kata Femi
"hah Rendy?" kaget Sinta
"iya, taman lo ini udah rebut Rendy dari gue" Femi.
"oh jadi, lo mantannya Rendy?" tanya Tamara meremehkan
"apa lo bilang?" Tamara sudah mulai terpancing emosi dan menghampiri Femi
"sini lo, gue gak takut sama lo" Femi menantang.
"gue juga gak takut sama lo" Tamara mulai menyerang Femi. Mereka berdua saling melawan. Jen yang akan memisahkan Tamara dan femi pun malah di serang dua teman Femi.
Mau tidak mau Jen melawan mereka berdua. Sinta juga sama, dan terjadilah keributan di sana. Bagi Jen mengalahkan dua teman Femi itu sangat mudah.
"STOP" teriak seorang cowok yang membuat mereka semua berhenti. Cowok itu menghampiri Tamara dan Femi yang sudah acak-acakan.
"kalian ngapain sih?" tanya Rendy . Cowok itu adalah Rendy yang baru datang.
"Ren, dia jahatin gue. Lihat nih gue jadi begini gara gara dia" adu Femi
"kenapa lo selalu buat keributan sih" tanya Rendy pada Femi
"gue hanya mau lo Ren, kenapa lo gak pernah tahu sih" Femi
"gue beneran udah gak mau sama lo ya Fem, hubungan kita udah selesai dari dulu" Rendy
"enggak, sampai kapan pun lo hanya milik gue Ren,"
"cukup Fem, gue mau bahagia sama Tamara" Rendy
"apa sih lebihnya dia, gue udah kasih semuanya yang lo mau ya Ren. Kenapa semudah itu lo tinggalkan gue?" tangis Femi pun pecah.
"lo urus tuh cewek lo" kata Tamara pada Rendy
"cabut guys" kata Tamara pada teman temannya
__ADS_1
Setelah itu berkumpul di warung lesehan pinggir jalan .
"thanks ya semua yang udah mau jadi pendukung kita" kata Sinta pada pasukannya.
"Santai kali Sin," jawab Dita
"iya malah seru, kita juga nambah teman" Tono
"kapan kapan kita main bareng" Leni
"semua bisa di atur" Jen.
Mereka makan dan setelah itu pulang. Sesampainya di apartemen Sinta, mereka sedang santai di ruang tamu.
"yang tadi itu cowok yang lo maksud Tam?" Sasa
"iya" jawab Tamara memejamkan mata
"lo yakin, dia baik Tam?" Jen
"kok lo gitu sih," kata Tamara yang membuka mata
"bukan gitu Tam maksut gue, tapi gue ragu dengan omongan Femi tadi" jelas Jen yang sebenarnya mempunyai filing tidak baik kepada Rendy.
"kok lo jahat sih Jen, gak mendukung gue. Kayanya apapun keputusan gue lo akan dukung. Gue kecewa sama lo Jen." kata Tamara dan beranjak ke kamar.
"Tam dengerin gue" kata Jen yang tidak di hiraukan Tamara.
"Tam, kita ngobrol dulu baik baik sini" Sasa membuka suaranya
Sama dengan Jen, Tamara tidak menghiraukan Sasa.
"Biarin Tamara menenangkan diri dulu." saran Sinta
"kenapa lo berfikir Rendy tidak baik Jen?" Sasa
"gak tau, setelah lihat orangnya gue gak yakin sama Rendy" jujur Jen.
"bukanya satu sekolah sama lo Sin?" tanya Sasa
"iya, tapi gue juga belum kenal banget sama dia. Cuma dia itu temen boy pacar gue" jawab Sinta
"terus gimana?" Sasa
"lo pernah tanya Boy belum soal Rendy itu gimana?" Jen
"enggak sih, yang gue tahu dia kalau udah kenal ya baik, kalau belum ya cuek bgt" Sinta
"coba deh besok besok kita cari tahu" Jen
"iya ntar gue tanya Boy deh, dulu gue juga pernah denger dari teman kalau Rendy playboy. Tapi pas di sekolah juga enggak tuh" Sinta.
"istirahat dulu deh, besok kita jelasin ke Tamara dulu sambil cari tau tentang Rendy" saran Jen
tok tok tok
Ada yang mengetuk pintu apartemen Sinta. Mereka bertiga yang akan beranjak pun bingung, siapa yang dini hari datang ke sini.
"coba lo yang buka, kita di belakang lo" kata Jen menyuruh Sinta.
"lo aja Jen" Sinta malah yang kembali menyuruh Jen.
Kemudian mereka melihat Sasa yang asik memainkan ponselnya. Mereka berdua saling mengkode
"apa?" Sasa
"lo yang buka, kita yang di belakang lo" Sinta.
__ADS_1
"ah gu,,,,gue gak mau" Sasa
#Mohon maaf lahir batin semuanya. Maaf ya kalau up nya lama.