
Setelah menyapa orang tua Jen dan Axel, Jen mengajak semua temannya untuk turun dari pelaminan. Selain ia ingin menenangkan Zel yang sedang menangis, Jen juga meminta teman temannya menikmati jamuan makan malam.
"mas, kayaknya Zel haus" kata Jen
"mau ke kamar dulu?" Axel
"boleh deh, ribet kalau disini" Jen
"tuh, gara gara lo Sa" Tamara
"ye.... gue kan baru pertama liat Zel yang nyata. Biasanya lewat vidio, wajar dong gemes" Sasa
"udah gak papa, gue ke dalam dulu. Nanti balik lagi" Jen
"Xel, lo di sini aja" kata Dio
"gue nganter Jen bentar Di, kalian makan dulu aja" Axel
Setelah kepergian Jen dan Axel, mereka saling ngobrol dan melepas rindu.
"kalian kok bisa bareng?" tanya Satri pada Sasa dan Dio
"emang lo doang yang bisa bareng doi" Dio
"iya lah" Satria
"eh Sa, katanya lo gak bisa pulang?" Tamara
"setelah gue pikir pikir, gue pengen pulang juga. Banyak yang gue kangenin" Sasa
"berapa lama lo?" Tamara
"mungkin satu minggu" Sasa
"Sa lo gak bawa bule?" tanya Jamil
"gak lah, indo aja lebih menarik" kata Sasa melihat ke arah Dio
"dih bucin, gue kira udah lupa" Jamil
"sirik aja lo, tuh liat semua bawa gandengan. Ari aja bawa gandengan masa lo dari dulu belum laku" Sasa
"bawa bawa gue" Ari
"hehehe kalian cocok kok" Kata Sasa yang melihat kearah Gendis dan Ari
"nih gue juga bawa gandengan, jangan salah lo" kata Jamil menggandeng anak kecil di dekatnya
"mamah hua......" tangis anak kecil ber kuncir dua itu
"nah lo, gue gak ikutan" kata Sasa menahan tawanya
"eh sstt adek, kakak gak jahat kok" Jamil
"mamah......" panggil anak kecil itu
"frinzy kenapa nak? kamu ngapain?" tanya mama anak itu
"maaf tante, tadi anaknya takut sama teman saya ini. Dia dokter bedah" kata Jamil menunjuk Sasa
"em bukan tante, dia yang narik anak tante" Sasa
"maaf ada apa mbak Vera?" tanya Axel
"ini loh frinzy nangis," Vera
"sory Xel gue hanya becanda 😁" kata Jamil
"maaf ya mbak, teman Axel ini suka iseng" Axel
"gak papa, kita ke sana dulu ya Xel" kata Vera menggandeng Frinzy
Setelah kepergian Vera, Sasa tertawa terbahak bahak karena ulah Jamil. Sedangkan yang lain tidak habis pikir dengan jalan pikiran Jamil.
"untung yang datang ibunya, kalau bapaknya bisa habis lo Mil" kata Ari yang ikut tertawa
__ADS_1
"eh tapi ibunya cantik juga" Jamil
"Dia janda di tinggal meninggal suaminya" jelas Axel
"lo kok tau Xel?" Jamil
"ya saudara gue" Axel
Setelah beberapa saat mereka ngobrol, Jen ikut bergabung dengan mereka. Jarang sekali mereka berkumpul dengan personil yang komplit.
.
.
.
.
Saat ini Jen dan Axel berjalan menuju kamar yang sudah di siapkan untuk mereka. Acara hari ini sangat melelahkan bagi Jen, tapi selain itu ia juga merasa lebih lega. Mungkin Jen lega karena sekarang ia sudah mempublikasikan hubungan nya dengan Axel. Begitu juga dengan Axel, ia lebih tenang setelah mengumumkan bahwa Jen adalah istri dan juga ibu dari anaknya . Dengan begitu, Axel berharap agar tidak ada laki laki lain yang mendekati istrinya.
"Yang, kamar kita kan di no 10" kata Axel yang melihat Jen memutar kenop pintu nomor 9
"Zel di dalam mas" Jen
"kamu mau liat Zel?"
"kamu liat deh mas, ini penuh banget. Aku mau kasih ke Zel" kata Jen melirik sumber Asi nya
"aku ikut deh" Axel
Setelah memasuki kamar, terlihat disana ada mamah, bunda dan juga salah satu suster Zel.
"kok kalian kesini?" tanya mamah
"iya mah, pengen nyusuin Zel"
"pas banget kata mbaknya Zel juga baru bangun" kata bunda yang tiduran di samping Zel
"ya udah kamu kasih dulu Jen, setelah itu biar kan mamah yang jaga Zel" mamah
"kalau kamu merasa merepotkan mamah itu tidak sama sekali Jen. Tapi kalau kamu merasa tidak bisa jauh dari Zel, ingat Axel butuh kamu. Biarkan malam ini mamah yang urus Zel, stok Asi Zel juga banyak tuh" kata mamah
"iya bener mamah Yang" Axel
"nanti bunda juga temenin mamah kalian, semua aman. Nikmati waktu kalian" bunda
Dengan sedikit berat hati akhirnya Jen nurut saja. Setelah Zel kembali tertidur lelap, Jen dan Axel segera menuju kamar mereka. Ini kali pertama Jen tidak tidur dengan Zel, sebisa mungkin Jen menenangkan hatinya. Ia mengingat kata kata mamahnya, saat Jen maupun Axel meninggal Zel, semua harus dengan perasaan tenang dan percaya bahwa Zel akan baik baik saja. Karena mereka mengkhawatirkan Zel dengan berlebihan, pasti Zel akan rewel.
"udah Yang, cuma semalam" kata Axel yang melihat Jen hanya diam saja
Jen memaksakan senyumnya, ia tidak ingin Axel kecewa padanya. Setelah perbincangan nya dengan mamah kemarin, Jen benar benar ingin membuat Axel kembali merasa di perhatikan.
"hufh" Jen menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan.
Oke Jen, sekarang saatnya kamu jadi pengantin baru. Buat Axel bahagia. Batin Jen
ceklek
Suara pintu yang di kunci Axel
Kenapa kamar ini banyak bunga, beneran kaya pengantin baru. Jantung gue, kenapa juga harus berdetak kencang sih. Ayo Jen kamu kan udah nikah lama sama Axel, bahkan udah punya anak. Bukan perawan lagi, kenapa sok bingung gini sih.
"Yang" bisik Axel yang memeluk Jen dari belakang
"hah?" jawab Jen cengo dan sedikit terkejut
"kamu suka?" tanya Axel dan meninggalkan kecupan di bahu Jen
"su...suka mas" jawab Jen yang entah kenapa ia semakin deg deg kan.
"kamu masih mikirin Zel?" tanya Axel yang mengelus lengan Jen dengan jari nya
"eng.... gak. em maksudnya..." Jen di buat semakin tegang saat resleting gaunnya di turunkan Axel
"jangan pikirkan yang lain. Aku hanya mau kamu memikirkan aku saat ini. Kita nikmati waktu bersama malam ini." bisik Axel
__ADS_1
Jen mengangguk, memang benar ia harus memikirkan Axel. Dengan tekat yang bulat dan niat untuk membahagiakan Axel. Perlahan Jen memutar tubuhnya menghadap Axel, bahkan pelukan Axel tidak lepas dari pinggang Jen.
"are you ready?" tanya Axel
"yes honey" jawab Jen dengan senyuman manis nya
"udah gak deg deg kan lagi?" tanya Axel dengan senyum jailnya
"ih apa sih mas" kata Jen malu
"hahaha lagian kamu itu kaya malam pertama aja pakai deg deg kan segala. Dulu malam pertama kamu malah ngambek" goda Axel
"ih mas, gak jadi kalau gitu" Jen cemberut
Melihat itu Axel menjadi gemas, kenapa lucu sekali istri nya itu. Axel mengeratkan pelukannya, membuat Jen menyandarkan kepalanya di dada Axel.
"mas" panggil Jen
"iya sayang?" Axel menunduk untuk melihat Jen
"aku mandi dulu ya" Jen
"enggak"
"tapi mas, sepertinya aku bau keringat"
"bau trasi, bau bawang, aku juga mau" Axel
"ma.... hhhmm"
Axel mencium bibir Jen perlahan, dan lama kelamaan ciumannya semakin menuntut. Tangan Axel menarik gaun Jen yang tadi sudah ia buka. Dan selanjutnya ya begitulah mereka melakukan apapun yang mereka inginkan, lebih tepatnya Axel yang menginginkan dan Jen yang memenuhi 🤭.
"Yang" panggil Axel yang sudah berbaring di samping Jen
"iya mas" Jen
"ternyata ini hadiah dari dokter Vika (mamah Sasa)" kata Axel yang senyumnya belum hilang
"apa?" tanya Jen tidak paham
"kamu kembali pe**w*n" bisik Axel
"ih" Jen malu
"hehehe beneran Yang, bisa sampai pagi loh ini"
"aku capek loh mas, rasanya sakit kaya baru pertama dulu"
"ya itu Yang, eh tunggu kamu jadi ikut KB Yang?"
"hah? mas....." Jen panik mengingat itu
"jangan bilang kamu gak jadi?" Axel ikut panik
"kamu sih mas"
"kok aku, tanya mamah dulu gih"
"tanya apa?" Jen
"ya gimana kalau nanti punya anak lagi, atau punya buat tunda dulu"
"kamu gak mau punya anak lagi?"
"ya mau, tapi kamu?"
"aku belum siap mas,"
"terus gimana?"
"aku udah pakai IUD tenang bos" kata Jen tertawa melihat wajah panik Axel
"kamu.... oh beneran ngajak sampai siang" Axel
"enggak mas ampun"
__ADS_1
"gak ada ampun.." kata Axel menaik turun kan alisnya.