
Mendengar teriakan seseorang, Sasa dan abangnya berhenti. Mereka menoleh ke arah sumber suara, begitu juga dengan ke empat temannya. Terlihat seorang cowok yang berlari kecil ke arah Sasa.
"Dio...." panggil Sasa yang sepenuhnya menghadap ke arah Dio.
"Beb" Dio langsung memeluk erat Sasa, sedangkan abangnya melepaskan genggaman tangannya. Membiarkan adiknya perpisahan sebentar dengan sang kekasih. Abang Zay tau hubungan Dio dan Sasa, dia merasa seperti dejavu saat dulu meninggalkan kekasihnya di bandara.
Setelah beberapa saat Dio melepaskan pelukannya, memandang Sasa dalam dalam.
"kamu masih mencintai aku?" tanya Dio, dan terlihat guratan sedih di wajahnya. Bahkan ia sempat meneteskan air mata tadi.
"perasaanku masih sama Dio, mungkin akan aku jaga sampai aku kembali lagi" kata Sasa
"aku akan selalu menunggu kamu beb, ingat janji kita. Kita akan berjuang bersama"
"pasti beb, terimalah kamu sudah menyempatkan waktu untuk datang ke sini. Kamu semangat berjuang ya calon pak polisiku" Sasa menghapus keringat di wajah Dio
"pasti beb, kamu juga harus selalu hati hati dan jaga kesehatan, calon dokter cantikku." kata Dio yang sekali lagi memeluk erat Sasa
Kalau boleh aku meminta, aku ingin waktu berhenti berputar sebentar. Biarkan aku menikmati pertemuan singkat ini. Batin Sasa
Walaupun aku juga meninggalkan kamu, tapi kenapa berat rasanya melihat kamu yang pergi jauh. Jaga dia ya allah. Batin dio
"Sa, ayo" kata abang Zay
"Aku menaruh harapan yang sangat besar di hubungan kita beb, tolong jaga baik baik hatimu dan kepercayaan ku." Kata Dio mengurai pelukannya
"aku juga ingin kamu melakukan hal sama beb" kata Sasa yang sesenggukan
"Ini buat menemani hari hari kamu. Hanya doa terbaik yang akan selalu aku kirim untuk kamu. I will always love you beb" Dio menyerahkan sebuah boneka berbentuk polisi kecil . Agar Sasa selalu mengingat dirinya yang sedang berjuang.
"I love you more beb, kamu hati hati dalam berjuang ya, sampai ketemu lagi" Sasa
"selalu kasih kabar ya beb" pinta Dio yang meneteskan air matanya.
"jangan nangis dong, pak polisi masa nangis" canda Sasa mengusap air mata Dio
"kehilangan separuh hatiku itu sakit beb, aku akan bertahan demi kamu" kata Dio yang memaksa kan tersenyum lebar.
"aku berangkat ya?" kata Sasa yang mengalami dan mencium tangan Dio. Sasa yang pura pura kuat pun akhirnya semakin menangis
"hati hati beb" kata Dio mengusap kepala Sasa
Sasa mengangguk dan mengangkat wajahnya, tersenyum melihat Dio. Beberapa saat pandangan mereka saling mengunci, Dio membawa Sasa kedalam pelukannya dan mencium kening Sasa lama. Setelah itu ia benar benar melepaskan Sasa.
Perlahan genggaman tangan itu semakin menjauh dan terlepas, Sasa melihat ke arah temannya dan melambaikan tangan. Temannya pun ikut melambaikan tangan dengan senyuman. Sasa di rangkul abangnya berjalan meninggalkan mereka semua, karena pengumuman keberatan kembali terdengar.
Dio yang melihat Sasa semakin jauh pun perlahan menjatuhkan tubuhnya di lantai.
"Dio" panggil Satria dan Axel bersama
"bantu Dio" kata Jen yang melihat Dio terduduk di lantai
Jalan lurus Sa, kamu pasti akan kembali secepatnya. Kuat kuat kuat. Aku harap kamu baik baik saja beb. Sasa menyemangati dirinya sendiri. Dia bisa mendengar kalau tadi Satria dan Axel memanggil nama Dio. Kalau dia berbalik pasti akan memberatkan langkahnya untuk maju karena melihat keadaan Dio.
"kembalilah dengan kesuksesan dan juga perasaan yang sama beb, aku akan selalu menunggumu" gumam Dio
"ayo" Axel mengulurkan tangannya pada Dio
"kamu pasti bisa Di, demi masa depan" kata Axel lagi
"thanks Xel," Dio bangkit dan melihat Sasa sudah tidak terlihat lagi
"lo gak papa?" tanya Satria saat dio dan Axel kembali mendekat
"enggak," Dio
"calon pak polisi kok cengeng" Satria
__ADS_1
"lo belum ngerasain apa yang gue rasain" Dio
"amit amit, gue mau nikah cepat aja biar gak terjadi tangisan di bandara" Satria
"emang Tamara mau?". saut Jen
"harus mau,. kalau sudah begini sayang, berpisah ku tak kuat, jangankan satu minggu sayang, sehari ku rindu berat." kata Satri yang bernyanyi dan dan memukulkan tangan yang di kepal ke tangan lainya.
"udah ayo balik, jangan dengerin dia kumat" kata Axel yang tau maksud Satria
"gue langsung ke asrama, sory gue gak bisa bareng kalian" Dio
"semangat berjuang bro" Axel
"kalian juga" Dio memeluk Satria dan Axel bergantian kemudian berpamitan dengan Jen dan Tamara.
.
.
.
.
"Yang...." panggil Axel karena Jen masih diam saja, saat ini mereka sedang perjalanan pulang
"iya" Jen mengelap ingusnya.
"aku kangen banget tau"
"kangen kan? makanya jangan main tinggal tinggal aja kalau kangen"
"orang kamu yang ninggalin aku"
"dulu pas di bali" Jen
"kan udah berlalu Yang," kata Axel yang membelokkan mobilnya.
"pulang lah"
"kok lewat sini?"
"suka suka dong Yang" .
Beberapa menit kemudian mereka sampai di basemen apartemen Axel.
"pulang kesini? kamu gak ke kantor?" tanya Jen bingung
"iya sayang, aku mau meliburkan diri. Ngantuk"
"enak banget meliburkan diri karena ngantuk"
"ya mau gimana lagi, orang tadi malam aku gak bisa tidur. Akhirnya aku kerja" Axel
"kenapa gak bisa tidur?"
"ya mana bisa tidur kalau guling ku aja gak ada"
"biasanya juga bisa kan" gerutu Jen yang masuk ke dapur untuk mengambil minum
Axel pun menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Jen yang baru masuk ke kamar pun langsung merebahkan diri di kasur.
"ganti baju Yang, gak gerah apa kamu?" kata Axel
"sebentar lagi, udah pw ini" Jen
"nanti tinggal istirahat kan enak Yang," Axel menarik Jen perlahan untuk bangun
__ADS_1
"ish" Jen menggerutu tapi juga melakukan apa yang di suruh Axel.
Jen kembali dengan daster tanpa lengan, benar kata Axel, baju yang ia pakai tadi tidak akan nyaman buat tidur. Sedangkan Axel sudah berbaring dengan telanjang dada dan satu lengannya menutupi matanya.
"Yang, udah tiga hari lo" rengek Axel yang menghadap ke Jen
"apa?" tanya Jen bingung
"masak gak tau sih" Axel terlihat kesal
"iya mas aku paham kok, mau sekarang banget?"
"iya, makanya aku bawa kamu kesini"
"ya sudah monggo" kata Jen mempersilahkan Axel.
Jalan jalan ke puncak gunung di kala siang hari dan panas begini, tidak menyurutkan semangat Axel. Buktinya dua kali sampai puncak pun di jalani dengan mudahnya. Kalau di tawari dua kali lagi pun Axel masih mampu, tapi Jen? ia tidak mau membuat Jen terlalu lelah. Jen dan Axel tertidur pulas setelah itu, bahkan dering ponsel keduanya pun tidak bisa mengusik tidur nyenyak nya.
Sedangkan di sebuah ruangan kantor, terlihat papah yang sedang risau.
"ke mana sih Axel" gerutunya
"katanya mau ke bandara pak" kata Dodi
"masa iya ke bandara dari tadi pagi sampai sore gini gak balik" Papah Al
"kurang tau pak, Axel hanya minta ijin gitu aja" Dodi
"tapi berkas nya kan harus ready satu jam lagi"
"coba kamu hubungi lagi, sudah lelah saya"
"baik pak" Dodi mulai menghubungi Axel lagi.
Sudah puluhan pesan, belasan panggilan telepon maupun vidio yang tidak terjawab. Kali ini panggilan ke tiga Dodi baru di jawab Axel.
"apa sih ganggu" kata Axel di seberang sana
🎥 Dodi
Lo ke mana aja sih, pusing gue nyari elo
"tidur"
🎥
Jangan ngaco lo, coba jauhin ponsel lo
"apa? rese banget deh" gerutu Axel dengan suara khas bangun tidur, ia juga menjauhkan ponselnya
"astaga bener bener deh lo, liat om" Dodi menyerahkan ponselnya pada papah Al
"papah" kata Axel yang bangun dari tidurnya, ia menyelimuti tubuh Jen yang terlihat sedikit.
"kamu di mana sih, papah pusing nyari kamu"
"di apartemen pah"
"kenapa gak di tahan dulu sih, papah tau kamu kangen sama Jen, tapi kerjaan tolong yang profesional" omel papah
"kan udah Axel selesaikan pah"
"mana?"
"em... oh iya. Biar Axel kirim lewat email sekarang pah" kata Axel nyengir
"kalau bukan anak, sudah papah kirim ke gorong gorong kamu"
__ADS_1
"maaf pah, kaya papah gak pernah muda aja. Nanti Axel kasih surprise deh" kata Axel
"kirim filenya sekarang" Kata papah dan mengembalikan ponsel Dodi