
"kenapa lo?" tanya Tamara
"tuh anak pergi artinya,, belum selesai menjawab sudah ada suara dari Ari
"jangan lupa traktiran nya nanti gue tagih"
"uuh gue kira gak jadi" gerutu Sasa
Terdengar suara tawa dari Jen dan Tamara. "balik yuk" ajak Jen
"ayolah, kita anter absen nya dulu." jawab Tamara. setelah itu mereka menuju ke ruang guru.
"mampir ke toilet bentar dong say," pinta Sasa dengan puppy eyes nya.
"kalian berdua aja, gue yang ke ruang guru, biar cepet" saran Jen
"lo yakin mau nganter sendiri" tanya Tamara
"bilang aja modus, sekalian ketemu aa bayu," kata Sasa
"haha ya siapa tau ketemu, udah bye" Jen berlalu
Lorong kelas terlihat tidak begitu ramai , ada beberapa siswa siswi yang mengobrol di depan kelas mereka masing-masing. Saat ini Jen sedang melewati lorong depan ruang osis.
dug
"aw jidat gue, akhh,,"Jen meringis kesakitan karena jidatnya terbentur pintu yang di buka dari dalam. Ia sempat mundur beberapa langkah karena merasa sedikit pusing.
__ADS_1
"maaf gue gak tau kalau ada yang lewat, mana yang sakit?" tanya nya sedikit panik dan melihat gadis di depannya memegang kening nya, ia tidak tau siapa gadis itu karena rambut yang panjang menutupi sebagian wajahnya di tambah tangan yang memegang kertas absen juga menutupi wajahnya.
"uuh,,,, kenapa gak liat dulu sih kalau mau buka pintu, sakit ini." Jen sedikit marah karena hal itu.
" iya maaf, maaf lagi gue liat dulu mana yang sakit," ucap siswa itu perlahan menurunkan tangan Jen. Jen pun perlahan mendongak melihat siapa yang ada di depannya.
"cantik" batin siswa itu
"a ayo" kata siswa itu dan tanpa ijin ia sudah menggandeng tangan Jen.
Jen bingung dengan perlakuan siswa itu makanya ia menurut saja saat di tarik siswa itu.
"ketos stop" ucap Jen lantang, ia menghentikan langkahnya. mau tidak mau axel juga berhenti. ya siswa yang membuka pintu itu Axel sang ketua osis.
"ada apa, gue cuma mau ngobatin lo" tanya Axel
"em maaf gue refleks" ucapnya sambil melepaskan tangannya. Setelah itu Jen berjalan mendahului Axel. Sedangkan Axel cengo melihat tinggah Jen. Dia berbeda gumamnya dalam hati dan tersenyum simpul. Ya biasa nya para siswi akan menggunakan kesempatan ini untuk mendapatkan perhatian Axel. Berbeda dengan Jen, ia terlihat cuek dengan Axel.
Setelah sampai di UKS Jen kelingukan mencari staf yang bertugas, dan hasilnya nihil karena semua sedang rapat di ruang guru.
"sini," ucap Axel sambil membuka gorden yang menutupi ranjang uks. Jen pun menurut dan duduk di ranjang itu. Sedangkan Axel mencari kotak obat, dan setelah dapat ia berbalik menatap Jen yang masih memegang keningnya. sesekali ia mendesis karena sakit.
"maaf gue obatin dulu ya,". Perlahan Axel menyingkirkan rambut Jen kebelakang telinga.
"kenapa lo?" tanya Jen, karena ia melihat Axel tersenyum yang mencurigakan.
"hm tindiknya kelebihan ya, kayaknya ada aturan tidak boleh memakai perhiasan yang berlebihan," kata Axel. Jen memang memiliki dua tindik di telinga kanannya, dan ia menyematkan anting berlian kecil yang simpel dan terlihat elegan di bagian tengah daun telinga yang di tindik.
__ADS_1
"cuma ini doang, dan menurut gue gak berlebihan. lo mau ngobatin gue apa mau tanya tanya",,
Axel kemudian mulai mengobati kening Jen yang sedikit benjol dan terlihat memar, ia yakin pasti ngilu rasanya.
"aw pelan pelan ketos", sinis Jen
" iya tahan bentar lagi, ini udah palan,,,,,, selesai". ucap Axel sambil mengemas kotak obatnya. dan di kembalikan ke tempat semula. Jen pun turun dari ranjang ia berniat ke ruang guru dan balik ke kelasnya, karena suara bel masuk sudah terdengar.
grep
"hati hati, lo mau kemana," tanya Axel yang sudah setengah memeluk Jen. karena tadi Jen terhuyung dan hampir terjatuh mungkin karena kepalanya sedikit pusing.
" gue mau ke ruang guru balikin absen, dan balik kekelas"
"udah lo istirahat aja biar gue yang ke ruang guru dan ijinin di kelas lo."
"beneran?? gue agak pusing sih ini," Jen
"iya, Jennaira XII IPS 1..?", Axel melihat nama dan juga kelas di baju seragam Jen.
"iya, " kata nya sambil naik ke ranjang lagi.
"gue balik dulu, sekali lagi sory" ucap Axel
"hhmmm, " jawab Jen yang sudah berbaring dan memejamkan matanya,
Axel sempatkan melirik Jen dan tersenyum. ya meskipun Jen tidak tahu. Kemudian Axel meninggal kan Jen. Axel menuju meja staf dan ternyata staf yang bertugas sudah kembali, ia meminta surat ijin untuk Jen.
__ADS_1
#boleh minta like, komen dan di vote ya 🙏🙏🙏🙏🙏