Cinta Jennaira

Cinta Jennaira
Menjenguk


__ADS_3

Beberapa jam sudah berlalu, tadi Dio sudah menghubungi orang tua Satria. Dan kebetulan orang tua Satria sedang berada di luar kota. Mereka meminta Dio untuk mewakilinya memberikan persetujuan tindakan kepada Satria. Satria mengalami banyak memar di tubuhnya dan juga retak pada tangan kirinya.


ceklek


Pintu UGD terbuka dan keluarlah papi Sasa


"gimana Satria dok?" tanya Axel


"Alhamdulillah Satria sudah sadar. Masih perlu banyak istirahat. Cuma tangannya yang retak." papi Sasa


"Alhamdulillah," Axel


"orang tua Satria gimana nak? nama kalian siapa?" tanya papi


"oh saya Axel dok" Axel


"saya Dio dok" Dio


"pacar adek pi" saut bang Zay


"yang mana?" papi


"Baju hitam pi" Zay


"kamu Dio?" tanya papi


"i....i..ya dok" jawab Dio ragu


"sstt bisa gugup juga lo?" bisik Axel menahan senyumnya


"diem" Dio memelototi Axel


"jangan macem-macem sama anak saya, pacaran boleh tapi jangan kelewat batas. Jaga Sasa dengan baik" Papi


"atau kalau gak, elo bakal di bedah sama papi" imbuh Zay


Dio semakin terlihat gugup dan pucat, sedangkan Axel dan Zay menahan tawanya.


"Zay" kata papi yang tahu kalau Zay hanya bercanda


"maaf pi becanda" Zay


"Dio kamu jangan takut gitu. Zay hanya bercanda"


"iya dok" Dio


"panggil saya om, kamu juga Axel"


"baik om" jawab Axel dan Dio.


"saya seperti pernah lihat kamu Axel" kata papi terlihat berfikir


"sepertinya iya om, kalau gak salah di pertemuan pemegang saham bulan lalu" Axel


"ah iya, kamu anak pak Alexander atau pak Aditama?" tanya papi


"dua duanya om, pak Adi mertua saya" Axel


"jadi benar anak pak Alex sudah menikah? saya kira pak Alex hanya bercanda besanan dengan pak Adi" papi


"benar om,"


"Beliau berdua itu partner bisnis saya, saya sudah kenal dekat. Saya bisa jaga rahasia" papi menepuk pundak Axel


"terimakasih om" jawab Axel


"kalau begitu saya permisi dulu, Satria akan di pindahkan ke ruang rawat. Nanti saya yang akan menangani Satria." papi


"iya om terimakasih" kata Dio


Setelah Satria di bawa ke ruang rawat, Axel dan Dio menunggu Satria.


"Sat?" panggil Axel yang melihat Satria mengerjab kan mata


"Axel?" Satria lemah


"iya ini gue" Axel


"lo udah bangun Sat" Dio


"Dio, kok kalian?" Satria berusaha untuk duduk

__ADS_1


"udah lo tiduran dulu." Dio


"Sasa" gumam Satria setelah ia mengingat kejadian kemarin


"Sasa kenapa Sat?" Dio


"apa bener Sasa yang bawa gue kesini?" tanya Satria. Satria ingat saat di mobil Sasa selalu manggil namanya untuk bertahan. Satria juga sempat sadar melihat kalau ada Sasa di depannya.


"iya, Sasa yang ngabari gue" Dio


"sory gue merepotkan kalian" Satria


"enggak, udah lo istirahat saja" kata Axel dan di angguki Dio.


Pukul tiga dini hari orang tua Satria datang. Axel dan Dio masih berada di sana, Axel yang masih terjaga pun sedikit menceritakan yang ia tahu.


"om, tante, Axel pamit pulang dulu. Nanti siang Axel ke sini lagi."


"Iya Xel makasih ya. Kamu tidak istirahat dulu di sini?" tanya papa Satria


"hhmm tidak om" Tolak Axel


"ya sudah kamu hati hati di jalan."


"iya om" Axel pun segera pulang kerumah.


Axel sampai pukul empat, perlahan Axel menaiki tangga. Suasana rumah masih terlihat sepi.


ceklek


Suara pintu kamar di buka, bukan Axel yang membuka melainkan bunda.


"Axel? kamu mau kemana?" tanya bunda


"Dari rumah sakit bun. Teman Axel ada yang kecelakaan tadi malam" Axel


"baru pulang?" bunda


"iya bun maaf. Soalnya orang tua Satria juga baru datang tadi pagi" jelas Axel


"tidak papa, kamu istirahat dulu" bunda


"terimakasih bun" Axel segera masuk kamar.


"garwo" gumam Jen. Axel mengelus punggung Jen agar kembali tertidur.


Pukul setengah tujuh Jen baru bangun. Jen memandang Axel yang masih tidur.


"pulang jam berapa sih, gak ngabari lagi" gumam Jen. Perlahan Jen melepaskan diri dari pelukan Axel dan menuju ke kamar mandi.


Ingin membangunkan Axel tapi kasihan. Akhirnya Jen turun sendiri.


"pagi yah, bun" sapa Jen dan duduk di meja makan


"Axel mana?" tanya ayah


"masih tidur yah, gak tega mau bangunin. Tadi malam ke rumah sakit, gak tau pulang jam berapa." kata Jen, ia tidak ingin ayahnya berfikiran yang negatif tentang suaminya.


"Jam empat Axel nyampai rumah" jawab bunda yang mengambilkan nasi untuk Jen.


"kok bunda tau?" Jen


"tadi bunda liat, bunda kira mau kemana ternyata baru pulang" jelas bunda


"siapa yang sakit Jen?" Ayah


"temen yah, katanya di keroyok geng motor. Jen juga belum tahu" Jen


"kasian amat, makanya kamu jangan ikutan geng motor lagi." kata bunda


"Jen gak ikut geng motor bunda, tapi club motor" kata Jen


"sama aja" kata bunda, sedangkan ayah pura pura tidak dengar.


Mereka melanjutkan sarapan pagi tanpa Axel. Sedangkan di rumah sakit, Dio baru bangun tidur. Dio merasa kaget saat melihat orang tua Satria sudah duduk menunggu di samping ranjang.


"om, tante?" Dio


"kamu udah bangun Dio?" mama Satria


"maaf tante, Dio ketiduran. Axel mana?" Dio

__ADS_1


"Axel udah pulang, kamu istirahat dulu aja gak papa Di" papa Satria


"Dio juga pulang dulu aja om" kata Dio


"kamu yakin?"


"iya om, Dio cuci muka dulu" Dio


Setelah keluar kamar mandi, Dio melihat dokter sedang memeriksa Satria juga suster yang membawa sarapan untuk Satria. Dio menghampiri orang tua Satria untuk berpamitan juga salaman. Tidak lupa Dio juga berpamitan dengan calon mertuanya 🀭.


.


.


.


.


Pukul 10 siang Axel baru bangun tidur. Axel tidak melihat istrinya di dalam kamar. Selesai mandi Axel, turun dan mencari Jen.


"Ayah" sapa Axel yang melihat ayahnya membaca koran di dekat kolam renang.


"Axel, kamu udah bangun?" ayah


"iya yah, Jen mana ya yah?"


"di dapur mungkin sama bunda"


"gak ada yah"


"coba kamu telepon, apa mereka keluar"


"hp Axel ada di kamar yah" jawab Axel nyengir.


"kamu mau sarapan? gak usah malu Xel. Ini juga rumah kamu" ayah


"iya yah nanti aja" kata Axel


Tidak lama Jen mengantarkan kopi untuk ayahnya.


"loh garwo" Jen


"kamu dari mana Yang?" tanya Axel


"ke minimarket sebentar tadi, beli kopi" Jen


"kamu udah sarapan belum?" tanya Jen pada Axel dan Axel menggeleng


"ya udah ayo aku siapin" kata Jen


Axel berpamitan kepada ayah dan ikut Jen ke meja makan. Setelah makanan tersaji semua, Axel mulai memakannya. Sedangkan Jen mengupas buah jeruk.


"Yang, habis ini ke rumah sakit ya" ajak Axel


"iya, em Tamara gimana garwo?"


"kamu ajak aja dia" Axel


"oke deh aku telfon dulu"


Selesai sarapan Jen dan Axel berganti pakaian dan berpamitan kepada orang tua nya. Tamara hanya di minta menunggu di rumah Sasa, ia tidak di beritahu Jen kalau Satria yang sakit. Sampai di lobby rumah sakit, Jen menghubungi Sasa agar segera menyusul mereka.


Sampai di depan sebuah ruangan Tamara masih bertanya siapa yang sakit. Perlahan Axel membuka pintu ruangan itu. Dilihatnya mama Satria sedang menyuapi Satria.


"assalamualaikum tante" sapa Axel


"wa'alaikumsalam Xel, masuk sini" mama


"Satria?" Tamara langsung mendekati Satria


"Tamara" Satria


"kamu kenapa?" Tamara terlihat begitu khawatir


"gak papa" Satria


"gak papa kok disini" Tamara dan mereka yang ada di sana menahan senyumnya.


Sasa, Axel dan Jen mencium tangan mama Satria.


"Tam Tam lo gak sopan banget, ada tante ini" Sasa

__ADS_1


"eh maaf tante" Tamara


#Maaf semua kalau ada typo, bunda sedikit ada problem. Mau koreksi sedikit malas. Ternyata kehidupan nyata itu tidak se indah cerita novel ya πŸ₯ΊπŸ˜Œ


__ADS_2