Cinta Jennaira

Cinta Jennaira
Cemburu


__ADS_3

Pulang sekolah Jen masih saja bermuka masam, Axel pun kehabisan ide untuk merayu.


"Yang udah dong, mau jalan jalan?"


"kemana!" jawab Jen malas


"ke mana aja, asal kamu suka" Jen


"ke mall aja, mau beli sesuatu" kata Jen


"baik tuan putri"


Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di mall. Jen mengajak Axel untuk naik ke lantai dua. Sebenarnya Axel ingin bertanya mau kemana, tapi ia takut Jen ngambek lagi. Axel hanya mengikuti Jen dari belakang, sampai akhirnya Jen masuk ke sebuah toko. Jen memilih sesuatu yang memang ingin ia beli.


"Jangan yang itu" kata Axel saat Jen memegang salah satu b*a.


"kenapa?" Jen


"gak bagus aja" kata Axel lagi dan Jen mengembalikan b*a itu.


"itu juga terlalu gede" komentar Axel saat Jen memilih yang lain.


"emang nyari yang ukurannya agak gede," Jen


"jangan yang itu ya, pilih di sana banyak" Axel


Seorang pelayan menahan tawanya saat melihat itu, bisa bisanya seorang cowok tampan mau di ajak ke toko dalaman perempuan.


"itu Yang, yang hitam" bisik Axel


"gak ada talinya" kata Jen


"biar gampang aku Yang"


"em liat dulu deh" Jen


"Yang"


"hhmmmt" Jen


"bagusan gak pakai" bisik Axel


"ih kamu" Jen mencubit Axel


Axel pun tertawa lepas saat melihat Jen yang kesal. Tanpa Axel sadari ia menjadi pusat perhatian para cewek, banyak yang terpesona sama dirinya. Jen yang menyadari itu pun langsung menarik Axel keluar toko.


"aduh sayang, gak jadi beli?" tanya Axel yang masih tersenyum


"gak" jawab Jen dan berjalan ke toko mamah nya.


Jen langsung masuk kedalam mencari mertua juga bundanya.


"hey sayang" sapa bunda


"bunda" panggil Jen dan memeluk bunda


"kenapa sayang?.... Axel" bunda menerima uluran tangan Axel.


"aku males sama garwo" kata Jen


"loh kenapa sih Yang?" Axel


"kamu nyebelin tau gak" Jen


"Jen, gak boleh seperti itu. Ayo masuk dulu" ajak bunda


Mereka duduk di ruang kerja mamah dan juga bunda. Kebetulan mamah sedang berada di dalam ruangan.


"anak anak mamah" kata mamah


Setelah menyalami mamahnya Jen duduk di sofa dengan wajah yang sama kesalnya.


"mau makan apa?" tanya bunda


"mau seblak yang panas dan pedas" Jen


"jangan Yang," Axel


"biarin, boleh ya mah, bun?" tanya Jen


"Jangan banyak banyak tapi jangan pedas juga" mamah


"iya Jen, nanti sakit perut" bunda


"tapi aku masih sebel sama garwo, pengen makan itu" Jen


" ya sudah biar di belikan mbak aja" mamah memanggil salah satu pelayan toko.


"ada apa sih sebenarnya?" bunda


"garwo itu bund" adu Jen


"kamu apakan istrimu?" tanya mamah

__ADS_1


"enggak mah, orang tadi Jen mau beli b*a tapi gak jadi" Axel


"kenapa gak jadi?" tanya mamah pada Jen


"itu mah, garwo ledekin Jen, mau milih katanya jelek." Jen


"ih Yang, aku gak ngeledek orang aku jujur kok" Axel


"iya tapi kamu ketawa setelah itu kan" Jen


"itu kan beda cerita Yang"


"ya tapi banyak yang suka liat kamu ketawa." Jen


"masa? enggak lah" Axel


"kamu dari tadi di sekolah pegang cewek lain, terus barusan tebar pesona. Nanti apa lagi?"


"kamu cemburu?" tanya bunda menahan senyumnya


"enggak bun" Jen


"oh, kan tadi aku udah jelasin Yang. Maaf ya kalau gitu" Axel


"tau ah" Jen


"sini aku peluk dulu biar gak marah marah" kata Axel mendekati Jen.


"gak mau ah" kata Jen namun Axel malah menarik Jen kedalam pelukannya.


Bunda dan mamah menggeleng melihat itu. Tidak berapa lama datang lah pelayanan tadi yang di minta mamah mencari kan makan untuk Jen dan Axel.


"makasih mbak" kata Jen yang semangat untuk makan seblak.


Setelah menuangkan seblak ke dalam wadah yang sudah di sediakan, Jen segera menyendok sebalak itu. Terlihat menggoda bagi Jen, sedangkan bunda, mamah, dan Axel yang melihat seblak itu sudah ngilu karena membayangkan pedasnya. Jen meniup sebentar dan menyuapkan ke mulut Axel.


"haaaah sssttt" kata Axel yang kepedesan


"hahahha" Jen tertawa puas melihat Axel yang minum


"Yang, jangan di makan." kata Axel sambil mengibaskan tangannya di depan mulut


"kenapa?" tanya Jen yang sudah menyendok lagi.


"itu pedes gila Yang," Axel


"ah masa," Jen menyuapkan seblak itu ke mulutnya sendiri.


"Yang, jangan astaga" Axel terlihat frustasi melihat Jen yang makan.


"udah ya jangan, makan yang lain aja. Biar aku beliin" kata Axel yang merebut mangkuk Jen


"garwo" Jen kembali kesal.


"biar mamah coba" menyendok seblak itu


"uh mamah gak kuat ini" mamah


"tuh mamah aja gak kuat, kasian adiknya kan" Axel


"bunda 🥺" Jen


"benar kata Axel. Kamu nurut ya, makan yang lain aja" bunda


"gak mau makam" Jen


"jangan gitu dong Yang, nih aku suapi" Axel menyodorkan nasi Padang miliknya


"gak mau pakai sendok" Jen


"iya pakai tangan, jangan ngambek lagi" Axel.


.


.


.


Sesampainya di rumah Jen langsung masuk dan menaiki tangga. Terlihat Axel yang berjalan cepat.


"Yang tunggu" Axel


"apa?" Jen


"kamar kita pindah di sana" Axel menunjuk pintu kamar tamu yang berada di lantai bawah.


"Kenapa pindah?"Jen


"aku gak mau kamu kecapekan naik turun. Ngeri juga besok kalau perut kamu gede Yang" Axel


"tapi kan aku pelan pelan" Jen


"udah Yang, barang barang kita udah di pindah sana" Axel

__ADS_1


Jen pun menurut saja mengikuti Axel. Saat masuk ke kamar Jen melihat ke sekeliling nya. Terlihat lebih luas dari kamar Axel yang sebelumnya.


"lebih nyaman di sini kan?" tanya Axel


"iya juga, aku mandi dulu" kata Jen berlalu ke kamar mandi.


Diam diam Axel mengikuti Jen ke kamar mandi.


"mau ngapain?" tanya Jen setelah di dalam kamar mandi


"mandi lah Yang"


"kan bisa nanti"


"tapi Yang"


"sstt tuh kamu di panggil mamah" Jen


"masa?"


"liat aja di depan" kata Jen bohong


Setelah mandi, Jen tiduran di kasur nya. Axel yang melihat itu pun mendekati Jen.


"capek?" tanya Axel


"iya, gak tau kenapa lemes gitu" Jen


"udah minum vitamin?"


"udah kok" Jen


"sini aku pijitin," Axel memijit kaki Jen.


"makasih garwo" kata Jen yang merasa enakan.


Axel memijit kaki Jen sampai Jen tertidur. Ada senyum tulus dari Axel saat melihat Jen yang tertidur pulas. Ia tidak menyangka akan menjadi seorang ayah di usia yang masih sangat muda. Axel hanya berharap bisa membahagiakan keluarga kecilnya nanti.


Pukul sepuluh malam Jen dan Axel sedang belajar. Terlihat Axel yang gelisah.


"Yang, antar aku cari makan yuk" Axel


"apa? di dapur kan ada" Jen


"gak mau Yang, mau keliling komplek" Axel


"ngapain udah malem" Jen


"justru udah malem pasti enak Yang, ayo" Axel


"ya udah bentar ayo" Jen


"kamu pakai jaket, celana panjang" Axel


"ganti baju dong" Jen


"iya, di luar dingin" Axel


Jen mengganti baju dan segera berangkat keliling komplek.


"Jen, Axel mau kemana?" mamah


"itu garwo pengen jajan keliling komplek katanya" Jen


"udah malem loh, mau apa sih Xel biar mamah bikinin" mamah


"mamah istirahat aja, Axel gak jauh-jauh kok cuma di komplek ini" Axel


"ya udah hati hati kalian," mamah.


Mereka berdua pergi naik motor metik Jen. Perlahan Axel melajukan motornya sambil menikmati pemandangan malam hari. Ada pedagang jagung rebus, bakso, mie ayam yang sedang keliling. Ada juga pedagang yang berjualan di tempat. Axel tidak tertarik dengan pedagang yang ia lewati tadi. Tapi Axel memarkirkan motornya di warung tenda nasi goreng.


"sini aja ya Yang," Axel


"iya terserah kamu" Jen dari atas motor


"kamu mau?" tanya Axel pada Jen


"enggak, aku masih kenyang. Aku pesen jeruk anget aja" Jen


"iya Yang"


"hey Jenong" panggil seseorang yang duduk di sendiri


"Enak aja, elo yang jenong" kata Jen ikut duduk didepan orang itu.


"ngapain kalian?" tanya Ari


"lo sendiri ngapain?" Jen


"makan" Ari


"ya sama lah, masa kesini mau nyanyi" Jen

__ADS_1


"nyanyi juga gak papa, hiburan gratis kan" Ari.


"suami lo diem diem bae?" kata Ari lagi


__ADS_2