
Gendis melihat beberapa mahasiswi melihat ke arah Axel. Gendis juga baru melihat Axel disini.
Apa dia yang buat para cewek klepek-klepek, ganteng banget sih. Tapi sepertinya dia orang yang cuek. Batin Gendis
Axel tidak melihat Jen dan Gendis mendekat, karena ia sedang fokus pada laptop nya dan mengobrol dengan Ari.
"Tak sawang sawang kowe ganteng tenan, rasane aku pengen kenalan (ku lihat lihat kamu ganteng banget, rasanya aku pengen kenalan" Nyanyi Jen
"kenalan neng lesehan, wonge ganteng nganggo klambi abang (kenalan di warung lesehan, orangnya ganteng pakai baju merah" saut Jamil.
"Jen malu" bisik Gendis mengingat kan Jen untuk tidak menggoda cowok itu.
"kamu tenang aja" Bisik Jen
"Saiki aku nembe ngrasakno, pacaran karo wong Kertosono. (sekarang aku baru merasakan, pacaran sama orang Kertosono)" Jamil
"gentenge kaya Arjuna, esemane kaya Rajen Gatut Kaca. (gantengnya kaya Arjuna, senyumannya kaya Raden Gatut Kaca)." Jamil
"Senajan awakku kebak tatoan roto tenan, nanging aku isih due rasa sopan. Senajan kuping ku kebak tindikan nanging aku calon jutawan. (walaupun badanku penuh tatoan rata banget, tapi aku masih punya rasa sopan. Walaupun telingaku penuh tindakan, tapi aku calon jutawan)". Jen duduk di samping Axel dengan senyum yang mengembang.
"Jamil, itu Jen kenapa malah goda cowok." bisik Gendis pada Jamil
"biarin gak papa" Jamil
"tapi kan malu kalau cewek yang ngejar cowok." Gendis heran, kenapa Jen tidak mau dengan Romi yang sudah suka dan mengejar dirinya? bukan malah menggoda cowok yang cuek padanya
"dia gak punya malu" kata Jamil di susul tawa.
"Jamil" Gendis malu dengan Jamil yang juga dilihat orang orang.
"ayo duduk" Jamil mengajak Gendis duduk di depan Jen.
Axel memandang Jen duduk di sebelahnya kaya cacing kepanasan ðŸ¤. Axel menggeleng, detik berikutnya ia merangkul bahu Jen dan membawa Jen kedalam pelukannya.
"mas lepas malu" kata Jen memukul pelan dada Axel, karena Axel memeluknya erat
"kan kamu tadi yang goda aku" Axel
"ya kamu serius banget liat laptop nya" Jen
"iya ada yang penting"
"Jadi aku gak penting?"
"penting banget ayang, jangan ngambek dong"
"bayar kos bayar kos, dunia milik mereka berdua" kata Jamil pada Ari dan Gendis.
"hahaha iri? bilang bos" Jen
Axel menutup laptopnya dan menyeruput minumannya.
"mau minum apa Yang?" tanya Axel menyodorkan botol minum nya .
"ini dulu aja" Jen yang ikut meminum minuman Axel.
Gendis bingung dengan Jen yang terlihat akrab dengan Axel, bahkan Ari dan Jamil juga biasa saja. Siapa sebenarnya cowok itu, Gendis hanya bisa bertanya dalam batin.
"Dis, kamu bingung ya?" tanya Ari yang melihat Gendis bingung. Gendis hanya tersenyum sebagai jawaban.
"oh iya lupa, Dis dia teman kita Axel nama nya" Jen yang mengenalkan Axel sebagai teman
"apa? teman?" tanya Axel dengan sorot tajamnya
__ADS_1
"hehehe Jangan marah dong, maksudnya teman tidur." Jen
"maksudnya?" Gendis
"Suami ku, mas dia Gendis teman yang aku ceritakan" kata Jen. Axel tersenyum mengangguk, Gendis pun juga mengangguk.
"kamu sudah menikah?" tanya Gendis tidak percaya
"bukan cuma menikah, dia juga sudah hamil enam bulan" celetuk Axel
"hah? beneran Jen?"
"iya Dis hehehe"
"tapi kok gak keliatan?" Gendis
"orang dia pakai baju yang kegedean, sebenarnya kelihatan buncit, tapi emang kita aja yang gak tau kalau kalau dia hamil" Ari
"itu namanya trik" Jen
"biar dilirik cowok? iya kan?" tanya Axel pada Jen
"enggak gitu mas, kok kamu gak ngabarin aku mau ke kampus?" Jen bergelayut manja.
"lupa tadi Yang, mau ketemu dosen"
"aku kira jemput aku" kata Jen melepaskan pelukannya
"ya nanti kita pulang bareng, kamu masih ada kelas?"
"masih sih, satu mapel lagi" Jen
"ya udah nanti kalau kamu selesai duluan, tunggu di hotel aja" Axel
" hey...... suami istri gelo, ini masih di kampus, masih banyak orang, main BO aja" Jamil
"ye sirik lo" Jen
Mereka mengobrol tentang apa saja, sampai Satria dan Tamara datang. Namun sayang Axel harus segera pergi karena dosen yang akan di temui sudah siap. Begitu juga dengan Jen, Gendis dan juga Jamil yang kembali ke kelas.
Axel berjalan menyusuri koridor sendiri, tanpa di sengaja Axel berpapasan dengan Romi. Mereka saling pandang dengan sorot mata tidak suka.
Dia kan anaknya pak Alexander, berarti Jen tadi ketemu dia. Apa dia kuliah disini? tapi kok gue gak pernah liat dia. Romi
Ini dia yang suka goda istri orang, gak punya malu. Sampai kapan pun gue gak akan biarin lo dekat dengan Jen.!! Batin Axel dan tersenyum miring.
Setelah beberapa saat Axel memutuskan pandangan nya dari Romi, ia melanjutkan melangkah menuju ruangan yang sudah di janjikan dengan dosennya.
Selesai pelajaran terakhir, Jen keluar kelas dan tujuan nya adalah hotel. Axel sudah memberi kabar kalau dirinya belum selesai. Jen berjalan menuju menuju Hotel ayah nya yang berada di sebrang jalan. Tadinya Jamil memaksa akan mengantar Jen, tapi di tolak. Alhasil Jamil hanya mengamati Jen dari kejauhan, untuk memastikan Jen selamat sampai hotel.
"permisi mbak, ada kamar kosong?" tanya Jen sopan.
"ada nona, di kamar nomor 03, 25, 28, 31"
"03 di mana mbak?"
"di sebelah sana mbak, kamarnya dekat dengan area restoran juga taman."
"oh yang kamarnya terpisah itu ya?" tanya Jen yang memang tau konsep dari hotel ayah nya.
"iya nona betul,"
"ya sudah saya minta kamar 03 selalu di kosongkan dari pengunjung ya mbak. Saya buat jadi kamar pribadi saya."
__ADS_1
"maaf jadinya nona mau check in berapa lama?"
"saya gak check in mbak, sebentar mbak" Jen terlihat menghubungi seseorang. Dan setelah beberapa saat Jen menutup telfonnya, terdengar telepon di resepsionis hotel berbunyi.
"maaf nona, saya tidak tahu kalau nona anak dari pemilik hotel ini" resepsionis itu menunduk
"gak papa mbak, bisa saya langsung ke kamar?"
"bisa mbak, silahkan kuncinya"
"terimakasih mbak" Jen berlalu begitu saja menuju ke arah samping.
Tanpa Jen sadari ternyata ada Romi yang mendengar pembicaraan mereka. Tadinya Romi akan menghadiri meeting di restoran hotel ini. Tidak semua pembicaraan mereka Romi dengar, hanya saat resepsionis mengatakan anak pemilik hotel. Jen yang sudah menghilang pun membuat Romi mendekati meja resepsionis.
"maaf mbak, yang tadi itu temen saya. Dia anak pemilik hotel ini?" tanya Romi langsung pada intinya
"maaf tuan saya tidak bisa memberi tau" kata resepsionis itu
"saya cuma mau tau saja mbak, saya tidak macam-macam. Dia teman saya" Romi masih memaksa
"saya kurang tau tuan, saya baru disini" jawaban yang mungkin pas sebagai alasan
"tapi tadi anda bilang dia anak pemilik hotel ini kan?"
"em...." Resepsionis itu tampak bingung menjawabnya
"kenapa anda menanyakan anak pemilik hotel ini?" tanya Axel dari belakang Romi
"bukan urusan anda" Romi
"Jelas ini urusan saya, kalau yang anda cari tau adalah istri saya" Axel tersenyum miring
"saya tidak tau istri anda, dan anda jangan asal menuduh tuan muda Alexander" Romi menjawab dengan nada tidak sukanya.
"oh ya? anda lupa dengan sebutan NYONYA muda Alexander? dia adalah Jen istri saya" Axel
Jen,... jadi dia anak pemilik hotel ini, dan istri dia. Harus gue cari tau ini. batin Romi
"kenapa? masih mau cari tau tentang istri orang?" Axel
"saya tidak percaya" Romi berlalu begitu saja
"mbak tolong jangan kasih tau informasi apapun sama orang lain, tentang saya dan Jen. Kecuali keluarga saya Alexander dan Aditama. Bisa anda tanyakan kepada pak Adi kalau saya adalah menantunya" Axel
"siap tuan"
Axel berlalu menuju ke kamar di mana Jen berada.
"berani sekali dia terang terangan mencari informasi tentang Jen. Seharusnya mulai sekarang dia sudah faham." gerutu Axel
tok tok tok
Axel mengetuk pintu kamar Jen, tidak lama Jen keluar dan menyambut Axel dengan senyuman.
"mau istirahat disini dulu apa pulang?" tanya Jen yang menyerahkan sebotol air minum untuk Axel
"disini dulu deh Yang, aku pusing"
"kamu sakit?"
"enggak, pusing mikirin orang gila"
"kurang kerjaan banget mikirin orang gila"
__ADS_1
"mau gimana lagi, pengennya aku hilangkan dari muka bumi ini"
"sssttt ingat, jangan marah marah" Jen menuntun tangan Axel untuk menyentuh perutnya.