Cinta Jennaira

Cinta Jennaira
Dikeroyok


__ADS_3

Axel pun menuju kamar no dua yang di maksud Jen. Axel masuk begitu saja karena pintu tidak di tutup.


"Bayu" kaget Axel saat melihat Bayu yang duduk di sana


"Xel" Bayu tersenyum


Berarti gue gak salah lihat, tadi emang Bayu. Batin Axel karena memang tadi saat menghampiri Jen dan ayah di kolam ikan, Axel sempat melihat Bayu yang berjalan di rumah samping.


"garwo" panggil Jen karena Axel terlihat melamun


"eh iya Yang, itu mau tanya kemarin malam kamu udah masukin kotak warna merah hitam kan?" tanya Axel


"udah"


"dimana? aku cari gak ada"


"ada, aku taruh di atas baju kamu kan?"


"gak ada Yang, udah aku bongkar semua"


"masa sih, orang aku yang taruh"


"emang yang kamu taruh isinya apa?"


"Ya itu. Masa di tanya kamu kan tahu"


"flashdisk bukan?"


"ya bukan lah masa iya isinya flashdisk"


Mendengar jawaban Jen membuat Axel menahan tawanya. Membuat Jen, Bayu dan bi Ar heran.


"astaga ayang! hihihi" Axel tidak bisa menahan tawanya.


"kenapa sih?" tanya Jen yang ikut tersenyum juga bingung melihat tingkah Axel


"aku minta kamu masukin kotak warna merah hitam yang ada di laci kan?" Tanya Axel dan Jen mengangguk


"nah itu kotak kan bawah nya warna merah tutupnya hitam, di dalamnya ada flashdisk" jelas Axel


"Kamu gak bilang isinya flashdisk, lagian cuma kelihatan hitam nya aja yang itu" kata Jen


"atau jangan-jangan kamu yang,,,,,," kata Axel menahan tawanya


"apa sih diem." kata Jen dan beranjak keluar


"Yang tunggu, Bayu dan bibi saya permisi" pamit Axel dan mengejar Jen.


"Yang, emang udah selesai?" tanya Axel yang udah berada di samping Jen.


"ya belum lah"


"jangan bohong"


"siapa yang bohong"


"terus kapan?"


"gak tahu"


"masa gak tahu sih, terus aku herannya kenapa bisa itu sih yang kamu bawa?"


"itu juga ada di laci garwo, salah kamu juga gak ngomong yang jelas"


"udah ngaku aja Yang, kamu pasti udah pengen kan?" goda Axel


"enggak"


"masa??, apa terbayang bayang saat kita sampai di puncak bareng?"


"garwo enggak ya" Jen berusaha memukul Axel, Axel pun menghindar dan lari ke halaman belakang dekat kolam.


"jujur gak papa Yang, wajar itu namanya" Axel masih berlari


"itu kamu ya yang mau bukan aku" kata Jen berusaha mengejar Axel yang hampir dapat


"kita Yang, masa aku doang" Axel menangkap Jen dalam pelukannya. Tadinya Jen yang ngejar Axel, malah Jen yang di tangkap. Jen yang terkejut pun hanya diam, mukanya sudah merah antara malu dan capek lari.


"ih garwo aku capek tau"


"ya makanya jangan main kejar-kejaran"


"tapi kamu nyebelin"


"AW" teriak Axel yang perutnya di cubit Jen


"sakit Yang, kalau mau nyubit kebawah lagi aja Yang. Sini misalnya" Axel menuntun tangan Jen menyentuh pusakanya.


"Astaga garwo" Jen memukul pundak Axel, setelah itu membelakangi Axel dan melipat tangannya di dada


Axel tertawa terbahak-bahak. Saat mencubit Axel, tadi mereka berdua berhadapan jadi tidak ada yang melihat saat Axel mengarahkan tangan Jen. Namun kebersamaan mereka berdua, tawa dan canda dari Axel tidak luput dari penglihatan ayah dan bunda.


"udah Yang capek" Axel

__ADS_1


"gara gara kamu. Aku juga capek"


"nanti aku pijitin"


"bohong banget" jawab Jen berlalu masuk ke dalam rumah.


"Yang, kok ada Bayu"


"ngater obat buat bi Ar. Aku juga gak tau kalau ada Bayu"


"hhmm" jawab Axel.


Mereka berdua ikut bergabung dengan ayah dan bunda yang sudah duduk di ruang tengah melihat televisi.


"bi Ar gimana Jen?"


"bi Ar anemia bund, tadi Jen tawarin ke dokter gak mau"


"terus?" ayah


"udah di belikan obat sama Bayu"


Mereka mengobrol santai, sampai hampir larut malam. Axel berpamitan kepada kedua orangtuanya, karena pasti mereka juga capek seharian bekerja. Sampai di kamar Jen dan Axel langsung memegang ponsel mereka. Banyak notifikasi di ponsel Axel dan juga panggilan tidak terjawab dari Dio.


๐Ÿ“žDio


Xel lo dari mana sih? tanya Dio setelah menerima panggilan dari Axel


"sory tadi gue ngobrol sama mertua, hpnya di kamar. Ada apa?" Axel


๐Ÿ“ž


lo ke rumah sakit Damajaya sekarang bisa.


"kenapa emang?"


๐Ÿ“ž


Satria di keroyok, dan sekarang masih di UGD


"oke gue ke sana sekarang"


tut


"Yang, aku ke rumah sakit Damajaya dulu ya" kata Axel sambil menyambar jaket nya.


"ngapain?"


"ikut"


"kamu di rumah aja, udah malam"


"tapi garwo..."


"besok Yang, oke? nurut ya?"


"ya udah" jawab Jen pasrah


"langsung istirahat ya, gak usah nunggu aku" Axel mengelus kepala Jen, dan Jen mengangguk


cup


Axel mencium bibir Jen lumayan lama. Setelah itu ia mencium kening Jen.


"buat teman tidur" kata Axel tersenyum


"hati hati garwo" kata Jen


"pasti sayang" Setelah nya Axel berlalu keluar kamar.


Rumah sakit Damajaya kan punya orang tua Sasa, apa Sasa tahu tentang ini. Jen


Jen berusaha menghubungi Sasa, tidak menunggu lama Sasa langsung mengangkat panggilan dari Jen.


๐Ÿ“žSasa


Iya Jen


"Sa lo tahu kalau Satria masuk UGD di rumah sakit bokap lo?"


๐Ÿ“žSasa


Iya, gue sama abang yang bawa kesini


"kok bisa? gimana ceritanya?"


๐Ÿ“žSasa


cerita nya itu.........


Flashback on


Sasa, abang Zay dan mami papi nya sedang perjalanan pulang dari rumah tante Sasa. Saat di jalan yang sepi, mereka melihat segerombolan anak muda sedang menghajar seorang siswa. Rasa kemanusiaan yang membuat Abang Zay dan papi Sasa turun membantu siswa itu.

__ADS_1


"woy berhenti" teriak abang Zay


"cabut cabut" salah seorang yang mengeroyok siswa itu


"buruan kabur" kata temannya. Dan mereka kabur dengan mengendarai motor.


"Kabur sono yang jauh, gue udah dapat barang buktinya. Tunggu aja kalian" gumam bang Zay


"ada apa nak?" tanya papi pada siswa tersebut


"sa...ya dikero...yok om" jawab siswa itu dan setelah nya pingsan.


"Zay tolong masukkan ke mobil" kata papi.


Sedangkan Sasa turun dari mobil, karena ia merasa seragam yang di pakai siswa itu sama dengan seragam nya. Sasa mendekati papi dan abangnya yang berusaha menolong siswa itu.


"Tunggu pi, SATRIA" kata Sasa setelah melihat siswa itu.


"buka pintu belakang Sa" pinta papi


"Bawa kerumah sakit Zay, Sa kamu kenal dia kan?" tanya papi


"kenal pi, dia teman sekolah Sasa"


"kita langsung tangani dia, cepat Zay." kata papi.


Sasa dan abang Zay mengendarai mobil Satria, Satria terbaring lemah di kursi belakang. Sedangkan papi dan mami mengendarai mobil nya sendiri.


"duh gimana nih" gumam Sasa yang panik


"telefon orang tua dong dek" bang Zay


"mana gue tahu bang, oh iya Dio" kata Sasa menelfon Dio dan memberitahu kejadian ini.


Sampai di rumah sakit, Satria langsung di tangani oleh papi dan di bantu beberapa perawat. Beberapa saat kemudian Dio datang menghampiri Sasa.


flashback off


๐Ÿ“žSasa


Jadi gitu Jen cerita nya


"di keroyok siapa?"


๐Ÿ“žSasa


gue juga kurang tahu.


"terus kita kabari Tamara gak?"


๐Ÿ“ž Sasa


kata Dio jangan dulu udah malam


"ya udah besok pagi aja"


๐Ÿ“žSasa


Iya, ya udah dulu Jen. Besok gue kabari lagi


"oke Sa"


tut


Jen pun merebahkan tubuhnya dan berusaha untuk tidur, sedikit sulit memang karena tidak ada Axel dan pikirannya mengkhawatirkan Satria.


Sedangkan Sasa, Abangnya dan Dio masih menunggu papi yang belum keluar. Di ujung koridor terlihat Axel yang datang dengan tergesa.


"Gimana Satria?" tanya Axel pada Dio


"masih di tangani dokter"


"Sasa kok lo disini?" heran Axel


"iya gue sama abang yang bawa Satria" Sasa


"gimana ceritanya?" Axel


"panjang" Dio


"Dek kamu pulang istirahat aja ya" kata abang


"tapi bang"


"iya beb... em maksud nya Sa" kata Dio menutup mulutnya


"beb juga gak papa kali" sindir abang sambil tersenyum


"abang" kata Sasa malu


"udah sana kamu pulang dulu" kata abang


Akhirnya Sasa pulang sendiri, karena memang rumah Sasa hanya di samping rumah Sakit. Sedangkan ketiga cowok itu masih menunggu Satria.

__ADS_1


__ADS_2