
"enggak mah, cuma biasanya ya. Jen akan langsung tertidur setelah aku kerjain" kata Axel sambil pelan-pelan beranjak dari kursinya.
"maksud kamu apa?"
"em kata papah," Axel memperagakan kedua tangannya seperti berciuman.
"astaga Axel!!" kesal mamah
"kabur..." Axel lari menuju kamarnya.
"kenapa anak itu sekarang bikin mamah darah tinggi aja" gerutu mamah yang kembali ke kamar.
"papah nya sama aja, malah tidur duluan. Kebiasaan banget udah dapat yang di minta gitu gak peduli sama istri nya. Uuh pengen mamah jawab Xel, bukan mamah yang ngantuk setelah di kerjain, tapi papah kamu yang ngantuk" gumam mamah dan menuju kamar mandi.
Sedangkan Axel setelah sampai di kamar ia memposisikan dirinya di samping Jen. Memeluk istri nya sampai pagi. Dan pagi ini Jen bangun terlebih dahulu, ia menyentuh kening Axel.
"gak panas" gumam Jen dan beranjak ke kamar mandi untuk bersiap ke sekolah.
Tidak berapa lama Axel juga terbangun, ia mendengar bunyi kran air berarti istrinya sedang mandi. Dengan cepat Axel lari keluar kamar dan menuju kamar tamu di samping kamar nya.
"huek huek" Axel kembali mual dan langsung memuntahkan isi perutnya di toilet kamar tamu.
Axel terlihat lemas ia duduk di closed. Rasa pusing dan mual masih Axel rasakan. Sedangkan di kamarnya Jen terlihat celingukan mencari Axel. Setelah mengganti baju, Jen turun untuk mencari Axel.
"mah garwo kemana?" tanya Jen pada mamahnya
"bukannya belum keluar dari kamar?" tanya mamah
"di kamar gak ada mah, biar Jen cari dulu mah" kata Jen
Setelah menanyakan ke pak satpam juga pak Bejo, Jen belum bisa menemukan Axel.
"ada Jen?" tanya mamah yang melihat Jen ke dapur
"enggak mah, apa mungkin sama papah?" Jen
"papah masih di kamar tadi sih belum bangun"
"ya udah Jen ke kamar dulu ya mah,"
Saat Jen kembali ke kamar ternyata Axel masih belum kembali. Karena jam sudah menunjukkan pukul tujuh, akhirnya Jen bersiap untuk berangkat ke sekolah.
Sedangkan di dapur Axel yang terlihat pucat dan lemas pun duduk di meja makan.
"mah tolong minta teh anget" kata Axel yang melihat mamahnya membuat kopi
"Axel? kamu dari mana? Jen nyari kamu loh" kata mamah menghampiri Axel
"dari kamar tamu mah, tadi Axel habis dari toilet. Soalnya Jen baru mandi tadi"
"kamu sakit?" mamah
"mual sama pusing lagi mah"
"astaga udah dibilang jangan makan es krim malam malam, di suruh ke dokter aja susah banget sih" omel mamah
"mah marahnya di pending dulu ya, Axel mau minum dulu" kata Axel
"bi tolong bi" Mamah
"ini nyah udah bibi buatkan"
"loh garwo," kata Jen
"sayang" Axel merengek dan merentangkan tangan manja .
Jen mendekat dan Axel segera memeluk pinggang Jen yang berdiri. Jen mengelus punggung Axel, dia bingung kenapa Axel seperti ini.
"kamu dari mana?" Tanya Jen, Axel menceritakan yang dia lakukan tadi. Saat ini papah juga sudah ikut bergabung di meja makan.
__ADS_1
"tadi pas aku mau mandi kamu gak panas" Jen
"emang gak panas, tapi mual dan pusing"
"aku antar ke dokter ya"
"enggak Yang, kamu sekolah aja" Axel
"tapi garwo kesehatan kamu lebih penting, masa iya suami sakit aku masih pergi juga" Jen
"gak papa Yang, kamu kan ada ulangan. Aku gak papa nanti minum obat juga sembuh" Axel
"iya, kalau malam malam gak makan es krim" Sindir mamah
"makan es krim?" tanya Jen
"hehehe aku pengen Yang, semalam aku makan dikit"
"dikit apa orang di habisin" Mamah
"udah Jen, kamu sekolah aja. Biar Axel mamah yang urus." kata papah
"iya sayang bener kata papah, biar mamah yang urus anak ngeyel ini" kata mamah
Jen menatap Axel yang masih bergelayut di perut nya, Axel yang paham pun mengangguk.
"maaf ya garwo, nanti kalau boleh habis ulangan Jen ijin pulang" Jen
"kamu tenang aja Jen, sarapan dulu sini" mamah
"udah siang banget mah, Jen langsung berangkat aja ya" kata Jen
"kamu bawa ini" mamah menyiapkan roti isi untuk Jen
"makasih mah," kata Jen yang membawa kotak roti dari Mamah
"iya?" tanya Jen berhenti
cup
Axel mencium bibir Jen lembut, karena serangan tiba tiba itu pasti Jen berusaha berontak.
"ekhem" deheman dari papah
Dengan segera Axel melepaskan ciumannya, dan melihat ke belakang di sana ada papah yang menggeleng dan mamah yang melipat tangannya di atas perut.
"hehehe maaf Yang, morning kiss nya ketinggalan" kata Axel
"udah sembuh Xel?" tanya papah
"masih pusing lah pah," Axel
"pusing pusing kalau nyosor aja gak pusing" kata papah
"udah tinggal aja Jen" kata mamah
Jen dan papah kemudian berangkat, sampai di depan sekolah ternyata pintu gerbang sudah ditutup. Jen memanggil pak satpam untuk di buka kan pintu. Pertama susah sekali untuk merayu pak satpam, namun Jen tidak kehabisan akal. Ia menggunakan kekuasaan mertuanya di sini membuat pak satpam membukakan gerbang.
.
.
.
"aku cuma mau dekat istriku masa gak boleh" Axel
"tau tempat dan waktu" Mamah
"morning kiss doang" kata Axel cemberut
__ADS_1
"udah sana kamu minum obat terus istirahat" kata mamah
"iya mah,"
Axel kembali ke meja makan, sedangkan mamah mengikuti Axel dari belakang. Saat Axel akan menyendok nasi goreng, rasa mual nya kambuh lagi. Buru buru Axel menuju toilet yang ada di dekat dapur, mamah pun ikut dengan Axel dan memijat tengkuknya.
"kamu kenapa sih? kita ke rumah sakit ya" mamah yang sebenarnya tidak tega
"gak mah, Axel lemes banget ini" kata Axel.
Setelah Axel mengeluarkan isi perutnya, ia di bantu mamah menuju ke kamar tamu yang ada di bawah. Mamah memberikan Axel minuman hangat juga roti, setelah itu mamah minta Axel minum obat. Axel yang tidak bisa tertidur lagi pun hanya memijat keningnya yang terasa pusing. Mamah keluar kamar dan menghubungi dokter untuk datang ke rumah.
Tidak butuh waktu yang lama dokter Riza pun datang, beliau adalah dokter di keluarga ini. Mamah mengantarkan dokter ke kamar Axel.
"silahkan dok, katanya mual dan pusing" mamah
"biar saya periksa ya mas Axel" dokter Riza
"seperti nya tidak ada mag atau gangguan lambung lainnya. Untuk pola makan gimana?" tanya dokter
"biasa aja sih dok" Axel
"kemarin tengah malam Axel makan es krim dok" Mamah
"Sebenarnya enggak masalah itu dok, memang beberapa hari ini saya sering merasa mual dan pusing di pagi hari. Tapi yang parah baru dua hari ini." Axel
"hanya pagi?" dokter
"iya dok, kalau siang paling cuma pusing dikit" Axel
"oh, ini saya kasih vitamin juga pereda mual dan pusing ya" dokter
"iya makasih dok, tapi saya gak papa kan?"
"tidak, nanti kalau masih merasa tidak enak badan langsung ke rumah sakit aja ya? Biar di cek lebih detail nya" dokter
"iya dok, Terimakasih" mamah
"kalau gitu saya permisi, dan mas Axel cepat sembuh"
"amin terimakasih dok" Axel
Dokter Riza keluar dari kamar tamu di ikuti mamah di belakangnya.
"maaf bu, apa boleh saya tanya?" Dokter
"boleh silahkan dok"
"saya dengar apa kalau anak pak Al sudah menikah, apa itu mas Axel?"
"iya betul dok, memang ini belum di publikasikan" mamah
"saya mengerti bu, tapi kemungkinan sakit mas Axel ada hubungannya dengan ini"
"maksud dokter?"
"maaf, kalau berkenan mungkin istri mas Axel bisa di bawa kerumah sakit untuk memastikan kebenaran nya. Karena saya takut salah," dokter
"ke rumah sakit? maksudnya ketemu sama dokter?"
"iya bisa ketemu saya nanti"
"iya dokter, nanti coba saya bujuk menantu saya agar mau ke rumah sakit"
"terimakasih bu, semoga ada kabar baik ya?"
"amin dok"
Setelah itu dokter Riza meninggalkan rumah Alexander. Mamah yang sebenarnya masih bingung pun mencoba mencerna kata-kata dokter Riza. Mamah yang kembali ke kamar pun menceritakan pada Axel, dan Axel juga bersedia untuk mengajak Jen ke rumah sakit.
__ADS_1