
Setelah pembukaan sempurna, Jen di bantu mami juga dua suster yang berjaga untuk proses persalinan. Sedangkan Axel masih setia menunggu Jen dan tidak berpindah sedikit pun.
"Axel , kamu duduk di belakang Jen ya, biarkan Jen bersandar sama kamu" kata mami
"seperti ini dok?" tanya Axel yang dengan cekatan berpindah posisi di belakang Jen.
"iya, nanti saat Jen mengejan kamu bantu dorong badan Jen perlahan ya" mami
"siap dok"Axel
"mi sakit..... huh huh" Jen
"atur nafas, ayo dorong Jen" kata mami yang melihat Jen kontraksi
"hhhhmmmm huh huh. Ilang lagi rasanya mi" Jen
"kamu kurang maksimal sayang, ayo nanti kalau sudah kontraksi lagi, dorong yang maksimal ya Jen. Ini udah bisa melihat kepalanya baby." mami
"susah mi" Jen
"enggak Jen, tangan kamu pegang paha sebelah sini ya, nanti tarik pahanya ke atas dan dorong adeknya dari dalam" mami
Jen melakukan apa yang di minta mami, bahkan Axel juga ikut mengejan saat Jen kontraksi. Beberapa kali Jen merasakan kontraksi dan melakukan saran mami. Namun sudah satu jam berlalu, Jen belum bisa melahirkan secara normal. Mami masih menunggu untuk beberapa menit lagi.
Sedangkan di luar ruangan terlihat ayah, bunda, mamah dan papah yang sedang panik. Bahkan mamah dan bunda berjalan mondar-mandir di depan pintu ruangan Jen. Tadi setelah mereka kembali dari musholla, ternyata pintu kamar Jen sudah di kunci dari dalam. Mamah tadi sempat menghubungi Axel karena khawatir. Setelah mendapat kabar dari Axel, mereka semakin panik dan banyak berdoa.
"sth" desis bunda, sedang mamah sedang menggigit jarinya sambil mengekor di belakang bunda
"ya allah mudahkanlah persalinan Jen, beri ia kekuatan" gumam bunda
"amin ya allah" kata mamah
"Beri kesehatan untuk anak dan cucuku ya allah" kata mamah yang berjalan berlawanan arah
"amin" kata bunda yang sekarang mengekor mamah, mereka kembali berjalan mondar mandir.
"Mah, Yu. aku bingung liatnya" kata papah
"PANIK" kata mamah dan bunda bersama, mereka juga kompak untuk berhenti
"ya sama, tapi tenang dong. Kita doa kan saja" papah
"itu sudah pasti pah" mamah
"ayah" panggil bunda yang melihat ayah hanya diam dan terlihat melamun
"Di" panggil papah menyentuh bahu ayah di samping nya
"iya" kata ayah
"kamu kenapa yah?" tanya bunda dan duduk di samping ayah
"gak tau bun, rasanya sedih, senang, khawatir, pokoknya ayah tidak menyangka kalau Jen kecil sekarang sedang berjuang mempertaruhkan nyawa untuk anaknya. Rasanya baru kemarin ayah menimang Jen" kata ayah
"anak gadis kita sudah dewasa yah, kita doakan mereka ya" kata bunda
"pasti bun"
__ADS_1
"kalau aku sedihnya, udah tua Di. Udah mau punya cucu. Tapi bahagianya juga luar biasanya dapat main sama cucu di usia muda" papah
"kamu harus ingat Al, jangan suka menganggap kita muda lagi kaya dulu." ayah menepuk pundak papah
"kamu benar Di, status boleh tua. Tapi wajah dan semangat harus awet muda" papah
"genit" mamah
"hahahaha" tawa para orang tua.
Sedangkan yang ada di dalam ruangan masih harap harap cemas.
"Jen, kamu harus semangat. Ini coba kamu rasain, kepala baby nya udah keliatan. Kalau kamu tidak maksimal kan kasian baby nya, hidungnya kejepit. Demi anak kamu ya, " kata mami
"Jen sudah berusaha mi," kata Jen lemah
"Yang, aku yakin kamu bisa. Kamu calon ibu yang sedang di tunggu anaknya. Kamu semangat ya" kata Axel yang sebenarnya tidak tega
"huh huh hu mi" Jen merasa kontraksi
"ayo sekali lagi Jen, yang maksimal ya" mami
Bismillah beri hamba kemudahan ya allah. Nak ayo keluar, udah banyak yang menunggu kamu. Batin Jen
"eeeeemmmm.." Jen mengejan sekuat yang ia bisa, dan Axel membantu mendorong tubuh Jen perlahan
"tahan Jen" kata mami yang melihat kelapa baby sudah keluar,
krek..
"huuuuuuffhhh" Jen menghembuskan nafasnya lega
Namun yang membuat Jen bingung kenapa anaknya belum menangis. Ia hanya mendengar suara tangis bayi yang tertahan, dan benar saja mami sedang melakukan sesuatu dengan baby mereka.
"kenapa dok?" tanya Axel
"sabar mas, mungkin baby nya masih banyak lendir di dalam tubuhnya." Jelas suster
"sayang anak mommy" Jen meneteskan air matanya dan ingin meraih anak nya, tapi tidak bisa, badannya terasa begitu lemas.
Ya allah ijinkan anak hamba tumbuh dengan sehat. Batin Axel
"Oek oek........" Suara tangis bayi yang sangat nyaring di ruangan itu membuat mereka semua lega.
"Alhamdulillah" kata mereka semua.
"tidak ada yang perlu di khawatir kan ya Jen, Axel." kata mami memperlihatkan baby mereka
Mami mengelap tubuh baby Jen dan setelah itu memposisikan baby di atas tubuh Jen. Ini di namakan IMD atau inisiasi menyusu dini. Bayi akan di letakkan di dada ibunya minimal satu Jam, untuk mencari sumber Asi.
"anakku" kata Jen yang terharu saat melihat putranya di depan mata. Ia mengelus kepala anaknya untuk yang pertama kali, air matanya pun menetes begitu saja.
"terimakasih sayang, terimakasih kamu sudah berjuang dan kuat. Berkat kamu dan semua tim disini, anakku terlahir dengan selamat" Axel mencium kening Jen lama
Axel dan Jen sangat bersyukur atas kelahiran putra pertamanya. Axel menyelimuti anaknya berada di dada Jen. Baby mereka menangis kembali setelah tadi sempat tenang, Jen mengelus dan memenangkan anaknya. Beberapa saat kemudian perut Jen terasa hangat dan basah.
"mi, ini baby nya pipis ya?" tanya Jen
__ADS_1
"pipis? coba lihat sus" kata mami yang sedang membersihkan sisa melahirkan Jen tadi.
"iya dok" kata suster yang mengangkat bayi mereka. Setelah di bersihkan, suster kembali menaruh bayinya di atas dada Jen.
"Jen kamu siap siap ya, ada yang harus mami jait" kata mami
"di bius kan mi?" Jen
"enggak sayang, kalau dibius nanti beresiko di belakang" Mami menjelaskan kalau tadi mami menambah jalan lahir dengan menggunting sedikit, dan sekarang harus di jait. Beliau juga menjelaskan kenapa tidak di bius.
"oh gitu mi, Jen nurut aja deh mi"
"tahannya?, buat Axel kamu saya kasih bonus karena sudah menjadi suami siaga. Dan suami yang siap menemani istrinya melahirkan." mami
"bonus apa dok?" tanya Axel tidak paham
"besok-besok kamu juga tahu" kata mami dengan senyumnya
"mami mencurigakan" kata Jen
"hehehe, biar gak tegang Jen" mami
"eh eh mi, liat deh" Jen menunjuk anaknya yang sudah mendekati sumber Asi nya.
"tunggu Jen biar kan dia mendapatkan sendiri" mami
hap
Bayi kecil itu perlahan mengh*s*p sumber nutrisi yang ia butuhkan. Jen yang melihat itu merasa bahagia.
"gimana Jen?" tanya mami
"sedikit aneh sih mi rasanya, kaya kasar gitu lidahnya" Jen
"iya, jangan kaget kalau beberapa hari nanti agak sakit. Tapi jangan putus asa kasih ASI, karena ini yang terbaik. Selain itu, memberi Asi bisa mengurangi nyeri perut dan mengurangi pendarahan."
"iya mi," kata Jen
Setelah itu mami mulai menjahit, Jen yang merasa sakit pun hanya bisa menahan. Bayangkan saja kalau kulit kita dijahit tanpa di di bius. Sakitnya kebawa mimpi pastinya.
"mi udah belum, ssshhhh" kata Jen
"sebentar lagi Jen"
"sakit banget Yang?" tanya Axel
"lebih sakit ini dari pada tadi pas di gunting" Jen
"sabar ya sayang, lebih baik kamu lihat anak kita. Biar tidak begitu merasa sakit" Axel
"iya Jen, benar kata Axel.
Akhirnya Jen mengikuti apa yang di minta suaminya. Sampai semuanya selesai dan Jen juga sudah di berihkan oleh Axel, karena belum boleh mandi. Sedangkan bayi mereka sudah tertidur pulas, setelah meminum Asi dan di bedong.
"Axel, di adzanin dulu" kata mami memberikan bayinya kepada Axel
Perlahan Axel menerima bayinya, sebenarnya Axel takut, karena bayi terlihat kecil. Axel mulai mengumandangkan adzan dan Iqamah di telinga anaknya bergantian.
__ADS_1