
Karena paksaan Axel akhirnya Jen diam dan mencoba menutup mata. Tidak di pungkiri Jen bisa mendengar detak jantung Axel yang berdetak cepat.
Dia kan cuma tidur, kenapa jantungnya maraton gitu. Jen semakin menyelusup kan kepalanya di dada bidang Axel untuk memastikan itu suara detak jantung.
Padahal belum mandi, kenapa wangi banget, bikin nyaman. Batin Jen bertanya tanya.
Dan tanpa disadari Jen, ia sudah terlelap. Axel yang merasa nafas Jen sudah teratur pun perlahan mengendurkan pelukannya. Dilihatnya wajah Jen yang cantik dan damai seperti anak kecil imut imut. Axel membelai pelan wajah Jen, dikecupnya kening Jen lama. Jen yang merasa terganggu pun menggeliat, Axel mengelus punggung Jen pelan supaya tidak bangun.
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Dering ponsel Jen tidak menggangu si empunya yang masih tidur. Giliran dering ponsel Axel bisa membangunkan Axel.
🎥 Papah
Xel, kalian dimana?
"Di kamar pah" jawab Axel dengan suara khas bangun tidur
Papah
kita udah nunggu di bawah, papah vidio call loh Xel gelap ini
"maaf pah, Axel gak tau" kata Axel yang mulai menjauhkan ponselnya dari telinga
Papah
kamu baru bangun? Jen mana?
"ini masih tidur" Axel mengarahkan ponselnya ke Jen yang masih tidur di pelukan Axel.
Papah
Wah gas pol Xel, lanjutkan nanti kamu makan malam sama Jen aja ya
"iya pah"
tut
Di meja makan hotel yang sudah di pesan kedua keluarga ini terlihat banyak sekali makanan yang tersaji. Ada Adi, Ayu, Alex dan juga Rere, mereka menanti pengantin baru yang belum datang. Ternyata yang mereka tunggu masih berada di alam mimpi 😀.
"gimana Al?" tanya ayah Adi
"aman, nih kalian lihat" Alex menyodorkan ponselnya yang tadi sempat menangkap gambar saat Jen tidur di pelukan Axel.
"ini beneran mereka?" tanya bunda tidak percaya
"iya lah," jawab Alex
"biarkan bun, mereka sudah sah" kata Ayah
"iya yah, bunda sih gapapa.Tapi kan dulu Jen nolak nolak tapi sekarang malah nempel" heran bunda
"Axel juga gitu Yu, kalau aku sih malah seneng semoga mereka bisa saling menerima dan saling mencintai" jelas Rere
"iya kita doa kan aja, biar dapat cucu" ucap papah
"aku gimana baiknya aja, ya udah ayo makan" ajak ayah.
.
.
.
Di dalam kamar Jen mulai terbangun, perlahan Jen membuka matanya, yang ia lihat pertama adalah dada Axel. Jen mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah Axel. Senyum manis terlihat di bibir Axel.
"udah bangun?" tanya Axel
Jen yang malu pun bergerak membelakangi Axel.
"ih kok lo gak bangunin gue, gue malu" kata Jen sambil menutup wajahnya dengan selimut
"Hey malu kenapa?" Axel memeluk Jen dari belakang.
__ADS_1
"ih ketos, lo jauh jauh deh" Jen merasa risih dengan posisinya.
"lo lo lo, ketos. Aku suami mu ya" kata Axel
"iya kang mas, minggir dulu ih" Jen
"kamu yang minggir sayang. Ini tanganku dari tadi kamu tindih lo, nyaman ya?" goda Axel
Jen yang tersadar pun langsung bangun dan duduk.
"kan lo maksud nya kamu yang tadi narik aku"
"iya aku, ya udah aku mandi dulu" Axel beranjak ke kamar mandi.
"hah jam delapan?" Jen kaget dan beranjak keluar kamar.
Di lorong kamar terlihat bunda dan juga ibu mertuanya sudah menuju kamar masing-masing.
"bunda" panggil Jen
"sayang, kamu sudah bangun?" bunda menghampiri Jen.
"iya bun, mah tadi ketiduran, maaf ya Jen telat tadi di acara makan malam" Jen merasa bersalah
"gak papa cantik, nanti kamu dinner sama suami mu aja, udah kita siapkan" jelas mamah Rere
"dinner?"
"iya, buruan gih kamu siap siap" Bunda
"Yang,,,,,, Yang,,,, " teriak Axel
"tuh suami kamu, nyariin" kata bunda halus
"ya udah Jen masuk dulu bun,mah"
Mamah Rere dan bunda Ayu tersenyum. Sedangkan ayah dan papah sudah masuk kamar dari tadi, mungkin capek.
"ya kamu gak pamit, aku laper Yang"
"iya bunda sama mamah udah siapin dinner buat kita, gue siap siap dulu"
"pakai gue lagi aku cium kamu,"
"iya iya aku,"
Jen bersiap untuk dinner, saat di kamar mandi ternyata mamah mengirimkan baju yang akan di pakai Jen dan Axel dinner. Mau tidak mau Jen dan Axel memakainya.
.
.
.
Sesampainya di restoran hotel, salah satu pelayan mendatangi Axel dan Jen. Ia menunjukkan meja yang di pesan oleh mama Rere. Jen dan Axel menuju ke sana, setelah sampai mereka melihat meja yang terlihat indah dan romantis. Axel mengandeng Jen menuju ke sana, menarikan kursi untuk Jen. Jen pun hanya nurut saja.
"kok kamu diem aja sih" tanya Axel
"gak tau" jawab Jen sambil nyengir
"kamu nikmati aja alurnya sambil belajar" jelas Axel dan Jen mengangguk.
Mereka mulai makan di temani alunan musik klasik dan suasana yang remang remang menambah kesan romantis. Sesekali Axel menyuapi Jen, dengan malu malu Jen menerima suapan Axel. Sebenarnya Axel mengajak Jen untuk berdansa namun Jen tidak mau ya mungkin masih canggung. Axel tidak memaksa Jen, tapi ia meminta untuk foto bersama.
Acara dinner pun selesai mereka kembali ke kamar karena memang Jen seperti tidak bersemangat. Axel merebahkan tubuhnya bersandar di kepala ranjang, sambil menunggu Jen yang sedang bersih bersih.
"sini Yang" Axel menepuk dada atas sebelah kirinya, meminta Jen untuk bersandar di sana.
"mau ngapain?" tanya Jen
"ya sini kita ngobrol"
__ADS_1
"kan aku bisa duduk di samping itu" Jen menunjuk sebelah Axel yang memang kosong
"gak boleh, sini aja. Biar aku peluk"
"tapi Xel,"
"gak ada tapi tapian ya Yang"
Dengan cemberut Jen mulai beringsut mendekati Axel. Dengan senyum kemenangan Axel menyambut Jen dalam pelukannya.
"oh istriku, kalau kamu cemberut pasti minta di cium" goda Axel
"apaan sih enggak ya," Jen memukul pelan dada Axel
"ya makanya jangan cemberut, gak baik tahu kalau memasang muka jelek di depan suami" kata Axel sambil memegang tangan Jen yang ada di dadanya, sedangkan tangan yang satunya membelai rambut Jen.
"hhmmm" hanya itu jawaban Jen
"Jen, ini malam pertama kita loh"
"te,,te,,rus mau ngapain?" tanya Jen mulai gugup
"kamu maunya ngapain?"
"tidur"
"yakin kamu bisa tidur, tadi aja udah tidur lama"
"yakinlah"
"Yang" panggil Axel
"kamu fasih banget manggilnya" kata Jen
"ya mau gimana lagi, nanti di marahin mamah"
"oh, ya udah panggil Jen aja kalau kamu gak nyaman, toh aku juga manggil kamu Axel"
"kamu tahu Jen, kenapa aku seperti ini sama kamu,?"
"maksudnya?"
"ya manggil kamu sayang, berusaha dekat dengan kamu, tidak memaksa kamu, menyentuh kamu ya walaupun cuma bisa sebatas pelukan gini. Aku cuma berharap kamu bisa menerima aku, dan terbiasa dengan sentuhan sentuhan wajar yang kita lakukan. Kata orang kontak fisik dalam rumah tangga itu bisa membuat kita lebih dekat, kita juga udah sah kan" jelas Axel
Jen hanya terdiam mencerna kata-kata Axel.
"iya maaf, aku juga baru belajar beradaptasi dengan semua ini. Masih banyak kekurangan." kata Jen
"gak papa kita berdua sama-sama belajar dan saling mengingatkan. Boleh aku tanya sesuatu?"
"apa?" Jen mendongakkan menatap Axel
"perasaanmu sekarang gimana? Sama Bayu, dan sama Aku?"
"kok kamu nanya gitu?"
"ya kan kita udah menikah, sebaiknya apapun itu saling terbuka, biar tidak ada yang mengganjal kedepannya"
"apa nanti kalau aku jujur kamu marah?"
"enggak"
"kalau aku tanya balik tentang masa lalu dan perasaanmu mau jujur?"
"pasti aku jujur Yang, lebih baik terbuka di awal daripada nanti. Lagian kalau sekarang kita saling jujur kan bisa tahu apa yang harus kita lakukan, demi membangun hubungan ini."
"ya udah gapapa siapa dulu yang mau jujur,?"
"ya kamu, tadi kan aku nanya duluan".
"jangan liatin aku kaya gitu, gak jadi cerita nih aku" Jen merasa malu di pandang Axel
__ADS_1