Cinta Jennaira

Cinta Jennaira
Banyak Tanya


__ADS_3

Pulang kuliah Jen sedang menunggu jemputan di parkiran. Jen duduk di bawah pohon mangga yang sangat rindang dan berbuah lebat. Hasrat ngidamnya pun meronta-ronta, dia celingukan mencari orang yang ia kenal.


Tadi Jen bersama dengan Jamil, karena Gendis sudah lebih dulu pulang ke asrama. Sedangkan Jamil, ia mendapatkan panggilan alam yang sulit untuk di tunda. Jen hanya bisa menatap buah mangga yang terlihat sangat menggiurkan itu.


"duh sabar ya nak, kita tunggu pak Bejo dulu" gumam Jen


"Jen" panggil Bayu yang melihat Jen duduk sendiri dan memandang ke atas.


"eh Bayu" Jen tersenyum kikuk


"kamu ngapain disini sendiri?"


"nunggu jemputan, kamu sendiri?"


"mau pulang, itu motorku" Bayu menunjuk motornya


"oh," Jen ber oh ria dan kembali mencuri pandang dengan para mangga. Karena heran dengan tingkah Jen, Bayu ikut memandang kemana Jen memandang.


"Jen?"


"iya Bay?"


"kamu?" Bayu menunjuk mangga yang ada di atas nya.


"hehe 🤭" Jen tersenyum malu


"mau aku petik kan?"


"em tapi kan tinggi"


"daripada nanti anak kamu ngiler" kata Bayu sambil tersenyum


"ya udah minta tolong kalau gitu" kata Jen


Bayu melihat pohon mangga itu, sebelum ia memanjat. Setelah tau akan kemana arah Bayu saat memanjat, Bayu meletakkan tasnya. Perlahan ia memanjat pohon, beberapa saat sudah sampai di dahan pohon yang banyak buahnya.


"mau berapa Jen?"


"dua aja, yang itu sebelah kiri" kata Jen


"lo ngapain Jen?" kata Jamil yang baru datang


"nunggu Bayu, metik mangga buat gue"


"lo ngidam?"


"iya lah, nunggu lo lama banget"


"namanya juga mengeluarkan emas"


"emas emas apaan, jorok lo"


"Bayu biar gue tangkap" kata Jamil


Setelah mendapat empat buah mangga, Bayu segera turun. Dilihatnya Jen sangat bahagia.


"makasih Bay, kamu digigit semut gak?" Jen


"enggak kok aman" kata Bayu


"lo penyelamatan gue Bay, hahahah" kata Jamil


"Kenapa?" tanya Jamil bingung


"ya gue gak usah susah manjat, kalau gak ada elo, gue yakin ni bocah hamil pasti nyuruh gue"


"belum tentu ya, lagian lo kenapa sih ngikutin gue mulu?" kata Jen


"em ya because gue..." Jamil


"mbak Jen, maaf saya telat" kata pak Bejo, tadi tiba tiba ban mobil yang di bawa pak Bejo pecah ban.


" iya pak gak papa "


"udah sono pulang bikin rujak ya" kata Jamil


"ish. Bayu aku pulang dulu. Sekali lagi terimakasih" kata Jen yang menjunjung mangga


"sama sama" kata Bayu


"gue gak di pamiti?" Jamil


"gak, bye" Jen


"katanya enggak, tapi bye juga" gerutu Jamil yang tidak di dengar Jen .

__ADS_1


.


.


.


.


Tiga hari sudah berlalu, siang ini setelah pulang kuliah Jen menuju bandara. Axel hari ini pulang dan ingin di jemput Jen. Manja sekali suaminya itu sekarang, tapi tidak masalah buat Jen. Tidak bisa dibohongi dirinya juga sudah kangen dengan Axel.


Sesampainya di bandara, Jen duduk di sebuah kursi panjang yang biasa di gunakan orang untuk menunggu. Jen sibuk berbalas pesan dengan Sasa yang mengeluh pusing dengan materi kuliahnya.


"Ayang ...." panggil Axel semangat dan berlari ke arah Jen.


"mas" Jen tersenyum ramah


Axel memeluk Jen dan menciumi semua sudut wajah Jen. Sedangkan Jen berusaha melepaskan diri dari Axel, malu dong di tempat umum seperti ini.


"hey jangan peluk pelukan mulu, ngenes amat gue suruh bawa koper" celetuk Dody


"lepas mas" kata Jen


"biarin aku kangen"


"nanti lagi ih" kata Jen mendorong Axel


"kita ke apartemen yuk" Axel


"mau ngapain?" Jen


"masih nanya, ayo lah Yang"


"sepupu gelo, gak menghargai yang lebih tua" kata dody


"maaf ya kak Dody" kata Jen


"udah biarin Yang, sirik itu dia"


"kalau gue udah ketemu jodoh, pasti gue bales lo" kata Dody


"sono cari dulu jodoh lo" Axel.


Setelah perdebatan yang unfaidah itu mereka memutuskan untuk pulang. Dody yang pulang mengendarai mobil nya sendiri, sedangkan Axel dan Jen pulang dengan pak Bejo.


Rencana untuk pulang ke apartemen tidak jadi, karena Jen menolak. Akhirnya mereka pulang ke rumah papah.


"iya aku pegel banget"


"ya udah tidur aja, biar nanti fit lagi" Axel menaik turun kan alisnya


"apa sih," Jen


"hehehe aku mandi dulu Yang,"


Makan malam hari ini terasa lengkap karena sudah ada Axel disini. Obrolan tentang pekerjaan Axel yang menemani makan malam mereka.


"mah, perut Jen kadang terasa kaya geli tapi gak begitu ketara. Apa gerak ya mah?" tanya Jen yang sekarang sedang duduk di ruang tengah


"mungkin sayang, kan usianya juga udah mau lima bulan"


"coba besok pas periksa Jen tanya deh mah"


"iya Jen, mamah gak sabar mau nimang cucu"


"sama mah" kata Jen tersenyum.


"Yang, ayo" kata Axel menghampiri Jen


"kemana?" Jen


"nanti aku kasih tau"


"tapi aku males keluar rumah,"


"gak keluar rumah"


"terus?"


"jangan banyak tanya" kata Axel yang gemas dan menggendong Jen begitu saja


"ih lepasin"


"nanti kamu jatuh kalau aku lepas"


"turunin"

__ADS_1


"apanya? nanti aku juga turunin benih benih cintaku ini" Axel


"astaga kamu ngomong apa sih?"


"diem Yang, ayo kita jalan jalan. Kunci pintunya" kata Axel yang sudah masuk kamar


Sedangkan papah dan mamah yang melihat semua itu hanya menggeleng.


"mamah mau?" tanya papah


"apa?"


"di gendong"


"udah tua, gak takut encok?"


"masih kuat tujuh ronde ini mah,"


"masa?" tanya mamah tidak percaya


"aku pun juga tidak percaya hahaha" saut Axel yang berjalan menuju dapur


"astaga kamu ngagetin aja Xel" kata papah yang menjauh dari mamah


"masih jam delapan loh pah, banyak yang lewat." kata Axel yang tadi sempat melihat papah bermesraan dengan mamah


"kamu sendiri?"


"kunci kamar lah" jawab Axel santai.


Saat Axel kembali dari dapur, ternyata papah dan mamah nya sudah tidak ada. Jiwa jail Axel muncul saat melihat pintu kamar orang tuanya sudah tertutup.


tok tok tok


"siapa?"


tok tok tok


Dengan sedikit kesal papah membukakan pintu kamar. Dilihatnya tidak ada orang, namun tunggu pintu kamar di depan pojok masih terbuka sedikit. Dan papah bisa mendengar suara cekikikan Axel. Papah menggulung kaos yang tadi beliau lepas, kemudian melempar ke arah pintu kamar Axel.


Derrr


Suara pintu Axel tertutup.


"dasar anak itu, bisa bisanya ganggu pabrik yang mau beroperasi"


"pabrik apa sih pah?" tanya mamah yang baru keluar ganti kostum


"itu Axel ganggu"


"mamah tanya pabrik apa, jawab nya Axel"


"hehe pabrik kita mah"


"kapan kita punya pabrik? pabrik apa?"


"mamah ih sama kaya Jen"


"maksudnya"


"banyak tanya" kata papah yang mulai melancarkan aksinya


"emang mamah gak tau pah, pabrik apa sih?"


"pabrik anak kita berdua mah, masa gak paham sih?"


"owh" mamah tersenyum malu


"gimana? mau beroperasi sekarang?" tanya papah dan mamah mengangguk dengan genitnya.


Sedangkan di kamar Axel, Jen yang baru keluar kamar mandi heran melihat Axel yang tertawa sendiri.


"kamu kenapa sih mas?"


"enggak Yang" jawab Axel dengan sisa tawanya


"mencurigakan,"


"itu loh Yang, tadi aku goda papah. Kayaknya papah kesel"


"ya kamu kurang kerjaan"


"hehehe gak papa Yang, sekarang kerjaan aku adalah membuat kamu l*m*s" bisik Axel


"ish apaan sih"

__ADS_1


Rindu yang teramat sangat akan hilang jika sudah bertemu. Bagi Axel, obat kangennya adalah saat bibir saling bertemu menyalurkan rindu yang terpendam. Malam ini akan menjadi malam yang panjang bagi Jen, namun tidak bagi Axel. Tidak perlu mengungkapkan apa yang mereka rasakan, tapi dengan tindakan mereka juga pasti akan bisa memahami nya.


__ADS_2