
Setelah kepergian Bayu, Jen, Sasa dan Tamara menikmati bakso yang mereka pesan.
"Bayu ngapain Jen?" Sasa
"dia khawatir sama gue"
"Bayu memang baik ya Jen," Tamara
"iya, kadang gue merasa sedih dengan nasib hubungan kita. Gue jahat gak sih" Jen
"Jen, semua itu udah takdir. Mungkin memang dia bukan jodoh lo" Sasa
"bener Jen lo gak jahat, semua kan saling terbuka. Kecuali lo meninggalkan tanpa alasan. Itu namanya jahat" Tamara
Tanpa mereka sadari Axel memantau Jen dari jauh, perasaan nya sedikit tidak nyaman melihat Jen berbicara dengan Bayu. Tapi semua itu juga atas ijinnya, Axel tidak ingin egois. Ia percaya kalau Jen sudah tidak ada perasaan dengan Bayu. Terlihat saat Bayu menghampiri nya, Jen merasa tidak nyaman dan menengok kanan kiri.
Makasih Yang, walaupun kamu gak ngomong tapi aku tahu kalau kamu sudah mulai menjaga perasaan ku. Maaf ya kalau sikapku kemarin membuat semuanya jadi begini. Batin Axel
.
.
.
Sedangkan di roof top terlihat Bayu sedang memandang langit yang begitu cerah.
"Bay" sapa Irfan menepuk pundak Bayu
"kamu Fan" Bayu
"Bay, jadi ini jawaban selama beberapa bulan terakhir lo gak sama Jen?" Irfan
"iya Fan" Bayu
"jadi bener kamu udah putus sama Jen?" tanya Irfan dan Bayu mengangguk
"apa alasannya Dia (Axel)? kenapa Jen jahat sekali"
"Jen tidak jahat Fan, semua udah di takdir kan" Bayu
"di takdirkan bagaimana? hubungan kalian itu udah lama. Masa iya cuma karena takdir. Itu gak masuk akal Bay, apa semua yang Jen lakukan ke lo itu cuma sebatas menutupi kesalahannya" kata Irfan yang memang tidak suka dengan gosip yang beredar.
"Fan jangan menilai Jen seperti itu"
"Bay, lo itu terlalu baik. Bahkan di sakiti seperti ini aja lo masih bela Jen" Irfan menggelengkan kepalanya
Bayu menarik nafas panjangnya, ia bingung harus bagaimana menjelaskan pada Irfan.
"Tolong ya Fan, jangan berpikir buruk tentang Jen dan Axel"
"Kenapa Bay? gue gak terima lo di giniin"
"apa gue bisa percaya sama kamu Fan?" Bayu
"maksud lo apa?"
"Ada hal penting yang gue sembunyikan. Gue gak mau banyak orang yang tahu." Bayu
"tentang apa?"
"Tentang aku, Jen dan Axel"
"hah maksudnya?"
"lo tau kan kalau laki laki yang di pegang adalah janjinya?"
"iya gue rahasiakan"
Bayu mengambil ponselnya, ia memperlihatkan foto Jen dan Axel saat di resepsi pernikahan mereka.
"ini maksudnya apa?" Bayu
"ya seperti yang lo lihat"
"gue gak percaya, ini kapan? Mereka cuma jadi model kan" Irfan
"itu beberapa bulan lalu. Dan kejadian asli bukan model kaya yang kamu pikirkan."
"kok bisa?"
Bayu pun menceritakan semua kejadian beberapa bulan yang lalu.
__ADS_1
"jadi jangan pernah berfikir Jen jahat"
"kenapa lo gak memperjuangkan kalau Jen minta di perjuangkan?"
"kamu tahu Fan, kalau anak gadis itu akan tetap menjadi milik ayahnya sebelum mereka menikah. Kalau anak laki-laki akan menjadi milik ibunya selamanya. Jika yang kita perjuangkan ternyata tidak mendapatkan restu dari mereka, percuma Fan. Semua akan sia sia." jelas Bayu
"lo emang sohib terbaik gue, gue banyak belajar sama lo. Tetap semangat ya Bay, pasti lo akan menemukan yang terbaik buat lo" Irfan menepuk pundak Bayu
"thanks Fan, gue percaya sama lo" Bayu
.
.
.
.
Pulang sekolah Jen menyusul mamah dan bundanya di toko. Sedangkan Axel pergi ke kantor papah nya.
"Jen kamu nginep di tempat bunda dong" pinta bunda
"Nanti Jen bilang sama garwo ya bund, Jen juga kangen sama ayah"
"kalau kangen sering sering dong nginep di rumah ayah bunda juga. Mamah juga pasti mengijinkan sayang" Saut mamah
"hehe iya mah, Jen kadang lupa kalau bunda udah pulang. π" Jen nyengir
"kamu itu sama bunda nya masa lupa" bunda
"maaf bunda, weekend deh Jen nginep di tempat bunda" Jen
"bunda tunggu ya sayang" bunda
"iya bunda"
"Jen, Axel pulang jam berapa?" tanya mamah
"belum tahu mah,"
"ya udah, kita pulang sekarang. Apa kamu mau nginep di tempat bunda?" mamah
"ya sudah gak papa" mamah
Sesampainya di rumah Jen langsung mandi. Axel belum juga pulang kerumah. Jen mencoba menghubungi Axel.
πGarwo
Halo sayang
"kamu pulang jam berapa garwo?"
π
Kenapa kangen ya?
"enggak"
π
Ya udah aku pulang nya besok aja
"Permisi mas Axel ini kopinya" kata Yulia sekretaris papah
Taruh di situ mbak
"ekhem"
π
Kenapa Yang
"*kamu sama siapa?"
π*
cewek Yang
"kamu macem-macem ya"
π
__ADS_1
hehe enggak sayang, tadi itu sekretaris papah
"ya udah cepat pulang"
π
Bentar lagi ya sayang
"ya udah aku mau bantuin mamah"
π
iya Yang
Jen turun dan menuju ke dapur, disana terlihat bibi dan mamah sedang menyiapkan makan malam. Setelah selesai, karena memang papah dan Axel belum pulang, mamah dan Jen memutuskan untuk makan malam duluan.
"Jen kalau gak ada papah, mamah baru bisa makan begini" kata mamah
"kenapa mah?"
"biasanya kalau mamah makan pakai tangan begini, papah sering minta di suapi. Lebih enak katanya"
"tapi emang enak kalau makan pakai tangan sih mah."
"SAYANG" teriak Axel
"itu garwo kamu Jen" kata mamah
"iya di meja makan" jawab Jen setelah minum
"aku mau Yang" kata Axel setelah menyusul Jen
"kamu cuci tangan dulu sana, baru datang udah mau makan aja" omel Jen karena Axel masih mengendong tas sekolah
"udah laper Yang, suapi" Axel
"aku cuci tangan dulu" Jen
"udah pakai tangan aja Yang," Axel
"tuh sama kaya bapaknya" kata mamah
"aku kan anaknya mah, wajar dong" Axel.
"iya wajar," kata mamah sambil menahan senyum
Setelah makan malam Jen pamit untuk belajar. Karena memang ujian tinggal beberapa bulan lagi, mamah memaklumi kalau anak anaknya sibuk belajar.
"Yang, kamu mau kuliah?" tanya Axel di sela belajar nya
"em kalau kamu mengijinkan, sejujurnya sih pengen banget" Jen
"mau kuliah dimana?"
"belum tahu, kamu sendiri?" Tanya Jen balik
"Dulu niat nya di luar negeri" jawab Axel
"oh" jawab Jen singkat.
"kok oh doang?"
"aku bingung mau jawab apa," Jen
"kamu mau kuliah di sana? aku udah cari cari sih" Axel
"aku terserah kamu aja" Jen
"ya udah kita pikir belakangan deh" Axel
Mereka melanjutkan belajar nya. Sampai pukul sebelas malam Jen sudah merasa ngantuk. Ia membereskan buku-buku nya, dan bersiap tidur.
"kamu belum selesai garwo?" Jen
"belum Yang sebentar lagi. Kamu tidur duluan aja" Axel
"ya udah" Jen memeluk guling.
Axel yang sudah menyelesaikan tugasnya pun segera menyusul Jen. Axel menarik Jen kedalam pelukannya dan sesekali mencium keningnya.
Aku gak pernah membayangkan kalau kita bisa dekat dan saling memiliki Jen. Dulu aku hanya bisa melihat mu bahagia dengan Bayu. Tapi sekarang aku yang memiliki mu seutuhnya. Makasih Jen kamu udah mau jadi pendamping hidupku. Aku janji akan selalu menjagamu dan membahagiakan kamu. Aku sangat bersyukur bisa berjodoh dengan mu. Batin Axel.
__ADS_1