Cinta Jennaira

Cinta Jennaira
Hamil..???


__ADS_3

Sudah beberapa hari berlalu, minggu depan adalah hari dimana ujian Nasional akan di langsung kan. Hari ini adalah hari terakhir kelas XII masuk sekolah sebelum libur hari tenang. Seluruh siswa siswi SMA ALFAM di kumpulkan di lapangan upacara, pagi ini di adakan doa bersama untuk kemudahan kelas XII yang akan menghadapi ujian.


Jen, Tamara dan Sasa berada di barisan siswi paling terakhir kelas XII ips 1. Karena di belakangnya barisan para siswa. Cuaca hari itu cukup cerah, tidak terlalu panas. Di depan sana bapak kepala sekolah sedang memberi sambutan dan wejangan


untuk para murid kelas XII. Jen merasa badannya semakin melayang, dan pandangan nya semakin buram.


"Tamara" panggil Jen lemah dan memegang lengan Tamara yang lebih dekat dengan nya.


"kenap...." Tamara


brug


"e.....eh" Tamara berusaha memegang lengan Jen, namun karena sangat cepat Jen sudah jatuh. Untung saja Jen tidak jauh ke tanah, Jen jatuh menimpa Jamil yang berada di belakangnya.


"Jen" panggil Jamil namun Jen sudah tidak sadar


"bawa ke uks" kata Tamara.


"bantuin" kata Jamil pada Ari.


"Jen" panggil Sasa


"jangan berisik, lo panggil garwo nya." Tamara


Sasa langsung menuju ke barisan kelas Xll ips 3, dia celingukan mencari Axel.


"bebeb" Dio


"Axel mana beb?" tanya Sasa


Dio menepuk bahu Axel yang berada di depannya. Saat Axel pun menengok ke arah Dio seperti bertanya apa.


"gak tau bebeb gue" Sasa


"Jen pingsan" kata Sasa pelan


"Hah? mana Jen?" panik Axel.


"itu" Sasa menunjuk Jen yang di gendong Ari karena Jamil tidak kuat.


Axel langsung lari menyusul Ari dan juga Tamara yang menuju ke uks.


"biar gue aja Ar" kata Axel yang meminta Jen


"tolong mobil dong, gue bawa Jen ke klinik." Axel


"mobil gue aja" Kata Tamara dan berlari membukakan pintu.


"gue balik ke barisan sekalian ijinin kalian" kata Ari


"Thank Ar" Axel


"oke" Ari.


Setelah itu Tamara yang mengendarai mobil nya, sedangkan Jen dan Axel duduk di belakang.


"kenapa Jen bisa pingsan?" tanya Axel


"gue gak tau, tiba tiba aja Jen pegangan ke gue dan jatuh gitu aja" Tamara


"jatuh ke tanah?" tanya Axel dengan nada yang naik satu oktaf


"enggak, lo tenang dong Xel" kata Sasa sedang Tamara semakin panik


"gimana gue bisa tenang, kalau Jen jatuh ke tanah. Jen lagi hamil" kata Axel


"HAH?" kaget Tamara dan Sasa


"Tamara awas.!!!" Axel


"astaga" Tamara langsung menginjak pedal rem.


"huh untung gak nabrak lo Tam" Sasa


"hati hati dong" kata Axel yang tadi sempat deg deg kan.


"lo buat kita kaget tau gak" Tamara


"udah buruan kita ke klinik depan" Axel


"iya" Tamara


Sesampainya di klinik dokter langsung memeriksa Jen. Setelah beberapa saat dokter memanggil Axel juga Tamara dan Sasa masuk.

__ADS_1


"Sayang" panggil Axel saat melihat Jen sudah sadar


"gue tadi pingsan ya?" tanya Jen


"iya, lo kenapa sih tumben amat" Tamara


"gak tau, tiba tiba lemes aja terus gelap semua" Jen


"iya, tadi mbaknya pingsan. Tapi gak papa kok" dokter


"dokter yakin? terus gimana dengan kandungan nya?" Axel


"garwo" lirih Jen


"gak papa Yang, aku khawatir sama kalian."


"hamil?" dokter


"iya dok, ini istri sah saya kok" Axel


"oh, sepertinya tidak ada masalah dengan kandungan nya. Hanya saja tekanan darah yang rendah membuat mbaknya pingsan. Itu biasa pada ibu hamil." dokter


"tapi dia sempat jatuh dok" Axel


"sebenarnya Jen jatuh menimpa Jamil, tidak jatuh ke tanah" Tamara


"gini saja mas, kalau menurut pemeriksaan saya sih tidak ada yang perlu di khawatirkan. Tapi kalau mas nya masih kurang tenang, bisa cek ke dokter kandungan di klinik ini ada" dokter


"aku gak papa kok garwo" Jen


"tapi Yang, aku gak tenang" Axel


"ya sudah terserah kamu aja" Jen


Axel memutuskan untuk kembali memeriksa kan Jen dan kandungan nya. Hasilnya sama dengan yang di katakan dokter sebelumnya, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Jen hanya mengalami tekanan darah rendah.


"Tam, Sa, gue antar kalian kembali ke sekolah. Gue pinjam mobil lo, gue mau pulang aja sama Jen. Biar Jen istirahat." Axel


"iya gak papa" Tamara


"lo bawa mobil gue aja Tam, kuncinya di tas" Jen


"beres" Tamara


Sampai di rumah Axel meminta Jen untuk istirahat. Sedangkan Axel menelfon mamahnya untuk pulang. Saat Axel selesai menelfon ternyata Jen sudah tertidur.


"maafin aku Yang, kalau kamu jadi begini. Anak daddy kamu jangan rewel dong, kasian mommy. Jadi anak pintar dulu ya, biar mommy dan daddy fokus ujian dulu besok" kata Axel sambil mengelus perut Jen.


Sedangkan Jen tidak terbangun dengan apa yang di lakukan Axel. Beberapa saat kemudian Axel juga ikut tertidur.


"mamah," kaget Axel saat merasakan tepukan di pundaknya.


"jangan kencang kencang peluk Jen nya." bisik mamah


"oh iya lupa mah," kata Axel sambil bergeser menjauh. Tadi Axel tertidur di samping perut Jen dan memeluk nya erat.


"ada apa kok kamu minta mamah pulang?" mamah


"kita keluar aja mah, Axel cuci muka dulu" Axel


Mamah menunggu Axel di ruang tengah, tidak berapa lama Axel menghampiri mamahnya.


"mah, tadi di sekolah Jen pingsan" Axel


"hah kok bisa?" mamah


Axel menceritakan semuanya, mamah lega saat tau Jen tidak apa apa. Tapi mamah juga bingung saat melihat Axel yang sedikit murung.


"kamu kenapa?" mamah


"gak tau mah, aku khawatir sama Jen kalau masih begini"


"udah kamu tenang aja, Jen gak papa kan kata dokter"


"iya sih mah, tapi aku takut besok kejadian lagi"


"caranya minta Jen untuk tidak panas panasan, buat Jen happy. Nanti mamah bantu dari asupan makanannya biar semua sehat." mamah


"iya mah makasih" kata Axel.


Mereka berdua asik mengobrol sampai Jen terlihat keluar kamar.


"mamah" sapa Jen

__ADS_1


"hey sayang, kamu sudah bangun. Sini duduk" mamah


"Yang kamu udah enakan?" tanya Axel pada Jen


"aku gak papa kok" Jen


"kamu pengen apa?" Axel


"mau minum,"


"biar aku ambilin ya,"


"enggak, aku sendiri aja" Jen


"gak papa sayang, biar Axel saja" mamah


"tapi sekalian pengen buah 😁" Jen


"buah apa Yang?"


"apa aja yang ada, kalau ada sih pir 🍐"


"ada mamah habis beli kemarin" mamah


Axel ke dapur dan mengambil kan apa yang Jen mau. Tidak lama terdengar bel rumah berbunyi. Bibi yang membukakan pintu, ternyata ada teman Jen dan Axel. Bibi mengantar mereka ke ruang tengah.


"siang tante" sapa Satria


"siang, wah sini anak anak" mamah


"ngapain kalian kesini" tanya Axel yang dari dapur.


"mau nganterin mobil Jen," Satria


"nengok bini lo" Dio menyerahkan satu kantung mangga yang mereka beli di jalan tadi


"maaf ya merepotkan" Jen


"mamah siapin makan siang dulu ya" pamit mamah


"SIAP TANTE" kata Satria, Dio, Tamara dan Sasa


"kompak amat" Axel


"gue ke dapur bentar ya" kata Jen sambil membawa kantung plastik dari temannya


"ngapain Yang?"


"minta bibi kupasin ini" kata Jen sambil berlalu


"Xel, emang bener Jen hamil?" Sasa


"iya, kalian bisa di percaya kan?" Axel


"kita pasti jaga rahasia ini kok lo tenang aja" Tamara


"anak lo Xel?" Dio


"ya iya lah, pakai di tanya. Emang mau anak siapa?" Axel


"hehehe gue masih belum percaya Xel" Dio


"ngomongin apaan?" tanya Jen yang baru duduk


"Jen selamat ya, kok lo gak cerita sih" Tamara memeluk Jen


"ya gue pengennya nanti nanti aja" Jen


"ini kan kabar bahagia Jen, masa lo mau rahasia kan" Sasa


"enggak gitu Santan, tapi kan aku masih belum nyaman aja kalau banyak yang tau" Jen


"gue minta tolong lo berdua buat ingetin Jen kalau dia berbuat aneh aneh ya. Sebisa mungkin gue juga pasti jaga Jen dengan baik" Axel


"lo tenang aja, kita juga saling jaga kok" Tamara


"wah lo mau jadi momud dong?" Sasa


"apa beb?" Dio


"momud, mommy muda" kata Sasa menaik turun kan alisnya.


"pasti kece banget Sa" Tamara membayangkan Jen saat bersama anaknya.

__ADS_1


__ADS_2