
Sebuah mobil mewah membelah jalanan yang senggang dan sedikit terik. Dua puluh menit kemudian mobil itu terparkir rapi di sebuah parkiran kafe yang luas. Seorang cowok tampan pun turun dari mobil dengan gaya yang super cool.
Axel berjalan memasuki kafe dan menuju ke lantai dua, disana lah tempat berkumpulnya para anggota osis.
"sory telat, ada acara yang sedikit molor tadi" Jelas Axel
"wah mobil baru nih," kata Dio yang memang bisa melihat Axel yang turun dari mobil. Karena di lantai ini siapa pun bisa melihat ke arah parkiran dan juga sekitar kafe .
"cuma pinjem" kata Axel
"masak sultan pinjem sih" ledek satria di susul tawa Dio
"sultan juga manusia" saut Axel
"Xel, lo mau pesen apa?" tanya Mira
"gue jus jeruk aja" saut Axel dan Mira mengiyakan.
"makan dulu gih Xel, abis ini kita mulai" saran Dedi salah satu anggota osis.
"gue udah makan tadi, kalau bisa di mulai sekarang juga gak papa?" kata Axel
"ya udah mulai aja" jawab Satria
Mereka pun membahas untuk acara beberapa hari kedepan. Dan setelah itu mereka mengobrol dan ada juga yang pulang.
"sore nih, cabut yuk" ajak Dio
"ayolah" kata mereka semua yang masih berada di sana
Sampai di parkiran Axel pun membuka atap mobil Jen. Karena suasana sore yang sejuk di tambah warna langit yang berwarna oranye, membuat siapa aja ingin menikmati keindahan senja ini.
"wih,,,,, nebeng dong bang" goda Dio
"masa menikmati senja sama lo, ogah" kata Axel
"em Axel gue boleh nebeng?" tanya Mira yang menghampiri Axel
"sory Mir gue gak bisa"
"gue gak bawa mobil tadi" kata Mira memelas
"wah Xel, ini kok ada boneka, parfum cewek punya siapa? tanya Dio yang berada di samping mobil Jen dan dapat melihat isinya.
"punyanya yang punya, udah taruh lagi"
"cie,,,, siapa?"
"Kepo" kata Axel menaiki mobil dan meninggalkan area
"ih Axel pergi kan, gara gara lo," kesal Mira
Mira yang kesal pun hanya menghentakkan kaki dan menuju mobil Dian teman sebangku nya.
Didepan gerbang rumahnya Axel turun dari taxi yang ia tumpangi. Dan saat itu berbarengan dengan mobil sang papah yang memasuki gerbang.
"loh boy, mobil Jen mana?" tanya papa
"di bengkel pah, kayaknya jarang di pakai biar di servis dulu," jelas Axel
"oh , papah kira kamu jual" kata papah
"tadi niatnya gitu pah, buat modal nikah" jawab Axel dan papah pun tertawa
"kamu ini ada ada aja, eh ngomong ngomong kamu unyu juga bawa boneka. Buat Jen ya?" tanya mamah
"enggak mah, ini tadi di mobil takutnya malah kotor, ntar yang punya marah" jelas Axel
"bilang aja mau kamu peluk pelukin Xel" canda papah
"apaan sih pah,"
"tadi aja Jen kamu peluk terus pas dia nangis" papah
"kan Axel gak tega pah, liat cewek nangis" Axel membela diri
"apa lagi cewek cantik ya Xel?" tanya mamah
"iya" jawab Axel keceplosan
__ADS_1
"kemarin aja bilang nya Axel gak mau di jodohin pah, gak mau. sekarang liat sendiri kan mah?" ledek papah
"Axel ke dalam dulu pah mah," pamit Axel yang mukanya sudah memerah
"papah jangan di ledekin terus, mamah juga seneng banget kalau Axel mau menerima perjodohan ini. Tinggal kita bantu Jen biar bisa terima juga dengan perjodohan ini" Jelas mamah
"iya mah, papah juga gak sabar mau di panggil eyang kakung (Kakek)" kata papah
"papah ih" mamah mencubit pinggang papah
"ah sakit mah, papah kan cuma becanda" kata papah sambil melepaskan tangannya sang istri dari pinggang nya.
.
.
Malam ini Axel bersiap untuk tidur, ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"lucu juga bonekanya, apa ini dari Bayu?" tanyanya pada diri sendiri.
"mau dari Bayu atau siapa pun yang penting mulai sekarang gue berharap lo mau nerima kehadiran gue." kata Axel sambil memegang boneka Jen
.
.
Pagi ini Jen berangkat ke sekolah, untuk beberapa hari kedepan tidak ada kegiatan belajar di kelas. Hanya ada remidi hasil ujian kemarin bagi yang nilainya kurang, dan lomba lomba yang di adakan para anggota osis.
"Jen lo kemarin ilang dimana?" tanya Sasa
"iya, gue hubungi juga gak bisa" imbuh Tamara
"gue gak kemana-mana" jawab Jen lemas
"melempem amat lo, kaya kerupuk di dalam soto, itu kantung mata juga kelihatan. Gak tidur lo?" Sasa
"em" hanya itu jawaban Jen
"lah, ketinggalan di mana semangat hidup lo?" Tamara
"entah lah, ke kelas yuk" Ajak Jen
Setelah sampai di kelas, terlihat Ari sedang mengumumkan siapa aja yang remidi matematika hari ini.
"pakai di tanya, lo kan bukan ATR ya jelas enggak lah" jawab Ari
"ATR apaan? kalau ART gue tau" Sasa
"ATR Anggota Tetap Remidi" jelas Ari
"oh,, aman gue, semangat lo" Sasa menepuk pundak Ari dan berlalu ke meja nya.
Terlihat Jen yang merebahkan kepalanya di atas lengan nya.
"lo ada masalah Jen?" Tamara
"em, gue bingung Tam, belum bisa cerita" jawab Jen
"ya udah gak papa" Tamara pun sibuk dengan ponselnya, Sasa juga sama sibuk melihat ke arah luar jendela. Lebih tepatnya melihat pertandingan futsal.
"lah, diem diem tidur dia" ucap Tamara
"kayaknya Jen ada masalah" Sasa
"belum mau cerita dia, biarin dulu aja nanti juga cerita"
Sudah pukul sepuluh pagi Jen masih tertidur .
"gue laper Tam" rengek Sasa
"gue juga " saut Jen dengan suara khas bangun tidur
"udah bangun lo?" Tamara
"gue ketiduran ya 😁" Jen nyengir kuda
"iya, lama banget sampai jamuran kita nungguin" Sasa
"ih lo aja ya Sa gue enggak" Tamara
__ADS_1
"kan emang kita berdua yang nungguin"
"iya tapi gue gak jamuran" jelas Tamara dan Sasa bingung
"ya berarti Sasa yang panuan" kata Jen sambil cekikikan
"enak aja, enggak ya" Sasa
" katanya jamuran?" Jen
"kan ibarat kata" bela Sasa
"udah, ayo ke kantin" ajak Tamara dan mereka pun beranjak.
Sebelum ke kantin Jen cuci muka dulu di toilet. Saat melewati koridor kelas terlihat Bayu dengan Irfan yang berjalan dari arah yang berlawanan dengan Jen. Sepertinya mereka dari kantin.
"Jen" sapa Bayu dan tersenyum, tanpa menghentikan langkahnya.
Sedangkan Jen hanya tersenyum, ia sulit untuk menyapa Bayu. Jen takut menangis lagi, biar lah seperti ini dulu sampai mereka bisa menerima keadaan yang sekarang.
"gitu doang, gak ngebucin lo? heran Tamara
Jen menggeleng
"marahan?" giliran Sasa yang bertanya
Menggeleng lagi
"galau gara gara dia?" Tamara
Mengangguk
"kenapa?"Sasa
Menggeleng
"lah, dari tadi geleng-geleng angguk angguk aja. Kita gak paham" Tamara
"gue udah putus"
"WHAT" teriak Sasa dan Tamara bersama
"gue udah putus alias wes pedot" jelas Jen
"kok bisa, coba cerita ?" Tamara
"besok besok kalian juga tahu" kata Jen
"ya udah kita ngerti kok, lo yang sabar harus semangat dulu. Soal cerita belakangan juga gak papa" Sasa menenangkan Jen.
"thanks guys" jawab Jen
"mau pesan apa? biar gue yang pesanin" tawar Tamara
"gado gado yang pedes sama air mineral" Jen
"galau butuh tenaga ya buk" ledek Tamara
"pasti lah " jawab Jen.
Sambil menunggu pesanan mereka, Jen dan Sasa sibuk dengan ponselnya. Dan tiba-tiba Sasa mengambil kaca di saku seragam nya. Jen yang melihat itu sudah gak heran karena Sasa memang selalu begitu.
Suasana kantin pagi ini tidak terlalu ramai karena memang bukan jam istirahat.
"kita duduk di sana aja" tunjuk Dio
"boleh" kata Satria
Satria yang akan menggeser bangku kosong pun di tarik Dio
"di sini maksud gue" jelas Dio yang mendudukan Satria di sebuah bangku.
"hah gak salah?" bingung Satria
"enggak 😁" Dio
"wah, wah, mo,,,," kata Satria menggantung
" lo pesen apa" tanya Dio yang memotong omongan Satria.
__ADS_1
.
.